SAYA SAKIT, TERAMAT SAKIT

Ketika luka tidak bisa lagi saya eja kata per kata, maka dada saya hanya bisa merapal doa. Doa yang entah kenapa semakin lama semakin terasa hampa sebab satu per satu luka itu tidak bisa hilang melainkan berkembang biak; di dalam dada saya, di dalam kepala saya.


Meski saya sering mengatakan bahwa setiap rasa sakit pernah saya mamah, tapi tetap saja hal ini membuat saya limbung, nyaris tumbang. Mungkin saya betul-betul sudah tumbang.


Kemudian hidup menjadi semacam lelucon sarkastis masokis dengan saya sebagai pelakon tanpa pemeran pengganti sehingga seluruh sakit dan perih dan luka itu harus saya tanggung sendirian. HANYA SENDIRIAN.


Andaikan setiap helai rambut yang luruh dari kepala saya kemarin malam bisa diajak berbincang, barangkali mereka akan mencaci, memaki orang yang telah memaksanya tersuruk mencium bumi. Sayangnya mulut saya terkunci hingga ketika mereka terlepas, saya malah tak merasakan apa-apa; kebas.


Saat saya meminta pertolongan, tak semua dari mereka yang mengaku sebagai teman mau mendengar. Hanya bergumam.  


Maka rasa sakit ini harus kembali saya pikul sendirian, hanya sendirian. 


Jangan ajari saya berdoa lagi  sebab seluruh doa yang saya tahu sudah saya hamburkan ketika gunting dan silet tajam menari di atas kepala saya.  


Lalu ketika saya sudah sedemikian lelah berteriak, Tuhan dimana? Adakah ia di dada orang-orang? Saya tidak tahu, sungguh, saya tidak ingin tahu.

Leave a Reply