Senyum Tuhan di Perempatan Jalan

Ini cerita tiga tahun lalu. Sehari setelah saya menerima honor pemateri, berangkatlah saya ke toko buku untuk melengkapi koleksi Anak Matahari Book Corner. Membeli buku selain sebagai investasi juga semacam menepati janji bahwa AMBC akan menjadi taman bacaan berisikan buku-buku sastra yang kompeten.

Sepulangnya dari sana, saya menumpang angkot Cicaheum – Ledeng untuk kembali ke Kebun Seni. Ketika angkot berhenti di lampu merah depan Baltos, ada seorang pengamen yang menyanyikan sebuah lagu (saya lupa judulnya), tapi saya masih ingat suaranya. Jika mau membandingkan, suaranya agak-agak mirip dengan Firman Idol tapi yang ini lebih bagus, petikan gitarnya pun enak di telinga. Satu lagi, dia tidak memakai embel-embel orasi yang menyebalkan seperti pengamen kebanyakan.


Honor yang saya terima tidak besar, tapi ada kesadaran bahwa di sana juga ada hak orang lain. Meskipun saya sudah membayar pajak kepada negara, sudah memenuhi kewajiban saya sebagai ibu sekaligus bapak kepada anak saya, sudah pula menyisihkan sebagian untuk orang tua saya, tapi saya masih yakin kalau rezeki yang saya terima juga pantas dibagi agar orang lain merasa bahagia.

Sisa uang saya hanya 20 ribu. Tiga ribu untuk ongkos angkot, sepuluh ribu untuk membeli makan, lima ribu saya berikan untuk sang pengamen bersuara bagus itu, sisa dua ribu saya simpan. Saya tahu bahwa uang dua ribu rupiah tidak akan cukup untuk makan saya esok harinya. Saya juga tahu bahwa uang lima ribu rupiah yang saya berikan pada pengamen itu tidaklah seberapa. Mungkin itu tidak akan cukup untuk mengganjal perut istri dan anaknya. Mungkin itu tidak akan bisa memenuhi biaya sekolah putra-putrinya. Saya tidak bisa membantu banyak, hanya itu yang mampu saya berikan.

Saat lampu berganti hijau, angkot pun kembali berjalan. Sang pengamen kembali ke trotoar, memindahkan uang kolekan ke saku bajunya. Ketika mendapati selembar uang lima ribuan, ia bersorak girang dan memamerkan kepada teman-temannya. Matanya jelalatan, mencari-cari saya di angkot yang tengah berjalan (ia tahu bahwa sayalah yang memberi uang itu). Saat mata kami berpapasan, ia memamerkan senyum paling riang sambil melambai. Lalu dari mulutnya tercetak frasa “nuhun”, kepalanya mengangguk dalam-dalam. Saya membalas senyumnya dari kejauhan sementara angkot terus saja berjalan.

Senyum itulah, kata-kata terima kasih dan teriakan bahagia itulah yang menghantarkan kehangatan ke dada saya. Hari itu saya merasa benar-benar menjadi manusia. Hari itu saya benar-benar merasa berguna. Ketika kita membuat orang lain berbahagia, saat itu pulalah kita telah membahagiakan diri kita sendiri, bukan?

*
Masih ingat kalau uang yang tersisa di kantong saya hanyalah dua ribu rupiah? Apakah saya lantas memikirkan akan makan apa? Tidak. “Makan apa hari ini” adalah pertanyaan yang tak pernah lagi saya ajukan sejak saya keluar dari kantor, keluar dari rumah, dan serius menulis. 

Maka ketika pagi keesokan harinya saya bangun dan merasa lapar, saya pergi ke depan, melewati penjual nasi bungkus langganan, menuju kios dan membeli secangkir kopi hitam. Karena memang uang dua ribu rupiah hanya cukup untuk itu. 

Saat lapar semakin melilit perut, yang bisa saya lakukan hanya tertawa dan berbahagia. Sebab ketika masih bisa merasakan lapar, itu artinya saya masih hidup.

Seperti yang sering saya katakan, ketika kita menitipkan diri kepada Sang Maha Kaya maka kita tidak akan pernah kekurangan apa-apa. Saat memutuskan untuk keluar dari kantor dan serius terjun di dunia penulisan, saya membuat semacam deal-deal-an dengan Tuhan. 

“Aku akan melakukan usaha sekuat yang aku bisa. Untuk itu, aku menyerahkan segala hasilnya ke tanganMu. Dan aku menitipkan diriku serta kehidupan putriku juga kepadaMu. Lakukanlah apa saja yang menurutMu terbaik bagi kami. Lakukanlah apa saja.”

Saya memang manusia banal, tak tahu cara paling tepat untuk berdoa. Tapi saya tahu bahwa Tuhan mengerti berbagai macam bahasa. Dan yang paling penting, saya menaruh rasa percaya kepadaNya melebihi kepercayaan saya terhadap siapapun. Bukankah kekuatan dari bertuhan adalah keimanan? 

Lapar semakin menggigit sementara tak sepeser pun uang untuk membeli makanan. Anehnya saya tidak lantas merasa khawatir ataupun getir. Toh, lapar bukan sesuatu yang harus saya lawan. 

Semakin siang, rasa lapar semakin tak tertahankan. Untuk meredam itu, saya mengingat kembali sebuah senyum yang saya dapat di perempatan jalan, senyum yang membuat si empunya bahagia, senyum yang juga membuat saya berbahagia. Jadi, meskipun lapar, saya tetap berbahagia.

“Tuhan, aku tahu Engkau ada,” gumam saya, masih dengan senyuman.

Sepuluh menit setelah gumaman itu, ponsel saya berdering, tanda ada pesan masuk. Anda ingin tahu isinya? Isinya adalah SMS dari seseorang yang mengabarkan bahwa dia telah mengirimkan sejumlah uang ke rekening saya sebagai honor karena saya membantunya mengerjakan sebuah proyek biografi. Padahal saya sudah lupa mengenai piutang honor yang satu itu. 

Saat itu juga saya tertawa, terbahak-bahak, bahu saya menandak-nandak. Bukan hanya karena jumlah kiriman honor yang jauh lebih besar daripada yang saya harapkan, tapi juga karena honor itu datang pada saat yang paling tepat. 

“Ya, Engkau memang ada.”

Saya kembali bergumam dengan desir yang kali itu lebih riuh karena ada buncahan rasa syukur yang tak dapat saya ukur. 

Ya, Tuhan memang ada.

16 Comments

  1. April 12, 2016 at 4:23 am

    Ahh, ternyata benar ya DIA ada …. 🙂

  2. April 12, 2016 at 4:27 am

    kisah hikmah yang mendalam

  3. April 12, 2016 at 4:37 am

    Yakinlah bahwa semuanya akan dicukupkan olehNya, self reminder buat saya ni mba 🙂

  4. April 12, 2016 at 5:52 am

    berkaca-kaca mata saya membacanya Mbak El..
    satu lagi contoh keajaiban memberi 🙂

  5. April 12, 2016 at 7:11 am

    Sungguh untaian kalimat yang sangat epik.. saya juga sudah benar yakin bahwa tuhan itu ada…

  6. April 12, 2016 at 7:49 am

    Dahsyat banget, teh 🙂
    Kejadian sederhana yang bakal selalu terkenang, ya.
    Karena momennya tepat banget.
    Membahagiakan orang lain memang bisa bikin kita bahagia.
    Sesederhana itu 🙂

  7. April 12, 2016 at 8:25 am

    menyentuh perasaan 🙂

  8. April 12, 2016 at 1:14 pm

    Kalau masalah doa, saya yakinnya sih, “doa yang manjur itu doa yang saya mengerti” Dan sampai saat ini pun juga seperti itu. 😀

  9. April 13, 2016 at 3:49 am

    Allah akan melipat gandakan sedekah kita yang ikhlas. Bentuknya bisa bermacam-macam…*mungkin followers yang makin banyak juga bisa

  10. April 13, 2016 at 8:58 am

    Menyentuh sekali mba..
    Sungguh.

Leave a Reply