[REPORTASE] Mengetuk Pintu Rumah Kreativitas

Kuot yang pernah diposting oleh Uni Maya Lestari Gf ini saya kira pantas dijadikan pembuka postingan kali ini. Iya, semakin kita mengetahui sesuatu, semakin kita merasa tidak tahu apa-apa. Itu sebabnya mengapa saya memutuskan untuk datang ke pelatihan menulis dengan tema “Menemukan Jati Diri dalam Tulisan” yang diadakan oleh Festival Film Bandung Community (FFB Comm) bekerja sama dengan Blogger Bandung, pada hari Sabtu, 12 Maret 2016.

Menghadiri acara-acara pelatihan penulisan seperti ini bagi saya seperti berenang di telaga yang berbeda. Sebelum berangkat ke Markas FFB Comm di Jalan Zamrud nomor 21, Buah Batu, Bandung, saya sudah wanti-wanti kepada diri saya sendiri, “Chan, kosongkan kepala. Ember yang merasa dirinya penuh tidak akan bisa diisi lagi.” Maka saya datang sebagai penulis yang tidak tahu apa-apa, saya menyimpan semua pengetahuan saya tentang penulisan di dalam kamar kosan. Hasilnya? Banyak sekali pengetahuan yang bisa saya dapatkan.

Pelatihan dimulai tepat pukul 13.30, dibuka oleh Bung Raja Lubis yang menjelaskan apa itu FBB Comm, tujuan diadakannya pelatihan, dan output yang diharapkan dari pelatihan ini. Jumlah peserta yang hanya 8 orang justru menjadikan pelatihan lebih efektif kalau menurut saya. Ini menjadikan sesi diskusi menjadi tidak terlalu riuh.


MENGETUK PINTU RUMAH KREATIVITAS


Pak Agus Safari, penulis kumpulan cerpen Dongeng dari Negeri Kecil yang menjadi mentor kami membuka sesi dengan bertanya tentang apa arti menulis bagi kami dan hambatan seperti apa yang kami hadapi ketika menulis. Jawaban yang diberikan para peserta pun cukup beragam. Saya sendiri kerap menghadapi hambatan keterbatasan waktu untuk menulis. Begitu banyak ide tapi sedikit waktu untuk melakukan eksekusi.

Lalu saya dan teman-teman diminta untuk berpasangan, berdiri saling berhadapan. Kami diminta untuk mengingat hal paling menyenangkan yang terjadi dalam hidup kami akhir-akhir ini dan menceritakannya kepada lawan bicara. Saya berpasangan dengan Susanty Hara, kami menceritakan tentang hal paling menyenangkan secara bergantian, masing-masing hanya diberi waktu selama satu menit.

Saat itu saya bertanya-tanya dalam hati, mau dibawa ke mana pelatihan ini? Setelah sesi curhat terselubung berakhir, barulah Pak Agus memberi penjelasan bahwa yang kami lakukan adalah bagian dari komponen berbahasa yaitu menyimak.

Sesi berikutnya lebih menantang lagi, kami diminta untuk menceritakan kegiatan sehari-hari dari mulai bangun tidur sampai berangkat ke tempat pelatihan. Kenapa saya katakan menantang? Karena kami hanya diberi waktu lima menit.

Setelah itu kami berlatih membuat satu paragraf yang berfungsi sebagi lead sebuah tulisan. Temanya adalah tentang hal yang paling tidak menyenangkan. Lagi-lagi kami dibatasi waktu, hanya tiga menit. Kalau saya lihat sih teman-teman yang lain tidak begitu kesulitan. Hambatan hanya dialami dua orang karena kejadian tidak menyenangkan yang mereka alami kerap berulang sehingga agak sulit menentukan timeline yang tepat.

“Ini kita baru sampai kepada mengetuk pintu rumah kreativitas, lho. Belum sampai masuk ke dalam rumah, belum lagi menjelajahi isi rumah,” kurang lebih begitulah yang dikatakan Pak Agus.

Well, saya siap nih untuk sesi berikutnya.


MEMASUKI RUMAH KREATIVITAS

Ini sesi paling menarik. Setelah rehat selama 30 menit, Pak Agus menjelaskan tentang peran data dan fakta di dalam sebuah tulisan. Dengan bekal itu pulalah kami diminta untuk membuat sebuah tulisan dengan komposisi 50% fakta dan data, 50% opini. Ini bukan tentang reportase yang sering dibuat oleh wartawan karena teknik jurnalis dengan nonjurnalis agak berbeda. Ini tentang bagaimana sebuah data yang berasal dari pengalaman si penulis atau narasumber bisa diolah menjadi tulisan yang memiliki landasan logis meski isinya opini.

Karena diberi waktu 30 menit, tulisan yang dihasilkan oleh para peserta tentu lebih panjang dan komprehensif (luas dan lengkap). Sayangnya, nyaris semua dari kami mengalami kesulitan ketika mengkomposisikan data dan opini. Kebanyakan dari kami menggabungkan 30% data dan 70% opini. Komposisi yang dibuat Teh Yayu malah lebih “brutal” lagi: 10% data 90 opini. Hahaha.

Menanggapi kendala yang dihadapi para peserta, Pak Agus hanya tersenyum sambil berkata, “Ya sudah tidak apa-apa, namanya juga kreativitas. Ya pasti beragam.”


RUANG BARU DI KEPALA SAYA


Sebagai mantan mentor penulisan yang terbiasa “kejam” kepada para anak didiknya, bagi saya ini merupakan cara pelatihan baru. Sama sekali tidak ada tekanan. Di akhir sesi kami hanya diberi pekerjaan rumah berupa tulisan gabungan pengalaman pribadi dan opini sebanyak 2 halaman, bukan 5 buku bacaan dan 7 halaman cerpen seperti yang biasa saya tugaskan kepada para calon cerpenis.

Sebagai cerpenis sekaligus blogger, ini juga hal baru bagi saya. Selama ini saya terbiasa memperumit masalah dengan pola pikir bahwa data dan fakta adalah angka-angka dan grafik yang bisa saya pamerkan ke hadapan pembaca.

Di pelatihan ini pula, saya mendapatkan semacam pencerahan tentang bagaimana menggunakan istilah-istilah dalam penulisan:

  1. Karena tingkat pemahaman pembaca berbeda-beda, setiap istilah yang sekiranya belum familiar harus diberi keterangan di dalam kurung.
  2. Pakailah istilah-istilah yang sesuai. 

Untunglah saya datang dengan kepala kosong, maka terciptalah ruang baru di dalam kepala saya. Tentang metode menulis yang berbeda dari yang selama ini saya ketahui. Tentang bagaimana sebuah pengalaman bisa diolah menjadi tulisan berisi data dan fakta tak terbantahkan.


RUANG BARU LAINNYA

Sambil menunggu hujan agak mereda, kami berbincang-bincang tentang film dengan Raja Lubis. Ini diskusi menarik karena banyak hal yang bisa saya dapatkan. Misalnya, tentang kesepatakan yang dibuat oleh para sineas untuk menyebut para pemain sebagai aktor, bukan lagi aktris dan aktor.

Kami juga berbincang tentang film-film Indonesia dari mulai akting, promosi, profil penonton, sampai BEP. Ternyata, dunia film itu begitu banyak pernak-perniknya. Apalagi ketika membahas film-film yang diangkat dari novel. Wuih, seru. 


Karena hujan tidak jua reda dan malam semakin beranjak tua, saya dan Teh Yayuk memutuskan untuk memesan taksi dan pulang. Kami tidak pulang dengan tangan kosong, melainkan membawa ruang baru di dalam kepala kami, dan tentu saja tugas dari Pak Agus Safari. 

Oh ya, pelatihan menulis akan diadakan secara kontinu oleh FFB Comm, Anda yang berminat bisa bergabung dengan grup FB-nya di sini

Salam,
~eL 

13 Comments

  1. March 15, 2016 at 6:00 am

    Bermanfaat sekali

  2. March 15, 2016 at 6:04 am

    Wah, mantap! Bener2 creative writing ya? Jadi pengin ikutan euy.

  3. March 15, 2016 at 7:09 am

    Surabayaaa… 🙁

  4. March 16, 2016 at 12:55 am

    teh langit emang jagonya, penyampaiannya bner2 pnya gaya sendiri,.. 🙂 kayaknya bakalan dapat red karpet nih… hehheehhheeheee

  5. March 16, 2016 at 1:32 am

    Aku juga mau ikutan pelatihan Kang Alee ah, biar lebih banyak ilmu. 🙂

  6. March 16, 2016 at 1:32 am

    Creative & free writing sih kalau menurut aku mah. Ikutan gih, ada penulisan skenarion juga, lho.

  7. March 16, 2016 at 1:33 am

    Kagak ada di Surabaya mah. 😀

  8. March 16, 2016 at 1:34 am

    Adududu, asa gimana gitu ya. Hahaha. Soalnya aku nggak bisa nulis reportase dengan gaya lain sih.

  9. March 17, 2016 at 8:42 am

    betul… kalau menimba ilmu, jangan lupa embernya dikosongi lagi…

  10. March 21, 2016 at 12:59 pm

    aahhh asyiiik banget baca reportasenya. seribu rasa deh. seru yaa, nimba ilmu, diskusi film dan ujan-ujanan hehehe… lagi nyookk

Leave a Reply