SANDAL IMAJINASI (2)

Mereka memang punya cara ajaib untuk menyiksaku. Sandal manik-manikku yang baru ,putus dua minggu lalu. Tepat ketika aku turun dari angkot sehabis membeli buku. Jadi aku harus berjalan tanpa alas kaki sampai ke mess. Untungnya cuma sekitar seratus meter. Itu pun di malam hari.
Sandal lamaku, yang sempat aku ‘operasi’, memilih untuk memutuskan diri di saat yang sangat tepat. Yaitu pada waktu aku turun dari mobil jemputan. Di depan gedung Otorita Batam, ketika aku mau apply revisi masterlist. Dan itu di siang hari.

Mengingat gedung Otorita tidak mengizinkan pengunjungnya datang tanpa alas kaki, aku langsung balik kanan dan pulang. Masterlist urusan nanti, lagipula sopir perusahaanku selalu tergesa-gesa dan tak mau menunggu. Tak ada waktu untuk lari ke Mega Mall dan membeli sandal yang baru. Ngaku, waktu itu aku emang nggak bawa duit. Hehehe.

Sayangnya, aku tak sempat untuk menggambar lagi sandal baru yang aku inginkan. I tell you what, membeli sandal atau sepatu adalah sebuah siksaan perasaan bagiku.

Aku masih teringat bagaimana kerutan dahi para penjaga toko ketika aku meminta sandal dengan ukuran 41. Karena setahu mereka, perempuan setinggi apa pun tetap memakai ukuran sandal yang normal, yaitu 40. Nah, aku ini abnormal dong? Hahaha…tunggu sampai kalian melihat 3 skrup yang berjejer di bahuku. Membuatku nyaris mirip alien atau korban implant.
Aku memerlukan waktu sedikitnya lima jam berkeliling ke setiap toko untuk menemukan sandal atau sepatu yang pas. Model dan warna tak menjadi masalah, ukuran kakiku ini lah yang sering bikin ulah.

Selain ukuran kaki yang agak abnormal, aku juga punya semacam chemistry untuk merusakkan sandal-sandal itu dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Menurut Ibu, dalam silsilah keluarga kami, aku lah yang memegang rekor tertinggi dan tercepat dalam hal merusakkan sandal. Jadi, kalau adik-adikku cukup dibelikan sepatu atau sandal satu kali dalam setahun, Ibu harus menahan beban penderitaan membelikanku sepatu baru setidaknya tiga bulan sekali.

Setelah dewasa, bekerja dan punya penghasilan sendiri, beban itu berpindah ke pundakku sendiri. Aku mulai berpikir untuk menyisihkan cost tersendiri untuk memenuhi kebutuhan si kaki. Anehnya, aku tak terlalu ambil pusing mengenai putusnya kedua sandalku. Aku pergi ke mana-mana menggunakan sandal jepit berwarna ungu favoritku. Dan pergi kerja menggunakan itu.

Tak ada waktu untuk mengeluh. Bukankah manusia masih bisa hidup meskipun tanpa alas kaki? Jadi untuk apa aku ambil pusing. Profesionalisme? Aku bisa bekerja sebaik karyawan yang menggunakan sepatu hak tinggi. Safety? Untungnya di kantor, kami tidak diperbolehkan memakai alas kaki. Gengsi? Apa itu gengsi? Jenis makanan vegetarian yang baru? Tidak, hidupku sudah jauh meninggalkan petak-petak pengakuan sosial seperti itu.

Bersulang! (dengan kopi tentunya, bukan dengan wine) untuk kebebasan! Untuk kemerdekaan! Atas keterbatasan.

Note: saat tulisan ini terbit, aku sudah berhasil membeli sandal yang baru seharga empat puluh lima ribu.

Rata Penuh

Leave a Reply