SANDAL IMAJINASI

Sudah seminggu aku kemana-mana memakai sandal rusak. Sol depannya sudah menganga, kiri dan kanan. Sehingga aku harus berjalan pelan-pelan supaya sandalku tidak benar-benar copot. Sebenarnya bisa saja disol, tapi keadaannya memang sudah bau tanah, jadi percuma saja. Hanya demi kode etik aku tak berangkat kerja memakai sandal jepit.

Membeli sandal atau sepatu baru juga nyaris tidak mungkin. Jadi dengan terpaksa dan rela kupakai sandal itu sampai hari gajian tiba.

Aku tak pernah menyalahkan orang lain atas ketidaksempurnaan hidupku. Jika ada yang tidak sesuai dengan harapan, atau ada keinginan yang belum terlaksana, aku tak pernah membuangnya. Melainkan menyimpan untuk dicapai di kemudian hari.

Lahir di keluarga sederhana memang tak boleh miskin imajinasi. Sejak kecil aku selalu berkhayal. Mewujudkan khayalanku dengan cara paling sederhana.

Sewaktu aku kecil, Ibu tidak pernah membelikanku boneka atau permainan masak-masakan yang terbuat dari plastik bagus itu. Jadi untuk mengakalinya, aku mencuri jagung muda dari kebun tetangga. Jagung muda kan punya bulu-bulu halus serupa rambut di ujungnya tuh. Bila kutusukkan lidi di bagian atas sebagai tangan, mak jadilah jagung muda itu sebuah boneka jagung berambut panjang dan pirang. Persis boneka barbie.

Setelah agak besar dan bisa menggambar, aku terbiasa menggambar benda-benda yang kuinginkan di sehelai kertas. Lalu membawanya tidur. Dengan harapan malamnya ketika aku tidur akan ada peri baik hati yang mengabulkan permintaanku.

Menginjak remaja hal itu masih kulakukan. Tapi tak lagi mengharap ada peri baik hati. Karena aku tahu bahwa keajaiban semacam itu hanya omong kosong. Maka penuhlah buku harianku dengan tempelan gambar-gambar dari majalah bekas yang kuminta dari tetangga, persis seperti prakarya kliping.

Sekarang umurku 26 tahun. Dan hal itu tetap kulakukan. Namun sekarang agak berbeda. Benda-benda itu tidak termasuk ke dalam wish list, melainkan need list. So, yang kugambar atau kugunting dari majalan adalah benar-benar benda yang aku butuhkan.

Tadi malam, sebelum tidur aku menggambar sebuah sandal bagus bermanik-manik yang pernah kulihat entah dimana. Gambarku memang tak sebagus aslinya, karena aku sudah berhenti menggambar sejak membaca buku yang mengatakan bahwa menggambar mahluk hidup itu haram. Berhubung sandal tidak termasuk mahluk hidup, jadi aku berani membuat sketsanya. Meski hasilnya sungguh mempermalukan anak seni rupa. Oke, menggambar juga sama seperti menulis. Semakin jarang dilatih,semakin hilanglah ‘bakat’ itu.

Nah, sketsa yang kubuat itu kubawa tidur sampai kertasnya lecek-lecek. Sebelum tidur, tak lupa aku berdoa: “Rabbi, jangan biarkan aku kufur terhadap nikmat yang kau berikan. Aku tak minta Kau turunkan malaikat yang akan memberiku sandal bagus bermanik-manik ketika aku tidur. Aku hanya meminta Kau melapangkan jalan dan rezeki-Mu atasku. Amin.”

4 Comments

  1. May 17, 2009 at 9:16 am

    amiiin..hha
    gambarnya bagus kok kak!

  2. May 18, 2009 at 3:16 am

    🙂

    nice post

    kan kalo kita susah dapetnya,
    kita akan lebih ngrasa nikmat waktu udah dapet

    gitu bukan?

  3. May 21, 2009 at 4:28 pm

    amien…

    hmmmm sendalnya terlihat menarik! 😀

  4. Skylashtar-Reply
    May 23, 2009 at 12:34 am

    rangga: gambarnya bagus? thank u, besok gw bikin sketsa lagi dan pajang di sini.
    denny: sandal itu belum terbeli sampai sekarang.tapi rasa nikmat itu mulai merembes ke dalam pori-pori, semoga terus begitu.
    naz: namanya juga sandal imajinasi. Jadi…ya gitu deh

Leave a Reply