SENI GENETIKA

Aku sudah membuktikan bahwa keahlian memasak memang tidak diturunkan secara genetis. Karena bisa atau tidaknya seseorang memasak sama sekali nggak ada hubungannya dengan susunan kimiawi di dalam tubuh dan genetika. Berbeda dengan kecerdasan. Menurut para ilmuwan [jangan tanyakan aku siapa nama mereka, pokoknya info ini shahih], kecerdasan diturunkan secara genetik. Jadi kalo kita pinter en menikah sama orang pinter, kemungkinan besar anaknya juga pinter. Kalo nggak? Ya suruh dong anaknya belajar, masa didiemin aja? Gimana sih?

Jadi aku membuat kesimpulan baru [meski hanya berdasarkan firasat, tanpa riset di lab], bahwa seni juga diturunkan secara genetis. Karena seni dan kreativitas seseorang dipengaruhi otak kiri [atau kanan?], dan sel-sel di otak kita mau nggak mau signifikan dengan ibu atau bapak kita. Iya nggak?

Oke, aku nggak mau bilang kalo seluruh keluargaku adalah seniman tulen seperti yang selalu diagung-agungkan orang-orang. Karena hidup tak ramah kepada kami, sehingga seni hanyalah sekedar hobi.

Bapakku pemain gitar, manajer sebuah orkes dangdut di Bandung sana [serius!]. Ibu punya bakat dalam desain interior dan sense of fashion. Setiap minggu letak perabotan di rumah kami berganti. Hari ini lemari tivi ada di ruang tamu. Minggu depannya belum tentu ada lagi di situ. Kadang aku ngerasa ganti-ganti rumah. Adikku yang cewek, penyanyi dan bisa main gitar [meski permainan gitarnya sama parahnya dengan aku], selain itu juga dia menulis skenario. Si bungsu, adik laki-lakiku satu-satunya adalah fans berat The Changcuters dan hafal semua lagu-lagunya. Main gitar? Ya iyalah, jelas bisa. Dia juga mendalami semacam seni bela diri, yaitu: MALAKIN TEMAN-TEMAN SEKELAS. Tiap hari nggak pernah dikasih uang jajan, bisa nyari sendiri. Yang anehnya, teman-teman sekelasnya memberi dia uang ‘keamanan’ secara sukarela. [cerita tentang dia ntar kuposting di tulisan yang berbeda]

Aku? Dari kami bertiga, karena aku anak sulung, jadi aku lah yang punya sense of art paling lengkap [kecuali main gitar tadi]. Dari kecil sudah membuat puisi, membacakannya di depan kelas, menjahit baju-baju bonekaku sendiri, menginjak remaja mulai menulis cerpen, mendesain baju dan membuat aneka kerajinan tangan. Sempet juga nyasar ke Seni Murni ITB, tapi ternyata menulis adalah duniaku yang sebenarnya. Menyanyi? Mmmmhhh…let me think. Well, hanya sempet ngeluarin beberapa album aja sih. Suaraku sebenernya lebih cocok untuk baca puisi dan jualan roti. Rotttiiiii…rottiiii….

Oke, kembali ke masalah seni dan genetika tadi, ternyata sense of art-nya diriku mengalir tumplek plek ke Salwa [my beloved daughter]. Mungkin karena dia niru-niru aku aja. Setiap mo tidur, aku selalu baca buku. Maka dia akan membawa bukunya juga dan pura-pura membaca. Dia sering melihat gambar-gambar dan desain yang aku bikin, jadinya ikut-ikutan juga.

Pertama kali pegang pensil, dia sama sekali nggak bisa membuat lingkaran ataupun garis lurus. Sebulan kemudian, dia sudah bisa menggambar pantai plus puteri duyungnya. Walaupun dia belum bisa menulis dan membaca dengan benar, dia sudah bisa membuat cerita. Jadi tugaskulah yang menuliskannya di samping gambar yang dia buat.

Sejak dia bisa menggambar, semua kertas tak bisa aman dari coretannya. Bahkan draft cerita yang tengah aku garap penuh hasil olahan tangannya. Ah, biarlah, yang penting hobi dan kreativitasnya tersalurkan.

Setelah kupikir-pikir, mungkin aku harus menyuruhnya kuliah di seni rupa ITB juga. Mmmhhh….

Leave a Reply