Judul bisa disebut sebagai inti sari cerita yang disarikan ke dalam beberapa kata. Mengapa judul teramat penting dalam sebuah cerita? Karena judul menentukan beberapa hal di bawah ini:
 
  • Menentukan apakah buku Anda akan dibeli orang atau tidak. 
  • Menentukan apakah cerita Anda akan dibaca orang atau tidak. 
  • Menentukan apakah cerita Anda akan dipertimbangkan redaksi untuk diterbitkan atau tidak. 
  • Menentukan apakah cerita Anda menarik atau tidak. 
 
Hal–hal tersebut di atas berkesan bahwa konten cerita sama sekali tidak penting, bahkan dikesampingkan. Tapi, memang itulah yang terjadi di dunia penulisan dewasa ini. Judul adalah brand, teknik marketing yang harus penulis atau para editor kuasai untuk menarik pasar, dalam hal ini pembaca. Ribuan buku terbit setiap tahunnya, puluhan ribu cerita dimuat di berbagai media massa, cerita Anda hanya akan jadi debu di antara hiruk pikuk persaingan pasar jika Anda tidak memiliki keahlian dalam teknik pemasaran. 
 
Untuk sebuah buku, selain judul tentu saja ada sinopsis di belakang buku dan endorsement yang dipakai untuk ‘membujuk’ pembaca, tapi untuk sebuah cerpen yang Anda kirim ke redaktur berbagai media, judul adalah satu-satunya ‘senjata’ yang Anda miliki.
 
Beberapa penulis memiliki kesulitan dalam menentukan judul tulisannya, berikut beberapa hambatan yang seringkali ditemui para penulis dalam menentukan judul:
  1. Terlalu terpaku pada tema sehingga sulit berpikir i untuk menentukan judul tulisannya sendiri.
  2. Kurang pengetahuan tentang target pasar tulisannya sendiri.
  3. Kurang menguasai perbendaharaan kata.
  4. Jam terbang, ini bukan masalah penulis pemula atau penulis senior, tapi tentang produktivitas.
  5. Takut atau tidak berani menuai kontroversi melalui judul tulisan.
  6. Kurang taste.
 
Well, ada beberapa langkah yang bisa Anda lakukan untuk menangani hambatan-hambatan tersebut di atas serta bagaimana cara memilih judul yang tepat:
 
1. Tentukan target pasar atau segmen pembaca tulisan Anda. 
Jika Anda menulis chicklit atau teenlit, Anda bisa memilih untuk membuat judul dalam bahasa Inggris karena lebih menjual. Terlalu berbau luar? Oh, come on, genre chicklit dan teenlit toh memang berasal dari luar dan diadaptasi oleh para penulis Indonesia dengan konten disesuaikan dengan keadaan sosial budaya Indonesia meski tidak bisa dibilang lokalitas karena selalu mengambil setting dan tema-tema kosmopolis, bahkan hedonis. Jika cerpen atau puisi Anda dimaksudkan untuk dikirim kepada koran-koran nasional seperti Kompas cetak atau Pikiran Rakyat, saya sarankan jangan pernah menulis judul dalam bahasa Inggris.
 
2. Pilih judul yang eye catching, mudah diingat, dan mudah menarik perhatian. 
Misalnya, tulisan dengan judul ‘Aku Mencintaimu’ akan sulit bersaing dengan tulisan dengan judul ‘Cinta Itu Bagimu, Bagiku’ karena frase aku mencintaimu sudah tidak aneh lagi. Memang mudah diingat, tapi tidak menarik dan tidak eye catching. 
 
3. Judul tidak boleh lebih dari enam kata. 
Ini standar yang ditetapkan oleh beberapa editor penerbitan karena judul yang terlalu panjang akan sulit untuk diingat dan tidak efisien. Jadi, usahakan agar judul Anda memenuhi standard itu. 
 
4. Puitis.
Judul yang puitis tidak hanya berlaku untuk puisi melainkan juga untuk prosa. Memang, judul puitis selalu berkesan nyastra dan kadang dihindari oleh para penulis karena takut tulisannya dicap terlalu ‘berat’. Tapi believe me, judul-judul yang puitis dan mengandung frase-frase indah selalu bisa dijual kapan saja meski tidak untuk setiap segmen pembaca. Contoh, apa jadinya jika trilogi novel ‘Ronggeng Dukuh Paruk’ tidak ditulis dengan judul ‘Jantera Bianglalala’, ‘Lintang Kemukus Dini Hari’, dan ‘Ronggeng Dukuh Paruk’? Bagaimana jika Ahmad Tohari menulisnya dengan judul ‘Kisah seorang Ronggeng Bernama Srintil’ misalnya, saya yakin novel tersebut tidak akan bisa bersaing di pasaran meski konten novel tersebut begitu wah menurut saya.
 
5. Sensasional.
Saya tidak menyarankan memakai judul yang menyerempet pornografi atau horror seperti yang dilakukan oleh sineas Indonesia. Saya pernah melakukan test case dengan memposting cerpen dengan judul ‘PAYUDARA’ di sebuah website, dan terbukti view-nya tinggi. This is what we call; give what all people want. Padahal konten cerpen saya itu sama sekali bukan cerita porno kacangan yang melulu bercerita tentang selangkangan, bahkan bisa dibilang cerpen saya itu adalah salah satu cerpen yang sangat total. 
 
Jadi, jangan takut membuat judul yang sensasional, tapi jangan menurunkan kualitas dan menjual idealisme ^^
 
 
Masih belum bisa ‘menjual’ tulisan melalui judul? 
Some people say practice makes perfect, so do I. Keep writing guys ^^

One Comment

Leave a Reply