SELEBRITI ANOMALI

Sejak dulu yang aku lakukan tidak pernah normal; nongkrong di atap rumah sampe maghrib tiba, main hujan-hujanan di pantai Lobam sendirian sampai masuk angin, menyusuri Jalan Suria Sumantri sampai tembus ke Pasteur di tengah malam; sampai-sampai disangkain kunti lanak, nggak pernah makan satu meja dengan orang lain kalau lagi break (karena aku tak tahan mendengar pembicaraan tentang; betapa kejamnya leader anu, betapa menyebalkannya supervisor ani, betapa tidak enaknya makanan di kantin ini, si ana pacaran dengan si inu, si ono putus dengan si oni, dan sampah-sampah lain yang -sungguh- akan mengkontaminasi otakku sendiri).

Tak ada karyawati pabrik yang membicarkan tentang Pilkada, tingginya tingkat kecelakaan di sepanjang Jalan Indun Suri sampai Lobam serta hal yang harus dilakukan untuk mencegah atau menguranginya, Palestina dan Jalur Gaza, Undang-Undang pornografi dan dampak langsung terhadap masyarakat, pentingnya pembuatan drainase untuk mencegah banjir dan membantu penyerapan air, sampah dan dampak lingkungan, dan topik-topik lain yang sebenarnya akan membuka wawasan.

Bila kembali ke dorm, maka bisa dipastikan yang ditonton adalah sinetron. Sumpah, nggak ada yang mau nonton berita atau pertandingan sepak bola. Oke, ada juga yang menonton infotainment; dan itu masuk di rating ke dua setelah sinetron. Tapi..please deh. Infotainment itu bukan berita. Itu adalah produk masochist; diperuntukan bagi orang-orang yang kecanduan rasa sakit.

Di tengah-tengah orang yang merasa dirinya normal, jadilah aku mahluk yang anomali. Dan karena itu, maka semua mata akan tertuju padaku. Jadi selebritis itu ternyata nggak enak! Phuih! Percuma juga mengklarifikasi kepada semua orang. Capek!

Maka biarlah mereka yang berprasangka baik akan mendapat balasan baik. Dan mereka yang berprasangka buruk juga akan mendapat balasan baik. Aku manusia -meski diragukan mengingat sayap-sayap hitam itu mulai tumbuh-, berakal budi dan sayang sesama :P, maka kudoakan kebaikan untuk manusia yang lain.

Leave a Reply