Selamatkan Anak-anak Indonesia


Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya.
(Pasal 9 ayat 1 – 
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA 
NOMOR 23 TAHUN 2002 
TENTANG PERLINDUNGAN ANAK)

Televisi, seperti yang kita ketahui bersama, adalah biangnya dilema. Di satu sisi, televisi adalah salah satu sumber informasi dan rekreasi, di sisi lain televisi juga merupakan sumber degradasi. Kemerosotan moral, akhlak, bahkan tingkat kejahatan dengan pelaku anak-anak dipengaruhi oleh tayangan-tayangan yang tidak mendidik. Adegan bullying dalam sinetron-sinetron remaja Indonesia misalnya, adegan itu bukan hanya ditonton melainkan juga ditiru oleh anak-anak yang tentu saja masih belum memiliki filter cukup untuk membedakan mana dunia nyata dan mana yang hanya ilusi layar kaca.
Sinetron-sinetron dengan tokoh anak-anak dan konon diperuntukkan bagi anak-anak ternyata banyak yang tidak sesuai dengan anak-anak. Hedonisme, tindak kekerasan, persaingan tidak sehat, impulsif, bahkan ilusif terpapar jelas, tanpa sensor memadai. Apakah ini yang disebut sebagai nutrisi bagi para penerus bangsa?
Nyaris 90% rumah di Indonesia memiliki televisi, dan hanya sedikit di antaranya orang tua yang peduli sehingga setiap kali anak-anak menonton tidak ada pengawasan ataupun penjelasan. Dan anehnya, sinetron-sinetron tak layak tayang itu jarang sekali menyematkan tulisan BO (Bimbingan Orang tua) ketika hadir di layar kaca.
Pendidikan terhadap anak tentu bukan hanya dilakukan di sekolah-sekolah, melainkan juga di rumah dan di masyarakat. Karena para generasi muda yang kita harapkan bukan hanya cerdas secara intelektual tapi juga cerdas secara mental. Jika para generasi muda ini terus-menerus dipapar oleh stimulan-stimulan yang membahayakan, bukan tidak mungkin generasi yang terbentuk pun adalah generasi yang ‘membahayakan’.
Coba kita lihat perilaku anak-anak sekolah zaman sekarang. Dari cara berpakaian, cara berbicara, cara berpikir, bahkan cara bertindak hampir seluruhnya meniru televisi. Tidak hanya para remaja, pun anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar terpengaruhi oleh ini. Gempuran media memang tidak bisa dibendung begitu saja. Tugas kitalah para orang dewasa untuk melakukan kontrol sosial.
Sudah menjadi tugas orang dewasa untuk membimbing, mengayomi, dan tentu saja memberikan edukasi memadai. Seperti membagi-bagi tugas. Jika di rumah, maka peran maha luhur itu tentu dipegang oleh orang tua. Di lingkungan, peran itu berada di pundak masyarakat. Nah, ketika anak-anak ini berada di sekolah, maka peran beralih ke pundak para pendidik; para guru. Tidak ada saling menyalahkan, tidak ada saling melimpahkan tanggung jawab moral. Yang ada hanyalah kerja sama untuk menjadikan manusia-manusia Indonesia generasi mendatang menjadi lebih matang.
Dalam hal ini, seorang guru diharapkan dapat melakukan perannya bukan hanya sebagai pendidik dalam bidang akademis tapi juga dalam hal moralitas. Tentu tidak mudah melakukan hal ini mengingat jumlah siswa yang berada di dalam pengawasan tidaklah sedikit. Tapi jika ini dilakukan secara bersama-sama, pasti hasilnya akan baik.
Para pendidik diharapkan lebih peka terhadap pengaruh-pengaruh negatif dari luar seperti televisi. BP&K (Badan Penyuluhan dan Konseling) di sekolah-sekolah juga mestinya bekerja sama dengan para orang tua dalam menghadapi tindakan-tindakan destruktif seperti tawuran, bullying, dan penyimpangan lainnya. Hardikan dan hukuman saja tidak akan berhasil. Anak-anak, apalagi yang sudah menginjak remaja cenderung bersifat impulsif dan lebih banyak menggunakan ego karena anak-anak dalam fase ini sedang mengalami yang namanya pencarian jati diri.
Menghadapi remaja dan anak-anak tentu saja berbeda. Pendekatan-pendekatan persuasif biasanya lebih berhasil dilakukan dan akan lebih memberikan efek konstruktif daripada pendekatan berdasarkan hukuman atau bahkan larangan-larangan. Untuk menyiasati ini, para pendidik sebaiknya dibekali dengan ilmu psikologi, bahkan lebih bagus jika di sekolah-sekolah ditempatkan psikolog anak. Beban akademis ditikberatkan kepada kurikulum, tapi beban psikologis bagaimana? Padahal tujuan pendidikan bukan hanya bertujuan menjadikan manusia-manusia cerdas tapi juga manusia-manusia berakhlak mulia.
Pelajaran agama? Ekstrakulikuler keagamaan? Itu saja tidak akan cukup. Dibutuhkan langkah besar dan berkesinambungan untuk memperbaiki (bukan lagi mencegah) degradasi moral yang diakibatkan oleh stimulan-stimulan dari luar. Pada tahap ini, setelah berbagai insiden mengerikan terjadi pada para peserta didik seperti tawuran, narkoba, sex bebas, dan lain sebagainya, bukan waktunya lagi menyerahkan pendidikan akhlak pada peraturan dan tindakan kuratif Departemen Pendidikan Nasional dengan komite penanganan kenakalan remajanya (yang baru dibentuk setelah ada korban jatuh). Ini adalah tugas kita semua, tugas para orang tua, tugas para awak media, tugas para guru, tugas masyarakat.
Selamatkan anak-anak Indonesia sekarang, sebelum terlambat. 

Postingan ini diikutsertakan dalam lomba GIB Blog Competitition

Sumber Foto: Koleksi pribadi

Leave a Reply