Roman; Catatan Penulis Masokis dan Pembaca Sadis


Memang betul, apa yang kita baca akan sedikit banyak memengaruhi apa yang kita tulis. Sejak dulu saya adalah pembaca brutal dalam arti bisa membaca minimal tiga buku dalam seminggu, tergantung dari tebal dan seberapa menarik buku itu. Selain itu, saya juga membaca komik dan label makanan, label baju, plang jalan, dan segala jenis iklan di majalah atau koran. Memang, akhir-akhir ini saya jarang membaca karena lebih sering menulis (baca; curhatan FB). Ini kesalahan besar karena seperti kata Wida Waridah, membaca itu adalah nutrisi sekaligus inspirasi.

Saya adalah penulis generalis dalam arti menulis jenis tulisan apa saja, dari mulai puisi sampai reportase. Menulis genre apa saja, dari mulai komedi sampai thriller. Menulis di mana saja, dari mulai hanya catatan FB sampai majalah nasional. Itu artinya, nutrisi yang saya butuhkan tentu harus semakin banyak. Tapi kesalahan saya paling besar adalah; SAYA TIDAK MEMBACA JENIS BUKU APA SAJA. Sehingga otomatis referensi saya sedemikian sempit daripada tulisan yang harus saya gubah. 

Novel misalnya, saya hanya tertarik kepada yang berbau mitologi, science, psikologi, dan tentu saja thriller. Saya pernah membaca buku Mark Twain dan mengeluh bosan di halaman kedua puluh lima. Saya pernah membaca buku Seno dan berhasil menamatkan dengan sistem sampling alias baca awal, tengah, lalu ending. Memang, membaca adalah selera. Tapi, sekali lagi, untuk penulis generalis seperti saya, itu tentu tidak akan cukup. 


Nah, akhir-akhir ini saya sedang memiliki obsesi untuk menulis novel dengan genre ROMAN. Di dalam benak saya, roman berarti kisah cinta-cintaan. FYI, satu-satunya novel roman yang pernah saya baca adalah karangan Nicholas Sparks yang berjudul Message in a Bottle (ini genre roman kan?). Bagaimana saya bisa menulis roman kalau saya tidak pernah membaca roman? Oke, Harlequin itu roman bukan? Jika ya, maka saya pernah membaca beberapa di antaranya dan nyaris mati bosan kemudian segera beralih ke novel John Grisham atau Mario Puzo. 

Beberapa hari yang lalu, saya sempat menulis novel dengan genre (kepingin) roman. Bab pertama, okelah masih adem ayem. Bab kedua, sudah mulai agak-agak dark. Di bab ketiga (nyaris sudah halaman 30-an), cerita berbelok ke arah yang lebih seram. Kenapa? Ya mana ada cerita roman yang tokoh utamanya membunuh semua mantan kekasihnya, coba? Saya tinggalkan draft naskah saya dengan rasa frustasi kemudian beralih ke naskah baru. Hal yang sama terjadi, si tokoh utama pria yang tadinya adalah pengusaha kaya raya berubah jadi pembunuh berantai. Oke, I had enough

Maka, untuk menetralisir otak saya yang masokis ini, saya pun membeli novel roman. Membaca blurb-nya sih menjanjikan, tapi begitu saya membaca bab pertama, kening saya mulai berkerut. Di bab kedua, saya langsung memutuskan bahwa novel itu payah karena narasinya ‘menyedihkan’ bahkan cenderung ‘menjijikan’. Kemudian saya berpikir; I CAN WRITE MUCH BETTER THAN THIS FUCKING NOVEL. Ini pemikiran bagus, karena itu artinya saya akan kembali mencoba menulis novel roman. Dan hal yang sama terulang; roman berubah jadi pembantaian. Mungkin saya tidak harus membaca novel roman melainkan pergi ke psikolog atau transplantasi otak >.<.

Jadi, apakah saya harus memaksakan diri membaca buku-buku yang tidak saya suka hanya demi mendapatkan referensi? 1. Ya, ini risiko yang harus saya ambil kalau tetap ingin jadi penulis generalis. 2. Tidak, jika saya ingin tetap otak saya rusak gara-gara membayangkan benda-benda tajam ketika menulis cerita cinta. Oh yeah, being a writer is a hard and smart work. Then I wont give up. Never!

Oh ya, ada satu masalah lagi, saya tidak tahan dengan long life relationship (heuh?). Saya tidak tahan menulis cerita yang berpanjang-panjang seperti novel karena pikiran saya kerap pegal. Itu sebabnya saya lebih memilih menjadi cerpenis daripada novelis. Ah, such a hard way -_-“




Leave a Reply