SEBUAH BATU BATA BAGUS, MATI SENDIRIAN

Ini adalah cerita tentang sebuah batu-bata. Di suatu tempat, ada sebuah batu bata, Tentu saja dia berada di tengah bata-bata lain yang beserakan. Namun, batu bata ini terlihat begitu istimewa. Ia terbuat dari tanah pilihan, bentuknya persegi panjang sempurna,tak ada codek ataupun bolong-bolong seperti kue bika ambon di setiap tepinya.Tentu saja ia sangat berbeda dengan batu bata lain di sekelilingnya

Orang-orang berdecak kagum sekaligus heran. “Cantik betul batu bata ini. Seakan ia terbuat dari tanah pilihan yang berbeda dengan yang lainnya. Hey, lihatlah. Warna merahnya sempurna, pasti dibakar dengan suhu yang tepat. Dan bentuknya… amboi, ini memang batu-bata yang bagus,” begitulah orang-orang memuji

Sang batu bata melambung senang, sambil mengangkat kerah bajunya. “Ha ha ha ha, tentu saja aku ini bagus, tidak seperti mereka,” ia menuding sekelilingnya. “Setiap hari aku bermunajat dan memoles diriku. Setiap saat aku bersyukur atas tangan pembuatku. Aku tak membiarkan setetes tempias hujan pun mengikis bentukku. Seluruh waktuku aku gunakan untuk mengisi setiap celah esensiku, beribadah, agar pembuatku merasa bangga terhadapku.”

Sombong, pikir batu bata yang lain. Tapi apa lacur? Ia memang pantas sombong. Batu bata yang lain memandang diri mereka masing-masing. Hhhh…banyak codek, bekas kikisan air, bahkan ada yang terbelah hingga tinggal separuh

Ketika orang-orang ingin membangun sebuah bangunan, mereka meminta kesediaan semua batu bata yang ada untuk dijadikan dinding dan pondasi. Genting-genting sudah setuju untuk menjadi atap, kusen-kusen sudah menyatakan kesediaannya untuk membingkai pintu dan jendela. Pasir-pasir dengan rela mau dilebur bersama semen untuk merekatkan. Beberapa batu bata langsung mengangguk setuju, beberapa yang lain ragu karena bentuknya yang tak karuan. “Apakah aku bisa berguna?” mereka bertanya sedih. “Jangan khawatir, kawan. Ak bisa merekatkanmu!” hibur pasir dan semen kepada batu bata yang terbelah itu.

Lalu apa pendapat batu bata yang bagus itu? Dia meringis ngeri dengan raut jijik. “Oh, tidak, tidak! Aku batu bata yang bagus, tak mungkin aku dirangkaikan bersama mereka.”

Semua menoleh heran. Sebuah batu bata, berusaha memoles dirinya untuk menjadi bata yang baik, tapi menolak ketika diajak untuk dijadikan sebuah bangunan.

Ketika bangunan itu sudah berdiri dengan kokoh, orang-orang dapat berteduh di dalamnya. Merasa aman dan nyaman. Tak ada yang ingat, kalau dinding-dinding itu dibuat dari batu bata biasa. Tak ada yang tahu, bahwa di dalam kekokohan dinding itu, ada beberapa bata yang sebelumnya pecah atau terbelah. Kemudian bata-bata itu menyadari bahwa esensi mereka sebagai batu bata adalah menjadi dinding dan pondasi, bersama genting mereka melindungi setiap orang dari terpaan angin dingin dan panas sengatan matahari. Bukan hanya menjadi batu bata yang baik, tapi sendirian.

Lalu apa yang terjadi dengan batu-bata yang baik itu? Dia tetap menjadi bata yang baik, tentu saja. Tapi ia tak berfungsi, tetap tergolek di tanah. Paling-paling dilempar untuk menghalau binatang liar. Mungkin sesekali orang mengajaknya untuk dijadikan tungku. Tapi tentu saja ia menolak. “Nggak level!” tukasnya. “Masa aku harus dibakar dan terkena jelaga?”
Lalu apa maumu batu bata yang baik? Paling banter kau hanya dijadikan pengganjal pintu, itupun kalau kau mau.

Setelah beberapa lama, ia tetap tergolek dengan bentuknya yang sempurna. Sampai dating segerombolan orang yang tengah bertikai, api kemarahan membuncah, caci maki riuh bertebaran. Salah satu dari mereka mengambil batu-bata baik itu dan mencengkramnya erat, mengacung-ngacungkannya ke udara sebagai senjata. “Lepaskan aku! Apa yang kau lakukan padaku?” ia berteriak sambil meronta-ronta. “Diam kau!” hardik orang itu. “Aku akan melemparkanmu ke kepala orang itu, biar dia mati!” orang itu berkata geram sambil menunjuk musuhnya.
“Hei, aku ini batu bata yang baik, tahu! Cari saja bata lain yang tidak baik. Mengapa harus aku?” batu bata baik itu balas mengecam.
Orang tersebut tertawa. “Itu karena kau terlihat kuat dan bagus, bodoh! Pasti hebat kalau dijadikan senjata.”
Kemudian tanpa daya, batu bata itu melayang di udara. Terlempar begitu cepat hingga mengenai kepala seseorang. Buk! Krek! Suara batok kepala pecah, diikuti bunyi sama yang berasal dari bata itu. Bukan hanya retak, batu bata baik itu terbelah berlelehan darah.

Dalam sekarat, ia menangis sesal. Mengapa dulu ia tak mau menjadi dinding hingga tak harus berakhir seperti ini? Semua dinding memandang pedih, namun tak banyak yang bisa mereka perbuat.

Sang batu-bata yang bagus dan baik itu meninggal setelah dipakai untuk memecahkan kepala seseorang. Ia tergolek di tanah, berkeping-keping, berlumuran darah, dan sendirian.

===

semoga di antara kita tak ada batu bata yang bagus dan baik namun sendirian itu. sebab manusia biasa yang bermanfaat bagi manusia lainnya lebih mulia dibandingkan dengan manusia sempurna tapi tak memberikan andil apa-apa bagi lingkungannya. semoga ukhuwah dan shilaturahmi tetap terjaga, agar kita bisa sama-sama membangun sebuah dinding, tak sendirian. sehingga bersama-sama kita dapat melawan kemungkaran.

One Comment

  1. July 22, 2009 at 5:19 am

    satu orang saja tidak kan ada artinya kebersamaanlah yang membuat kuat, hal yang paling esensial adalah akhlak mulia manusia.

Leave a Reply