Ratecard Bukan Perkara Nominal, Kawan!

Bekerjalah seperti seorang amatir, tapi kirimkan invoice seperti seorang profesional. Prinsip inilah yang selama ini saya pegang dalam menyikapi monetisasi blog. Untuk sponsored post, content writer, atau buzzer, saya bekerja seperti seorang amatir yang bekerja karena cinta. Tapi ketika mengirimkan invoice, saya berubah menjadi seorang profesional yang memastikan bahwa jerih payah saya dibayar.

Tapi uang bukanlah segalanya sebab ada hal-hal yang tidak bisa dinilai dengan angka. Itu sebabnya saya tidak punya ratecard yang spesifik. Iya, saya tahu kemampuan saya sampai di mana, sebagai blogger saya kan masih entry level. Iya, saya tahu “harga pasaran” berapa. Tapi sekali lagi, banyak hal yang saya pertimbangkan ketika menerima pekerjaan atau ketika mengajukan nominal kepada klien.

MENETAPKAN RATECARD

Berikut beberapa pertimbangan dan langkah-langkah yang saya lakukan ketika menetapkan ratecard:

1.KETAHUI HARGA PASAR

Penting untuk mengetahui harga pasar agar saya tidak menetapkan ratecard yang terlalu tinggi atau terlalu rendah. Ini untuk menjaga stabilitas harga di kalangan blogger. Untuk kerja sama yang bersifat one night stand (Istilah lu, Chan!), biasanya saya akan memberikan ratecard di atas rata-rata atau di batas minimal.

Contoh:

  • Content placement ► 250 ribu
  • Sponsored post ► 500 ribu – 3 juta (tergantung kuantitas tulisan dan jenis promonya)
  • Social media campaign ► 100 – 500 ribu/post
  • Content writer ► 350 ribu/artikel (500-750 kata)
  • Consultant ► 500 ribu – 12 juta (personal dan korporasi, tergantung tingkat kesulitan)

Referensi tambahan: Cara Membuat Media Kit & Ratecard

Jadi kalau ada klien yang hanya satu kali kerja sama, biasanya saya akan mengajukan ratecard seperti di atas. Kadang boleh nego, lebih sering tidak.

2. MINTA PENAWARAN

Ini tip yang saya dapatkan dari Teh Ani Berta. Kalau ada calon klien yang menanyakan ratecard, saya akan meminta penawaran dari mereka dulu. Bila sesuai dengan batas minimal, ya saya terima, jika tidak, ya, nego atau ditolak. Sesederhana itu.

TIP:

  • Tanyakan berapa bujet yang mereka alokasikan.
  • Tanyakan goal seperti apa yang ingin mereka capai. Misalnya, harus mendapatkan 5 ribu like, pageview sekian, CPA (cost per action) sekian, dsb. Tinggal kitanya yang hitung-hitungan, dengan goal yang diminta, sanggup enggak kita memenuhi itu? Harganya masuk akal enggak?
  • Tanyakan bentuk kerja samanya secara detail. Harga satu artikel dengan 2 backlink tentu berbeda dengan harga satu artikel dengan 5 backlink.
  • Tanyakan kuantitas tulisan dan jenis kelengkapannya. Misalnya, mereka minta berapa kata. Apakah harus ada foto asli yang kita ambil sendiri ataukah boleh memakai foto dari tempat lain (tentu saja dengan atribusi). Apakah harus ada infografik, video, atau lainnya?
  • Setiap blogger memiliki kebijaksanaan sendiri tentang kuantitas tulisan. Kalau saya, pokoknya jangan minta artikel di bawah 750 kata. Saya enggak bisa nulis pendek, sukanya yang panjang-panjang.

FYI, ada beberapa tipe calon klien:

  • Klien idaman banget ► yang memberikan penawaran terlebih dahulu dengan nominal di atas batas minimal.
  • Klien idaman ► yang meminta ratecard dan deal tanpa nego.
  • Klien masih idaman ► yang meminta ratecard, nego dikit, lalu deal.
  • Klien naon atuh ieu teh ► yang meminta ratecard, lalu hilang tanpa kabar.
  • Klien minta dijambak ► yang meminta ratecard, bilang kemahalan dan membandingkan kita dengan harga yang diberikan blogger lain, lalu hilang tanpa kabar.

3. JENIS PEMBAYARAN

Tidak semua klien membayar dengan uang tunai, ada juga yang membayarnya dengan produk (barang atau jasa) atau voucher. Menurut saya ini penting untuk dipertimbangkan karena kadang produk atau voucher yang diberikan justru tidak bermanfaat bagi kita. Misalnya, ada calon klien yang menawarkan barter sponsored post dengan voucher salon tapi salonnya di Jakarta. Ya buat apa atuh da saya mah tinggalnya di Cimahi. Kudu ka Jakarta heula mun rek nyalon? Tidak berfaedah.

Dibayar dengan produk juga harus milih-milih, lho, karena tidak semua produk bisa dijual lagi bermanfaat bagi kita. Misalnya, saya akan menolak kalau ada klien yang mau barter sponsored post dengan mobil karena saya tidak bisa menyetir dan tidak punya garasi. (Yakeeennn bakalan nolak mobil?)

TIP:

  • Opsi pertama dan utama: dibayar tunai.
  • Saya lebih suka voucher Sodexo daripada MAP karena Sodexo bisa dipakai di lebih banyak merchant.
  • Kalau dibayar dengan produk, pastikan produk itu memang akan kita gunakan. Kalau tidak kita gunakan, pastikan produk itu memiliki nilai ekonomi dan mudah dijual kembali. Kok dijual lagi? Ya, daripada enggak dipake.
  • Voucher diskon gimana? Biasanya akan saya tolak karena ah haroream weh. Kalau diskonnya 100% sih leh uga.

4. KERJA SAMA JANGKA PANJANG

Ada beberapa klien yang memberikan fee di bawah batas minimal tapi job yang diberikan banyak dan terus-menerus. Setiap bulan selalu ada sponsored post atau content writing atau social media campaign. Ini jenis klien yang harus ditangani dengan serius. Maksudnya, harus di-maintain.

TIP:

  • Demi menjaga hubungan baik, kita tak harus menerima semua job yang ditawarkan. Pilih jenis job yang sesuai dengan blog dan karekteristik audiens sosial media kita.
  • Pertimbangkan juga sebesar apa effort yang harus kita berikan. Kita sendiri yang tahu apakah honor yang ditawarkan sesuai atau tidak.

5. JANGKA WAKTU PEMBAYARAN

Saya pernah punya klien yang nilai invoice-nya lumayan tapi baru cair setelah tiga bulan. Ada juga klien yang tulisan belum publish tapi honor sudah ditransfer. Kalau bukan klien jangka panjang, biasanya saya mengindari klien yang jangka pembayarannya lebih dari 30 hari.

TIP:

  • Ketahui jangka waktu pembayaran dengan pasti agar kita tidak usah harap-harap cemas menunggu invoice cair.
  • Jika sudah lewat tenggat waktu yang disepakati tapi pembayaran belum diberikan, jangan segan-segan untuk bertanya. Ini untuk membantu klien sekaligus membantu diri kita sendiri.
  • Kalau jangka waktu pembayaran menurut kita tidak sesuai, lebih baik tidak usah diterima daripada kerja tapi kukulutus.
  • Jika ada masalah dengan tenggat waktu pembayaran, yang harus pertama kali Anda hubungi adalah klien, bukan media sosial. Kirim surel, tanyakan baik-baik, minta kejelasan dan tanggal pasti, lalu tunggu.

Referensi tambahan: Cara Membuat Invoice untuk Blogger

Untuk agensi seperti Sociabuzz atau iBlogMarket, saya tidak menetapkan tenggat waktu melainkan jumlah invoice. Dikumpulkan dulu sampai beberapa invoice supaya nominalnya cukup besar. Hitung-hitung nabung.

6. UKM/USAHA TEMAN

Untuk UKM atau usaha yang dimiliki teman, saya jarang minta bayaran. Biasanya saya akan dengan senang hati mempromosikan produknya for free.

7. EFFORTS

Misalnya, ada klien yang menawarkan sponsored post tapi untuk menulis itu saya harus pergi ke Surabaya. Honor yang mereka tawarkan sebesar 1 juta all in. Ini jelas akan saya tolak karena saya harus mengeluarkan dana untuk transportasi dan akomodasi. Tarohlah setelah dikurangi ongkos, honor yang tersisa sebesar 250 ribu. Ya, mending saya pacaran ngerjain layout-an di kosan daripada jauh-jauh pergi dan hanya dibayar segitu. Bukannya sok ngartis, tapi saya kepala rumah tangga, bertanggung jawab atas hidup anak saya. Nyari duit enggak harus segila itu.

8. KREDIBILITAS KLIEN

Ini pertimbangan terakhir yang saya pakai ketika menetapkan ratecard. Misalnya, kalau Samsung meminta ratecard, saya tidak akan memberikan angka 500 ribu, tapi 2 juta. Kenapa? Takutnya mereka merasa terhina kalau saya kasih harga murah. *ditabok

Sama halnya ketika bertemu klien yang perhitungan. Klien yang menganggap bahwa menulis sponsored post itu semudah bersin sehingga pantas dibayar murah. Ada juga yang menambahi dengan kalimat, “Kami biasa membayar blogger lain dengan harga yang kami tawarkan dan mereka setuju, kok.” Bila berhadapan dengan klien tipe ini, saya jarang mau nego. Bodo amat, cari aja blogger lain kalau gitu.

Referensi tambahan: Etika Buzzer


Well, selama satu setengah tahun (iya, saya masih pemula di bidang monetisasi) honor terbesar dari monetisasi sebetulnya bukan hanya perkara angka yang tertera di invoice. “Honor” juga bisa berupa hubungan baik dan jangka panjang dengan klien, kepuasan klien sehingga kelak mereka menggunakan jasa saya lagi, kepuasaan klien sehingga mereka merekomendasikan saya kepada klien lain, dan tentu saja melatih kemampuan saya menulis.

Oh, dan satu lagi, tidak semua review di blog ini adalah sponsored post. Kadang saya menulis review produk (barang atau jasa) karena ingin berbagi informasi, ingin berbagi pengalaman.

Tapi ada satu hal yang paling penting: sponsored post dibuat untuk pembaca, bukan untuk klien. Tugas kita sebagai blogger dan buzzer adalah untuk membantu pembaca dan calon pembeli mengambil keputusan. Pastikan kita jujur dan memberikan ulasan yang objektif terhadap produk yang sedang kita ulas.

Salam,
~eL

79 thoughts on “Ratecard Bukan Perkara Nominal, Kawan!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *