REMAJA, CITA-CITA, DAN NARKOBA (1)

Sejak saya muda hingga saat ini (26 tahun saya anggap sudah tua), telah puluhan fase yang saya lewati. Jika saya mengingat fase-fase itu, saya masih mengira bahwa saya terkena skizofrenia atau penyakit semacam itu. Siapapun pasti setuju bila dikatakan bahwa menjadi orang muda tidaklah segampang dan seenak kelihatannya.
Umur sepuluh tahun saya bercita-cita jadi guru, lalu insinyur. Tapi cita-cita itu kandas karena kemudian saya tahu bahwa insinyur pun banyak yang nganggur. SMP saya bercita-cita jadi yakuza karena terobsesi tato naga dan film tembak-tembakan yang saya tonton bersama Bapak. Kelas tiga SMP mulai berpikir untuk meniti karier jadi assasin –karena kedengarannya keren-, lagipula pada tahun 1998 ketika reformasi bergulir, cita-cita menjadi menteri atau seperti BJ Habibie tidaklah relevan.
Saat kawan-kawan saya ditanya tentang cita-cit, mereka menjawabnya dengan antusiasme berlebihan. Guru, presiden, insinyur, tentara, PNS, dan karier-karier yang menjanjikan kemapanan. Tapi sepulang sekolah pesta ganja, ke sekolah aja bawa pil BK, setiap bulan kena razia. Saya pikir saat itu, betapa percuma punya cita-cita.
Di bangku SMK saya memutuskan untuk jadi anak baik-baik. Tidak ikut-ikutan merokok, tidak pacaran, karena masuk Seni Rupa ITB adalah sebuah impian yang memerlukan perjuangan maha dahsyat. Kegagalan jebol UMFSRD membawa saya ke petualangan baru; kehidupan jalanan kota Bandung. Ternyata mudah saja mendapatkan satu paket gele (ganja), beli saja di warung rokok. Minuman keras berkeliaran setiap malam minggu. Saya masih ingat, waktu itu topi miring dioplos dengan bir. Kadang anggur putih atau vodka. Lucunya, mereka minum di sebuah lahan kosong tepat di samping Polsek…. Kadang anak muda memang seperti kecoak yang punya indera keenam di punggungnya. Langsung tahu jika ada gerakan mencurigakan di seputar tubuhnya. Lha polisi saja dikadalin,tho.
Lingkungan merupakan stimulan terhebat. Dan remaja adalah bunglon dengan kemampuan meniru paling jitu. Sayangnya, kemampuan itu tidak disertai dengan filter yang memadai, jadinya cuma ilmu sapi. Ngikut doang tanpa ‘ngeh apa yang diikutin.
Ngomong-ngomong soal pemuda dan narkoba, saya menemukan bahwa pemake itu punya nuansa yang beragam. Ada yang make karena merasa enaknya, karena broken home dan itu satu-satunya cara untuk menarik perhatian ortu, ada yang terbawa teman, ada yang cuma iseng coba-coba terus ketagihan. Barangkali bagi orang lain alasan itu cuma klise, tapi tidak bagi yang berkubang di dalamnya. Remaja terbebani dengan ekspektasi semua orang, sedangkan dia sendiri bingung siapa dia sebenarnya.
1 butir pil, maka seribu sel otak mati. Cuma orang tolol dan punya keterbelakangan mental yang berani bertaruh sebesar itu. Penyuluhan itu percuma kalau cuma menyentuh luarnya saja. Judgement hanya akan membuat pemake lebih terbenam di dalam dunianya. Tanya, ajak mereka bicara, dengarkan keluh kesahnya. Apa yang terjadi di hidup mereka. Bantuan seperti apa yang dibutuhkan. Detoksifikasi fisik tak akan mempan jika jiwa dan otak mereka masih berbisa.
Nah, kembali ke masalah cita-cita. Adakah dari para remaja yang masih punya?
-sky-

Leave a Reply