[RESENSI] Kedai 1001 Mimpi, Sisi Mengerikan Arab Saudi

Judul: Kedai 1001 Mimpi: Kisah Nyata Seoran Penulis yang Menjadi TKI
Penulis: Valiant Budi
Penerbit: Gagas Media, 2011
Edisi: Cetakan kelima, 2014
ISBN: 979-780-497-6
Tebal buku: xii + 444 halaman (13 x 20 cm)
Bintang: 3/5
Harga: Rp19.000.00 (obral Gramedia)


“Datang ke sini itu harus siap ‘dijajah’. Baik jiwa maupun raga!”
– Yuti


Setiap kali membaca buku Vabyo (Valiant Budi) saya harus siap dengan berbagai kejutan, pun kali ini. Meski ini buku nonfiksi, tapi saya yakin bahwa di dalamnya sudah disiapkan berbagai jebakan, sama seperti kedua buku Vibi sebelumnya: Joker dan Bintang Bunting. Sayangnya saya salah, kali ini tidak ada jebakan karena setiap bab di dalam buku adalah roaler coaster yang membuat saya meringis, bahkan ingin menangis. 

Jadi ini sebabnya mengapa ia seakan menghilang? Pergi ke Saudi untuk menjadi TKI karena mewujudkan mimpi untuk tinggal di Negeri 1001 malam itu? “Tolol kali kau, Kang! Kayak nggak ada kerjaan lain aja,” saya ingin mengatakan itu kepadanya. Tapi siapalah saya? Cuma pembaca yang pada akhirnya bersyukur karena salah satu penulis favoritnya berhasil selamat kembali ke Indonesia. 


IRONI

Berbeda dengan kedua bukunya yang lain, gaya bertutur Vabyo di Kedai 1001 Mimpi menurut saya agak “ganggu”. Terutama rima di setiap akhir kalimat yang terkesan agak maksa. Juga karena gaya komedi yang memang tidak cocok untuk buku sejenis ini.

Namun, setelah selesai membaca buku ini, saya berspekulasi bahwa gaya bertuturnya memang disengaja. Kegetiran yang dikemas dengan gaya komedi, betapa ironi. 


SISI MENGERIKAN ARAB SAUDI

Vabyo bekerja sebagai barista di Kota Dammam, kota kecil di Arab Saudi. Bukan, bukan kedai kopi seperti kafe-kafe lokal seperti di Indonesia, melainkan kedai kopi bertaraf internasional. Sayangnya kualitas kedai kopi itu jauh dari kualitas internasional.

Sejak hari pertama datang, ia sudah menghadapi berbagai tantangan. Jangan sebut cuaca esktrem, itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan yang ia alami kemudian. 

Bab demi bab menyajikan cerita yang membuat saya berdoa, berharap bahwa itu semua fiksi belaka. Kedai kopi tempat Vabyo adalah “neraka” kalau kata saya. Mulai dari rekan kerja yang tidak kooperatif cenderung “kulub-able”, store manager yang gemar meminjam uang dan menggelapkan uang penjualan, modus penahanan paspor oleh perusahaan, sampai para pelanggan yang menurut saya pantas diajak ngopi ama Jessica.

Belum lagi ada cerita tentang Teh Yuti, TKW asal Tasik yang berkali-kali akan diperkosa oleh majikannya, tapi Teh Yuti melawan dengan bersiasat. Akhirnya dia dinikahi meski kehidupan pernikahannya tidak sebahagia yang kita kira. 

Ada juga Mas Blitar yang bekerja sebagai sopir, ia kerap kali mendapatkan serangan seksual dari sang madam. Keadaan memaksa dia merangkap menjadi “lelaki siap pakai”, secara bergiliran pula.

Kalau Anda berpikir bahwa Arab Saudi adalah tempat orang-orang bergamis dan ber-abaya yang setiap saat menyebut nama Tuhan, relijius, para calon penghuni surga. Saya sarankan Anda membaca buku ini. Kalau Anda berpikir bahwa di negara tempat turunnya Islam ini nasib perempuan jauh lebih baik, lagi-lagi saya harus menyarankan agar Anda membaca buku ini. Kalau Anda berpikir bahwa Arab Saudi suci hama dari perzinahan. Kalau Anda berpikir homoseksual tidak ada di sana. Kalau Anda berpikir bahwa rasisme hanya milik orang-orang kulit putih. Kalau Anda berpikir bahwa di sana tidak ada pesta alkohol dan pesta seks. 

SAYA SARANKAN ANDA MEMBACA BUKU INI.

Di Dammam, pernah ada perempuan yang diperkosa beramai-ramai oleh temannya lalu hamil. Ketika ia datang ke rumah sakit untuk aborsi, pihak rumah sakit malah melaporkannya atas tuduhan hamil di luar nikah. Perempuan itu kemudian dipenjara.

Sakit, ya? 

Jujur, Kedai 1001 Mimpi membuat saya bersyukur lahir dan besar di Indonesia. Negeri yang meski sering dicerca oleh kaum feminis, tapi setidaknya perempuan di sini diperlakukan sebagai manusia. Saya meraba dada, ingat akan Aksa. Kalau saya tinggal di negara lain, mungkin kami akan mati dirajam. Jadi, Anda yang koar-koar melulu tentang kesetaraan gender, mungkin ada baiknya tinggal setahun dua tahun di Saudi. #eh 


Gebleg juga ya. Aku berjanji tidak akan menceritakan perngalaman memalukan ini pada siapapun! Dikejar-kejar pria tengah malam sambil bawa-bawa ayam goreng. Nentang ayam disangka ‘ayam’. 

– Hal 115


Saya juga bersyukur karena meskipun kaum LGBT mulai agresif tapi setahu saya tidak ada om-om yang nyari mangsa di jalanan dengan cara yang nyaris sama dengan penculikan atau pemerkosaan. Gilanya, Vabyo tidak hanya sekali dua kali mendapatkan pelecehan seksual, tapi sering. 


INI BUKAN TENTANG ISLAM

Ketika Vabyo menceritakan pengalamannya di Facebook dan blog, dia malah disangka sedang menjelek-jelekkan Islam oleh kebanyakan pembaca. Kebenaran itu memang pahit, ya? Saya kira kalau ada 10 orang saja TKW yang punya kemampuan menulis memoar, negara akan menarik semua TKW sektor informal dari Saudi Arabia. Well, tidak juga sih. Toh di KBRI juga banyak oknum yang sering meminta pungli jika ada TKW yang meminta pertolongan. Belum lagi ketika di bandara. Najis banget lah urusan TKW ini. 

Oh iya, izinkan saya mengatakan bahwa buku ini bukan tentang Islam. Ini tentang sebuah bangsa yang sialnya sering kita puja-puja. Negara yang menjadikan Indonesia sebagai tempat wisata berahi. Hallow, Puncak! Araya keneh, yeuh? 


OPINI TAMBAHAN

Terus terang, saya sudah muak membaca berita tentang TKW Saudi yang pulang tinggal nama atau hidup tapi gila. Saya sudah muak melihat para perempuan hanya dijadikan komoditas ekspor, sapi perahan atas nama devisa. 

Saya sudah muak melihat sikap negara yang lebih banyak diam atas kasus-kasus penganiayaan dan pemerkosaan para TKW di Saudi. Kenapa? Tidak bisa menyediakan lapangan pekerjaan sehingga para perempuan lebih senang merantau ke Arab? Kenapa? Tidak sanggup membekali keahlian dan mencetak para wirausahawan? Kenapa? Takut sama Saudi karena di sana tempat lahir nabi? Kenapa? Takut hubungan bilateral cedera lalu umat Islam Indonesia dilarang pergi haji?  

Demi Tuhan, ini sudah MEA. Masih musim ya jadi negara penghasil “babu”? Mbok ya kalau mau ekspor SDM middle-level, lah. Maaf-maaf kalau saya jadi emosi. Maaf juga kepada teman-teman blogger yang bekerja di sektor informal di luar negeri. 

Dari buku ini saya banyak belajar dan bersyukur. Betul-betul bersyukur menjadi warga Indonesia. Meskipun setiap kali Pilpres selalu penuh drama. Meskipun para pejabatnya korup. Meskipun banyak orang yang sebentar-sebentar nuduh PKI. Meskipun ada FPI yang jadi pelurunya polisi. #eh

Meskipun isu agama masih laku untuk dijual karena banyak orang tolol yang termakan umpan. Meskipun harga BBM kerap kali naik. Meskipun sektor pendidikan masih jadi isu sampingan. Meskipun banyak demo buruh. Meskipun sering banjir. Meskipun cowok-cowok seksi yang enak cuma orang Bandung. #Eh lagi

Tapi ini Indonesia, hukum berlaku di sini walau tertatih-tatih. Tapi ini Indonesia, tempat perempuan yang diperkosa mendapatkan perlindungan meski pelakunya masih sulit dipenjara. Tapi ini Indonesia, negeri saya tercinta. 

Negeri saya tercinta.

Salam,
~eL

14 Comments

  1. April 11, 2016 at 7:10 am

    Meski ini tulisan resensi…tetap saja saya berkobaaar membacanya.

  2. April 11, 2016 at 8:22 am

    baru baca resensinya aja udah merinding… Dan jadi mau baca langsung bukunya ah

  3. April 11, 2016 at 8:38 am

    Melambai-lambai nyiur di pantai. Berbisik-bisik raja kelana. Memuja pulau nan indah permai. Tanah airku… Indonesia.����

  4. April 11, 2016 at 2:26 pm

    Tulisan Teteh selalu keren. Bernyawa. Berapi-api. Aku sukaaa!!!

  5. April 11, 2016 at 2:42 pm

    Bakarrrr, Teh! Bakarrr!! Kok jadi geregetan ya baca postingan ini, haha.

  6. April 12, 2016 at 1:22 am

    Kaleum, Nay, kaleum. 😀

  7. April 12, 2016 at 1:23 am

    Baca gih, ama udah ada juga seri keduanya.

  8. April 12, 2016 at 1:23 am

    Hahaha.

  9. April 12, 2016 at 1:23 am

    (((berapi-api))) Hahaha.
    Makasih sudah membaca 🙂

  10. April 12, 2016 at 1:24 am

    Bakar sate? Bakar jagung? Bakar ikan? Hahaha.

Leave a Reply