Seberapa Pentingkah Teknologi Bagi Pendidik?


Ilustrasi dari sini
Di tengah gaung pendidikan berbasis global dan berdirinya sekolah-sekolah bertaraf internasional di Indonesia, saya mendapati kenyataan miris. Barangkali hal ini tidak akan terlalu ‘menyedihkan’ apabila terjadi di sekolah-sekolah pedalaman, tapi hal ini terjadi di sekolah putri saya yang notabene terletak di Bandung, ibukota Jawa Barat.
Ketika saya akan membuat surat keterangan pindah sekolah untuk putri saya, saya mendatangi kepala sekolah putri saya tersebut dengan maksud untuk meminta surat pindah. Saya termasuk orang yang ingin ‘melek’ birokrasi sehingga anjuran Ibu untuk meminta bantuan guru di sekolah agar mengurus surat pindah terpaksa saya tolak. Saya ingin mengurus sendiri, saya ingin tahu bagaimana prosesnya, termasuk hal-hal dan dokumen yang dibutuhkan. Ini tentu pengalaman berharga bagi saya, termasuk juga penghematan biaya. Karena saya tahu, ‘bantuan’ yang dianjurkan Ibu tentu jarang sekali gratis.
Begitu saya datang ke kantor kepala sekolah dan mengutarakan maksud saya, Ibu Kepala Sekolah menyambut saya dengan ramah dan sopan. Sayangnya, hal itu menambah rasa sedih saya ketika percakapan di bawah ini terjadi.
“Mau buat surat pindah ya? Bisa saja, tapi sayang petugas tata usahanya sudah pulang dan besok dia libur. Jadi, tidak ada yang bisa membuatkan suratnya,” kata Ibu Kepala Sekolah. Ya, saya memang datang agak siang.

“Jadi, bagaimana baiknya, Bu? Soalnya saya harus mengurus surat ini secepatnya dan mengantarkan ke Karawang,” waktu itu saya pikir, urusan surat pindah ini memiliki urgensi tinggi karena saya harus segera pulang ke Karawang. Saya juga tidak bisa menunda-nunda urusan administrasi mengingat putri saya sudah beberapa minggu masuk di sekolah yang baru tanpa surat pindah resmi.
Memang, ini salah saya karena tidak mengurus surat-surat sebelum kepindahan sebab terhalang libur lebaran. Maka dari itu, saya berusaha agar surat pindah diselesaikan secepatnya.
Ibu Kepala Sekolah memandang saya ragu-ragu. “Ini, komputernya ada di sini, sih. Tapi saya tidak bisa menggunakannya,” ia menunjuk pada seperangkat komputer di meja sebelah kanan tak jauh dari kami.
Deg! Pertama-tama saya merasa aneh, menganggap bahwa beliau tentu sedang bercanda. Bagaimana mungkin dengan jabatan seperti itu beliau tidak bisa menggunakan komputer? Lebih aneh lagi, pelajaran komputer sudah dimasukkan ke dalam muatan lokal, bahkan sudah diajarkan kepada para peserta didik kelas 1 SD di sekolah ini. Namun, demi melihat raut wajahnya, saya menarik kesimpulan bahwa beliau tidak sedang bercanda.
Maka, saya menawarkan diri untuk menggunakan komputer itu dan membuat surat pindah sendiri. Beliau menyetujui tapi ternyata komputer yang ada memakai password dan beliau tidak mengetahui password-nya. Setelah mempertimbangkan, akhirnya saya menawarkan untuk membuat surat pindah sendiri di rumah dengan syarat saya meminta contoh blanko dan kops suratnya. Ibu Kepala Sekolah menyetujui tanpa banyak bicara lagi. Untunglah, perempuan di depan saya itu berbaik hati, beliau menyerahkan contoh surat pindah dan beberapa helai kertas dengan kops surat.
Dalam perjalanan pulang, satu pemikiran berkecamuk di kepala saya. Bagaimana mereka, para pendidik bisa mendidik anak saya apabila mereka juga masih belum memiliki kualifikasi yang cukup? Saya tidak tahu apakah kemampuan menggunakan perangkat teknologi sudah menjadi prasyarat untuk menjadi pendidik di sekolah-sekolah Indonesia. Hanya sungguh disayangkan apabila hal ini diabaikan begitu saja dan luput dari pemikiran.
 Di tengah gempuran arus teknologi, persaingan global, bagaimana para pendidik ini bisa menghasilkan para peserta didik yang kompeten menghadapi tantangan zaman apabila dirinya sendiri sangat mengkhawatirkan?
Setahu saya, di tingkat Sekolah Menengah Pertama saja, para guru sudah menggunakan sistem online ketika memberi tugas-tugas kepada siswanya. Keponakan saya, yang bersekolah di sebuah SMP di Margahayu, Kabupaten Bandung, mendapat tugas melalui e-mail dan mengumpulkan tugasnya juga melalui e-mail. Beberapa materi pelajaran bahkan bisa diunduh dari websitesekolah.
Sitem pendidikan onlinedi SMP seperti di atas tentu akan dan sepertinya sudah merambah ke sekolah-sekolah dasar. Lalu, bagaimana seorang kepala sekolah bisa memantau progresif para siswa dan kurikulum mata pelajaran apabila ia sendiri tidak memahaminya?
Ya, saya tahu. Teknologi bukan segalanya. Masih banyak ketimpangan-ketimpangan yang kita temui dalam sistem pendidikan di Indonesia. Namun, di era Blackberry sekarang ini, teknologi sudah menjadi semacam kebutuhan primer. Tentu tidak elok apabila para pendidik tidak mengikuti perkembangan teknologi hanya dengan dalih sudah tua dan tak harus belajar. Toh, komputer adalah mesin yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan dan tentu saja memudahkan. Surat-menyurat, administrasi, jadwal pelajaran, pembuatan soal-soal, databe siswa, dan lain-lain.
Bukankah sekarang ini Diknas sudah menggunakan NISN (Nomor Induk Siswa Nasional) dan sistem ini menggunakan komputerisasi? Online juga, bukan? Pertanyaan saya, berapa banyak para pendidik bisa menggunakannya dan tak hanya mengandalkan para petugas tata usaha?
Semoga hal ‘menyedihkan’ ini mendapatkan sorotan dan segera ditindaklanjuti agar bukan hanya para peserta didik yang dipersiapkan menghadapi tantangan global, melainkan juga para pendidiknya. Sebab seorang guru adalah salah satu sumber ilmu, maka seorang guru juga harus terus menimba ilmu.
(Tulisan ini diikutsertakan dalam GIB Blog Competition)

2 Comments

  1. October 20, 2012 at 11:44 pm

    Setuju. Tenaga pendidik harus melek teknologi. Ranah mengajar tidak terbatas pada tembok kelas saja. 🙂

  2. Skylashtar-Reply
    October 24, 2012 at 12:33 am

    Betul sekali, Mbak. Teknologi menjanjikan kemudahan jika digunakan dengan bijaksana.

Leave a Reply