Saya Batal Mati Hari Ini

Tadi malam saya merasakan bahwa kematian memang begitu dekat, begitu nyata. Persis seperti tagline sebuah iklan atau entah apa, saya lupa. Kematian, mengendarai berbagai jenis kendaraan, tapi bisa dipastikan ia akan sampai di beranda hidup kita, cepat atau lambat. Setelah seharian menemani teman lama yang terbaring sakit di rumah sakit untuk kemudian konsultasi gratis dengan dokter ahli jantung mengenai sakit yang saya derita akhir-akhir ini, hingga janji temu untuk memberanikan diri melakukan EKG, saya tahu bahwa hidup saya mungkin tidak akan lama.
“Gue enggak mau mati hari ini, Chan,” kata teman saya dengan selang tertancap di kedua tangannya. Matanya nanar dan basah. Ginjalnya rusak, padahal setahu saya ia adalah manusia paling ‘sehat’ dengan pola hidup beradab. Tidak minum, tidak merokok, tidak memakan daging merah, dan anti dengan segala bentuk junkfood, benar-benar hidup yang menurut saya membosankan tapi ia selalu berkilah bahwa tubuhnya adalah pura, tempat suci, bukan tempat sampah. Maka ia memperlakukan tubuhnya sebaik mungkin dengan cara tidak memasukkan toksin-toksin baik itu makanan, tembakau, atau minuman yang tidak sehat.
Tapi apa? Toh ia sakit juga, malah lebih parah daripada saya yang pemakan segala dan peminum segala.
“Takdir, barangkali,” akhirnya ia mengeluarkan pernyataan yang di telinga saya sama seperti keputusasaan. Tapi mungkin ia benar, bahwa dengan bertuhan dan percaya dengan ketentuan qada dan qadar, setidaknya kita memiliki ‘kambing hitam’ ketika hidup tak sesuai dengan harapan.
Setelah menghiburnya habis-habisan, saya dan satu orang teman lagi meninggalkannya di rumah sakit karena saudara-saudaranya telah datang untuk menunggui. Sebelum diantar sampai ke rumah, kami jalan-jalan dulu sebentar. “Hunting foto dulu, yuk,” kata teman saya.
Teman saya yang fotografer jadi-jadian ini terobsesi dengan cahaya dan suasana, nyaris sama seperti saya. Meski perempuan, tapi pemikirannya bebas berlarian. Pun orientasi seksualnya. Tapi saya tidak ingin membahas itu karena memang tidak esensial bagi saya. Kami pun sepakat untuk makan, foto-foto lalu ia mengantar saya pulang. Semua dia yang bayar, dari mulai makan sampai antar jemput.
Sepanjang perjalanan dan sepanjang sesi foto yang kadang membuat saya bosan itu, kami berdua kerap bercakap tentang konsep kematian, tentang surga dan neraka yang ia ragukan.
“Bagaimana kalau jantung gue beneran rusak dan gue akan mati dua bulan lagi?” celetuk saya sambil terus mengunyah coklat. Teringat janji test EKG dengan dokter di rumah sakit yang pasti akan saya ingkari terus-menerus karena saya tidak memiliki dana untuk itu.
“Kalau mati ya mati aja, terus gue harus gimana?” jawabnya lugas.
Ya, kalau saya mati terus apa? Apa yang akan dilakukan oleh orang-orang terdekat saya? Tidak ada, bukan? Barangkali mereka akan menguburkan jasad saya, berdoa, lalu sudah. Tapi pertanyaan tentang kematian itu ternyata saya tujukan untuk diri saya sendiri. Karena saya masih percaya bahwa akan ada kehidupan setelah ini. Lalu, jika saya mati, terus bagaimana? Apakah saya akan masuk surga atau dibakar dulu di kerak neraka? Untuk berapa lama? Tidak ada yang mampu menjawabnya, tidak teman saya itu, tidak juga saya. Mungkin Tuhan bisa, tapi saya enggan bertanya tentang itu. Sungguh, saya enggan bertanya.
Kematian memang begitu dekat.
Kami pulang tidak terlalu malam, meski jalan yang kami lalui cukup lengang. Tepat di belokan Cipedes Utara, motor kami dicegat tiga motor yang kesemua orang di atasnya memakai helm tertutup, mereka memakai jaket, sarung tangan, persis seperti rampok atau geng motor.
Kami berhenti, saya turun dari motor, teman saya itu pun turun dari motor. Salah satu penumpang motor yang mencegat kami secepat kilat menodongkan bayonet ke leher saya, meminta dompet dan semua isi tas.
Waktu itu saya pikir, inilah kematian, kematian yang selalu saya nanti-nantikan. Jadi saya tidak akan mati dibunuh jantung saya sendiri dan menyusahkan semua orang melainkan mati ditikam orang asing di pinggir jalan yang hening.
Teman saya, meski penampilannya maskulin, tapi ia gemetar, ketakutan. Perlahan saya membuka helm. Jikapun saya harus mati di tangan enam orang perampok ini, saya ingin mereka melihat wajah saya, agar mereka ingat wajah siapa yang akan mereka hantar menuju kematian. Mungkin saya akan datang suatu hari nanti untuk mengucapkan terima kasih.
Salah satu dari mereka berseru. “Teh Uchan?” dari suaranya sepertinya saya kenal.
Dia, salah satu perampok itu membuka helmnya dan mendekat. Sialan, ternyata dia itu kawan adik saya, pernah beberapa kali ke rumah. Teman-temannya yang lain ikut-ikutan membuka helm, bahkan bayonet yang tadi dipegang oleh salah satu mereka segera disarungkan. Coba tebak! Saya mengenal mereka semua, dan mereka semua mengenal saya.
Yang tadinya mereka garang kemudian berubah sopan dan gemetar, satu-persatu mereka mencium punggung tangan saya, gugup, dan terbata-bata menyapa. Pukulan saya melayang ke pipi salah satu dari mereka, pemuda yang paling dekat.
“Anjing! Bikin kaget saja!” raut dan suara saya marah, mata saya merah.
Mereka diam, tidak melawan. Mungkin mereka segan, kalau mereka melawan meski dengan senjata tajam, mereka tak akan bisa lepas dari saya kalau saya sudah mendendam.
Padahal, andai mereka tahu. Saya marah bukan karena saya dan teman saya akan dirampok. Saya marah bukan karena mereka, manusia-manusia yang sudah saya anggap sebagai adik itu menjadi rampok. Bukan! Saya marah karena kesempatan saya untuk matilah yang dirampok.
Akhirnya kami tidak jadi pulang, malah nongkrong, ngopi-ngopi, dan tertawa-tawa sampai pagi.
Saya batal mati. Cih!

2 Comments

  1. Skylashtar-Reply
    September 17, 2012 at 10:16 am

    Terima kasih

  2. September 17, 2012 at 9:47 am

    suka banget dgn fiksi kali ini. 🙂

Leave a Reply