Satelit Timpang

Satelit Timpang
 

Saat ini, kebahagiaanku tak lagi penting. Semestaku berhenti berotasi di satu poros. Kini aku memutari gugusan-gugusanmu bagai satelit timpang dan bingung. Sebab segala sesuatunya tertuju ke satu delta, yaitu kamu.

Pernahkah kau rasakan? Bagaimana udara bisa menginduksi pedihmu jadi partikel lain yang menyusup ke celah-celah selku. Pedihmu membelah diri di dalamku, beranak pinak menjadi ribuan bahkan jutaan di dalamku. Dan sialnya, kau tak tahu itu.
‘Aku mencintaimu…!’ haruskah kata-kata ganjil itu kuteriakkan di hadapan semua orang? Di gendang telinga orang-orang yang kita kenal.  Bukan hanya sebatas nama dan bayang-bayang dalam catatan-catatan.  Andaikan hati bisa ditransplantasi seperti jantung, kurelakan hatiku untukmu, agar bisa sedikit saja kau mamah serpihan rindu. Sebab aku tak yakin apakah aku masih bisa menahan retakan kerpak di dada. Tapi apakah itu akan berarti banyak kecuali tukak demi tukak?
Jika kelak jalan kita tidak lagi bersisian, lalu berpisah di sebuah persimpangan, engkau akan mengingatku sebagai perempuan yang mencintaimu.  Dan jika saat itu tiba, semoga tidak lagi kumamah luka yang berderai dari matamu, dari dadamu. 
(Bandung, 11 Februari 2012)

Leave a Reply