Secabik Pesan Sebelum Saya Bunuh Diri

Berkali-kali melakukan percobaan bunuh diri itu biasa. Tapi berkali-kali mencoba menghabisi nyawa Aksa membuat saya nyaris gila.

Pagi ini saya membaca tulisan Topan Pramukti, suaminya Pungky. Tulisan yang menyayat-nyayat hati sekaligus membuat saya berani untuk menuliskan ini. Postpartum depression (PPD), monster yang selama ini saya kira sebagai baby blues biasa. Monster yang ikut terbangun pasca kelahiran Aksa. Monster yang baru hari ini saya kenali namanya. Monster yang sialnya, hidup di dalam diri saya.

Minggu-Minggu Pertama Pasca Persalinan

Tadinya saya mengira bahwa saya bahagia. Bahwa Aksa menggenapkan hidup saya. Iya, memang demikian, meski tidak sepenuhnya benar. Saya menjalani proses persalinan sendirian. Bukan karena keadaan darurat, melainkan karena memang tidak ada yang mau menemani saya.

Ke mana ayahnya Aksa?

Tanpa bermaksud membanggakan diri atas dosa-dosa, izinkan saya mengatakan ini: Aksa adalah anak di luar nikah. Ayahnya pergi, tidak mengakui, bahkan sampai hari ini.

Ke mana keluarga saya?

Sampai usia kandungan saya menginjak 7 bulan, saya diboikot dari rumah. Sama sekali tidak bisa datang ke sana. Selama hamil, saya tinggal sendirian. Makan tak makan, tak pernah ada yang tahu. Pun, saya sudah berjanji tidak akan meminta bantuan apa-apa kepada keluarga, materi maupun nonmateri. Maka mereka hanya saya kabari ketika proses persalinan sudah selesai.

Ke mana teman-teman saya?

Anda masih bertanya? Teman sejati hanya ilusi. Saya sudah belajar banyak tentang itu. Lagi pula, teman-teman saya pasti punya masalah sendiri. Saya tak ingin selalu membebani.

Malam pertama setelah persalinan, Salwa, anak sulung saya menginap di kosan. Malam kedua dan hari-hari seterusnya saya sendirian. Orang tua saya hanya datang untuk memperbincangkan tentang hajatan, marhabaan, dan hal-hal yang menurut saya tidak penting. Ibu bahkan sudah mengabarkan kepada para tetangga bahwa saya akan memotong dua ekor kambing untuk akikah. Uang dari mana? Kekurangan biaya persalinan pun belum sanggup saya bayar, apatah lagi harus akikah yang akan menghabiskan dana berjuta-juta.

“Potong saja kepala saya,” hanya itu yang saya katakan kepada Ibu agar ia berhenti merengek-rengek tentang memotong kambing.

Mengurus bayi yang baru lahir dan mengurus diri sendiri tanpa bantuan siapa-siapa bukan hal mudah. Setiap detik memandang replika wajah lelaki yang telah mencampakkan kami juga tidak mudah. Waktu itu saya kira saya akan sanggup melaluinya. Tapi saya salah. Saya mulai cemas, mulai menangis tanpa sebab, mulai merasa marah terhadap segala hal, mulai membayangkan seandainya Aksa tak ada.

Sejak saat itulah monster bernama PPD mulai mengganas.

Bulan Pertama Pasca Persalinan

Saya kembali ke belakang meja kerja sebelum 40 hari. Sebelum darah nifas di vagina saya berhenti. Setiap hari, saya tertatih-tatih mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga, mengurus bayi, dan mengerjakan layout-an. Ada uang kos yang harus saya bayar, ada perut yang harus saya isi demi ketersediaan ASI. Saya tak mungkin berhenti.

Pada saat-saat tertentu, ketika Aksa mulai menangis tanpa henti. Yang saya lakukan bukan menenangkannya, melainkan lari ke dapur untuk mengambil pisau. Menghunuskannya ke pergelangan tangan, tak jarang ke leher sendiri. Saat itu saya ingin sekali mati.

Jika Anda memerhatikan, meski baru saja melahirkan, saya terus aktif di media sosial. Anda tahu mengapa? Saya sedang mencari jalan untuk melarikan diri.

Bulan-Bulan Setelah Itu

Saat itu saya mengira bahwa saya hanya terkena baby blues biasa. Aksa adalah anak kedua, saya yakin bisa menanganinya. Tapi, sekali lagi, saya salah.

Saat itu saya mengira, saya depresi karena tekanan pekerjaan, juga tekanan perasaan. Maka sekuat tenaga berusaha mengabaikan monster yang terus menggeliat di dalam kepala saya.

Tadinya saya mengira, saya akan sembuh dengan sendirinya.Tapi ternyata tidak.

Setiap kali menyiapkan air panas untuk mandi, saya selalu tergoda untuk menyiramkannya kepada Aksa. Setiap kali menyusuinya, saya selalu tergoda untuk membekapnya hingga ia tiada.

Tadinya saya mengira, itu hanya baby blues biasa. Tapi ternyata tidak.

Berbulan-Bulan Setelahnya

Ketika usia Aksa 5 bulan, akhirnya saya memutuskan untuk mencari pengasuh. Anda tahu mengapa? Agar saya bisa bekerja dan memenuhi kebutuhan kami? Agar saya bisa berfungsi sebagai ayah sekaligus ibu baginya?

Itu alasan kedua. Alasan pertama adalah untuk menyelamatkan nyawanya. Juga menyelamatkan nyawa saya.

Saya kerap mengalami masalah teknis dengan pekerjaan. Komputer yang rusaklah, modem yang cepat habislah, software yang bermasalahlah. Kecepatan layout saya berkurang. Dan pekerjaan yang tidak selesai artinya tidak gajian. Tidak gajian artinya saya harus menunggak uang kos, tidak punya uang untuk membayar pengasuh, untuk membeli susu (Aksa berhenti minum ASI saat usianya 6 bulan), untuk membeli diapers, dan untuk makan kami.

Saya masih mengira bahwa depresi yang saya alami disebabkan oleh impitan ekonomi. Tapi, lagi-lagi, saya salah.

Karena depresi, ketika honor turun saya kerap kali belanja dengan membabi buta. Saya membeli banyak baju untuk Aksa, membelikannya mainan mahal, makan di tempat-tempat yang menguras isi rekening. Saat honor habis karena dibelanjakan untuk hal-hal yang tidak penting, saya semakin depresi.

Bertahun Setelah Itu

Saat ini usia Aksa 19 bulan, sudah bisa berbicara dan berjalan. Anda pernah membaca blogpost saya “Lomba-Lomba Bedebah Itu”? Itu kali pertama saya memarahi Aksa dan menyeretnya seperti sebuah benda. Sebelumnya saya hanya berani menganiayanya di dalam kepala. Waktu itu saya masih mengira bahwa saya depresi karena faktor eskternal, faktor di luar diri saya.

Padahal, yang terjadi sebenarnya adalah monster PPD sudah tak bisa saya kendalikan.

Tak ada ibu yang benar-benar ingin menyakiti buah hatinya sendiri. Saya mulai merasa bersalah, mulai merasa hina, mulai merasa tak sanggup menghadapi hidup.

Saya … mulai menyerah.

Ada yang ingat status saya beberapa minggu lalu? Isinya kira-kira begini:

“Mungkin sudah waktunya saya menyerah, sudah waktunya saya mendelegasikan pengasuhan anak-anak saya kepada orang lain yang lebih layak.”

Ketika membuat status itu, saya tengah melakukan percobaan bunuh diri untuk yang kesekian kali. Tidak, Anda tidak perlu tahu detailnya.

Saya tahu, mungkin Anda akan bertanya-tanya, mengapa saya menghadapi ini sendirian? Mengapa saya tidak meminta pertolongan? Mengapa saya tidak menghubungi keluarga atau teman?

Anda kira saya tidak mencoba?

Waktu itu saya menghubungi seseorang, lelaki yang tengah dekat dengan saya. Anda tahu tanggapannya seperti apa? Lelaki itu malah mengatakan, “Bukannya dulu kamu yang ingin punya anak laki-laki? Bukannya dulu kamu bilang Aksa adalah pengganti anak kamu yang mati? Kenapa sekarang kamu malah menyerah dan mau memberikan Aksa kepada orang lain?”

Bukan tanggapan seperti itu yang saya butuhkan. Dia bahkan tidak bertanya ada apa.

Anda kira saya tidak bercerita?

Saya mengatakan dengan gamblang bahwa saya depresi. Bahwa saya sudah berkali-kali mencoba bunuh diri. Bahwa berkali-kali pula saya mencoba membunuh anak saya sendiri.

Dia tidak percaya. Hanya menganggap saya drama.

Teman? Anda bertanya mengapa saya tidak menghubungi teman?

Terakhir kali saya meminta pertolongan untuk masalah-masalah seperti ini, teman-teman saya pergi. Mereka mengatakan bahwa saya hanya lebay, mencari perhatian, melebih-lebihkan.

Waktu itu saya berpikir, tak ada yang bisa menolong saya kecuali diri saya sendiri.

Pesan Bunuh Diri

Anda yang mengenal saya baik di dunia maya maupun nyata menjuluki saya sebagai perempuan tangguh. Perempuan yang telah banyak memakan amuk gelombang dan badai kehidupan. Perempuan yang senantiasa bertahan bagai karang di lautan.

Sayangnya Anda salah.

Kebutuhan saya banyak sedangkan penghasilan saya kadang tidak mencukupi. Pada saat-saat urgent, saya mulai berani berutang kepada teman. Urgent artinya jika susu habis, diapers habis, dan saya sudah tidak makan selama beberapa hari. Utang demi utang itu kian menumpuk. Saya berusaha melunasinya satu demi satu, sayangnya kebutuhan hidup selalu melaju. Ada untuk bayar utang, tapi tidak ada untuk beli susu. Jadi yang bisa lakukan hanya meminta maaf, meminta perpanjangan waktu, dan berjanji akan melunasi.

Bukan sekali dua kali orang-orang yang saya utangi membuat status, menagih dengan cara kasar, atau menjelek-jelekkan saya kepada teman yang lain. Saya tak bisa melawan, tak bisa melakukan pembelaan. Yang bisa saya lakukan hanyalah membungkukkan badan, meminta maaf dan keringanan.

Saya yang Anda kenal arogan. Yang Anda kenal sebagai perempuan tanpa rasa takut. Adalah saya yang rela menggadaikan harga diri hanya agar perut anak-anak saya terisi. Adalah saya yang memangkas rasa malu agar masih bisa membeli susu.

Iya, semenyedihkan itulah saya.

Saya masih mengira bahwa baby blues sudah selesai. Bahwa depresi yang saya alami hanya karena masalah-masalah di luar diri saya sendiri.

Saya, salah. Masih salah.

Puncaknya adalah kejadian beberapa hari lalu. Ketika tanpa sebab pasti saya mulai menangis, merasa sedih sekaligus marah. Entah kepada siapa. Saya menggunting baju-baju Aksa, membakar mainannya, menghancurkan alat-alat makannya. Saya tahu bahwa monster di dalam saya akan senantiasa lapar, maka saya mengirimkan SMS kepada pengasuh Aksa agar ia menginap di sana. Ada monster yang harus saya tangani.

Saya mulai histeris, membawa-bawa pisau keliling kamar. Mulai menandai urat nadi. Mencari cara paling cepat untuk mati.

Dalam keadaan setengah sadar, saya mengirimkan pesan kepada semesta. Berharap akan ada seseorang yang menolong saya. A suicide message, begitu saya menyebutnya.

“Kalau saya sudah tidak ada, apa yang akan kalian ingat tentang saya?”

KALAU SAYA SUDAH TIDAK ADA

Pesan yang sama saya kirimkan kepada seseorang. Tak ada yang menanggapi dengan benar, semua orang hanya menganggap saya sedang mencari perhatian. Padahal saya tengah meminta pertolongan.

Dengan pisau terhunus di leher, saya menghadap cermin. Memandangi wajah saya lekat-lekat, menelusuri setiap peristiwa yang pernah tersemat. Saya melihat seorang perempuan yang selama 33 tahun ini teramat saya kenali. Di matanya, ada perempuan yang tertawa, perempuan yang menangis, perempuan yang selalu berapi-api, perempuan yang kisah hidupnya teramat berduri. Dari matanya, beragam peristiwa datang dan pergi.

“Kau ingin mati, Maryam? Tusuk tepat di tengah kerongkongan. Kau hanya akan merasakan sakit sebentar lalu segalanya usai. Hidup ini neraka, kau sudah terpanggang terlalu lama. Beristirahatlah.”

Sebuah suara bergema.

Pisau itu sudah menembus kulit ari ketika suara lain datang, masih suara perempuan, terdengar asing di kamar saya yang hening.

“Matilah kau berkali-kali untuk kemudian hidup kembali,” bisiknya.

Saya mengenal kalimat itu. Kalimat yang sering saya jadikan jargon. Kalimat yang saya jadikan foto sampul. Kalimat yang saya jadikan bio di Twitter. Kalimat yang saya gaungkan di mana-mana hanya untuk satu alasan: bahwa hidup masih berharga untuk dijalankan.

Ketika pisau itu saya turunkan dari leher, saya masih mengira bahwa depresi yang saya alami bisa saya tangani sendiri. Malam itu saya memutuskan untuk melawan, apa pun yang ada di dalam kepala saya. Malam itu saya memutuskan untuk tetap hidup.

Bersamaan dengan pisau yang bekelontang di lantai, saya menggumamkan satu nama. “Tuhan ….”


Sampai tadi pagi, saya masih mengira bahwa baby blues yang saya alami sudah berhenti. Bahwa depresi yang tersisa hanya karena tekanan ekonomi dan hal-hal di luar diri saya sendiri.

Sampai tadi pagi, saya masih mengingkari. Menganggap bahwa saya baik-baik saja, hanya sedikit tertekan dan kurang hiburan.

Tadi pagi, ketika saya membaca tulisan Topan, saya baru tahu bahwa di luar sana ada perempuan lain yang mengalami hal serupa. Bahwa monster di dalam sini masih ada, bahkan memiliki nama.

Tadi pagi, ketika saya memutuskan untuk menulis ini, saya tahu bahwa saya butuh pertolongan. Meski saya tidak yakin harus memintanya kepada siapa.

Yang bisa saya lakukan hanya mengirimkan pesan kepada semesta, kepada siapa saja yang berbaik hati dan peduli. Saya mohon, tolong saya. Demi Salwa, demi Aksa, demi anak-anak saya. Saya mohon, tolong saya.

~eL

117 Comments

  1. evrinasp-Reply
    April 22, 2016 at 12:04 pm

    Uchan, shalat chan, kalau saya lagi galau, saya langsung tertunduk dan meminta pertolongan Allah

  2. via-Reply
    April 22, 2016 at 12:46 pm

    Mbak….kalau butuh teman curhat bisa kontak saya. Please feel free…walaupun tdk punya pengalaman PPD, tapi saya pingin bantu

  3. Cicilia-Reply
    April 22, 2016 at 2:37 pm

    mba… Menangislah sepuasnya, berteriak sekencang kencang nya. Asal jangan melihat Aksa.
    I feel you, saat melahirkan anak kedua kemarin. Suamiku ada, tapi keadaan bikin kami ga bisa bersama untuk sementara waktu.
    Aku butuh teman curhat, kalau ga ada yang mau di jadikan tempat curhat, aku buat voice note, lalu ketika ‘waras’ , aku dengar ulang, dan aku bisa ‘melihat’ dari sudut pandang orang lain.
    Mba pasti bisa melalui nya… seperti aku yang juga berusaha menghindari monater itu, yang kadang coba menghampiri

  4. jilly-Reply
    April 22, 2016 at 3:38 pm

    Halo mba. Tetap berdoa dan semangat ya. Saya ga tau apa2 tentang masalah ini karena saya blm menjadi seorang ibu, tapi saya mendoakan mba semoga mba diberi kemudahan di kehidupan mba. Tuhan selalu melindungi mba. 🙂

  5. April 22, 2016 at 10:50 am

    Aku tahu teteh Langit belum lama, tapi aku yakin teteh ini orang yang kiat, perempuan hebat yang mampu bertahan. Meski aku ggtahu ttg hidup teteh yg sebenernya dan hanya kenal lewat dunia maya. Aku yakin teteh bisa, semangat buat Aksa. Buat Salwa yang katanya pengen jadi dokter. Badai pasti berlalu, teh…

  6. April 22, 2016 at 10:50 am

    Ya Allah.

  7. yeni-Reply
    April 22, 2016 at 6:10 pm

    Saya yg blum nikah aja depresi tp saya tutupin. Cukup.hanya utk diri saya sndiri.
    Saya haus kasih sayang,
    Krn nota bene dari kecil kedua orang tua saya sering mnghajar saya dgn pukulan yg sakit. Tidak luka fisik tp luka psikis. Saya jadi pndendam dan ketakutan mnghadapi orang.
    Mulai dari kecil saya udah niat mau bunuh diri.. saya mrasa tertekan. Tp urung saya lakukan.. saya mau mati , tp saya ingin hidup.
    Sekarang usia saya mnjelang 26thn, hidup saya seakan tdk berarti, hidup hanya utk makan dan bernafas. Kurang sosialisasi , krn slallu merasa terkucilkan.
    Saya tdk punya pandangan hidup bahkan utk agama juga sya sgt tdk yakin skrg.
    Ntah knapa saya mai pindah agama.. tp saya kasian liat ortu saya. Yg akan terluka hatinya karna ulah saya.
    Tp saya tdk bgitu dkt dgn ortu saya (mamak) krn mamak sllu mnjelek2 kan saya bangga umbar2 aib anaknya kpd smua kluarga , teman dekat nya, tetangga , bahkan teman2 saya.
    Saya malu.
    Saya kecewa.
    Entah esok bagaimana hidup saya pun tdk tau..
    Masih terngiang mau coba mati saja. Tp takut dosa.
    Entahlah bagai mana saya ini.

    Mba langit. Saya respeck sama mba, mba hebat pintar dan tangguh.
    Mba bisa lewatin smua
    Meski tdk ada harapan, tetaplah berjuang dari diri sendiri.
    Smoga masih ada hari esok utk kita yg depresi akut.

  8. April 22, 2016 at 11:33 am

    Salut….!
    Salut karena telah berani menuliskan ini.
    Saya masih seorang pecundang yg tak sanggup menuliskan “monster” didiri saya ketika PPD sampai detik ini…karena tertutup oleh gengsi.

    Ternyata setelah membaca ini, kamu lbh keibuan drpd saya yg terlalu kejam pada anak.
    #tak sanggup meneruskan 🙁

  9. April 22, 2016 at 11:47 am

    Langiiittt, gw gak akan bisa benar2 memahami apa yg lu rasakan, tp gw tau prasaan yg mirip2 dng itu. Jangan mau ‘kalah’, lawan terus!. Dan yg lu lakukan udah bener, minta pertolongan, trutama pada Allah … Kapan2 kita ngobrol, yuk..

  10. April 22, 2016 at 12:15 pm

    Speechless…., andai aku ada di posisimu belum tentu bisa sekuat itu. Hanya bisa turut mendoakan, semoga teteh kuat. Yakin Allah ada..

Leave a Reply