Secabik Pesan Sebelum Saya Bunuh Diri

Berkali-kali melakukan percobaan bunuh diri itu biasa. Tapi berkali-kali mencoba menghabisi nyawa Aksa membuat saya nyaris gila.

Pagi ini saya membaca tulisan Topan Pramukti, suaminya Pungky. Tulisan yang menyayat-nyayat hati sekaligus membuat saya berani untuk menuliskan ini. Postpartum depression (PPD), monster yang selama ini saya kira sebagai baby blues biasa. Monster yang ikut terbangun pasca kelahiran Aksa. Monster yang baru hari ini saya kenali namanya. Monster yang sialnya, hidup di dalam diri saya.

Minggu-Minggu Pertama Pasca Persalinan

Tadinya saya mengira bahwa saya bahagia. Bahwa Aksa menggenapkan hidup saya. Iya, memang demikian, meski tidak sepenuhnya benar. Saya menjalani proses persalinan sendirian. Bukan karena keadaan darurat, melainkan karena memang tidak ada yang mau menemani saya.

Ke mana ayahnya Aksa?

Tanpa bermaksud membanggakan diri atas dosa-dosa, izinkan saya mengatakan ini: Aksa adalah anak di luar nikah. Ayahnya pergi, tidak mengakui, bahkan sampai hari ini.

Ke mana keluarga saya?

Sampai usia kandungan saya menginjak 7 bulan, saya diboikot dari rumah. Sama sekali tidak bisa datang ke sana. Selama hamil, saya tinggal sendirian. Makan tak makan, tak pernah ada yang tahu. Pun, saya sudah berjanji tidak akan meminta bantuan apa-apa kepada keluarga, materi maupun nonmateri. Maka mereka hanya saya kabari ketika proses persalinan sudah selesai.

Ke mana teman-teman saya?

Anda masih bertanya? Teman sejati hanya ilusi. Saya sudah belajar banyak tentang itu. Lagi pula, teman-teman saya pasti punya masalah sendiri. Saya tak ingin selalu membebani.

Malam pertama setelah persalinan, Salwa, anak sulung saya menginap di kosan. Malam kedua dan hari-hari seterusnya saya sendirian. Orang tua saya hanya datang untuk memperbincangkan tentang hajatan, marhabaan, dan hal-hal yang menurut saya tidak penting. Ibu bahkan sudah mengabarkan kepada para tetangga bahwa saya akan memotong dua ekor kambing untuk akikah. Uang dari mana? Kekurangan biaya persalinan pun belum sanggup saya bayar, apatah lagi harus akikah yang akan menghabiskan dana berjuta-juta.

“Potong saja kepala saya,” hanya itu yang saya katakan kepada Ibu agar ia berhenti merengek-rengek tentang memotong kambing.

Mengurus bayi yang baru lahir dan mengurus diri sendiri tanpa bantuan siapa-siapa bukan hal mudah. Setiap detik memandang replika wajah lelaki yang telah mencampakkan kami juga tidak mudah. Waktu itu saya kira saya akan sanggup melaluinya. Tapi saya salah. Saya mulai cemas, mulai menangis tanpa sebab, mulai merasa marah terhadap segala hal, mulai membayangkan seandainya Aksa tak ada.

Sejak saat itulah monster bernama PPD mulai mengganas.

Bulan Pertama Pasca Persalinan

Saya kembali ke belakang meja kerja sebelum 40 hari. Sebelum darah nifas di vagina saya berhenti. Setiap hari, saya tertatih-tatih mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga, mengurus bayi, dan mengerjakan layout-an. Ada uang kos yang harus saya bayar, ada perut yang harus saya isi demi ketersediaan ASI. Saya tak mungkin berhenti.

Pada saat-saat tertentu, ketika Aksa mulai menangis tanpa henti. Yang saya lakukan bukan menenangkannya, melainkan lari ke dapur untuk mengambil pisau. Menghunuskannya ke pergelangan tangan, tak jarang ke leher sendiri. Saat itu saya ingin sekali mati.

Jika Anda memerhatikan, meski baru saja melahirkan, saya terus aktif di media sosial. Anda tahu mengapa? Saya sedang mencari jalan untuk melarikan diri.

Bulan-Bulan Setelah Itu

Saat itu saya mengira bahwa saya hanya terkena baby blues biasa. Aksa adalah anak kedua, saya yakin bisa menanganinya. Tapi, sekali lagi, saya salah.

Saat itu saya mengira, saya depresi karena tekanan pekerjaan, juga tekanan perasaan. Maka sekuat tenaga berusaha mengabaikan monster yang terus menggeliat di dalam kepala saya.

Tadinya saya mengira, saya akan sembuh dengan sendirinya.Tapi ternyata tidak.

Setiap kali menyiapkan air panas untuk mandi, saya selalu tergoda untuk menyiramkannya kepada Aksa. Setiap kali menyusuinya, saya selalu tergoda untuk membekapnya hingga ia tiada.

Tadinya saya mengira, itu hanya baby blues biasa. Tapi ternyata tidak.

Berbulan-Bulan Setelahnya

Ketika usia Aksa 5 bulan, akhirnya saya memutuskan untuk mencari pengasuh. Anda tahu mengapa? Agar saya bisa bekerja dan memenuhi kebutuhan kami? Agar saya bisa berfungsi sebagai ayah sekaligus ibu baginya?

Itu alasan kedua. Alasan pertama adalah untuk menyelamatkan nyawanya. Juga menyelamatkan nyawa saya.

Saya kerap mengalami masalah teknis dengan pekerjaan. Komputer yang rusaklah, modem yang cepat habislah, software yang bermasalahlah. Kecepatan layout saya berkurang. Dan pekerjaan yang tidak selesai artinya tidak gajian. Tidak gajian artinya saya harus menunggak uang kos, tidak punya uang untuk membayar pengasuh, untuk membeli susu (Aksa berhenti minum ASI saat usianya 6 bulan), untuk membeli diapers, dan untuk makan kami.

Saya masih mengira bahwa depresi yang saya alami disebabkan oleh impitan ekonomi. Tapi, lagi-lagi, saya salah.

Karena depresi, ketika honor turun saya kerap kali belanja dengan membabi buta. Saya membeli banyak baju untuk Aksa, membelikannya mainan mahal, makan di tempat-tempat yang menguras isi rekening. Saat honor habis karena dibelanjakan untuk hal-hal yang tidak penting, saya semakin depresi.

Bertahun Setelah Itu

Saat ini usia Aksa 19 bulan, sudah bisa berbicara dan berjalan. Anda pernah membaca blogpost saya “Lomba-Lomba Bedebah Itu”? Itu kali pertama saya memarahi Aksa dan menyeretnya seperti sebuah benda. Sebelumnya saya hanya berani menganiayanya di dalam kepala. Waktu itu saya masih mengira bahwa saya depresi karena faktor eskternal, faktor di luar diri saya.

Padahal, yang terjadi sebenarnya adalah monster PPD sudah tak bisa saya kendalikan.

Tak ada ibu yang benar-benar ingin menyakiti buah hatinya sendiri. Saya mulai merasa bersalah, mulai merasa hina, mulai merasa tak sanggup menghadapi hidup.

Saya … mulai menyerah.

Ada yang ingat status saya beberapa minggu lalu? Isinya kira-kira begini:

“Mungkin sudah waktunya saya menyerah, sudah waktunya saya mendelegasikan pengasuhan anak-anak saya kepada orang lain yang lebih layak.”

Ketika membuat status itu, saya tengah melakukan percobaan bunuh diri untuk yang kesekian kali. Tidak, Anda tidak perlu tahu detailnya.

Saya tahu, mungkin Anda akan bertanya-tanya, mengapa saya menghadapi ini sendirian? Mengapa saya tidak meminta pertolongan? Mengapa saya tidak menghubungi keluarga atau teman?

Anda kira saya tidak mencoba?

Waktu itu saya menghubungi seseorang, lelaki yang tengah dekat dengan saya. Anda tahu tanggapannya seperti apa? Lelaki itu malah mengatakan, “Bukannya dulu kamu yang ingin punya anak laki-laki? Bukannya dulu kamu bilang Aksa adalah pengganti anak kamu yang mati? Kenapa sekarang kamu malah menyerah dan mau memberikan Aksa kepada orang lain?”

Bukan tanggapan seperti itu yang saya butuhkan. Dia bahkan tidak bertanya ada apa.

Anda kira saya tidak bercerita?

Saya mengatakan dengan gamblang bahwa saya depresi. Bahwa saya sudah berkali-kali mencoba bunuh diri. Bahwa berkali-kali pula saya mencoba membunuh anak saya sendiri.

Dia tidak percaya. Hanya menganggap saya drama.

Teman? Anda bertanya mengapa saya tidak menghubungi teman?

Terakhir kali saya meminta pertolongan untuk masalah-masalah seperti ini, teman-teman saya pergi. Mereka mengatakan bahwa saya hanya lebay, mencari perhatian, melebih-lebihkan.

Waktu itu saya berpikir, tak ada yang bisa menolong saya kecuali diri saya sendiri.

Pesan Bunuh Diri

Anda yang mengenal saya baik di dunia maya maupun nyata menjuluki saya sebagai perempuan tangguh. Perempuan yang telah banyak memakan amuk gelombang dan badai kehidupan. Perempuan yang senantiasa bertahan bagai karang di lautan.

Sayangnya Anda salah.

Kebutuhan saya banyak sedangkan penghasilan saya kadang tidak mencukupi. Pada saat-saat urgent, saya mulai berani berutang kepada teman. Urgent artinya jika susu habis, diapers habis, dan saya sudah tidak makan selama beberapa hari. Utang demi utang itu kian menumpuk. Saya berusaha melunasinya satu demi satu, sayangnya kebutuhan hidup selalu melaju. Ada untuk bayar utang, tapi tidak ada untuk beli susu. Jadi yang bisa lakukan hanya meminta maaf, meminta perpanjangan waktu, dan berjanji akan melunasi.

Bukan sekali dua kali orang-orang yang saya utangi membuat status, menagih dengan cara kasar, atau menjelek-jelekkan saya kepada teman yang lain. Saya tak bisa melawan, tak bisa melakukan pembelaan. Yang bisa saya lakukan hanyalah membungkukkan badan, meminta maaf dan keringanan.

Saya yang Anda kenal arogan. Yang Anda kenal sebagai perempuan tanpa rasa takut. Adalah saya yang rela menggadaikan harga diri hanya agar perut anak-anak saya terisi. Adalah saya yang memangkas rasa malu agar masih bisa membeli susu.

Iya, semenyedihkan itulah saya.

Saya masih mengira bahwa baby blues sudah selesai. Bahwa depresi yang saya alami hanya karena masalah-masalah di luar diri saya sendiri.

Saya, salah. Masih salah.

Puncaknya adalah kejadian beberapa hari lalu. Ketika tanpa sebab pasti saya mulai menangis, merasa sedih sekaligus marah. Entah kepada siapa. Saya menggunting baju-baju Aksa, membakar mainannya, menghancurkan alat-alat makannya. Saya tahu bahwa monster di dalam saya akan senantiasa lapar, maka saya mengirimkan SMS kepada pengasuh Aksa agar ia menginap di sana. Ada monster yang harus saya tangani.

Saya mulai histeris, membawa-bawa pisau keliling kamar. Mulai menandai urat nadi. Mencari cara paling cepat untuk mati.

Dalam keadaan setengah sadar, saya mengirimkan pesan kepada semesta. Berharap akan ada seseorang yang menolong saya. A suicide message, begitu saya menyebutnya.

“Kalau saya sudah tidak ada, apa yang akan kalian ingat tentang saya?”

KALAU SAYA SUDAH TIDAK ADA

Pesan yang sama saya kirimkan kepada seseorang. Tak ada yang menanggapi dengan benar, semua orang hanya menganggap saya sedang mencari perhatian. Padahal saya tengah meminta pertolongan.

Dengan pisau terhunus di leher, saya menghadap cermin. Memandangi wajah saya lekat-lekat, menelusuri setiap peristiwa yang pernah tersemat. Saya melihat seorang perempuan yang selama 33 tahun ini teramat saya kenali. Di matanya, ada perempuan yang tertawa, perempuan yang menangis, perempuan yang selalu berapi-api, perempuan yang kisah hidupnya teramat berduri. Dari matanya, beragam peristiwa datang dan pergi.

“Kau ingin mati, Maryam? Tusuk tepat di tengah kerongkongan. Kau hanya akan merasakan sakit sebentar lalu segalanya usai. Hidup ini neraka, kau sudah terpanggang terlalu lama. Beristirahatlah.”

Sebuah suara bergema.

Pisau itu sudah menembus kulit ari ketika suara lain datang, masih suara perempuan, terdengar asing di kamar saya yang hening.

“Matilah kau berkali-kali untuk kemudian hidup kembali,” bisiknya.

Saya mengenal kalimat itu. Kalimat yang sering saya jadikan jargon. Kalimat yang saya jadikan foto sampul. Kalimat yang saya jadikan bio di Twitter. Kalimat yang saya gaungkan di mana-mana hanya untuk satu alasan: bahwa hidup masih berharga untuk dijalankan.

Ketika pisau itu saya turunkan dari leher, saya masih mengira bahwa depresi yang saya alami bisa saya tangani sendiri. Malam itu saya memutuskan untuk melawan, apa pun yang ada di dalam kepala saya. Malam itu saya memutuskan untuk tetap hidup.

Bersamaan dengan pisau yang bekelontang di lantai, saya menggumamkan satu nama. “Tuhan ….”


Sampai tadi pagi, saya masih mengira bahwa baby blues yang saya alami sudah berhenti. Bahwa depresi yang tersisa hanya karena tekanan ekonomi dan hal-hal di luar diri saya sendiri.

Sampai tadi pagi, saya masih mengingkari. Menganggap bahwa saya baik-baik saja, hanya sedikit tertekan dan kurang hiburan.

Tadi pagi, ketika saya membaca tulisan Topan, saya baru tahu bahwa di luar sana ada perempuan lain yang mengalami hal serupa. Bahwa monster di dalam sini masih ada, bahkan memiliki nama.

Tadi pagi, ketika saya memutuskan untuk menulis ini, saya tahu bahwa saya butuh pertolongan. Meski saya tidak yakin harus memintanya kepada siapa.

Yang bisa saya lakukan hanya mengirimkan pesan kepada semesta, kepada siapa saja yang berbaik hati dan peduli. Saya mohon, tolong saya. Demi Salwa, demi Aksa, demi anak-anak saya. Saya mohon, tolong saya.

~eL

Please feel free to share

114 Comments

  1. Mami Alkenz-Reply
    May 4, 2016 at 9:44 pm

    Bertaubatlah atas semua kesalahan dan dosa

    Hanya Allah yang dapat menolong… Memohonlah kepada NYA
    Tiada lain tiada bukan

    Kenapa sampai detik ini masih hidup? Karena Allah begitu cinta kepadamu mbak Langit..

    Berdoalah kepadaNYA

    Lakukanlah dari hati yg dalam…

    Masih ada kesempatan

  2. April 29, 2016 at 11:35 pm

    Bertahan ya Mba bertahan ya. Tuhan selalu menyediakan pelangisetelah hujan badai. Kami ada mau membantu mba.

    Saya mengalami baby blues setelah melahirkan anak pertama. Sering menangis tapi suami malah memarahi. Saya jadi aneh sering marah sama orangtua, anak saya suka saya cuekin klo nangis.

    Banyak wanita diluar sana yg sama mirip kondisinya spt Mba. Justru Mba bisa jadi penguat bagi mereka untuk tetap bertahan. Justru Mba akan memperbaiki dunia ini dengan mendidik Aska menjadi laki laki yg bertanggung jawab laki laki yg menghormati wanita.

    Kami tidak akan menghakimi dosa masa lalu seseorang karena kami pun belum tentu bisa bertahan dengan godaan seksual masa muda.

    Lebih baik bertahan dari pada menyerah. Kita di berikan titel Ibu karena kita mampu bertahan menghadapi permasalahan bergunung gunung.

    Jangan menyerah Mba. Tetap bertahan.

  3. CamelliaRose-Reply
    April 29, 2016 at 4:20 am

    Mbak,
    Saya bisa memahami betul situasi mbak. Capek kan di dalam siklus guilt depression anger bolak balik. Pasti exhausting sekali. Kalau saya depan mbak saya ingin peluk dan bilang begini:
    This too shall pass.
    Perasaan mbak begini, akan hilang. Mbak ga akan selamanya sesek nafas dan sakit dadanya begini. Suatu hari itu akan sirna. Seperti semua hal di dunia ini, semua akan berubah, termasuk perasaan mbak. Ada kok mbak harapan. Ada harapan dimana mbak akan bisa bahagia lagi, bisa menikmati mengasuh anak mbak, bahkan bisa memaafkan ayah dari bayi mbak. Dan ketika itu terjadi, mbak akan berpikir, wah Alhamdulillah saya dulu bersabar. Yang bisa dilakukan sekarang adalah kuatkan harapan itu, bayangkan sungguh2 keikhlasan di hati atas segala hal, baik memaafkan maupun mengurus anak, bayangkan enaknya dada lapang, dan paling penting, meminta Allah membantu. Dan go outdoor. Keluar, kena matahari, pastikan sehari kena matahari sekali sehari. Keluar dari kamar. Pindahkan energi yang menguasai kepala ke badan, bergerak, meski hanya jalan di tempat. Jangan lupa tarik nafas mbak. Kadang kita lupa, pdahal karunia Allah nafas itu, bisa menenangkan pikiran. Mengenai bunuh diri, mbak saya yakin sudah memikirkan bagaimana sedihnya anak2 mbak kalau ditinggal, mbak juga pasti tau bahwa peran mbak sebagai ibu tidak dapat tergantikan. Yang saya lihat malah mbak punya fighting spirit yang besar. Makanya mbak menulis ini, karena rasa sayang mbak terhadap anak2, karena mbak sungguh2 ingin keluar dari lubang depresi ini. And you can. You will. We will all help you. God will help you. Just keep on asking and never give up. This too shall pass :). Email me whenever u need to talk mbak.

  4. April 27, 2016 at 8:23 pm

    Mba…..
    Begitu banyak yg bersedia menolongmu… kuatlah…sabar..
    Jika mba muslimah,maka sabar dan shalatlah. Ruqiah syar’i InsyaAllah bs membantu.
    Aksa dan Salwa makhluk kecil tak berdosa membutuhkan kasih sayang ibu nya. Maka kuatlah sayang…

  5. ella-Reply
    April 27, 2016 at 1:07 pm

    Hi mb, I know your feeling all too well. Perasaan benci pada bayi mb itu tumbuh dari rasa tertolak, terbuang, Luka batin akibat ditinggal oleh si ayah bayi. You need help to forgive, to heal and to move on. Silakan hub saya di dc2morang@yahoo.com. I will help you.

  6. Heri-Reply
    April 27, 2016 at 12:40 pm

    Saya membaca dan mengamati tulisan mbak, mungkin banyak pembaca tulisan mbak diluar sana, maka jangan tinggalkan begitu saja para pecinta tulisan mbak, tulis terus, tuangkan semua isi kepala mbak kedalam tulisan, jangan tinggalkan para pembaca tulisan mbak, jangan kecewakan para pecinta tulisan mbak

  7. Lina-Reply
    April 27, 2016 at 12:21 pm

    Mbak langit kalau membutuhkan orang untuk cerita silahkan kapan saja menghubungi saya, kebetulan saya psikolog, bukan sebagai psikolog tp sebagai teman, mungkin mbak bisa merasa terbantu.

  8. Sumi-Reply
    April 27, 2016 at 11:10 am

    Hai, mba. Salam kenal. Semoga yang terjadi sama diri mba dapat terselesaikan dengan baik. Semoga Salwa dan Aksa juga dapat melaluinya dengan baik. Jangan menyerah. Semesta membantu.

  9. April 27, 2016 at 7:46 am

    Please be strong. If you need someone to talk, feel free to call me +62818192482 aku ada teman yg aku yakin bisa bantu. Sabar ya mbak. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya ^_^v

  10. Gee Amalia-Reply
    April 27, 2016 at 7:53 am

    Hi Langit hadapilah aku seorang ibu 2 anak berbeda bapak dan keduanya sama meninggalkan saya, saya bukan ibu yg sempurna bekerja sambil menjaga anak, tapi kau harus kuat buat anak anakmu, mereka hanya punya kau, lawanlah mosnter itu, aku pun mengalami hal yg tak jauh beda dr kau sama sama di asingkan, sama sama sendirian, semua pergi ketika kita butuh pertolongan, tapi hadapilah, kekuatanmu sendiri yg akan menolongmu

  11. Vee-Reply
    April 26, 2016 at 2:54 pm

    Be strong!!! Even though im struggling too…. be strong for ur baby!!! He needs u… earth need you to teach him how to treat a lady especially u.

  12. Rini-Reply
    April 26, 2016 at 7:11 am

    Mba kenapa?
    Apa yang membuat mba sampe begitu?
    Apa yang membuat monster itu ada?
    Jangan biarkan monster itu mengambil alih kehidupan mba
    God created you not to give up easily

  13. nani-Reply
    April 25, 2016 at 3:12 pm

    http://Www.irmarahayu.com
    0818725880 (Laura, aspri nya Teh Irma)

    Semoga Allah merahmatimu…sending love for u

  14. Pianggy-Reply
    April 25, 2016 at 2:51 pm

    Mba coba buka http://www.irmarahayu.com dan hubungi Teh Irma. Insya Allah Teh Irma bisa membantu.

  15. Okta-Reply
    April 25, 2016 at 1:15 pm

    Lebih tepatnya
    Lebih mendekatkan dengan Tuhan…
    Jika islam…perbnyk shalat,tahajut,sunah,puasa,shalt thobat,dzikir baca Al-Quran dan juga ruqiah…

  16. chairun nisa-Reply
    April 25, 2016 at 1:08 pm

    Teteehhhh sedih banget bacanya . Sabar ya teh, yakin smw maslah pasti ada jalan keluarnya .. nisa mohon klo tth butuh bantuan telp aja ya . Insyallah ns siap bantu .. materi maupun non materi insyallah . Sehat trs ya teh, aksa dan salwa juga

  17. April 25, 2016 at 1:19 am

    sabar mba ,, akjuga punya sodara seperti mbak, dan dia sembuh dengan bantuan medis, mbak harus ke psikiater, ada obat2an yg harus diminum, sodara saya bahkan sampai rawat inap, karena sudah jatuh ke skizofrenia.. ayo mbak, yg kuat, mbak harus konsultasi sm dokter, penyakit mbak ada obatnya, saya yakin dengan ikhtiar dan berdoa mbak pasti tertolong…mbak pasti bs melalui ini..sy yakin

    • April 26, 2016 at 3:36 am

      Iya, makasih. Saya sudah ada jadwal konsul ke psikolog.

  18. Givo wibatsu-Reply
    April 24, 2016 at 10:02 pm

    Dibalik segala kesusahan.Hidup itu sesuatu yg indah. percayalah semua pasti ada maksudnya.

  19. Anonymus-Reply
    April 24, 2016 at 6:04 pm

    Saya pernah menjalani ini….
    Sy sama seperti mbak langit, menikah karena hamil diluar nikah…
    Kehidupan sy sedang diatas langit sebelumnya, kuliah sy sedang luar biasa mungkin, haha, dan sy menikah dg seorang pengangguran.
    Salah sy…..sepenuhnya sy salah.
    Dan ketika dihadapkan dg persalinan, ketika sy benar2 belum siap…
    Ketika putri sy lahir, sy nangis tiap hari, mw nyusuin dy rasanya malas sekali, berapa kali sy berfikir, andai dia tidak ada. Mungkin hidup sy tidak seperti ini.
    Sy malas … sampe putri sy, sy beri susu formula, bukan asi…krn sy malas bhub dg nya…
    Nangis tiap hari, curhat ke suami, dianggep lebay, curhat ke temen sama aja dianggep lebay, ke orang tua ?? Lah wong ya salah sendiri….
    Sy tipikal orang depresif, masalah berat sendiri bawaannya pengen mati, sudah berapa tablet penenang sy tenggak untung menenangkan pikiran, antara ingin hidup dan mati…
    Terakhir sy pasrah mba, pasrah sama Tuhan, berserah ke semuanya….
    Mungkin sudah jalannya, lama kelamaan berkurang…
    Sampai skarang masih, ya masih, berpikiran ingin mati…tapi berkurang….
    Kembali ke Tuhan saja mba…
    Badai pasti berlalu….
    Yang sabar, pasrah saja mba…

    • April 26, 2016 at 3:40 am

      Ah, perempuan lain yang memiliki kisah nyaris sama. Stay strong, ayo sama-sama saling menguatkan.

  20. April 24, 2016 at 3:56 pm

    Saya belom pernah ngalamin PPD karena saya belom punya anak, tapi saya sering mengalami pertanyaan dan pertempuran dalam diri saya Mbak Langit…kadang dulu saya juga pengen bunuh diri, bertanya buat apa sih kita hidup..but…I think selain mbak langit butuh konsultasi dan cerita ke psikolog (i am do this when i’m down and need help) selain itu ya gak bisa di pungkiri kita juga harus mendekatkan diri pada Tuhan….saya sendiri menangis sejadi2nya ketika teman sejati saya satu persatu sepertinya jauh sekali, merasa sendiri, merasa di tinggal..tapi saya selalu bisa bangkit ketika akhirnya saya banyak cerita ke Tuhan dan psikolog….semua masalah datangnya dari pikiran kalau pikiran kita negatif pasti kita susah untuk berpengharapan dalam hidup ini..

    selamat berjuang mbak langit, semoga mendapatkan kebahagiaan yang lebih baik…

    Melisa Dawson

  21. ummi jasmine-Reply
    April 24, 2016 at 1:13 pm

    laa tahzan… innallaha maashobiriin :’)

  22. Nanda-Reply
    April 24, 2016 at 12:31 pm

    mbak..

    langit saya tahu pasti berat banget ngadepin PPD. kalau butuh teman berbagi cerita.. feel free to contact me dan kalau sepertinya mba juga butuh bantuan profesional, bisa hub yayasan pulih mba dan bisa konsul via fb juga.
    stay strong ya mba Langit.. I know u can get through this… #peluuuuk

  23. Nina-Reply
    April 24, 2016 at 11:46 am

    Langit… ibu sangat simpatik dg kindisi kamu. Kalau langit mau berbgai dg ibu.. langit boleh ngontak ibu kapanpun..

  24. Farah-Reply
    April 24, 2016 at 6:02 am

    Makanya hari harinya di isi dengan shollat dan membaca al qur’an.. Jangan hanya di baca tapi juga di pahami setiap maknanya. Berhenti dari pekerjaan2 yang berhubungan dengan riba. Meminta pertolongan dan ampun kepada ALLAH. Coba jalani kegiatan positif.. Itu semua bisa di sembuhkan.. Kunci dari psycology yang terganggu ya cuma itu yang di atas. Mohon maaf masih banyak sekali anak anak diluar sana yang butuh bantuan, mereka yang tidak memiliki kedua orangtua dan tempat tinggal.. Saya jauh lebih memilih membantu mereka daripada membantu anak anak kamu. Mereka punya ibu, semua pikiran jahat kamu itu hanya mindset. Kamu stress dan depressi karena terlalu banyak tekanan.. Jangan jadi ibu yang tidak bertanggung jawab.. Maunya enaknya aja tanpa mikir kedepannya.. Mungkin itu teguran buat kamu, saya sedang tidak menghakimi. Tapi kamu memohon pertolongan orang lain padahal ada Al-Qur’an disana yang tidak pernah kamu pandang apalagi pegang dan dibaca. Jangan menjadikan alasa baby blues sebagai mindset bahwa kamu sakit dan butuh pertolongan. Coba Kamu untuk membelajari dan membenahi diri kamu.. Taubat, dan keluar dari pekerjaan apapun yang berhubungan dengan riba. Ber khuznudzon terhadap Allah bahwa rezeki datangnya dari Allah bukan dari pekerjaan yang spt itu.. Usaha apapun yang penting halal dan jauh dari riba. Salam.

  25. Mutiar Fitri Dewi-Reply
    April 24, 2016 at 12:52 pm

    Hai mba Langit….
    Semoga selalu diberikan kesabaran dan kekuatan utk menghadapi semuanya ya mba…jika mba butuh teman sekedar berbagi cerita…jangan sungkan hub saya…tetap positive thinking ya mba…banyak orang di semesta ini yg peduli sama keadaan mba.

  26. April 24, 2016 at 4:15 am

    Mbak, dekatkan diri dengan Allah, dzat yang menciptakan alam semesta. Mbak hebat bisa desain. Masih bisa bekerja. Nikmati hidup ini. Diluar sana masih banyak yang kurang beruntung. Kuncinya adalah bersyukur, semoga mbak dijaga kesehatannya. Menjadi kuat dan ibu yang baik buat anak2, amin

  27. April 24, 2016 at 10:19 am

    Mbak,
    Saya rasa mbak bahkan sudah menuliskan cara untuk menolong diri Anda sendiri di post ini, dan mungkin hanya butuh untuk didorong kembali oleh orang lain agar yakin untuk maju meninggalkan semua ini.

    “Matilah kau berkali-kali untuk hidup kembali.”

    Apa yang membuat kalimat tersebut bergema terus di dalam hati Anda? Menurut saya, bisikan tersebut adalah teman yang setia yang menginginkan Anda untuk tetap hidup.

    Mungkinkah?

  28. Melti-Reply
    April 24, 2016 at 2:49 am

    Boleh tau posisi mbak dimana? Saya akan coba bantu tanyakan pada rekan2 psikolog jika ada yg tinggal/praktek di daerah tempat mbak tinggal, supaya mbak bisa dibantu.
    Mohon reply atau kirim email ke saya (mynameismelti@gmail.com).
    Terima kasih.

  29. wulandari-Reply
    April 24, 2016 at 9:09 am

    Mba msh banyak yg peduli sm mba amaravati. Silahkan email saya ke perfectuland@gmail.com. kasi tahu apa yg bs saya bantu, saya akan bantu sebisa mungkin. No, you never be alone mba! Pls email me asap. Wulan

  30. Yani-Reply
    April 23, 2016 at 11:11 pm

    Hubungi saya mba saat mba butuh teman bicara tempat untuk curhat Dan mulailah mendekatkan diri sm Allah lebih banyak istigfar

  31. April 23, 2016 at 7:29 pm

    Hii,,, boleh dengan sangat senang hatii. Email kan kesaya no hp wa atau line. Kita bisa ngobrol atau sekedar bercerita.

  32. Wida-Reply
    April 23, 2016 at 5:42 pm

    Aq dulu pernah baby blues juga mb… Aq kembali bersemangat ketika bulek cerita perjuangan wanita2 di lokasi perang mb. Dan saya latian..mereka harus mengurus anak sekaligus mencari nafkah.. Berarti saya harus bersyukur dengan kondisi saya pada waktu itu. Saya sendiri LDRan sama suami…

  33. wina-Reply
    April 23, 2016 at 5:25 pm

    Dear mba Langit… Sy cuman bisa mengira2 jika sy sprti mba, tapi saya bukan. Beratnya hari2 sy mungkin tak seberat hari2 mba Langit krn masih ada yg menghidupi keluarga dan tempat curahan hati yg siap menerima sy apa adanya.

    Hanya doa yang bisa sy berikan. Yakinlah, mba bukan satu2nya yg merasakan dan mengalami kesulitan. Yakinlah, ada terang disana, yakinlah bahwa pada akhirnya cinta yang akan menguatkan hati dan fikiran mba Langit.

    Jangan sungkan unuk berbagi. Banyak yang bersedia untuk menjadi teman tanpa syarat untuk mba, tinggal mba Langit yang siap untuk mengambil kesempatan. Semoga dimudahkan, disegerakan, dilancarkan. Amin ya Rabb…

    Big love
    Ur waitinglist friend

  34. Titin-Reply
    April 23, 2016 at 4:21 pm

    Mbak langit saya christine
    Saya pun sama posisinya. Rada stres, cenderung kasar malah dengan anak karena kondisi2 yang dialami.
    Mungkin ada hal2 yg buat hal positif dipikirkan Mba.. gali lagi, jangan sempit kan pikiran MBA bahwa tidak ada yg peduli,keluarga yg menyebalkan dan lain2. Dulu aku sih begitu, orang2 yg buat aku terpuruk ya pasti lingkungannya dan penerimaan keluarga tentunya. Lingkup org yg dekat sm kita blm tentu menerima kita. tapi anak kembali anugerah. ga penting ayahnya ga peduli atau tidak. Life muat go on. Anak tidak punya salah, malah dia dilahirkan dengan cara yg salah. Untuk menebus kesalahan jalani hidup kita dengan mencukupi agar anak Mba dan masa depan kalian lebih baik lagi. Lebih positif lagi,hal2 apa sajakah supaya dpt menjadi lebih memperbaiki keuangan. mungkin Mba stres, dulu aku sih bbrpa tahun sempat jd rada galak gitu. untungnya sih sudah dpt diperbaiki. karena Jiwa optimis. Jgn bawa pikiran Negative itu berputar-putar di kepala kita, yg bisa memperbaiki Mba langit adalah jiwa mu Mba. concern pada tujuan mu dan tetap andalkan TuhanMu

  35. April 23, 2016 at 1:42 pm

    Mbak, semoga engkau tetap dalam kesabaran. Kesadarau tentang Tuhan adalah sebuah jalan keluar. Mendekatlah padaNya, banyak istighfar dan dzikir. Cari komunitas yg bisa mendukung untuk tetap dekat pada Tuhan.
    Silakan chat atau email jika perlu seseorang untuk berbagi.

  36. April 23, 2016 at 1:28 pm

    Hmm…
    Saya mau bantu mbak, tp saya bingung harus bantu apa…

    Begitu banyak komen di atas, saya harap semoga sudah bisa mencairkan masalah mbak…

    Mohon maaf, saya gak tau apa agama mbak… Tapi bila mbak beragama Islam, saya anggap mbak percaya apa yg dikatakan oleh Allaah dalam Al Qur’an, di surah Al Baqoroh (2) ayat 286, kalimat pertama:

    “Tidaklah dibebankan oleh Allaah, kepada seorang manusia, suatu beban diluar kesanggupannya. …”

    Semoga ayat ini bisa menambah kekuatan mbak ke depannya… (Itupun bila mbak beragama Islam yaa…)

    Tapi jika mbak bukan muslimah, saya sarankan kontak tokoh agama disekitar mbak, smoga mereka bisa membantu…

    Silakan pm saya jika perlu, di quartavio@gmail.com

    Terima kasih mbak, semoga mbak kuat menjalani semua ini… Tetap semangat ya mbak… Sayangi anak mbak…

    Maafkan saya bila kata2 saya terasa menggurui…

  37. Wenny-Reply
    April 23, 2016 at 12:09 pm

    Mba, klo butuh bantuan untuk sekedar meringankan beban mba, untuk cerita yg mba gak ada tempat untuk berbagi, email saya ya mba , siapa tau saya bisa jadi teman cerita mba ( wennyviona@gmail.com ), mba pasti kuat
    Smangat mba

  38. Wenny-Reply
    April 23, 2016 at 12:08 pm

    Mba, klo butuh bantuan untuk sekedar meringankan beban mba, untuk cerita yg mba gak ada tempat untuk berbagi, email saya ya mba , siapa tau saya bisa jadi teman cerita mba ( wennyviona@gmail.com ), mba pasti kuat

  39. Sweetangel-Reply
    April 23, 2016 at 12:00 pm

    Hanya Tuhan yang bisa menolong Mbak.
    Apapun keadaan dalam hidup tidak satupun manusia yg bisa menolong,Mbak.
    Jangan pernah berharap pada manusia.
    Tuhan yang bisa mengisi kekosongan hati kita,mendekat padaNya.
    Berdoalah mbak,dimulai dari curahkan hati Mbak padaNya,semua keluarkan uneg2 dan perasaan Mbak dab mohon pertolongan jalan ke luar padaNya.
    Perbaiki iman Mbak,percayalah padaNya bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan Mbak sendiri,kembalilah utk mendekat pada Tuhan.
    Tuhan adalah sumber kelegaan,sumber kedamaian,sumber kekuatan,sumber pertolongan untuk semua masalah hidup Mbak.
    Oleh tangan kuasa Tuhan,DIA bisa ubahkan kutuk menjadi berkat asal mbak mau mencariNya,berharap dan berkomunikasi denganNya,imani lah mbak dan rasakan hadiratNya.
    Maka semua permintaanmu akan terkabul.
    Karena Tuhan melihat hati yang hancur,memahami segala penderitaan Mbak dan Dia juga ikut menangis ketika hati mbak menjerit dan menangis.
    Lihatlah Tuhan mbak.palingkan wajah mbak padaNya.
    Dia ada dan menunggu mbam datang kepadaNya dan memulai hidup yg dekat padaNya.
    Dia selalu mengampuni dan mau membasuh semua dosa mbak dan bertanggungjawab atas hidup mbak.
    Mujizat itu nyata di dalam namaNya.
    Jgn meminta pertolongan pada manusia mbak.manusia itu semu.
    Yakinlah mbak ketika mbak mau datang kepadaNya dan berubah,Dia akan membalikkan hidup mbak penuh sukacita.
    Dan ketika itu sudah terjadi,mbak akan melihat ke belakang dan tersenyum krna mbak tidak begitu bdoh utk bnuh diri melainkan mau berjalan bersama Tuhan melewatinya sehingga mbak bisa meraih mimpi2 mbak karena kuasa Tuhan.
    Mbak akan bersaksi di tengah orang orang yg mengalami hal sama dan menyelamatkan hidup org banyak karena keberhasilan mbak.
    Jangan menyerah.

  40. April 23, 2016 at 11:22 am

    Mba… untuk sekedar meringankan beban Atau Untuk sekedar chat bisa contact saya by email, siapa tau bisa melepaskan beban sedikit.amenitipkan arka kesaya pun insya allah saya bisa..

  41. THE SAM'S-Reply
    April 23, 2016 at 10:41 am

    Dear ibu Langit,
    Terimakasih sudah mau menolak keinginan u/suicide. Skali qt acc thd suicide, dlm agama manapun akan merefer ke neraka, pd saat qt sudah di neraka dan merasakan sadisnya iblis, maka saya jamin masalah apa pun yg qt hadapi di dunia ini a/sesuatu yg kita rasa jauh lebih ringan dan masih bs kita tanggung.
    Ibu Langit, hanya dg membayangkan neraka saja, kita akan merasakan bsyukur kita msi hidup shg kita bs mengupayakan hidup qt lbh baik lg, pertama dg mengubah cara pandang qt thd hidup-bhw hidup itu sangat layak u/dperjuangkan dan mengupayakan surga sbg tempat akhir kita setelah qt berkehidupan, Untuk kita dan keturunan qt.
    Semangat ibu, masih banyak manusia yg di negeri lain yg penderitaannya sama ato bahkan lebih menakutkan drpd hidup qt, manusia2 yg terjebak dlm situasi perang dan kelaparan, mereka bahkan u/bs merasakan sinar matahari dg tenang saja tdk bisa, qt harus nya bs lebih mengupayakan hidup qt krn qt hidup di negeri yg damai, yg membuat kita bs terus bekerja dan merasakan hasil kerja dg tanpa ada rasa takut krn desingan peluru dan bom.
    Ibu Langit, pesan saya, ini juga berlaku u/diri saya dan teman2 lainnya, tetap semangat selama masih hidup, tetap mengandalkan Tuhan, mulai mengatur hati u/gembira-gembira itu bukan hanya karena hidup qt baik, gembira itu a/pd saat qt sadar hidup kita itu sangat berharga, mulai mengatur keuangan, pasti ada jalan, Semua indah pada waktuNya.
    God bless u ibu Langit, berkatNya melimpahi ibu Langit Amaravati dan anak2, Amin.

  42. ina-Reply
    April 23, 2016 at 10:28 am

    mbak Langit.. mbak langit ibu yg baik, ibu yg sayang sama anak2 nya.. mbak langit dekatkan diri sama Allah ya.. trus minta bantuan sama psikiater.. di blog ini ada bbrp tanggapan positif dr bbrp orang yg peduli sama mbak langit.. semangat ya mb Langit.. ^^

  43. umi asyam-Reply
    April 23, 2016 at 8:50 am

    Langit….ibu yang tangguh dekatkan dirimu dengan alloh sang pencipta. Sekuat apapun keinginanmu utk mati kalau memang belum waktumu utk mati tidak akan bisa kamu mati yg ada hanya akan memambah masalah. Kematian dan kehidupan bukan manusia yg menentukan. Setiap manusia punya kehidupan dan masalah serumit apapun masalahnya pasti sesuai kemampuan masing2 (umi asyam 0812 12 026 991)

  44. dinameilena@gmail.com-Reply
    April 23, 2016 at 3:11 pm

    komen2 diatas sbg bukti bhw mbak ga sendirian, bny kan yg sayang. Tmn ga hrs yg dekat bhkn ga kenal sama sekalipun kl Alloh sdh menjodohkan bs kd sodara. Mbak pgn ditolong spt apa dan bagaimana?
    kl mbak menginginkan pelukan dan kasih sayang yg nyata aq siap lho….
    btw mbak tinggal dmn?
    contact me ya 081392633690 (phone/sms/wa)
    Alloh dkt dgn mbak bhkn sangattttt dekat, knp Alloh menciptakan mbak kl tdk utk mjd hambanya yg sholekah, amanah, fathonah dan barokah. Oia kl tdk mau ke psikiater cb mbak ke ustad/ustadzah, ato cb lari ke panti asuhan dan minta doanya para santrinya agar teringankan bebannya mbak. Aq pnh depresi dan aq melakukannya, alhamdulillah bs berdamai dgn masalah yg Alloh berikan kpdQ, semeleh itu kuncinya….

  45. Nia-Reply
    April 23, 2016 at 8:04 am

    Pahamilah mba..mengapa Tuhan memberikan jalan hidup yg seperti itu..? Ntah karena harus bertaubat karena dosa yg selama ini diperbuat,atau dosa orang tua kita..yg kita tidak tau dan sadari.
    Berpeganglah pada Tuhan,bergantung pada-Nya..
    Berpikirlah kalau anak tidak ada salah,dan Anda sebagai orgtuanya bertanggungjawab mendidik dgn baik,dgn penuh kasih sayang,dan memberikan masa depan yg lebih baik..yg setidaknya kehidupan yg LBH baik dari Anda.memangnya mbak rela,anak mba dipukul org lain oleh pengasuh misalnya?atau dibawa lari ,dijual ke org.mba tidak khawatir.?.menurut saya,mba terlalu memikirkan kebahagiaan diri sendiri.mba tidak pernah siap mengalami hal terburuk seperti ini.
    Datanglah ke tempat peribadatan bersama anak anak mba.dengarkan ceramahnya.repot memang.mee time itu tidak harus ke mall,,lihat pemandangan indah,,dll.tp mee time lah dgn mendengar ceramah,dan mendekatkan diri thdp Tuhan..

  46. April 23, 2016 at 7:41 am

    Belum pernah mengalami PPD karena belum pernah melahirkan. Tapi saya pernah dalam keadaan depresi. Saya beruntung karena punyà keluarga dan teman-teman yang baik sehingga bisa melewatinya. Saya juga meminta bantuan medis dan rohani.
    Keadaan anda jelas lebih berat daripada saya, namun anda beruntung karena anda sadar bahwa anda menderita PPD. Dalam dunia psikiatri,berarti diagnosa insight anda 6 alias sangat baik. Maka dari itu, saya menyarankan anda untuk meminta bantuan medis seperti pergi ke psikiater. Anda tidak hanya menerima bantuan obat2an, tapi juga secara psikis. Ada sarana untuk curhat tanpa dihakimi, juga psikoterapi untuk penenang.

    Semoga membantu. Terima kasih.

  47. fifin-Reply
    April 23, 2016 at 6:59 am

    Tetap terus semangat ya bun.. Semua cobaan n ujian dari Tuhan pasti tuhan sudah tau seberapa tangguhnya kt untuk selalu bersabar dalam menghadapi segala cobaan yang ada, , Semoga bunda selalu bisa memberikan yang terbaik buat buah hati bunda dan jgn Lupa selalu mengadu kepada tuhan untuk segala keluh kesah yang bunda rasakan krna kebahagiaan itu adalah Keluarga kt sendiri, ,

  48. April 23, 2016 at 6:45 am

    Semoga Langit bisa melewati semuanya. Mendatangi psikiater sudah tepat mbak. Demi anak-anak kita sebagai ibu harus sehat fisik dan mental.

  49. margarita-Reply
    April 23, 2016 at 6:17 am

    hampir sama seperti yang pernah saya rasakan.. saat melahirkan anak ke2 saya dan saat itu anak pertama saya masih berusia 1tahun 🙁 merasa sedih, berdosa, bersalah, bahagia, tidak berharga dan semuanya yang saya rasakan seperti tekanan buat saya. tidak ada teman bicara.. bahkan saat saya sudah menceritakannya semua pada suami saya, tanggapannya hanya saya kelelahan.. padahal saya merasa ada tekanan kuat dlm diri saya.. tiba” menangis.. merasa gagal sebagai ibu karena yang di jadikan korban kecemasan dan ketakutan saya adalah anak pertama saya.. begitu hinanya saya sebagai ibu.. kadang harus membentak keras anak pertama saya yang berusia 1tahun, memarahi, menyubit, dan tindakan” fisik yang semestinya tdk di lakukan seorang ibu.. tidak ada yang bisa membantu saya untuk keluar dr lingkaran menakutkan ini.. kadang di saat saya sadar.. hanya dengan doa dan menitikan air mata dan meminta kekuatan dan kesabaran serta cinta yang lebih untuk anak” saya.. Ya Allah.. maafkan saya atas apa yang pernah saya lakukan kepada anak” saya..
    orang” diluar sana hanya bisa memuji, mengatakan saya wanita kuat, wanita pemberani, wanita hebat, dan lain lain yang mereka katakan tanpa melihat apa ketakutan hebat yang ada di dalam diri saya.. Ya Allah.. jangan pernah tinggalkan aku.. dampingilah aku selalu.. ingatkanlah aku selalu bahwa anak” ku ialah berkat terindah yang engkau berikan untuk ku 😭😭😭😭

  50. beby-Reply
    April 23, 2016 at 5:50 am

    Mengadulah hanya kepada Allah.. Lantai akan tetap menerima sujudmu. Apapun keadaan mu. Siapa pun dirimu. Tetap berpegangan kepada Allah. Anak2 mu menyayangimu apapun kondisi mu. Mereka membutuhkanmu melebihi apapun.. KW kuat. KW tangguh. Ingat Allah tidak pernah meninggal kan hambanya yg meminta pertolongan. Pertolongan Allah maha luas. Kuatkan dirimu wahai sahabat. Saya pun pernah mengalaminya. Hanya satu yg saya ingat. Allah maha menyayangi umatnya. Dan Allah maha tau Anak sebagai anugrah utk kita yg di beri kepercayaan. Allah tidak memberikan ujian diluar batas kemampuan umatnya. Kuatlah sahabat. Salam sayang dari sahabat mu yg sama2 berjuang melewati hal yg Sama

  51. Tell me-Reply
    April 23, 2016 at 5:47 am

    Apa yang bisa saya bantu ?
    Please Call atau SMS ke 0811331033
    Atau email saya untuk nomer telpon Anda.

    Hanya ingin menjadi berarti meski setitik buat manusia

  52. beby-Reply
    April 23, 2016 at 5:34 am

    Mengadulah hanya kepada Allah.. Lantai akan tetap menerima sujudmu. Apapun keadaan mu. Siapa pun dirimu. Tetap berpegangan kepada Allah. Anak2 mu menyayangimu apapun kondisi mu. Mereka membutuhkanmu melebihi apapun.. KW kuat. KW tangguh. Ingat Allah tidak pernah meninggal kan hambanya yg meminta pertolongan. Pertolongan Allah mahal luas. Kuatkan dirimu wahai sahabat. Saya pun pernah mengalaminya. Hanya satu yg saya ingat. Allah mahal menyayangi umatnya. Dan Allah mana tau Anak sebagai anugrah utk kita yg di beri kepercayaan. Allah tidak memberikan ujian diluar batas kemampuan umatnya. Kuatlah sahabat. Salam sayang dari sahabat mu yg sama2 berjuang melewati hal yg Sama

  53. rifni-Reply
    April 23, 2016 at 5:32 am

    Semua masalah datang ketika kita bergantung pada diri sendiri, bukan pada Allah. Kuncinya satu mbak, kembalikan semuanya ke Allah, taubat, sholat tahajud, baca qur’an, insya Allah akan ada jalan keluarnya. Karena Dia-lah yg memegang hidup mati kita dan rezeki kita.

  54. nuynuynuy-Reply
    April 23, 2016 at 4:22 am

    Hai langit..
    Saya tidak tahu saya bisa membantu apa. Tapi saya punya kuping untuk mendengar dan tangan untuk memberi pelukan. Mungkin masalah kamu tidak selesai, tapi setidaknya kamu tidak sendiri..

  55. Ratna-Reply
    April 23, 2016 at 11:14 am

    Saya pernah PPD, Mbak. 2 kali malah. PPD yg pertama saya hadapi sendirian, karena pengetahuan ttg PPD belum banyak. PPD yg kedua (4 th stlh yg pertama) saya berobat ke psikiater. Biarlah saya dicap “gila” krn berobat ke RSJ, yg penting saya sembuh. Dan Alhamdulillah saya sembuh.
    Selain berobat, cobalah mencari komunitas ibu yg berpengalaman sama dengan Mbak. Berkomunikasi adalah salah satu cara mengurai pikiran-pikiran ruwet karena depresi. Banyak istighfar dan tahlil.
    Bergembiralah karena Allah sedang menguji Mbak. Ia menguji hamba-Nya karena ingin hamba-Nya makin mendekat. Jawablah kehendak-Nya.
    Mbak ibu yang hebat, Allah sayang sama Mbak.. ^-^

  56. Miland-Reply
    April 23, 2016 at 10:58 am

    Mungkin psikiater dapat membantu, tapi mungkin anda akan berpikir dua kali jika mengingat biaya yg harus dikeluarkan. Dekatkan diri pada Allah SWT. Bertobat atas dosa yg kita sengaja atau tidak. Susah yg kita alami di dunia dpt berarti dua hal, hukuman atas dosa besar kita atau cobaan atas iman kita. Semakin besar cobaan anda, pasti karna semakin tebal pula iman anda. Allah adalah sebaik-baiknya psikiater. Semoga anda mendapatkan teman yang benar2 teman untuk berbagi cerita.

  57. April 23, 2016 at 3:51 am

    Anda berhak untuk bahagia. Anda berhak memperbaiki kehidupan Anda. Apa yg Anda lakukan pd masa lalu biarlah masa lalu. Cukupkan titik kehancuran hidup Anda pada detik ini.
    Biarkan org2 disekitar Anda mengacuhkan Anda. Buktikan Anda tidak seacuh mereka. Anda justru lebih baik dr mereka jika Anda sedikit menyimpan keegoisan dalam diri Anda. Bunuh diri bukanlah jalan trakhir u/ mengakhiri hidup Anda. Malah itu akan mempersulit kehidupan anak Anda dg cap negatif. Anda bukan org pertama yg mengalami hidup sesulit ini, semua org jga mngalami masalah yg bahkan bisa lebih parah drpd masalah Anda. Akan tetapi mereka lebih memilih u/ bangkit dr keterpurukan, begitupun dg Anda. Jangan sungkan bercerita akan kesedihanmi kpd Tuhan, krn Tuhan adl tempat bersandar u/ hamba2x. Sesungguhnya Anda adl pribadi yg hebat

  58. April 23, 2016 at 3:47 am

    Mbak…
    Aku nangis baca ini
    Gak tahu harus bagaimana
    Peluuuuuuk

  59. Ephy-Reply
    April 23, 2016 at 10:46 am

    A call … Just pm me, but with one big question. Are you ready to get better life?

    .phy.

  60. Priskarani-Reply
    April 23, 2016 at 3:31 am

    Mbak langit.. Mungkin bisa konsultasi dengan psikiater krn mereka tentu akan siap membantu bila memang yg diali adalah ppd

  61. yanti sapoetro-Reply
    April 23, 2016 at 2:19 am

    Mba yg saya pahami ttg prilaku manusia adl selain normal yaitu prilaku yg sikendalikan jin,jin memanfaatkan kondisi jiwa yg tertekan,
    saya punya anak 6,yg bungsu pas sethn hari ini,anak yg tdk diprog.kr usiku kepala 4,kami jg sedg hancur soal keuangan saat 2 anak saya sudah kuliah.
    tp justru saya mers lebih bahagia menghadapinya dan mengasuhnya drpd kakak2nya,kr saya merasa memiliki teman dr anak2 yg sudah beranjak remaja sejak 6than lalu.
    intinya baby blues yg berkembang menjadi PPD adl kr krisis ketauhidan.
    saya tdk ingin menceritakan prilaku yg saya sesali terhdp anak saya dimana sampai sekarg saya tersiksa
    mengingatnya,walopun
    ringan dan biasa orgtua
    byk lakukan.
    saya menyarankan mba diruqyah,jika tdk ada yg membantu,saya bersedia membantu.

  62. iblameyou-Reply
    April 23, 2016 at 1:48 am

    Saya belum pernah dapet curhat orang bunuh diri tapi saya yakin bunuh diri cuma akan menjadikan yg selama ini rusak menjadi tambah hancur, inti dari permasalahan ini adalah EGO
    Klo ada bisa buang ego maka semua akan menjadi lebih baik tp harus bener2 buang ,musnahkanlah ego itu

    Misal titipkan anak2 anda ke sanak sodara yg bener2 bisa dipercaya dan larilah anda dr keadaan ini,pindah kluar kota cari lah kesibukan disana
    Orang2 baru ,suasana baru ,pengalaman baru dan tentu nya masalah2 busuk baru
    Niat kan semua nya demi mencukupi kebutuhan anak yg anda tinggal ,niscaya Allah akan membantumu

  63. April 23, 2016 at 1:24 am

    Halo kak langit, masalah yang kakak alami sudah sangat kompleks. Kak, saran saya kk konsultasikan hal ini ke psikiater. Monster itu akan muncul lagi sewaktu2. Jika tidak sempat bertatap muka langsung, bisa via twitter. Mungkin kakak kenal dengan dr. Andri spkj? Twitternya @mbahandi atau bisa juga ke @keswaid.

  64. Razi-Reply
    April 23, 2016 at 1:04 am

    Saya percaya saat orang bilang ingin bunuh diri apapun alasannya, maka ia sebenarnya beneran ingin bunuh diri. Bukan sekadar mencari perhatian atau lebay. Ia benar2 perlu pertolongan. Terlepas di medsos ia tampak ceria, penuh senyum dan bahagia. Tapi di hati siapa tahu?

    Karena.. saya sendiri pernah mengalami masa2 depresi di mana satu2 alasan saya tidak bunuh diri hanyalah karena Allah melarang hambanya bunuh diri. Artinya, kalau bunuh diri itu tidak haram tentu saya sudah lama melakukannya.

    Pesan saya ke mbak Langit, ingatlah Tuhan.. sebutlah namanya banyak2. Kemudian berjuanglah untuk menang menghadapi masalah ini. Kalau mbak berhasil melaluinya, mbak bakal jadi orang yang jauh lebih kuat dan bijak.

    saya doakan mbak akan berhasil & kelak menjadi tempat konsultasi yang berpengalaman bagi orang2 yang mengalami apa yang mbak alami sekarang.

  65. April 23, 2016 at 12:53 am

    saya pernah mengalami ppd dan tau apa yang kamu rasakan. pergilah ke psikiater sekarang, obat penenang dan konsultasi akan sangat sangat membantu menghilangkan pikiran2 negatif. pergilah sebelum semuanya terlambat tidak ada seorang pun yang bisa membantu kecuali psikiater. kalau mau wa saya dian 08161338093

  66. fitrirestiana11@gmail.com-Reply
    April 23, 2016 at 12:44 am

    Mbak.. jikalau anda yakin bahwa dengan mati semua berakhir, lakukanlah.btapi, justru di situlah kehidupan sejati baru akan dimulai. Segala derita akan bertambah di sana. Segala marah akan menggelora di situ. Dan yang pasti, segala sesal tak akan berarti. Sebagaimana pun engaku mencoba memperbaikinya.

    Masih ada waktu, mbak. Pertajam ibadah, bersosialiasi dengan orang2 baik, ka majlis taklim. Mohon dibukakan pintu hati mereka untuk kita.

    InsyaAllah akan berbanding lurus antara usaha dan hasil. Allah itu Maha Pemilik Kebaikan. Saya yakin mbak bisa. Semangat BISMILLAH.. 😊 ayo mbak. doa kami menyertai… aamiin

  67. Nophee-Reply
    April 23, 2016 at 12:41 am

    Ambil wudhu.. Tahajudlah.. Perbanyak dzikir hanya Allah Maha Penolong.

    Cobalah buka mata lebih lebar.. Anak adalah rezeki yang sebenar benarnya.. Jgn pernah merasa terbebani karenanya ya. Justru Aksa harusny penyemangat hidupmu.

  68. Mustika sari-Reply
    April 23, 2016 at 7:38 am

    Saya mencoba memahami apa yg anda rasakan. Saya ingin memberi tahukan sesuatu. Mintalah pertolongan pada Tuhan, Tuhan dr agama yg kamu anut. Setelahnya coba usaha dg datang ke psiater. Sudah banyak td komentar yg menyarankan untuk ke psikiater, jalan ini mulai terbuka. Cobalah. Anakmu titipkan pada pengasuh. Semoga lekas membaik.

  69. suciati-Reply
    April 23, 2016 at 12:28 am

    dear langit… saya memang tidak berada di sana atau mengalaminya. tapi saya selalu percaya bahwa Allah SWT selalu memberikan sesuai porsinya, dan Dia Tahu kita mampu melewatinya. Dengan catatan penting : apakah kamu masih percaya Dia Ada dan Berkuasa atasmu.
    Allah SWT juga berpesan jangan pernah berharap pada manusia. jika tidak ada tangan untuk kita genggam, maka berpegang erat saja pada hati kita dan mengadu pada-Nya. Allah SWT tidak minta kita untuk menyelesaikan (yg menurut kita) masalah dari-Nya. Ia hanya ingin melihat kita memperbanyak sujud dan mengingat semua hal indah yang pernah Ia berikan..

  70. Ida ngurah-Reply
    April 23, 2016 at 12:14 am

    Halo Ibu Aksa,
    Jika berkenan kabari saya ya di idai.ngurah@gmail.com. Barangkali ibu Aksa bisa membantu saya dlm pekerjaan untuk desain.
    Salam

  71. April 22, 2016 at 11:45 pm

    Semoga badai segera berlalu. Aamiin

  72. Fitri VA Saragih-Reply
    April 23, 2016 at 6:35 am

    Mbak Langit..anak2 kita hanya punya kita. Maupun kita punya suami, atau keluarga..anak2 kita tetap cari ibunya. Kuatlah buat anak2, kuat lahir jg kuat bathin. Semoga Tuhan menguatkan semua ibu2, perempuan2 dimanapun..dengan berbagai macam persoalan dan masalah2. Karena, walau mgkn kita tidak mempunyai orang2 atau teman2 yg perduli..tapi yakinlah, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Semoga mbak Langit dan anak2 berbahagia, sejahtera, sehat2. Peluk, cintai anak2 ya mbak..mereka memerlukanmu. Tuhan memberkati.

  73. April 22, 2016 at 11:21 pm

    Halo Mbak…. sedih membacanya. Mungkin terdengar klise, tapi agama dan menghargai diri sendiri adalah kuncinya. Temukan itu,temukan obatnya. Tak ada yg bilang mudah. Sulit/mudah tergantung kesiapan kita nerimo.

  74. April 23, 2016 at 5:09 am

    Dear all,

    Mohon maaf tidak bisa membalas satu per satu. Terima kasih atas semua doa, saran, dan semangat. Saya sudah dibantu psikiater dan sudah mendapat jadwal terapi. Perkembangannya akan saya tuliskan di blog.

    Regards,
    ~eL

  75. bundahero-Reply
    April 22, 2016 at 10:06 pm

    Seburuk2 nya ibu,tetap dibutuhkan kehadirannya oleh anak2nya….kasih ibu sepanjang masa

  76. dhonut-Reply
    April 22, 2016 at 10:01 pm

    Been there done that. Atau mungkin sbnrnya monster itu blm mati krn kdg2 masih suka menggoda mengintai. Sy jg single parent, lelaki itu kabur. Terus bekerja selama hamil, sesudahnya, & smp skrg anak sy usia 15 thn. Diusir dr rmh ortu saat anak usia 2,5 thn, tgh malam buta hanya bermodal sebundel pakaian & sms minta pertolongan 2 sahabat sy yg bersedia menampung sy semalam itu sampai sy menemukan kontrakan. Dan smp detik ini sy tdk kembali krmh lg, berusaha mandiri berjuang berdua anak, tp alhamdulillah hubungan dg keluarga sdh lama membaik. Di sepanjang wktu itu ada masa2 hampir mati, beberapa krn berusaha suicide tp lebih sering juga krn putus asa anak sakit tak bs apa2, atau tdk punya uang sepeser pun & atau tdk ada makanan sejumput pun. Tp pertolongan atau jalan keluar sllu datang disaat2 sdh tdk tau harus bagaimana lg. SELALU. Itu sebabnya sy yakin sekali bahwa Tuhan itu ada. Berteriak ke sosial media? Minta tolong teman? Curhat sama tembok? Semua itu temporary & tdk ada yg betul2 menyelesaikan….yg serius menenangkan jiwa & memberi jalan keluar adlh pertolongan Tuhan. Krn eventually, kita memang selalu sendirian. Jangan berharap pd manusia….

  77. Makena Yang-Reply
    April 23, 2016 at 4:42 am

    Ignore the detractors, please. Post-partum depression dan tendensi bunuh diri itu masalah psikologis, and there is absolutely no shame in admitting that.

    Please pick up the nearest phone to you and call this number: 500-454. Itu nomor telepon suicide hotline dari Kementerian Kesehatan. Mereka pakar di bidangnya dan bakal menyediakan bimbingan konseling kejiwaan gratis untuk kamu.

    Please jangan termakan stigma kalau konseling kejiwaan hanya untuk orang gila. Sama sekali tidak. Jutaan ibu-ibu di seluruh dunia mengalami PPD setiap tahunnya, dan konseling kejiwaan jadi salah satu cara utama melewati depresi ini.

    Kamu sudah memutuskan untuk melawan. Itu adalah langkah pertama yang sangat penting. Sekarang, tolong buka pintu kamu sehingga pakar professional di bidang kejiwaan bisa membimbing langkah-langkah kamu ke depannya.

    I wish you the best of luck.

  78. April 22, 2016 at 9:20 pm

    Hallo Langit… Cuma bisa bilang, moga2 semua masalahmu bisa cepat berlalu. Hugs.

  79. a.yap-Reply
    April 22, 2016 at 7:24 pm

    how can i help you?
    i’ve been under depression, atau masih, aku sudah berhenti mengidentifikasi diri.
    banyak hal yg terjadi, detilnya, intinya sangat menyebalkan.
    i used to cut with no intent to kill but i know someday i will.
    well, life is shit. this depression is shit.
    how can i help you?

  80. Irsalina Husna Azwir-Reply
    April 22, 2016 at 5:28 pm

    Assalammualaikum mba langit,
    Tanpa sengaja di sela pekerjaan tugas saya membaca tulisan mba. sangat menyentuh saya membaca kisah mba langit, salwa dan aksa. ya saya ingin dapat menjadi teman mba. saya juga yakin akan tulisan mba kita mati berkali2 dan hidup kembali untuk satu alasan. saya pernah melaluinya,

    mba langit,
    mba tidak pernah sendiri, bukankah Allah Swt selalu ada?
    dalam hari2 dan detik2 yg mba langit lewati.
    Allah Swt maha pemaaf atas segala sikap dan kesalahan hambanya.
    Bukankah tidak ada orang yg tidak pernah berbuat salah? dan Allah SWT selalu memafkan, karena IA maha pengasih lagi maha penyayang.
    Mba langit, tujuan kita hadir di dunia ini menjadi abdi Allah SWT, menjadi hamba yg baik begitu susah bila dihadapkan dengan kenyataan2 dalam kehidupan. dan masalah itu akan selalu ada hingga walaupun kita sudah menutup mata. tetapi bukankah segala cobaan yg diberi tidak pernah melebihi kesanggupan hambaNya?

    Mba langit, masalah yg mba langit hadapi skrg bukan lah hanya masalah ekonomi, hanya sebagian kecil. Tetapi mindset dan pikiran mba thd masa lalu. maafkan diri sendiri, masa lalu yg membuat mba setegar ini dan menjadi inspirasi bagi banyak wanita. masa lalu ini terjadi bukan tanpa alasan, tapi agar kita bersikap lebih bijaksana dan hati2 kedepannya, serta membuat kita menjadi Lebih Dekat lagi DenganNYA.
    mba langit, bangkit dan bangunlah. Masa depan tidak ada yg pernah tahu kan? Aksa adalah titipan dari Allah Swt, menyayangi aksa, artinya sama dengan mba langit sedang membujuk Allah swt untuk terus tambah sayang kepada mba. 🙂 Kalau Alah SWT udah sayang dan cinta kepada kita, mmh tidak ada nikmat lain yg dapat menggantikannya.

    maafkan saya bila saya ada salah kata atau terlihat menggurui.
    salam sayang dan cinta saya. <3
    kepada mba langit.

    peluk cium dari jauh.
    Wassalammualaikum wr.wb.

  81. April 22, 2016 at 4:49 pm

    Mbak, saya masih gemetar sampe sekarang baca blog Mbak Langit. Saya pernah depresi, saya gak sadar saya depresi sampai akhirnya nggak bisa apa2 lagi dan semuanya berantakan. Tapi saya, akhirnya, bisa bangkit. Meskipun perlahan juga. Bisa bangkit karena “teriak” cari pertolongan. Just as what you are doing now. And this blog reminds me of that dark time (while I’m breastfeeding my first child right now). And I hope, I do really hope, you will reach me back that I may be able to help you even just a bit.

  82. April 22, 2016 at 4:32 pm

    Mbak, how are you now? How can I reach you privately? Aku nggak kenal Mbak, but please reach me at 081280644080 (whatsapp only). Atau di mode kontak lain yang aku input untuk kirim komen ini. Meanwhile, hang in there

  83. vanetta-Reply
    April 22, 2016 at 4:22 pm

    Mbak ga sendirian…baca artikel ini tanpa sengaja…telah membuka mata saya bhw saya jg tidak sndirian. Saya belum jd ibu2…bkm nikah tp dlm duri saya selalu ada beast yg menginginkan utk mekskukan kejahatan,kekerasan demi kepuasan….saya pernah ingin tusuk pacar saya dr belakang pake pisau dapur pdhl kita baik2 aja, hubungan baik & sedang ga ada mslh.Keinginan itu liar muncul….ga hny itu aja….ada byk hal lainnya juga spt monster yg mendikte saya. Tapi…apa gunanya mendengarkan monster itu? Ga ada selain kepuasan monster itu & kesengsaraan kita
    Kuncinya hanya takut akan Tuhan mbak….itu yg paling penting utk menjlni hidup.

    Kuat ya mbak….God bless you…

  84. April 22, 2016 at 3:59 pm

    🙁

  85. April 22, 2016 at 3:33 pm

    Dear Langit, meskipun aku nggak mengenalmu, percayalah bahwa Tuhan nggak akan pernah memberi cobaan melebihi kemampuan kita untuk mengatasinya. Jangan menyerah dan jangan pernah menyerah. You are not alone… #pelukhangat#

  86. April 22, 2016 at 2:38 pm

    Aku pernah ada di posisi itu sih. Baru melahirkan 3 hari sudah harus wara wiri kepanasan kehujanan. I feel you.
    Kata orang, there are a beast inside us… semua orang selalu punya sisi monsternya masing2. Disitulah ujian hidupnya.

  87. April 22, 2016 at 2:30 pm

    Halo mba, saya juga ngalamin kayak mba. Kirain karna masalah A BCD. Ternyata bukan. Sering di kepala merencanakan kematian, tapi terus batal karna takut sama Yang di Atas.

    Mba jangan nyerah yaaa. Mba sudah berusaha yang terbaik. Sudah berusaha banyak. Apa yang sudah Mba usahakan selama ini sekalipun di mata orang ga ada apa2nya, ga baik di mata manusia, Tuhan perhitungkan itu semua. Mba ga sendirian.

    *peluk

  88. Amy Zet-Reply
    April 22, 2016 at 2:14 pm

    Makasih sharenya teh, saya baru ngelahirin 12 april kemaren.. Ngerasa drop karena harus secar, yang notabene menguras tabungan sampai jadi minus. Tapi baca tentang baby blues dan pdp ini saya jadi ngerasa bersyukur.. Semoga teteh tetep kuat ya teh, Insyaallah cobaan Allah nggak akan melebihi kesanggupan hambaNya. 🙂

  89. April 22, 2016 at 2:03 pm

    mbak Langit saya akrab dengan nama mbak saat jadi admin di sebuah penerbit. Membaca tulisan ini jujur membuat saya sedih.

    Salam buat Aksa mbak, selamat hari Kartini

  90. Deassy M Destiani-Reply
    April 22, 2016 at 1:34 pm

    Mba Langit… saya menulis buku kisah kisah perempuan yang mengalami depresi pasca melahirkan. Buku ini saya buat bersama beberapa sahabat saya tahun 2015, karena rasa peduli terhadap ibu yang mengalami depresi pasca melahirkan. Saya dengan senang hati akan mengirimkan bukunya pada mba Langit untuk dijadikan bahan bacaan. Bahwa banyak perempuan yang mengalami itu. Judul bukunya ANAKKU BUKAN ANAKKU. Semoga buku itu bisa memberikan pemahaman dan jalan keluar dari depresi pasca melahirkan. Di buku ini juga ada sharing dari para ahlinya baik psikolog maupun dokter. Saya minta alamat rumahnya ya… akan saya kirimkan bukunya. Bisa hubungi ke wa saya di 0813 28234360. Semoga bisa membantu…

  91. April 22, 2016 at 1:13 pm

    Teh, i think im mostly mengerti perasaan teteh. Karena saya pun melakukan hal serupa. Bunuh diri berkali kali, alhamdulillahnya masih idup. Pengen menghilang dari dunia ini, pengen gak ada di dunia ini karena mereka hanya pura pura peduli iya.

    Ketika stress menghadapi hana bahkan sampe sekarang pun berkali kali pengen menghilang. Lantas saya ingat. Heiii walaupun gak ada seorangpun yang mengerti saya dan gak peduli ada Tuhan dan malaikatnya yang selalu ngawasin saya. Dalam sholat saya selalu nangis, curhat ke Tuhan.
    Coba mendekatkan diri ke Tuhan teh dan selalu berfikir positif.
    U need help from GOD. Bcoz only GOD know how sad we’re.

  92. April 22, 2016 at 12:53 pm

    Saya belum kenal dengan Mbak Langit, tapi saya yakin mbak pasti bisa melewatinya dengan indah nantinya.

    Teringat sebuah ayat di dalam Alquran, apabila kita dalam masalah dan menginginkan pertolongan. Ayat itu: wastainu bi sabri wa shalah (mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat)… semangat berjuang mbak! ^^

  93. April 22, 2016 at 12:42 pm

    Sudah benar….panggillah Allah, menangislah sama Allah, merajuklah sama Allah…..sujudlah disajadahmu Teh.

    Semua manusia punya monster, manusia punya kekuatan yang berbeda. Dan teh Langit adalah manusia yang kuat yang insyaallah bisa mengalahkan monster itu teh.

    Jgn putus dzikirnya teh. Kamu pasti kuaat.

  94. Erin-Reply
    April 22, 2016 at 12:41 pm

    😭 Teteh harus lebih kuat dari sekarang karena sekalinya menyerah perjuangan teteh menjadi sia-sia. Saya tahu sulit teh bahkan mungkin tak akan sekuat teteh jika saya yang mengalami, tapi saya percaya teteh lebih kuat dari monster yang tengah menguasai teteh.
    Hiduplah untuk Salwa dan Aska juga untuk wanita2 yang menyukai semua tulisan teteh.

  95. hariiniadalahhadiah-Reply
    April 22, 2016 at 12:33 pm

    i feel you… saya pernah merasakan monster dalam diri… sekarang yang saya lakukan adalah memenuhi hati saya dengan Allah… meyakini janji-janjiNya… Allah tidak pernah berbohong… dan tetap meyakini bahwa Allah tidak akan menghinakan saya dengan monster itu… semoga tetap istiqomah untuk mendamaikan jiwa… jangan dilanjutkan suicide-nya… karena belum tentu kita sanggup pada dunia lain yang akan menyambut kita… it’s more … more… and more…. suffer….. (i ever almost feel that world)…. just keep fight… just keep fight… and everything gonna be ok…

  96. April 22, 2016 at 12:18 pm

    Teteh, please istighfar, ambil air wudhu sholat. Alloh lah sebaik-baik penolong.

  97. April 22, 2016 at 12:15 pm

    Speechless…., andai aku ada di posisimu belum tentu bisa sekuat itu. Hanya bisa turut mendoakan, semoga teteh kuat. Yakin Allah ada..

  98. April 22, 2016 at 11:47 am

    Langiiittt, gw gak akan bisa benar2 memahami apa yg lu rasakan, tp gw tau prasaan yg mirip2 dng itu. Jangan mau ‘kalah’, lawan terus!. Dan yg lu lakukan udah bener, minta pertolongan, trutama pada Allah … Kapan2 kita ngobrol, yuk..

  99. April 22, 2016 at 11:33 am

    Salut….!
    Salut karena telah berani menuliskan ini.
    Saya masih seorang pecundang yg tak sanggup menuliskan “monster” didiri saya ketika PPD sampai detik ini…karena tertutup oleh gengsi.

    Ternyata setelah membaca ini, kamu lbh keibuan drpd saya yg terlalu kejam pada anak.
    #tak sanggup meneruskan 🙁

  100. yeni-Reply
    April 22, 2016 at 6:10 pm

    Saya yg blum nikah aja depresi tp saya tutupin. Cukup.hanya utk diri saya sndiri.
    Saya haus kasih sayang,
    Krn nota bene dari kecil kedua orang tua saya sering mnghajar saya dgn pukulan yg sakit. Tidak luka fisik tp luka psikis. Saya jadi pndendam dan ketakutan mnghadapi orang.
    Mulai dari kecil saya udah niat mau bunuh diri.. saya mrasa tertekan. Tp urung saya lakukan.. saya mau mati , tp saya ingin hidup.
    Sekarang usia saya mnjelang 26thn, hidup saya seakan tdk berarti, hidup hanya utk makan dan bernafas. Kurang sosialisasi , krn slallu merasa terkucilkan.
    Saya tdk punya pandangan hidup bahkan utk agama juga sya sgt tdk yakin skrg.
    Ntah knapa saya mai pindah agama.. tp saya kasian liat ortu saya. Yg akan terluka hatinya karna ulah saya.
    Tp saya tdk bgitu dkt dgn ortu saya (mamak) krn mamak sllu mnjelek2 kan saya bangga umbar2 aib anaknya kpd smua kluarga , teman dekat nya, tetangga , bahkan teman2 saya.
    Saya malu.
    Saya kecewa.
    Entah esok bagaimana hidup saya pun tdk tau..
    Masih terngiang mau coba mati saja. Tp takut dosa.
    Entahlah bagai mana saya ini.

    Mba langit. Saya respeck sama mba, mba hebat pintar dan tangguh.
    Mba bisa lewatin smua
    Meski tdk ada harapan, tetaplah berjuang dari diri sendiri.
    Smoga masih ada hari esok utk kita yg depresi akut.

  101. April 22, 2016 at 10:50 am

    Ya Allah.

  102. April 22, 2016 at 10:50 am

    Aku tahu teteh Langit belum lama, tapi aku yakin teteh ini orang yang kiat, perempuan hebat yang mampu bertahan. Meski aku ggtahu ttg hidup teteh yg sebenernya dan hanya kenal lewat dunia maya. Aku yakin teteh bisa, semangat buat Aksa. Buat Salwa yang katanya pengen jadi dokter. Badai pasti berlalu, teh…

  103. jilly-Reply
    April 22, 2016 at 3:38 pm

    Halo mba. Tetap berdoa dan semangat ya. Saya ga tau apa2 tentang masalah ini karena saya blm menjadi seorang ibu, tapi saya mendoakan mba semoga mba diberi kemudahan di kehidupan mba. Tuhan selalu melindungi mba. 🙂

  104. Cicilia-Reply
    April 22, 2016 at 2:37 pm

    mba… Menangislah sepuasnya, berteriak sekencang kencang nya. Asal jangan melihat Aksa.
    I feel you, saat melahirkan anak kedua kemarin. Suamiku ada, tapi keadaan bikin kami ga bisa bersama untuk sementara waktu.
    Aku butuh teman curhat, kalau ga ada yang mau di jadikan tempat curhat, aku buat voice note, lalu ketika ‘waras’ , aku dengar ulang, dan aku bisa ‘melihat’ dari sudut pandang orang lain.
    Mba pasti bisa melalui nya… seperti aku yang juga berusaha menghindari monater itu, yang kadang coba menghampiri

  105. via-Reply
    April 22, 2016 at 12:46 pm

    Mbak….kalau butuh teman curhat bisa kontak saya. Please feel free…walaupun tdk punya pengalaman PPD, tapi saya pingin bantu

  106. evrinasp-Reply
    April 22, 2016 at 12:04 pm

    Uchan, shalat chan, kalau saya lagi galau, saya langsung tertunduk dan meminta pertolongan Allah

Leave A Comment