Saya Langit Amaravati, Saya Perempuan

KOLASE

“Wah, ganteng.”

“Bang, pinjem korek, Bang.”

“Ujang, Akang, Mas.”

Mungkin Anda tidak tahu bagaimana rasanya menjadi saya, perempuan yang gendernya selalu salah diidentifikasi dan disangka laki-laki. Mungkin bagi Anda itu hal biasa, sekadar bahan bercandaan di antara teman. Mungkin Anda menyangka bahwa saya bangga dan merasa keren karena disebut gagah dan tomboy. Tapi Anda salah. I’ve been dealing with this for years, dan jujur, saya tidak pernah merasa terbiasa.

Berpuluh tahun silam, saya memang mulai belajar berjalan seperti anak lelaki, membusungkan dada seperti anak laki-laki. Untuk apa? Untuk melindungi diri karena saya sering dipukuli oleh anak-anak sebaya saya.

Berpuluh tahun silam, saya memang belajar seperti laki-laki. Karena saya anak paling tua dan harus melindungi adik-adik saya. Saya harus membantu Bapak membetulkan genting, membantu Ibu mengangkut air dari sumur umum, membuat dan membetulkan mainan saya sendiri.

Tapi saya perempuan. Masih perempuan. Akan tetap menjadi perempuan.


Anda tahu seterjal apa jalan saya sebagai perempuan? Karena saya perempuan, masa kecil saya dihantui oleh jariΒ laki-laki dewasa yang masuk ke vagina saya ketika usia saya 5 tahun. Karena saya perempuan, saya harus menanggung rasa sakit karena diperkosa 3 orang ketika usia saya 19 tahun. Karena saya perempuan, saya nyaris mati di tangan suami saya sendiri ketika usia saya 27 tahun.

Sejak saat itu saya berusaha menjadi seperti laki-laki. Tapi saya perempuan. Masih perempuan. Akan tetap menjadi perempuan.

Anda tahu bagaimana rasanya ketika orang-orang mulai bertanya tentang orientasi seksual saya? Anda tahu bagaimana rasanya ketika banyak lesbian keparat yang berusaha menjadikan saya sebagai kekasih mereka? Anda tahu bagaimana rasanya ketika duduk di sebuah kafe dan dua orang laki-laki yang duduk tak jauh dari meja saya berbisik-bisik bahwa saya ACDC atau biseksual? Bahkan setelah dewasa saya sering kali dilecehkan.


Sepuluh tahun terakhir ini saya lebih banyak berfungsi sebagai bapak daripada sebagai ibu bagi anak-anak saya. Mengambil dua peranan sekaligus. Tapi saya tidak pernah ingin menjadi laki-laki. Saya punya rahim yang sehat, payudara yang juga sehat, meski mungkin cangkang dan penampilan saya kerap kali mengkhianati. Anda tahu kenapa? Karena kombinasi kromosom X dan Y di dalam tubuh saya menjadikan saya lebih sulit dibedakan dari laki-laki daripada dari perempuan. Dan itu bukan bahan bercandaan. Sama sekali bukan.

“Pake jilbab aja, Teh, biar kayak perempuan.”

Mungkin Anda akan berkata seperti itu. Tapi bahkan Anda tidak pernah tahu agama saya apa, kan? Kenapa saya harus repot-repot memalsukan penampilan untuk mengukuhkan gender sementara Anda sendiri tahu apa gender saya?

Cangkang yang saya pakai hari ini bukan bahan untuk di-bully. Anda bahkan tidak pernah bertanya mengapa saya tidak pernah berdandan agar saya lebih perempuan. Karena saya tidak pernah punya uang lebih untuk membeli alat-alat kecantikan. Karena jeans dan t-shirt harganya lebih murah dan bisa dipakai ke mana-mana.

Cangkang yang saya pakai hari ini adalah bivalvia yang terpasang dengan sendirinya. Cangkang yang melindungi diri saya sendiri dari masa lalu. Tapi Anda tidak pernah tahu. Karena bagi Anda itu sekadar hal yang lucu.

Iya, saya sering kali membuat status bernada bercanda tentang hal ini. Sekadar menutupi bahwa jauh di dalam sini sebetulnya saya merasa sedih. Jika saya bisa meminta, saya ingin Tuhan memberikan kromosom normal seperti perempuan lainnya. Agar panggul saya berlekuk layaknya perempuan, bukan panggul lurus milik lelaki. Agar bahu saya landai seperti bahu perempuan, bukan bahu tegap milik lelaki. Agar rahang saya lebih lonjong sepeti rahang para perempuan, bukan rahang persegi dan raut wajah seperti lelaki.

Tapi saya tidak bisa. Tuhan punya banyak urusan yang lebih penting daripada mengurusi bentuk tubuh saya.

Saya tidak bisa marah kepada Anda karena mengatai saya “ganteng” atau hal-hal semacam itu. Anda adalah teman saya, dan seorang teman tidak akan saling mencaci hanya karena perkara sepele. Tapi tolong, jangan bully saya meski mungkin Anda tidak bermaksud begitu.

Saya Langit Amaravati. Saya perempuan. Tolong panggil saya sebagaimana memanggil perempuan.

Saya Langit Amaravati. Saya perempuan.

Saya perempuan.

Salam,
~eL

Please feel free to share

55 Comments

  1. April 2, 2016 at 12:34 pm

    Salam kenal mba Langit …

    Teman di FB membagikan link blog mba Langit “Anda dan Saya Blogger, Bukan Event Cheerleader”
    Ulasan yang sangat apik dan pastinya sangat bermanfaat untuk saya yang sedang belajar menulis blog. Selain ulasan yang sangat bagus, ada sebuah kejujuran dalam tulisan tersebut dan saya suka.

    Ada beberapa artikel yang saya baca, sampai akhirnya membawa saya ke sebuah artikel “Saya Langit Amaravati, Saya Perempuan” …. sekali lagi saya disuguhi sebuah kejujuran yang saya yakin hanya segelintir orang yang sanggup untuk melakukannya, termasuk saya.

    Anda perempuan hebat mba Langit πŸ™‚

  2. February 22, 2016 at 12:30 am

    Hiks campur aduk rasanya baca ini
    Mengingatkan saya pada beberapa kenangan yang ingin dikubur dalam-dalam

    Sungguhlah
    Memaaafkan, melupakan, menata hati dan berdamai dengan diri sendiri dalam waktu bersamaan itu sangat sulit dilakukan daripada dikatakan

    Dan bagian paling sulitnya adalah menceritakan kembali dengan gamblang
    Aku gak bakalan sanggup mbak

    Terimakasih sudah berbagi kisah
    Bolehkah kita berpelukan?

    • March 18, 2016 at 1:50 am

      Hiyaaaa tambah mewek aku klo dipeluk
      Pelukan membuatku lemah :(((

      • March 18, 2016 at 3:46 am

        Uwoooo makasi suntikan semangatnya

  3. February 6, 2016 at 1:24 am

    Semua orang punya cobaan sendiri2 ya ternyata.

    • February 6, 2016 at 5:27 am

      Iya, semua orang punya rasa sakit mereka sendiri-sendiri. πŸ™‚

  4. February 6, 2016 at 5:28 am

    Iya diamaafkan πŸ˜€

  5. Liz Prayitno-Reply
    February 4, 2016 at 5:19 pm

    I can feel your sadness
    Mbak, you’re unbelievable woman
    Keep up & get strong

  6. February 4, 2016 at 7:25 am

    Salam kenal Teh..
    Membaca tulisan ini, membuat saya sadar, juga malu. Karena terlalu sering berkeluh kesah. Sedangkan teteh begitu tegar dan kuat.
    Terima kasih sudah mau berbagi, Teh…😍😍

  7. niaharyanto-Reply
    February 4, 2016 at 4:18 am

    Hadeuh… mewek deh sayah. Huhuhu…

  8. dianravi82-Reply
    February 4, 2016 at 2:18 am

    Salam kenal, teh eh boleh ikutan manggil teh kan ya:D
    Baca tulisannya bikin air mata menggenang. Kadang orang memang suka ga sadar saat bercada tapi malah menyakitkan perasaan orang. Bully yang suka ga disadarin dan jarang diungkit-ungkit sama orang-orang yang berteriak “Stop Bullying”. Mungkin kita harus belajar lebih peka dan mengerem kebiasaan2 canda2 ga penting.
    Pengen ikutan meluk tapi malu karena blom kenalan πŸ™‚

    • February 4, 2016 at 2:34 am

      Eits, jangan peluk-peluk. Belum muhrim. Hahaha. Salam kenal, terima kasih sudah mampir. πŸ™‚

  9. February 4, 2016 at 2:00 am

    maaf ya eceu kemaren becandain abang2, tapi sama aja kok kaya saya walapoun pake kerudung tetap dipanggil “pak”, tapi gak masalah juga karena kalau terlalu dianggap perempuan agak takut pas jalan sendirian, kadang merasa senang ada sisi maskulin di diri saya ceu, biar merasa kuat dan gak dianggap enteng orang lain

    • February 4, 2016 at 2:33 am

      Ya harus ada sisi maskulin juga dong, biar bisa jalan-jalan ke sawah dan ngasih penyuluhan. Hahaha.

  10. February 4, 2016 at 1:12 am

    Nemu ‘rumah’ mbak, teteuh, kakak, ato sebutan apa yang pantas di timeline Fb, refleks tanganku mengklik, membacanya buatku tercekat dan berkaca… jelas sangat sakitmu melangit teuh,.. bighug.

  11. February 3, 2016 at 10:03 pm

    Teu tiasa nyerat nanaon abdi saparantosna mais seratan teteh di luhur, mugi Alloh Anu Maha Kanyaah, maparin teteh kakiatan, maparin teteh barokah-Na sareng dicumponan sagala du’a teteh anu sae-sae…aamiin..

    Salam kenal teh ti tebih 😊

    Aaah hoyong pendak abdi sareng teteh 😊

  12. February 3, 2016 at 4:48 pm

    mbak langiiiittttt

  13. February 3, 2016 at 4:17 pm

    Speechless bacanya….
    Mungkin ada orang lain diluar sana yg punya pengalaman serupa, tp tak pernah berani mengungkapkannya.
    Sama seperti tulisan2 dan statusmu, ternyata kamu perempuan yang luar biasa. Mampu bangkit dan menghasilkan karya2 yg menginspirasi orang lain. Semoga orang2 yg pernah menyakitimu membaca karya2 mu, agar mereka tahu bahwa otakmu tidak mati hanya karena disakiti.
    Tetap berkarya. Berharap bisa mengenalmu secara langsung…

  14. February 3, 2016 at 4:00 pm

    Membaca ini semakin ingin mengenalmu Mbk, sungguh. Semoga Allah terus melapangkan jalanmu, salam dari Padang.

  15. February 3, 2016 at 3:34 pm

    saya tahu rasanya.. usia 5 tahun itu

    • February 3, 2016 at 8:47 pm

      Dan kita harus hidup dengan ingatan-ingatan seperti itu. πŸ™

      • February 8, 2016 at 1:42 pm

        dan mereka keluarga saya.. mungkin mereka sudah lupa, tapi saya masih ingat dengan jelas.. sudah memaafkan orgnya, tetapi entahlah mungkin tidak dengan kejadiannya.

  16. February 3, 2016 at 2:34 pm

    Semangat Teh, tentu saja Teteh perempuan, Ibu dari Salwa dan Aksa πŸ™‚

  17. February 3, 2016 at 8:45 pm

    Salam kenal. πŸ™‚

  18. February 3, 2016 at 1:34 pm

    Gak tau deh..apa mungkin akan berbeda saat sdh melihat langsung…
    Meski diceritakan gestur, bentuk wajah dst…
    Tp liat photo2nya…aku tetep bilang mata itu mata perempuan kok…
    Semangat Chan…

  19. February 3, 2016 at 1:16 pm

    Kak El…Bersyukur bisa mengenalmu,,,,Dan, aku masih tak percaya kisahmu

    Perempuan tegar,

    tak salah bila Langit jadi namamu, penuh makna

  20. February 3, 2016 at 11:37 am

    Makasih Teh El sudah nulis ini…

  21. February 3, 2016 at 10:35 am

    Baca tulisan ini mengingatkan saya tentang masa lalu Mbak, tapi saya tak punya keberanian untuk menuliskannya.

    • February 3, 2016 at 8:43 pm

      Tidak harus dituliskan, kok. Karena tidak semua orang mampu, juga tidak semua lingkungan dapat menerima. Yang harus kita lakukan adalah sembuh dan mencegah itu terjadi kepada orang lain. Iya, nggak?

  22. February 3, 2016 at 9:36 am

    Saya dulu tomboy banget ,nge gembel maen skateboard kemana mana,temen saya laki2 semua tapi pas punya anak entah kenapa naluri saya sebagi perempuan lebih dominan.

    Semangat teh,walaupun saya baru kenal tapi kamu contoh yang hebat untuk saya.

    Saya single parent dengan 2 anak yang di tinggal kawin saat anak2 saya masih kecil.

    Salam hangat ,,duhh kepengen curhat panjang jadinya hehe.

    • February 3, 2016 at 8:41 pm

      Aku juga banyak belajar dari para single parent lainnya. Keep strong! πŸ˜€

  23. February 3, 2016 at 9:29 am

    Dari awal mengenal dirimu, aku gak pernah nganggap dirimu laki-laki. Aku cuma menganggap kamu perempuan yang punya sesuatu. Sesuatu itu sebuah kisah, kisah hidup yang membuat kamu kuat dan bisa jadi pelajaran untuk semua orang.
    Hai, Ceu…aku tunggu karyamu yang lain. πŸ˜‰

    *halaaahh, kenapa gue jadi melow gini.

  24. February 3, 2016 at 8:34 am

    Aku juga dulu tomboy, rambut demi moore-an, ga suka rok dan dikucir2.. Julukan selama SMP : “Ujang”, sama sepupu sendiri dipanggil “Mas Utie” :)))) Ah, sekali liat juga dirimu mah perempuan banget kok. Yang suka bully berarti dia punya masalah sama dirinya sendiri. Entah matanya bolor atau otaknya nyengsol. ^^

  25. February 3, 2016 at 8:13 am

    Aku kok nangis ya bacanya. Dalam suatu waktu aku pernah ngalamin ‘aku jadi gini karena aku cewe’ …kalian jahat. Lalu aku jadi super jutek dan curigaan sama sosok pria. Aaaaaak

  26. February 3, 2016 at 7:48 am

    sekali perempuan tetap perempuan….salam kenal mba

  27. February 3, 2016 at 7:36 am

    Aku beruntung mengenalmu Langit Amaravaty … atau dengan apapun orang memanggilmu

  28. February 3, 2016 at 7:18 am

    Sekilas tentang teh Uchan

    Pertama kali saya mengenalnya sebagai seorang wanita bernama Skylashtar Maryam di sebuah portal menulis online, saya kagum dengan karya-karyanya. Kemudian saya pun dipertemukan dengan sosoknya, wanita ramah berhijab tiga tahun silam dalam sebuah seminar, saya masih kagum dengan karya-karyanya, saya suka memanggilnya dengan sebutan teteh karena tentu saja perangainya yang sangat dewasa dan ia lebih seperti seorang kakak perempuan bagi saya. Satu-satunya cerpenis idola saya di Indonesia, saya sangat mengaguminya.

    Beberapa waktu silam saya melihatnya memasang nama yang berbeda, Langit Amaravati, di berbagai beranda media sosial. Atas segala hal yang menimpanya saya melihat ia sebagai perempuan berhati baja. Saya pun bertemu kembali dengannya di sebuah kedai kopi, bercerita banyak dan semakin dalam mengenal sosoknya. Banyak ilmu dan pelajaran yang saya dapat.

    Teh,
    siapa pun dirimu,
    bagaimana pun penampilanmu,
    saya akan tetap mengagumimu.
    Saya kagum akan pribadi, perangai, dan karyamu.
    Tak peduli apa namamu atau bagaimana orang menyebutmu.

    Salam hangat selalu,
    Zia

  29. February 3, 2016 at 6:59 am

    Ga peduli feminim atau tomboy, yg penting mah kasih sayang teteh..

  30. February 3, 2016 at 6:20 am

    Nggak bisa nulis, tetiba ada yg mencekat dileher saya. Bukan mau kebay. Saya cuma bilang saya tahu perasaan kamu, pasti kamu nggak percaya. Tapi dulu sayapun tomboy. Saya terlahir anak ke 7 dari 11 saudara yang semua perempuan. Entah siapa yg mencontohkan, pokoknya saya nggak otomatis menjadi perempuan. Saya berpenampilan dan diperlakukan seperti laki-laki. Bahkan pakaian keseharian saya cuma kaos dan celana pendek. Rendah diri melingkupi saya abis-abisan. Saya tahu saya nggak cantik tapi seperti kamu, saya juga ingin dilihat/terlihat sebagai perempuan yang ada sisi manisnya. Tapi seperti kata kamu Tuhan banyak urusan dan apa yang saya anggap masalah, bukan masalah buat Tuhan. Soa hingga saya kuliah dan bekerja saya menutup telinga saja. Pelan-pelan kenal alat make up dan coba menggunakan. Kalau ada uang beli, kalau nggak ada ya sudah. Tapi hati saya perempuan, perasaan saya perempuan dan ketika saya memutuskan bersikap seperti perempuan, dan sayapun terlihat seperti perempuan. Nggak usah peduli kata orang. Saya nggak mengalami perjalanan hidup seserem hidupmu tapi anggapan saya bukan perempuan sudah menyakitkan perasaan lahir batin. Kini saya seperti sekarang karena saya memutuskan bersikap seperti yang saya.

  31. February 3, 2016 at 6:11 am

    Saya sudah memanggil eceu. Ceu kece pake hijab gagal fokus

    Ceu saya juga dulu tomboy, pernah punya pengalaman yang sama, suka dipanggil “ujang”. Karena potongan rambut saya, jalan saya, persis lalaki. Pernah berantem pula pas zaman SMP jeung lalaki, komplit weh disebut ujang hehe. Bapak udah geleng-geleng, karena hobina abdi teh maen kaleci. Tapi, saya masih punya sisi feminim, yakni maen papasakan. jadi curhat oge ini mah.

  32. February 3, 2016 at 6:08 am

    Lah saya lihat dari fotonya aja uda keliatan perempuan kok. Yang manggil mas emang picek matanya #eh

  33. Via-Reply
    February 3, 2016 at 6:04 am

    Bahkan ketika Langit melecutkan cemeti Petir, tetaplah Hujan yang jadi peneduhnya.
    You are not alone, Sist!

  34. Yasinta Astuti-Reply
    February 3, 2016 at 10:27 am

    Teeeh.. Aku semangat selalu. Aku selalu tertarik dengan semua yang teteh tuliskan.
    baik di status ataupun di blog.. Teteh selalu memberikan banyak perasaan saat aku membaca tulisannya, antara tercekat dan kagum.
    sungguh tidak banyak orang yang mampu seperti itu.
    Teman memang tidak akan saling mencaci untuk hal sepele. Maka semoga teteh selalu bersama orang-orang yang sejatinya adalah teman, yang tidak peduli dengan latar belakang teteh dan bagaimana teteh dimasa lalu.
    Semoga suatu hari, ada kesempatan saya bertemu teteh kembali dalam suasana yang lebih santai.
    salam hangat buat aksa.

    • February 3, 2016 at 8:42 pm

      Yang lebih santai itu sambil belajar Photoshop, maksudnya? πŸ˜€

  35. Rotun DF-Reply
    February 3, 2016 at 6:12 am

    Teh Langiittt…sending big hug and support for you. Salam kenal ya Teh..Teteh yg selalu seru klo nyetatus atau komen. Apalagi klo udah sama Mba Shinta. Reapect. God bless you Teteh…:)))

Leave A Comment