SANDAL IMAJINASI (3)

Duh, kemalangan apalagi yang hendak Engkau hadiahkan padaku, Tuhan? Tapi tak apalah, toh Engkau sudah mencabut urat maluku sejak dulu. Dan sudah sepantasnya aku berterima kasih pada-Mu atas itu.
*

Aku curiga kalau semua alas kaki yang aku punya telah bersenyawa dengan seluruh jin yang ada untuk membuatku terdera (lebay). Kalau sandal jelek, aku pun maklum. Kalau sepatu lusuh yang luruh (paan seh?), aku pun tak akan habis pikir. Tapi ini, sepatu yang konon baru itu telah Rata Penuhmempermalukanku dengan cara rusak berat di tengah jalan, malam minggu, di depan semua mahasiswa Maranatha yang sedang berlalu lalang. Nggak tanggung-tanggung, solnya lepas. Semua? Ya, semua.
Padahal nih, jarak ke rumah masih sekitar 200 meter lagi. Maka dengan rasa percaya diri yang tinggi, kuambil saja sepatu jahanam itu, kulepas yang sebelah lagi, dan berjalan pulang tanpa alas kaki alias nyeker.
Sepanjang perjalanan yang menggairahkan (baca: memalukan) itu, aku pun berpura-pura jadi Tough si pengendali tanah. Meski yah, nggak buta dan bisa melihat dengan jelas mata-mata yang memandangku kasihan sekaligus heran.
Besoknya aku langsung mendaftarkan diri ke MURI untuk rekor tercepat merusakkan alas kaki. Dan alhamdulillah, langsund diminta syuting Cinta Fitri sebagai pengganti Mischa, karena katanya aku memiliki daya destruktif yang sama.

***

Bandung, 13 April 2010

Leave a Reply