Sedentary dan Obesitas, “Musuh” Utama Para Freelancer

“Kamu hamil?” pandangan Ibu tertuju kepada perut saya, tajam dan menyakitkan. Sebelum dikutuk jadi ricecoker atau peralatan dapur lainnya, saya cepat-cepat menjelaskan bahwa kondisi perut saya yang gendut montok ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kehamilan.

“Teh, sini, Teh. Duduk di sini,” seorang lelaki menepuk bahu ketika saya menumpang sebuah bus kota. Jelas saya gembira dan segera duduk di kursi yang dia bagi. Namun, kegembiraan saya itu runtuh seketika saat dia bergumam, “Kasihan, masa ibu hamil disuruh berdiri.”

Difitnah hamil barangkali tidak menjadi masalah bagi para perempuan dewasa. Bagi mereka yang memang sedang menantikan buah hati, malah bisa saja menjadi doa. Masalahnya, saya single parent, tidak punya suami, dan belum menemukan cara untuk membuahi diri sendiri. Itu sebabnya mengapa dituduh sedang hamil lima atau tujuh bulan begitu mengiris-iris dada. Itu sebabnya pula mengapa Ibu kerap kali memandang perut saya dengan curiga.

♥♥♥

ANALISIS BERAT BADAN

Analisis Berat Badan – Sumber: lightHOUSE Indonesia

Dengan tinggi 155 cm dan berat 57 kg, berat badan saya sebetulnya normal, oke ralat, di batas normal. Body Mass Index (BMI) yang 23.73 pun termasuk normal untuk kategori perempuan Indonesia, tapi kenyataannya penampakan saya tidak begitu.

Ini “penampakan” saya dua bulan lalu, waktu itu masih sekitar 55 kg. Sekarang sudah naik 2 kg dan saya tidak berani lagi foto full body. Hiks.

A photo posted by Langit Amaravati (@langit_amaravati) on May 20, 2016 at 9:19pm PDT

//platform.instagram.com/en_US/embeds.jsLemak dan otot berkumpul di perut, punggung, paha, dan lengan atas. Akhir-akhir ini saya bahkan tidak punya lagi celana jeans yang bisa dipakai, semuanya kekecilan. Iya, terus terang, saya mulai khawatir. Bukan hanya karena sering difitnah hamil, bukan hanya karena tidak bisa lagi memakai jeans bolong favorit, saya khawatir karena alasan-alasan kesehatan.

Saya mulai cepat lelah jika berjalan agak jauh. Mulai susah bernapas jika berlari satu atau dua kilometer saja. Mulai sakit pinggang jika memangku Aksa agak lama. Dan masalah-masalah kesehatan lainnya.

Jika terus-terusan begini, jika saya tidak bisa mengontrol berat badan, bukan tidak mungkin angka timbangan akan terus menanjak. Bukan tidak mungkin suatu hari batas normal itu akan terlampaui dan saya mendapatkan predikat obesitas. Amit-amit, sih ya. Tapi, berat badan yang tidak terkontrol ini saya anggap sebagai peringatan agar saya tidak harus mengalami masalah-masalah kesehatan yang lebih buruk.

♥♥♥

GAYA HIDUP SEDENTARY

Saya hanya makan sehari sekali, maksimal dua kali, oke beberapa kali sehari jika harus menghabiskan jatah MPASI Aksa, anak saya. Tidak suka ngemil, tidak terlalu suka makanan manis, tidak suka ngemil kripik, tidak terlalu suka gorengan, tidak terlalu suka minuman bersoda, tidak terlalu suka makan daging, tidak minum susu, dan lain-lain. Sehari-hari saya hanya makan sayuran dan telur, sesekali ayam atau ikan. Yaaa … sesekali jajan batagor atau mi ayam Teh Dewi yang enaknya sukar dibantahkan. Intinya, selera makan saya berantakan. Hahaha.

Jadi, itu penyebab berat badan saya naik terus secara semena-mena?

Eits, tunggu dulu. selain pola makan, pola olahraga dan gaya hidup juga harus tetap dianalisis. Sebagai freelancer dan workaholic, saya menghabiskan waktu sekitar 8-18 jam duduk di depan komputer. Menurut dr. Sophia Hage, SpKO dalam “lightHOUSE’s Healty Talkshow” bulan Mei 2016 lalu, perilaku seperti ini dinamakan gaya hidup sedentary.

Gaya hidup sedentary sebetulnya bukan tidak berolahraga, melainkan melakukan kegiatan yang hanya mengeluarkan sedikit sekali energi dalam jangka waktu yang panjang. Misalnya, duduk, menonton televisi, bekerja di belakang meja, membaca, dan menyetir. Jadi itu mamak-mamak yang kecanduan sinetron Turki atau India, coba dikurangin dikit nonton televisinya, Mak. *eh

Jika dilakukan terus-menerus dan dalam jangka waktu panjang, gaya hidup sedentary akan berpengaruh buruk kepada kesehatan. Di antaranya:

  1. Obesitas
  2. Kardiovaskuler (penyakit jantung)
  3. Diabetes
  4. Sindroma metabolik 

Apa Itu Obesitas?

Apa sih obesitas itu? Apa bedanya dengan overweight? Obesitas dan overweight adalah kelebihan berat badan yang diakibatkan oleh penumpukan sel-sel lemak di dalam tubuh. Ketika sel-sel lemak itu terus menumpuk, maka akan terjadi perubahan anatomis. Pun, meningkatnya risiko kesehatan.

Obesitas atau overweight tergantung kepada BMI atau Indeks Massa Tubuh (IMT). Menurut Departemen Kesehatan RI, begini cara menghitung BMI:


Keterangan:

  • Satuan berat badan adalah kilogram
  • Satuan tinggi badan adalah meter
Contoh:
  • Berat badan saya adalah 57 kg, tinggi 1.55 m (155 cm)
  • BMI= 57/(1.55×1.55)
  • BMI= 23.73 — normal
Untuk mengetahui apakah tubuh Anda normal, overweight, atau obesitas, bisa dilihat dari kategori berikut ini:

Bahaya Obesitas

Di berbagai negara, obesitas telah menjadi masalah kesehatan publik paling besar. Menurut WHO, lebih dari satu juta orang dewasa di seluruh dunia mengalami kelebihan berat badan dan setidaknya 300 juta orang memenuhi indikasi medis untuk disebut obesitas. 
Seberbahaya apa sih obesitas? Obesitas bisa memicu atau mengakibatkan penyakit yang lebih serius seperti serangan jantung, hipertensi, diabetes, asam urat, kanker, kolesterol tinggi, dan sleep apnea (gangguan tidur karena sulit bernapas).

Sedentary & Obesitas

Banyak orang yang tidak sadar bahwa gaya hidup yang dijalani selama ini memiliki risiko kesehatan, termasuk saya. Di kalangan orang awam, badan gemuk bahkan sering diidentikkan dengan kebahagiaan. Padahal, saya pribadi akan lebih bahagia jika memiliki perut rata. 🙂

Duduk di depan layar komputer atau melakukan aktivitas yang sedikit mengeluarkan energi mengakibatkan buruknya sirkulasi darah, peradangan, atau bahkan disfungsi pada pembuluh darah. Pengalaman pribadi, saya pernah cedera otot lengan dan pergelangan tangan sebelah kanan. Menurut dokter, itu karena sehari-hari saya mengetik di depan komputer, menggunakan mouse yang tidak ergonomis, salah posisi duduk, dan kurang peregangan.

Lalu apa hubungannya sedentary dengan obesitas? Ya secara logika orang awam, lemak dan kalori terus-terusan masuk ke dalam tubuh sementara energi yang dikeluarkan sangat sedikit. Mau dibakar dengan cara apa lemaknya? Iya, nggak? 🙂

Well, obesitas hanya satu dari sekian risiko kesehatan dari gaya hidup sedentary yang selama bertahun-tahun saya alami. 

♥♥♥

MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI

Anda pasti familiar dengan ungkapan di atas. Iya, mencegah lebih baik daripada mengobati. Sebelum berat badan saya naik terus-menerus, sebelum saya sampai pada risiko yang lebih buruk, sebelum saya obesitas gara-gara perilaku sedentary, saya ingin mencegahnya dari sekarang.

I know, melakukan diet sendiri atau latihan tanpa bantuan ahli bukan langkah yang bijaksana karena setiap orang memiliki kondisi biologis yang berbeda-beda. Atau apa sih istilah tepatnya? Misalnya, ada orang yang cocok diet karbo, atau diet berdasarkan hitungan kalori, dan sebagainya.

Untuk tujuan mulia ini, saya kira meminta bantuan para ahli di lightHOUSE Indonesia adalah langkah yang well recomended. Have you heard about lightHOUSE Indonesia? Itu lho, klinik penurunan berat badan yang sudah terpercaya dan teruji selama 11 tahun.

Sampai saat ini klinik lightHOUSE baru tersedia di 6 cabang: Kemayoran, Cilandak, Thamrin, Sudirman, BSD, dan Kelapa Gading. Tapi, demi perut rata dan pinggul bak biola, apa sih yang jauh? Jakarta mah deket. 🙂

lightHOUSE Klinik di Apartement Emerald Cilandak – Foto: Agung Han

Kenapa sih saya yakin bahwa lightHOUSE bisa membantu masalah saya?

1. Berpengalaman

Sudah 11 tahun berkecimpung di bidang ini, ketika saya masih kinyis-kinyis, klinik ini sudah berkontribusi untuk menangani penuruan berat badan para pasiennya dan ikut serta mencegah obesitas, penyakit yang konon bisa mengakibatkan kematian. Sejak berdiri tahun 2004, sudah ada 26 ribu lebih pasien yang ditangani.

2. Program-Program Komprehensif 
Tidak seperti diet konvensional, program yang dimiliki lightHOUSE disertai juga dengan konsultasi, terapi, dan relaksasi. It’s gonna be fun. Diet tanpa rasa sakit. 🙂

3. Tenaga Ahli 
I hate when somebody tell me about what to eat sementara si orang itu bukan ahli. Kan ada tuh berbagai macam jenis diet yang berkeliaran di Internet. Saya pernah sebulan cuma makan sayuran dan buah-buahan, udah kayak burung di dalam sangkar. Berhasil? Turun berat badan? Nggak. Yang terjadi adalah kena typus. Nah, di klinik ini kita akan dipandu oleh para psikolog, dokter, dokter spesialis gizi, spesialis olahraga, dan psikiater.

4. Testimoni
Cewek mana sih yang tidak ngiler ketika ada cewek lain yang mengatakan, “Aku turun 10 Kg, lho.” 
Testimoni pasien – Sumber: lightHOUSE Indonesia
Atau coba lihat deh para pemenang lightWEIGHT Challenge tahun lalu. Menurut saya pribadi sih, ini sudah melebihi kisah sukses para wirausahawan muda. Karena menurunkan berat badan itu lebih berat daripada menghitung rugi laba. 
Pemenang lightWEIGHT Challenge 2015 – Sumber: lightHOUSE Indonesia
    Saya juga semakin teryakinkan setelah membaca cerita Mas Agun Han yang turun berat badan sebanyak 5 kg dalam waktu kurang dari 1 bulan. Aaaakkk … 5 kg dalam waktu satu bulan? Aaaakkk … oke, ini mulai norak. Anyway, ceritanya bisa dibaca di sini. 

    Program lightWEIGHT Ultimate & lightMEAL

    Program lightWEIGHT adalah program penurunan berat badan yang dipandu oleh para tenaga ahli. Program diet dilakukan dalam 12 kali pertemuan selama 12 bulan. As we know, menurunkan berat badan dalam jumlah banyak dan waktu singkat justru berbahaya bagi kesehatan. Jadi kenapa jangka waktunya panjang? Karena hasilnya juga permanen dan tetap mempertimbangkan kesehatan pasien. 

    Program lightWEIGHT Ultimate

    Saya pribadi tertarik dengan program yang ini karena disediakan 4 macam pelayanan dan jangka waktunya lebih panjang, ada yang 16 kali pertemuan, ada yang 18 kali pertemuan.
    1. Tes DNA
    Semua keluarga saya yang perempuan memiliki tubuh gemuk ketika sudah menikah. Dengan tes DNA, saya bisa tahu apakah berat badan saya yang mudah naik tapi sulit turun ini memang genetis atau justru dipengaruhi pola hidup? Saya juga bisa tahu diet paling tepat untuk saya. 
    2. Meta Booster
    Singkatnya sih, ini terapi untuk membakar lemak dengan cara menyuntikkan Vitamin B12 dan ATP. Saya kira, saya lebih butuh suntikan pembakar lemak daripada suntikan pembakar kenangan mantan. *ehgimana?
    3. Lympathic Drainage

    Naon ieu teh? Saya terjemahkan dalam bahasa orang awam ya, Lympathic Drainage merupakan terapi yang berfungsi untuk memperlancar metabolisme.

    4. lightMEAL Induksi
    Makanan diet yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan pasien. Berguna untuk mempersiapkan tubuh sebelum masa diet sesungguhnya. Induksi dilakukan selama 3 hari, dan konon bisa membantu menurunkan berat badan pasien sekitar 3-5 kg. Ini serius? Belum diet beneran aja udah turun segini? Kurang menggiurkan gimana, coba?

    lightMEAL

    Selain menyediakan makanan induksi, lightHOUSE Indonesia juga menyediakan lightMEAL yaitu berbagai macam menu makanan diet in case para pemalas seperti saya nggak mau ribet menghitung kalori. Menurut info nih, mereka juga membantu para pasien untuk mengolah makanan diet sendiri agar lebih mandiri.

    Eh eh, jangan kira diet itu harus makan sayuran doang lho ya. Menu lightMEAL ternyata ada makanan enak semacam ayam betutu, spicy baked fish fillet, sapo tofu, dan berbagai makanan penutup seperti puding (info dari Mas Agung). Ini apaan sih? Diet kok enak begini? Hahaha.

    lightMEAL – Foto: Agung Han

    Konsultasi Sedentary

    Di satu sisi, saya ingin menurunkan berat badan, hidup sehat, dan tidak sampai pada obesitas, tapi di sisi lain saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan. Gaya hidup sedentary yang sekarang saya jalani tidak bisa ditinggalkan karena tidak mungkin kan saya mendesain sambil jalan-jalan atau menulis sambil treadmill.

    Jadi, rasa-rasanya saya perlu deh konsultasi dengan dr. Sophia Hage, SpKO atau para ahli di lightHOUSE Indonesia tentang cara paling baik mengurangi dampak sedentary. Karena eh karena, peregangan atau olahraga yang tidak tepat malah bisa menyebakan cedera.

      ♥♥♥

      Nggak muluk-muluk kok, saya cuma ingin menurunkan berat badan sekitar 7-10 kg, lebih aware terhadap gaya hidup sedentary, lebih rajin berolahraga, mengetahui dengan pasti diet paling tepat buat saya, dan memiliki perut rata agar tidak selalu disangka sedang mengandung. Ya, syukur-syukur masih pantas memakai jeans agar disangka mahasiswa. *eh gimana?

      Anyway, teman-teman yang masih penasaran dengan program-program diet dari lightHOUSE Indonesia, for further information, please feel free to browse:


      here

      Atau mau langsung konsultasi gratis dan membuat janji temu? Mangga.

      Nominal di timbangan memang “hanya” angka, namun kesehatan di sebaliknya memiliki makna dan harus senantiasa kita jaga. Have a nice day.

      Salam,
      ~eL

      Sumber referensi:

      • lightHOUSE Indonesia
      • Departemen Kesehatan Indonesia
      • http://www.verywell.com
      • http://sapa-ku.blogspot.co.id/

      21 Comments

      1. July 23, 2016 at 7:02 am

        Aku malah tergolong kurus Teh, hiks. *kasih tips biar gemuk dong. Tapi memang dibanding kegemukkan, kurus itu lebih ringan buat ngapa”in 😀

      2. July 23, 2016 at 12:45 pm

        Lemak bisa ditransfer ga, De? Kalau bisa I'll love to bagi-bagi. Hahaha.

      3. July 23, 2016 at 3:12 pm

        hmm, sini aq kecilin perutnya hahaha

      4. July 23, 2016 at 3:24 pm

        Lemakku sepertinya kumpul di paha, abis brasa ga proporsional gede paha sm body, sedentary yg tak sadar jg sih sepertinya xixixi

      5. July 23, 2016 at 3:32 pm

        Wuahhhh… *alarmnyala*liatperutsendiri* Saya juga butuh diet deh keknya. Udah lama nggak olah raga juga. Hiks… As usual, cuakepp artikelnya. Moga menang yah teh Langit… Aamiin.

      6. July 24, 2016 at 5:34 pm

        Saya baru tahu istilah sendentary ini, cuma memang pernah denger dari mana gitu kalau terlalu lama duduk tanpa olahraga cukup berbahaya bagi kesehatan. Faktanya, bobot saya sekarang mengerikan sekali. Gemuk orang bilang, meski menurut saya sih kekar. Hahaha…

        Ternyata bisa jadi masalah pencernaan juga ya selain kardiovaskular dan obesitas yang sudah saya tahu. Pantesan, pantesan. Btw, buat nulis begini panjang risetnya berapa lama, Teh? Ajarin donk 🙂

      7. July 24, 2016 at 8:13 pm

        Pake apa? Dikempesin pake jarum? Hahaha.

      8. July 24, 2016 at 8:28 pm

        Iya tuh, kebanyakan duduk, kali. Coba cek dulu BMI-nya. *sok jadi konsultan

      9. July 24, 2016 at 8:29 pm

        Kok kita jadi pada sensitif gini ya kalau ngomongin perut? Hahahaha.

      10. July 24, 2016 at 8:30 pm

        Yang ini? Semalem aja sih risetnya.

      Leave a Reply