SEBUAH PERCAKAPAN TENTANG CINTA

“Ibu tak suka puisi cinta yang kamu tulis. Gantilah!” kata guruku

Aku heran lalu mengambil carikan kertas yang ia berikan. “Kenapa?” tanyaku penasaran

“Suram,” gumamnya. “Tak cocok untuk gadis seumuranmu.”

“Tapi cinta memang pekat, legam, dan gelap, Ibu.”

“Tidak, anakku. Cinta itu merah muda.”

“Lalu sejak kapan cinta memiliki warna?”

Ibu guru tercenung

“Tapi Ibu tidak suka dengan apa yang kau tulis.”

“Karena apa?”

“Cinta legam tak cocok untuk gadis seusiamu.”

“Memangnya cinta bertanya dahulu’berapa umurmu?’ sebelum ia mengoyak hatiku?”

“Dengarlah, cinta itu indah. Kamu saja yang tak tahu.”

“Apa yang Ibu tahu tentang cinta? Katakan padaku!”

“Mmm…cinta membuat hati kita serasa lapang.”

Ia pasti bohong, elak pikiranku. “Rindu yang beranak pinak di dada membuatku sesak, Bu. Bahkan tak ada lagi tempat untuk menampung setitik air pun di sana.”

“Ah, cinta juga membuat bahagia.”

“Bahagia dari mana? Cinta yang seperti apa?”

“Banyak pasangan yang saling mencintai dan hidup bahagia karenanya.”

“Ibu pikir perceraian yang aku tonton di tivi setiap hari itu apa? Kenap saling meninggalkan kalau memang saling mencintai dan hidup bahagia?”

“Ya, barangkali ada masalah yang tidak bisa diselesaikan dan menyebabkan pertengkaran.”

“Kalau begitu, kenapa cinta yang membahagiakan itu tidak datang melerai?”

“Kamu salah anakku, barangkali cinta mereka telah hilang.”

Aku jadi bingung. “Jadi apanya yang istimewa dari sesuatu yang bisa hilang begitu saja?”

“Tidak, tidak. Cinta juga bisa mendamaikan.”

Aih, mungkin Bu guru ini amnesia lalu lupa sejarah manusia.

“Bu, kemana cinta saat terjadi peperangan?”

Ibu guru terdiam. Lalu katanya. “Ada, pasti ada.”

“Di mana? Bukankah seharusnya ia muncul untuk membawa kedamaian?”

Ia tampak ragu. “Di suatu tempat.”

“Di hati mereka yang cinta kekuasaan? Sehingga membantai sesama manusia karenanya?”

“Eh…”

“Di dada mereka yang cinta keserakahan? Meraup dan menghancurkan segalanya tanpa belas kasihan?”

“Mmmmhhh…”

“Di dalam kalbu mereka yang cinta kekuatan? Menggilas yang lemah, rela menumpahkan darah untuk mendapatkannya?”

Ibu guru terlihat berang. “Kenapa sih kamu tak percaya pada apa yang Ibu katakan?”

“Karena Ibu mengatakan tentang cinta, sesuatu yang Ibu tak tahu apa itu.”

“Kalau kamu sudah besar nanti, kamu pasti tahu.”

“Kalau aku sudah besar nanti, bolehkah aku membuat puisi tentang cinta yang seperti itu?”

Ibu guru pun mendesah pasrah. “Ya, terserahmulah. Pokoknya, ganti puisi yang kau buat tadi. Sekarang!”

Batam, 30 Januari 2009

Publish at Kompas Cyber Media, Friday, Feb 13rd 2009

Leave a Reply