:Mu
Ketika bongkah ingin demi ingin berubah dingin dan musim-musim dilolosi angin, tak ada yang bisa aku lakukan kecuali menengadahkan tangan dan mengiba padaMu. Dalam rapal paling lantang dan doa paling kencang, kusebut namaku dan namanya. Sebab kami tak memiliki kuasa selain karena campur tanganMu.
Maka, aku mohon pertautkanlah kami sebagaimana Engkau menautkan Adam dan Hawa. Maka mudahkanlah langkah kami sebagaimana Muhammad dan Khadijah. Genapkahlah kami sebagaimana Engkau menggenapkan Fatimah dan Ali.
Setapak kami sudah teramat terjal, Engkau adalah satu-satunya tempat kami mengeluh segala sesal dan kesal. Sebab di tanganMu segala sedih dan lirih melebur luntur. Sebab di tanganMu apapun partitur pedih dan perih menyerpih buih. 
Detak detik, derak jejak, dan tapak-tapak kami senantiasa menujuMu. Hanya kepadaMu. Ruap harap adalah apa yang kami sebut sebagai masa depan; waktu yang tidak bisa kami terka dan duga. Namun, kepadaMulah segala mimpi dilarungkan. Sebab Engkau Maha mengabulkan. 
Jadikan tangan kami abadi saling menggenggam; dalam segala doa, harap, dan kepasrahan. 
Amin.
(Cibiru, 7 Mei 2012)

Leave a Reply