Sebab Uang Tidak Tumbuh di Pohon

Saya yakin setiap orang ingin hidup mapan, berkecukupan, memiliki banyak aset simpanan, dan hidup pas-pasan. Pas ingin membeli rumah, ada. Pas ingin membeli mobil, ada. Pas ingin jalan-jalan ke Eropa, bisa. Tapi, tidak semua orang memiliki kelapangan rezeki seperti itu. Juga tidak semua orang mampu mengelola keuangan dengan bijaksana.

Ini bukan perkara pilihan profesi, bukan perkara seberapa besar gaji, bukan juga tentang besaran harta warisan yang kita miliki. Sebab menurut Safir Senduk, Pakar Pengelola Keuangan, orang yang paling kaya bukanlah karyawan, pengusaha, atau profesional. Orang yang paling kaya adalah mereka yang memiliki investasi untuk masa depan. Dengan kata lain, orang yang memiliki kans untuk jadi orang kaya adalah mereka yang -lagi-lagi- bijak mengelola keuangannya.

Tidak penting apakah gaji Anda sampai Rp500 juta per bulan, kalau pengeluaran Anda masih Rp500 juta per bulan, itu artinya Anda masih termasuk orang miskin.

Sejak mengikuti Jumpa Blogger Sun life dengan tema “Bijak Mengelola Keuangan untuk Profesi Blogger” tanggal 3 Oktober 2015 lalu, saya kok merasa berkali-kali ditampar oleh materi yang disampaikan Bung Safir Senduk. Sejak saat itu pula saya terobsesi kepada perencanaan masa depan dan berusaha meningkatkan penghasilan agar bisa menjadi “orang kaya”.

*

KIAT MENGELOLA KEUANGAN VERSI SAFIR SENDUK

Dibutuhkan langkah-langkah revolusioner agar dapat mengelola keuangan dengan bijak dan proporsional. Berikut adalah kiat mengelola keuangan yang disampaikan oleh Bung Safir Senduk.
 
*

PENGELOLAAN KEUANGAN VERSI LANGIT AMARAVATI

Sudah jelas bahwa saya tidak akan bisa mengelola sesuatu yang tidak ada. Jadi kalau pendapatan saya nol, uang apa yang harus saya kelola? Meskipun setiap orang memiliki impian untuk memiliki hidup mapan yang sama, tapi saya kira mengelola keuangan sangat tergantung kepada masing-masing individu. Semacam fit and proper test. Karena skala prioritas dan aset yang dimilik setiap orang juga berbeda.

Sesuai dengan profesi saya sebagai penata letak lepas, penulis, blogger, dan pemilik online shop, saya memiliki dua pos pemasukan: pemasukan rutin tidak tetap dan pemasukan tidak tetap. Untuk pengeluaran, saya punya 3 pos: pengeluaran rutin tetap, pengeluaran rutin tidak tetap, dan pengeluaran tidak rutin.

Perencanaan masa depan dan analisis kesehatan keuangan sudah saya tulis dalam Nyala Matahari untuk Kedua Matahari, kali ini saya ingin berbagi tentang langkah-langkah apa saja yang saya lakukan untuk mencapai target pencapaian tersebut.

PR besar saya dalam mengelola keuangan adalah dengan meningkatkan pendapatan dan menekan pengeluaran. Mainstream? Wacananya sih iya, tapi praktiknya tetap saja berdarah-darah.

*

OPTIMASI PENDAPATAN

Freelancer bukan karyawan yang menerima gaji setiap bulan. Kami hanya dibayar jika pekerjaan kami selesai. Sejak menjadi freelancer saya belajar menghargai setiap sumber daya yang saya keluarkan: pikiran, keahlian, tenaga, dan waktu. Kalau kata mantan atasan saya mah, I’ll do my efforts, you’ll do your efforts. Karena jujur saja, orang lain tidak akan menghargai keahlian yang kita miliki jika kita juga tidak melakukan hal yang sama.
Ini yang saya lakukan untuk mengoptimasi pendapatan:

1. Menetapkan Target

Pendapatan rutin tidak tetap saya berasal dari layout buku. Sudah 4 bulan ini saya tersaruk-saruk agar bisa menyelesaikan paling sedikit 2 order layout-an. Targetnya sih 5, tapi itu akan membuat saya jadi zombie, jadi saya menurunkan target menjadi 3 layout-an per bulan.
Target yang sama juga saya pasang untuk online shop yang saya miliki. Targetnya sih seminggu minimal 3 closing. Lumayan untuk bantu-bantu beli susu.

2. Menetapkan Tarif yang Pantas

Tarif desain ini kadang menjadi paradoks, bahkan bagi saya sendiri. Di satu sisi, saya membutuhkan perkerjaan, di sisi lain saya tidak ingin tenaga saya disepelekan. Untungnya, tarif saya di Grasindo bisa dibilang ramah freelancer, editornya baik sih. Itu sebabnya saya selalu mempersembahkan yang terbaik, juga tidak menerima order dari penerbit major yang lain. Loyalitas dan profesionalitas adalah rambu-rambu yang tidak bisa saya langgar.
Yang menjadi masalah adalah ketika menetapkan tarif di luar itu. Ada teman-teman yang memiliki penerbitan indie tapi tidak punya tenaga penata letak dan meng-hire saya. Ada juga teman-teman yang meminta tolong desain atas nama pribadi.
Ini beberapa pertimbangan ketika menetapkan tarif untuk klien penerbit indie dan perorangan:

  • Jenis jasa 

Ini tergantung jenis pelayanan seperti apa yang diinginkan. Untuk desain, jasa yang saya sediakan antara lain tata letak, kover buku, poster, kartu nama, undangan pernikahan, dan touch up blog. Untuk penulisan antara lain editing, job review, web content, dan co & ghost writing. Jadi jika ada teman yang meminta edit dan kritisi tulisan meski itu hanya cerpen berdurasi 5 halaman, saya tidak pernah mau kalau tidak dibayar. Jahat? Memang. Mata duitan? Biarin. Toh tutorial penulisan cerpen dan desain sudah saya tulis di blog, kalau masih ada yang meminta pelayanan lebih, maaf-maaf saja.

  • Tarif minimal 

Setahu saya tarif minimal tata letak berkisar Rp3500-n/ halaman jadi. Saya tidak pernah memasang tarif lebih rendah dari itu. Menikung harga pasar hanya untuk memenangkan persaingan bukanlah langkah bijaksana.

  • Tingkat kesulitan

Tata letak tanpa ilustrasi tentu berbeda tarifnya dengan tata letak yang disertai ilustrasi. Jadi tarif jasa saya sangat bervariasi.

3. Personal Social Responsibilty (PSR)

Ya, saya juga melakukan pekerjaan-pekerjaan non profit sebagai tanggung jawab sosial. Meski memang tidak banyak dan tidak sering. Biasanya untuk komunitas yang saya ikuti, membantu mendesain poster atau banner, menjadi tutor penulisan, atau membantu apa saja deh yang saya bisa.
Tapi saya tidak pernah lagi menjadi tutor penulisan privat, apalagi kalau gratis. Tugas saya membimbing adik-adik penulis pemula sudah selesai. Saya punya tanggung jawab yang lebih besar terhadap anak-anak saya.

4. Take It or Leave it

Banyak sekali teman-teman yang bertanya tentang tarif desain, web content, dan co-writing. Tapi tidak semuanya cocok dengan ratecard yang saya berikan. Mungkin menganggap kemahalan atau entah bagaimana. Saya tidak pernah menurunkan tarif hanya karena ini. Saya pekerja kreatif, bukan pekerja sosial.

5. Memperhitungkan Benefit

Ini berhubungan dengan event-event yang saya hadiri. Karena jadwal kesibukan yang begitu padat, saya tidak pernah datang ke sebuah acara jika tidak ada keuntungan yang bisa saya ambil. Tolong jangan dulu mencibir, seperti yang sudah saya singgung di atas, saya punya tanggung jawab besar sebagai ibu sekaligus bapak. Waktu yang saya habiskan di luar rumah akan berpengaruh terhadap keberlangsungan hidup kedua anak saya.
Jika datang ke sebuah acara, itu artinya saya sudah mempertimbangkan beberapa hal berikut:
  • Ilmu 

Saya harus memastikan akan ada ilmu baru yang bisa saya dapat.

  • Networking

Bertemu dan berkenalan dengan teman-teman baru atau dengan teman lama yang sudah lama tidak berjumpa adalah hal yang tidak bisa dinilai dengan uang. Bukankah semua acara memiliki kans yang sama untuk membangun networking? Memang, itu sebabnya saya memakai poin pertimbangan lainnya juga.

  • Materi

Datang ke sebuah acara yang menjanjikan doorprize atau lomba penulisan berhadiah jutaan jelas lebih dipertimbangkan daripada acara yang hanya “buang-buang ongkos”.

  • Ketersediaan waktu

Jika sedang dikejar deadline layout-an, saya tidak pernah berani keluar kandang.

6. Membuka Pintu Baru

Banyak sekali peluang di dunia penulisan, salah satunya dengan ikut lomba. Kalau lomba menulis cerpen sih sudah saya lakukan sejak beberapa tahun lalu, sekarang sedang membuka pintu baru dengan ikut lomba blog. Seperti halnya mengelola keuangan, ikut lomba blog ini juga harus disikapi dengan bijaksana. Ada puluhan lomba blog setiap bulannya, tapi tidak semua saya ikuti. Saya harus mengukur kekuatan saya sendiri agar hasil yang saya terima pun maksimal.
Ada beberapa hal yang saya jadikan pertimbangan ketika mengikuti lomba:

  • Nurani 

 

 

Ini berkaitan dengan idealisme. Misalnya, ada lomba yang diadakan oleh salah satu perusahaan minyak sawit. Jujur, saya tergoda dengan hadiahnya. Tapi pada saat bersamaan perusahaan perkebunan sawit menjadi pelaku pembakaran hutan. Kalau saya ikut lombanya, sama halnya dengan -maaf- melacurkan diri.

  • Tema

 

 

Saya tidak akan ikut lomba blog dengan tema yang tidak saya kuasai atau tidak menarik minat saya. Kenapa ini penting? Karena penguasaan tema akan berpengaruh terhadap nyawa sebuah tulisan. Untuk apa ikut lomba yang hanya membuat saya terbebani? Menulis adalah terapi, bukan untuk membuat depresi.

  • Penyelenggara

 

 

Ada beberapa penyelenggara yang sudah masuk ke dalam daftar hitam. Biasanya dikarenakan oleh pengumuman lomba yang terus diundur-undur, penyerahan hadiah yang memakan waktu seabad, atau kredibilitas penyelenggara itu sendiri.

  • Hadiah

 

 

Ini bukan tentang nominal. Ini tentang keseimbangan reward dan usaha yang harus dikeluarkan. Misalnya, ada lomba yang persyaratannya rempong sekali, tapi hadiahnya hanya voucher pulsa sebesar Rp100 ribu. Ada juga lomba yang hadiahnya perjalanan ke luar negeri. Yang ini saya tidak akan ikut karena saya tidak punya paspor. *senyum miris

  • Kriteria Penilaian

 

 

Dari dulu saya tidak pernah ikut lomba penulisan yang kriteria penilaiannya berdasarkan like terbanyak, share terbanyak, view terbanyak, atau hal-hal semacam itu. Sudah menjadi kebijakan bahwa saya hanya akan bertarung di kualitas tulisan, bukan di ranah keberuntungan.

7. Manfaatkan Peluang-Peluang Kecil

Akun media sosial apa saja yang Anda miliki? Dipergunakan untuk apa? Mengunggah foto selfie dan pamer anak? Atau hanya dipakai untuk memberi informasi semacam sedang apa di mana dengan siapa tanpa tujuan jelas? Silakan saja sih, itu kan akun Anda.

Saya sendiri mengfungsikan media sosial untuk 3 hal: personal branding, networking, dan menangkap peluang-peluang. Salah satu langkah untuk menangkap peluang adalah dengan cara ikut give away atau GA. Banyak sekali GA yang bertebaran di facebook, twitter, dan instagram. Effort yang diperlukan juga tidak terlalu besar, biasanya hanya berupa regram, upload foto dengan tema tertentu disertai caption, atau menjawab pertanyaan kuis. Hadiahnya beragam, ada yang berupa hampers, voucher, pulsa, macam-macam.   

   

Itulah hal-hal yang saya lakukan untuk mengoptimasi pendapatan. Bagaimana dengan Anda?

*

MANAJEMEN PENGELUARAN

Bijak mengoptimasi pendapatan tentu harus diimbangi dengan bijak mengelola pengeluaran. Jangan sampai besar pasak daripada tiang. Perempuan maupun laki-laki memiliki kadar impulsif yang sama ketika berbelanja. Jadi keborosan seseorang tidak tergantung gender ya, Mas, Mbak.

Setiap orang memiliki kebijakan tersendiri untuk mengelola keuangannya. Saya membagi kebijakan itu ke dalam beberapa poin utama.

1. Menetapkan Skala Prioritas

Saya membaginya ke dalam beberapa tingkatan:

 

2. Melakukan Pencatatan & Evaluasi 

Saya punya laporan keuangan setiap bulannya. Mengevaluasi dan menetapkan kembali skala prioritas pengeluaran. Memakai neraca rugi laba dan buku kas? Oh tidak, saya memakai aplikasi Expenses Manager agar lebih mudah mengkonversinya ke dalam laporan bulanan.
Selain itu, saya memperlakukan uang berapa pun nominalnya dengan rasa menghargai yang sama. Uang logam seratus rupiah pun tidak saya sia-siakan. Saya mengumpulkannya ke dalam satu kaleng dan membawanya beberapa di dompet. Ini berguna jika sedang berbelanja di minimarket. Saya tidak mau jika uang kembalian dikonversi menjadi permen yang tidak ingin saya makan. Kok ya pelit? Bukan, ini bukan masalah pelit atau tidak. Ini tentang bagaimana saya menghargai tenaga yang saya keluarkan. Untuk mendapatkan uang seratus rupiah juga diperlukan keringat, bukan? Jadi tidak ada alasan bagi saya untuk menyia-nyiakannya.

3. Melakukan Penghematan Besar-Besaran

Anda tentu sudah pernah membaca ratusan artikel tentang bagaimana menghemat uang dari mulai cara yang paling mainstream sampai cara yang paling ekstrem. Beberapa cara yang saya lakukan barangkali juga Anda lakukan.
  • Ketahui Harga Pasar

Saya hafal harga sekotak susu 400 gram di berbagai minimarket dan pasar swalayan. Selisih 500 rupiah pun akan tetap saya pertimbangkan. Tentu saja saya membeli di tempat yang paling murah setelah ditambahkan dengan biaya operasional.

Memperhitungkan biaya operasional ini penting bagi saya. Misalnya, di minimarket A harga susu Rp39.000 tapi harus naik angkot dengan biaya Rp4.000. Di minimarket B harga susu RP41.000, tapi untuk membelinya hanya cukup berjalan kaki 7 menit. Di mana saya membeli susu? Tentu saja di minimarket B karena itu artinya saya menghemat Rp2.000.

Hal ini juga saya terapkan kepada produk-produk lain yang sering saya beli. Saya punya daftar pasar swalayan atau warung-warung yang diurutkan berdasarkan harga dan jarak tempuh.

  • Miliki Member Card

 

 

Untuk niat mulia ini, sepertinya saya punya sekitar 10 member card yang dikeluarkan berbagai tempat perbelanjaan. Hal ini berguna untuk mendapatkan benefit berupa diskon member. Memang tidak terlalu besar, hanya berkisar 10-35%. Tapi lumayan daripada tidak mendapat diskon sama sekali.

Member card ini ada yang bisa dimiliki dengan cara gratis atau berbayar. Biasanya saya mempertimbangkan intensitas belanja di tempat tersebut. Kalau berbayar tapi saya sering belanja di situ dan dalam jumlah besar, saya akan mendaftar. Kalau tidak sering dan berbayar pula, tidak perlu. Kalau gratis? Sering atau tidak, saya akan tetap mendaftar. Demikian.

  • Waspadai Diskon

 

 

Ini penyakit para perempuan yang sukar sekali disembuhkan, termasuk saya. Memang sukar menahan godaan plang besar-besar bertuliskan diskon 25%, diskon 50%, atau diskon 70%. Efek psikologis dari plang diskon adalah yang tadinya tidak butuh tiba-tiba menjadi butuh. Yang tadinya mau berhemat malah boros.

Saya memang bukan pakar keuangan dan masih sering khilaf, tapi sudah khatam dan belajar banyak dari novel Shopaholic. Kok novel? Karena novel lebih mudah dicerna, sedangkan artikel keuangan malah membuat pening kepala.

Agar tetap istiqomah dan tidak khilaf terhadap godaan diskon, saya melakukan langkah-langkah seperti ini:

 

  • Bijak Memilih Kemasan

 

Untuk barang-barang yang sering dipakai, biasanya saya akan membeli dalam kemasan besar karena harganya lebih murah. Membeli dalam kemasan pouch juga lebih murah daripada membeli yang kemasan botol. Deterjen cair, misalnya. Saran saya sih, hindari membeli sachet-an, selain harganya lebih mahal juga tidak ramah lingkungan karena sampah plastiknya tentu jauh lebih banyak.

  • Pilih Produk Bundling & Promo

 

 

Produk-produk bundling bisa berupa hadiah atau beli dua gratis 1. Kan sering ada tuh yang deterjen berhadiah piring, atau biskuit bayi berhadiah lunch box. Karena saya sudah tahu harga regulernya, jadi bisa memastikan bahwa harga yang tertera tidak dinaikkan terlebih dahulu. Sebagai mamah muda pujaan bangsa dan tidak fanatik terhadap merek tertentu kecuali susu dan diapers, kadang merek deterjen atau sabun mandi cair saya sering berubah-ubah setiap bulannya. Tergantung produk mana yang sedang ada promo.

4. Melakukan Perencanaan Sebelum Belanja

Kalau poin ini saya yakin Anda sudah sering mendengar. Sebelum belanja, catat dulu apa saja yang akan dibeli. Karena jika tanpa catatan, biasanya keranjang belanja kita akan berisi barang-barang random. Selain itu, catatan berfungsi agar tidak lupa membeli barang-barang yang betul-betul kita butuhkan.

5. Menetapkan Bujet

Penyakit kronis yang sering saya derita adalah uang habis sehari setelah menerima honor layout-an. Ini juga agak sulit disembuhkan karena setelah belanja yang kebablasan biasanya saya akan sibuk membuat pembenaran bahwa barang-barang yang sudah saya beli benar-benar dibutuhkan, padahal tidak. Jadi sebelum belanja, selain membuat catatan, saya juga menetapkan bujet.

Daftar belanja saya setiap bulan kan itu-itu saja, sebetulnya. Tapi kok bisa sampai kebablasan? Entahlah, saya sendiri sedang melakukan evaluasi menyeluruh tentang ini.

*
Seperti yang sering dinasihatkan oleh Ibu, cara menyikapi uang adalah dengan pola pikir “Biar sedikit asalkan cukup, kalaupun banyak harus ada sisa”. Saya sendiri lebih suka banyak dan bersisa, sebetulnya. Tapi ya itu tadi, tidak setiap orang diberikan kelapangan rezeki. Maka yang bisa saya lakukan adalah mengelola rezeki yang saya miliki sebijak mungkin. Dengan cara menghargai setiap sen yang saya hasilkan, menghargai setiap tetes keringat yang saya keluarkan, dan memperhitungkan setiap sen yang saya keluarkan.

Sebab uang tidak tumbuh di pohon. Sebab uang juga bukan amuba yang bisa beranak pinak begitu saja.

Salam,
~eL

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba menulis “Jumpa Blogger Sun Life Bandung 2015”

19 Comments

  1. November 4, 2015 at 7:38 am

    Postingannya suka deh mbak… Rapiiih dan informatif. Btw untuk pertimbangan benefit memang bisa sangat mempengaruhi tarif atau keuntungan yang bisa diambil dari sebuah job. Kadang tidak melulu mengenai uang ya Mbak. Semoga menang! 🙂

  2. November 4, 2015 at 7:56 am

    Kalau job review aku kan pemula, jadi lebih mempertimbangkan bahan pelajaran dan pengalaman 😀

  3. November 4, 2015 at 8:18 am

    Selalu supeeeerrrr ^_^
    Jagoin mahmud ah yang menang :)))

  4. November 4, 2015 at 8:20 am

    Supermie, superman, superindo? Eh, nggak boleh menyebutkan brand tanpa dibayar, ya? Hahaha.
    Amin, hatur nuhun doana.

  5. November 4, 2015 at 9:17 am

    Suka banget baca blognya.. isinya juga edukatif,informatif n kreatif 😜
    Sepertinya sy terkena sindrom mahmud juga tiap bulan selalu cari pembenaran atas barang-barang yang masuk keranjang belanjaan & terlanjur dibeli hehehee…
    sukses mbaak.. luv u.. 😚

  6. November 4, 2015 at 9:24 am

    Rapi bangeeett kak. Sukaaa..
    Aku catet beberapa poin pentingnya ya kak eL, masih kepayahan ngatur uang nih 🙁

  7. November 4, 2015 at 9:44 am

    Tulisannya runtut. Infografisnya keren. (y)

  8. November 4, 2015 at 12:45 pm

    Another tips: simpan struk belanja, tempelkan di stryrofoam atau di pintu kulkas. Stabilo totalnya, lalu terus pelihara rasa bersalah. Hahahah.

  9. November 4, 2015 at 12:55 pm

    Ini belum semua dikeluarin lho tipsnya. Hahaha.

  10. November 4, 2015 at 12:57 pm

    Yaeyalah, sapa dulu mentornya. 😀

Leave a Reply