Saya berdiri di depan etalase toko, memandangi sepasang sepatu seharga tiga ratus ribu, jumlah uang yang bisa dipakai untuk membayar setahun SPP sekolah saya. Bahkan untuk masuk dan menyentuh sepatu itu pun saya tak berani. Tokonya mentereng, berada di sebuah pusat perbelanjaan bergengsi di kota Bandung. Sembari berjalan pulang, saya berjanji akan mengumpulkan uang agar suatu saat bisa kembali untuk membeli.

Tapi, sepatu itu tidak pernah bisa saya beli. Hingga hari ini.

Peristiwa belasan tahun silam itulah yang meletupkan api hingga pada akhir tahun 2014 saya memutuskan untuk memulai sebuah usaha, berjualan sepatu. Sayangnya, memulai usaha tidak hanya cukup dengan tekad, tapi juga dengan modal, strategi, dan berbagai perhitungan. Iya, pada saat memulai usaha, saya memang tidak memiliki modal. Secara materi, modal yang saya miliki adalah nol. Namun, jangan pernah panggil saya Langit Amaravati, si perempuan tanpa rasa takut, jika kendala modal bisa begitu saja menghentikan saya.

Yang saya lakukan adalah melakukan riset, mencari model bisnis yang paling tepat bagi para pengusaha nekad seperti saya. Sembari riset, saya pun menginventarisasi aset-aset yang saya miliki. Ternyata tidak banyak, hanya laptop, smartphone, dan modem.

Maka sampailah saya pada model bisnis yang sudah booming beberapa tahun ini dan cocok untuk mereka yang ingin memulai tapi terkendala dengan modal: bisnis berbasis digital. Pada akhir tahun 2014, saya mulai membuka sebuah online shop yang diberi nama eL the Outfit. Tidak ada filosofi khusus mengenai nama yang saya pilih ini. eL berasal dari nama panggilan saya, the outfit berasal dari outfit of the day atau sering disingkat OOTD.

♥♥♥

Internet adalah sebuah keajaiban. Bagi seorang pengusaha, yang nekadan ataupun yang penuh persiapan, dunia digital adalah sebuah jejaring tanpa batas. Kita bisa terhubung dengan siapapun, dari bagian dunia mana pun. Marketing, promosi, bahkan penjualan tidak lagi menjadi kendala.

Fasilitas inilah yang kemudian saya jadikan modal dasar.

Mula-mula, saya memulai usaha dari menjadi drop shipper. Saya hanya perlu mencari supplier yang tepat, melakukan promosi, dan voila, mulai berjualan. Ada 3 portal digital yang sampai saat ini saya gunakan:

1. Facebook page
2. Instagram
3. Marketplace

MANFAAT PORTAL DIGITAL

Ketiga portal ini memiliki karakteristiknya masing-masing, baik dari segi fasilitas maupun dari ketercapaian audiens. Selama satu setengah tahun ini, saya terus-menerus menganalisis strategi marketing untuk mencapai target penjualan. But overall, berikut beberapa manfaat portal digital untuk kemajuan bisnis saya:

1. Tanpa Toko Fisik

Coba bayangkan sebuah toko tanpa bangunan berupa gedung, tanpa uang sewa, tanpa menyita ruang, tanpa biaya pemeliharaan. Bahkan untuk seorang reseller atau drop shipper, kita tidak perlu punya gudang untuk stok barang. Itulah yang dilakukan portal digital.
Dengan “membuka toko” di ketiga portal di atas, saya tidak perlu punya toko fisik karena toko fisik memerlukan efforts yang sangat besar. Untuk ketersediaan stok, setiap hari saya selalu cek ke supplier. Ada sih beberapa item yang saya simpan sebagai stok, tapi selebihnya saya masih mengandalkan supplier. Terus terang, sepatu memiliki risiko bisnis besar karena memiliki ukuran yang tidak bisa diganggu gugat. Memang, selisih ukuran sepatu hanya 0.5 cm, tapi tidak seperti baju yang all size atau bisa dikecilkan jika kebesaran, perbedaan 0.5 cm saja bisa membuat si pemakainya tidak nyaman.
Lagi pula, saya anak kos. Mau buka toko atau gudang di mana? Secara tidak langsung, portal digital telah menangani kendala saya yang satu ini.

2. Jangkauan

Internet tidak memiliki batas teritori, ingat? Produk-produk yang ada di online shop saya bisa dilihat dan dibeli oleh pembeli di seluruh dunia. Kalau saya mau, saya bisa berjualan sepatu sampai ke Antartika sana. Jasa ekspedisi? Oh come on, ada banyak sekali jasa ekspedisi yang menyediakan jasa pengiriman internasional. Sampai hari ini, saya sudah mengirimkan sepatu ke Meksiko, Malaysia, dan Singapura. Kalau di Indonesia, sepatu eL the Outfit sudah sampai ke berbagai pulau, bahkan ke Papua sana, lho.
So far, portal digital adalah media paling baik untuk marketing dan promosi. Satu, karena jangkauannya. Dua, karena kemudahan aksesnya. Tiga, karena biayanya lebih murah. Hari ini, ketika para pembeli mendambakan kemudahan dalam berbagai hal, belanja sepatu bisa dilakukan secara online. Mereka hanya tinggal membuka media sosial atau web, memilih barang, dan memesan. Semudah itu.
Itu sebabnya, diperlukan internet ultra cepat agar bisnis tetap lancar. Iya, tidak? Kan tidak lucu kalau misalnya ada yang cancel order gara-gara sayanya slowres.

3. Efektif dan Efisien

Hemat waktu, hemat tenaga, dan tepat guna. Portal digital memengaruhi kemajuan bisnis secara signifikan. Saya bisa melayani kustomer sambil ngemong anak, misalnya. Saya bisa mengunggah katalog produk di mana saja. Di angkot, di kosan, di taman.
Selain itu, karena mesin pencari dan media sosial dilengkapi dengan algoritma tertentu, jadi produk kita akan tetap ditemukan oleh calon pembeli yang tepat.

4. Sumber Daya Minimalis

Bisnis berbasis digital cocok untuk para entrepreneur yang memiliki kendala modal seperti saya. Jujur, dulu saya sempat ragu apakah berjualan sepatu online bisa berhasil. Tapi ternyata bisa. Modal yang saya perlukan pun bisa dibilang cukup minim.

Di Facebook Page, misalnya. Sekarang sudah disediakan fasilitas Store. Ini respons Facebook terhadap perkembangan dunia e-commerce. Biayanya pun cukup murah jika dibandingkan dengan membuat website.

5. Quality Control

Saya tidak tahu apakah pemilik online shop lain melakukan ini, tapi saya pribadi cenderung berhati-hati. Saat ini, saya hanya berjualan sepatu handmade Bandung karena alasan-alasan melankolis. Pertama, karena saya orang Bandung dan berjualan produk dari kota sendiri adalah bentuk dukungan saya terhadap produk lokal. Kedua, sepatu handmade adalah sepatu yang dibuat oleh tangan manusia, bukan mesin. Kalau Anda pernah berjalan-jalan ke Cibaduyut atau Cigondewah, Anda akan melihat betapa para pengrajin sepatu mengerjakan setiap pasangnya dengan penuh kebanggaan. Ketiga, meski model bisnis berbasis digital ini sudah sangat booming, masih banyak produk-prdouk Bandung yang belum mencapai target pasar global.
Berhubungan dengan kualitas, saya menerapkan semacam kebijakan dengan menerapkan standar kualitas yang parameternya saya buat sendiri. Jadi, tidak semua supplier sepatu yang ada saya ambil.

♥♥♥

Ingatan tentang sepatu yang tidak sanggup saya beli belasan tahun silam itu masih saya simpan hingga sekarang. Ingatan lainnya adalah tentang para perempuan berukuran kaki 41 ke atas yang menemukan sepatu favorit tapi kerap kali harus menelan kekecewaan karena tidak ada ukuran yang pas. Ukuran kaki saya 41, saya tidak punya banyak pilihan sepatu. Maka saya selalu bermimpi untuk membuat koleksi sepatu dengan brand saya sendiri.

Mimpi yang besar mengingat saya tidak punya banyak modal, bukan? Tapi jangan salah, mimpi itu telah berusaha saya wujudkan satu per satu. Setahun yang lalu saya sempat mengeluarkan koleksi sepatu docmart dan boots dengan merek eL The Outfit. Saya bekerja sama dengan beberapa pengrajin sepatu di Cibaduyut. Sayangnya, saya terpaksa menghentikan ini karena keterbatasan sumber daya. Memilih bahan upper, sol, desain, dan bolak-balik ke bengkel juga bukan pekerjaan yang sebentar.

Kendala lainnya adalah karena saya tidak punya kartu kredit sehingga sulit memanfaatkan fasilitas seperti Store yang ada di Facebook Page.

eL The Outfit Boots Collection

Iya, jika saya berhasil memenangkan kompetisi blog dari My Republic yang bekerja sama dengan Channel News Asia ini, saya ingin sekali meneruskan mimpi yang tertunda: mengeluarkan koleksi sepatu boots.

Kenapa boots? Ada beberapa alasan mengapa saya justru memilih boots:

  1. Karena boots bisa mendongkrak kepercayaan diri seorang perempuan, dan memang itulah yang ingin saya berikan kepada para konsumen. Tidak muluk-muluk, sebagai permulaan, saya kira tiga desain cukup sebagai debut (atau re-debut?).
  2. Menjawab tantangan pasar. Kedengarannya seperti jagoan, ya? Hahaha. Well, dunia fesyen berkembang setiap harinya. Indonesia memang bukan negara “pemakai” boots karena hanya punya dua musim, tidak seperti di luar negeri yang punya 4 musim. Tapi, boots sendiri sudah menjadi semacam fashion icon. Sayangnya, boots yang ada di toko-toko saat ini sering kali tidak terjangkau harganya, kalaupun ada kualitasnya tidak terlalu bagus. Kalau ada yang kualitas dan harganya seimbang, modelnya terlalu kaku sehingga tidak cantik ketika dipakai. Untuk itulah, saya ingin menggabungkan antara fesyen, daya beli, dan kualitas.
  3. Menjawab tantangan pasar bagian kedua. Banyak calon pembeli yang menanyakan tentang boots untuk musim dingin sementara saya tidak punya produk yang cukup aman dan fashionable. Jadi, selain model-model untuk negara 2 musim, eL the Outfit juga akan mengeluarkan “Winter Collection”. Sudah beberapa bulan ini saya hunting ke berbagai pengrajin. Tadinya sempat ingin membeli boots musim dingin terbaik dari toko di luar negeri sana untuk meneliti standar keamanannya.
Docmart produksi eL the Outift
Boots produksi eL the Outfit

Contoh Desain

Size Chart

Saya ingin membahas sedikit tentang size chart ini. Suatu hari, saya pernah menangani order seorang pembeli yang naksir berat dengan sepasang sepatu tapi tidak menemukan ukuran yang cocok, bukan kebesaran, melainkan kekecilan. Jika biasanya sepatu perempuan dewasa berukuran 36-40 (beberapa ada yang sampai 41), maka eL the Outfit akan memperluas jangkauan pasar dengan size chart 35-43. Jika di luar itu maka akan disediakan fasilitas made by order.

Bahan dan Kisaran Harga

Kunci kualitas sebuah sepatu sebetulnya bukan di pemilihan bahan upper, tapi di sol. Itu sebabnya saya ingin memperkuat di bagian ini.
  1. Sol sepatu-sepatu el the Outfit akan double layer: lem dan jahit, disesuaikan dengan model.
  2. Sebelum dilempar ke pasaran, setiap model akan di-test drive di setiap permukaan. Misalnya, apakah licin jika dipakai saat hujan, salju, di tanah, di aspal, keramik, dsb. Menurut saya ini penting karena meskipun setiap bahan sol memiliki karakter masing-masing, tapi tidak semua cocok di setiap permukaan. Contoh, sol fiber memang ringan, kuat, dan tidak licin. Tapi sepatu bersol fiber justru licin jika dipakai di atas salju. Juga kurang cocok jika dipakai ketika hujan karena akan cepat rusak.
Untuk bahan upper, saya akan memprioritaskan nubuck dibandingkan suede karena nubuck lebih tebal, tidak cepat menyerap air, dan mudah dirawat. Kenapa tidak kulit sintetis biasa? Kulit sintetis biasa menyebabkan sepatu cepat mengelupas jika dipakai terus-menerus atau jika tidak dirawat dengan benar. Kenapa tidak kulit asli? Karena harganya mahal. 😀
Saya ingin setiap perempuan bisa memakai boots berkualitas tanpa terkendala oleh harga. Jadi, produk-produk eL the Outfit akan berada di kisaran 250-500 ribu. Lebih murah dari itu akan membuat pembeli ragu dengan kualitasnya, lebih mahal dari itu akan mempersempit daya beli.

Strategi Marketing

Mempertimbangkan efektivitas, saya tetap tidak akan membuka toko offline. Marketing akan saya lakukan online dan offline, sedangkan penjualan akan tetap online.
Ada satu hal yang highlight dari strategi marketing ini. eL the Outfit tidak akan menjual produk, tapi menjual rasa percaya diri dan gaya hidup. Saya akan fokus kepada branding, menggiring opini pembeli dan calon pembeli. Ini bukan konsep baru, sebetulnya. Karena konsep ini sudah lama dilakukan oleh brand-brand besar. Misalnya, sepatu olah raga merek A yang harganya jutaan sampai-sampai banyak dipalsukan. Ketika ada orang yang memakai merek A asli, orang lainnya akan berkomentar, “Wuih, keren banget sepatu lu, Bro.”

Strategi Marketing Offline

Pemerintah sudah memberikan lampu hijau untuk para pengusaha berbasis produk lokal. Ini yang akan saya manfaatkan. Marketing offline yang akan saya lakukan adalah:
  1. Ikut pameran.
  2. “Menitipkan” display di SMESCO.
  3. Marketing word of mouth.

Strategi Marketing Online

Jujur, saya paling benci online shop yang rajin nyepam, rajin nge-tag, atau nge-BC. Jadi strategi itu akan dilepaskan dari daftar. Ke depannya, saya akan menggunakan beberapa platform digital sebagai berikut:
1. Website
Sebetulnya, website tidak efektif untuk penjualan karena orang lebih suka berbelanja via marketplace jika harus belanja di website. Website akan dibuat untuk alasan branding. Sometimes, karena tidak ada website-nya, orang selalu mengira bahwa itu adalah brand abal-abal atau kurang kredibel.
 
2. Media Sosial
Facebook Pages untuk display dan order. Twitter untuk display dan meng-kover anak-anak Twitter yang biasanya tidak punya Facebook. Dua akun Instagram, yang satu untuk branding, yang satu untuk katalog.
Selama ini, media sosial efektif untuk marketing, juga mudah diintegrasikan antara satu sama lain.
3. Sponsored Post
Di dunia digital, blogger dan para influencer adalah lini depan marketing. Meng-hire mereka untuk mereview produk bukan hanya berfungsi sebagai media marketing, tapi juga bisa meningkatkan penjualan.
Untuk itu, saya akan mengirimkan sepasang sepatu untuk direview juga memberikan honor. Yaaa … minimal 500 ribu per post. Artis sebagai brand ambassador? No, I don’t think so. 
4. Digital Advertisement
Facebook adds, Twitter adds, Instagram adds, dan Google adds. Hari ini nyaris semua portal sepertinya punya space untuk iklan. Bujetnya pun cukup murah.
5. Marketplace
Saya akan bergabung dengan salah satu marketplace yang sekiranya memiliki jangkauan pasar sesuai target produk saya dan terpercaya. Kenapa tidak membuat aplikasi sendiri? Mas, Mbak, kalau semua e-commerce mengeluarkan aplikasi sendiri, bisa Anda bayangkan bagaimana nasib smarthpone orang-orang?
Khusus untuk marketplace, desainnya akan dibuat ekslusif sehingga tidak (apa ya istilahnya?) tidak terjadi konflik. Jadi, produk A hanya bisa dibeli di toko online saya sedangkan produk B hanya bisa dibeli di marketplace tersebut.

Strategi Penjualan

Karena penjualan tetap berbasis online, maka order akan dipusatkan ke:

  1. Website
  2. Facebook Pages
  3. WA
  4. Line
Saya sengaja mengeliminasi BBM karena pamornya yang sudah menurun dan sering mengalami kendala teknis. Tidak juga SMS karena sulit mengirimkan gambar.
Strategi penjualan lainnya ada pada pengemasan. Setiap perempuan yang membeli sepatu dari eL the Outfit akan diperlakukan secara istimewa. Caranya? Dengan membuat seolah-olah mereka tengah menerima kado.
1. Kemasan

Dus sepatu akan didesain secantik mungkin. Karena ini dikirim via ekspedisi, juga akan dilengkapi dengan plastik pembungkus yang keren.

Kemasan boots eL the Outfit
2. Kartu Ucapan
Setiap sepatu akan disertai dengan secarik kartu ucapan.
3. Special Gift
Saya kerap mendapatkan order untuk hadiah ulang tahun. Karena tahu saya penulis, beberapa pembeli meminta saya untuk menuliskan puisi atau ucapan selamat ulang tahun. Jadi, eL the Outfit akan menyediakan layanan “Special Gift”. 
4. Fashion Consultant
Percaya atau tidak, seorang perempuan menghabiskan waktu sekitar 3 hari sebelum dia memutuskan akan membeli sepatu yang mana. Selama berjualan, saya sudah kenyang menghadapi calon pembeli yang bertanya dari A-Z mengenai bahan, atau dari A-Z mengenai model apa yang paling bagus untuk dirinya, ada juga yang bertanya dari A-Z tentang hal-hal yang mungkin saja tidak pernah Anda bayangkan.
That’s why, eL the Outfit tidak akan menempatkan diri sebagai penjual, tapi sebagai teman. Calon pembeli bebas melakukan konsultasi dan meminta pertimbangan. Karena, tidak semua calon pembeli familiar dengan karakteristik bahan-bahan sepatu jadi sudah kewajiban saya untuk mengedukasi.
Misalnya, pernah ada pembeli yang ingin sepatu boots model tertentu yang akan dipakai ke negara lain saat musim salju. Saya sudah memberi tahu bahwa boots model itu tidak cocok karena bahannya yang mudah menyerap air dan solnya yang licin. Maka saya mengarahkan dia ke model lain yang cocok untuk cuaca bersalju.

♥♥♥

Dengan estimasi modal sebesar 7 juta rupiah, saya akan mengalokasikan dana tersebut untuk biaya produksi, biaya overhead, dan biaya pemasaran. Sedangkan untuk biaya administrasi, gaji saya (gaji?), dan pembuatan foto katalog berasal dari investasi saya pribadi.

Biaya Produksi Langsung

Karena saya tidak punya bengkel sepatu sendiri, maka untuk produksi akan bekerja sama dengan pengrajin sepatu di Cibaduyut atau Cigondewah. Biaya produksi per unit berbeda, tergantung model dan ukuran. Untuk sepatu ukuran 41 ke atas memang dikenakan kelebihan biaya sebesar 25 ribu rupiah.

Disesuaikan dengan besaran modal, maka yang bisa saya buat adalah 3 seri model sepatu (size 35-43). Jumlahnya ada 27 pasang sepatu. Detailnya bisa Anda lihat pada tabel di bawah ini:

Biaya Overhead

Yang dimaksud dengan biaya overhead tetap adalah pembuatan dus sepatu dan hang tag. Karena di percetakan ada kebijakan minimum order, saya tidak bisa hanya membuat 27 dus sepatu dan hang tag. Biaya overhead variabel adalah biaya transportasi untuk mencari bahan baku, dari dan ke bengkel, pengangkutan, dll.

Saya sengaja membuat dua macam biaya overhead agar mudah menghitung bujet. Ada biaya overhead A dan overhead B untuk menghitung Harga Pokok Produksi (HPP). Biaya overhead akan dibebankan kepada produk sehingga memengaruhi harga jual. Detailnya sebagai berikut:

Harga Pokok Produksi (HPP)

Setelah diketahui besar biaya produksi langsung dan biaya overhead, bisa diketahui Harga Pokok Produksi (HPP) per unit dan HPP secara keseluruhan. Bisa Anda lihat bahwa saya tidak lagi membaginya per item melainkan per harga produksi langsung karena ada beberapa sepatu yang memiliki harga sama meski desain dan ukurannya berbeda.

HPP per unit berfungsi untuk menentukan harga jual, sedangkan HPP keseluruhan untuk perhitungan rugi laba.

Harga Jual

Untuk menentukan harga jual, rumusnya adalah = HPP x 150%. Kok 150%? Ini rumus standar sih. Lagi pula nanti akan dikurangi dengan biaya pemasaran. Jadi harga jual setiap model adalah sebagai berikut:

Estimasi Penjualan dan Laba

Dengan estimasi bahwa seluruh sepatu terjual habis, maka akan didapatkan penjualan sebesar Rp8.725.500. Tadi berapa harga produksinya? Lima jutaan ya? Untung, dong. Yaiyalah, kalau rugi melulu mana mau saya bikin usaha? Hahaha.

Kesalahan yang selama ini saya lakukan adalah menghitung laba tanpa memperhitungkan biaya pemasaran dan biaya operasional. Itu yang membuat para UKM gulung tikar. Karena sekarang saya sudah tobat, maka biaya pemasaran akan dibebankan kepada hasil penjualan. Seperti yang Anda baca sebelumnya, hanya biaya pemasaranlah yang dimasukkan ke perhitungan rugi laba karena biaya seperti administrasi dan pembuatan katalog diambil dari investasi tenaga saya sendiri.

Sebetulnya ini agak kurang elok sih, tapi karena saya harus menyesuaikan bujet sebesar 7 juta rupiah itu tadi, mari kita berkompromi. Laba bersih 2 juta rupiah? Untuk permulaan, saya kira ini cukup menggembirakan. Rencananya, dari laba bersih ini akan diputar kembali untuk biaya produksi selanjutnya.

Rincian Bujet

Dari bujet sebesar 7 juta rupiah, masih ada sisa dana sebesar Rp121.000,- yang akan saya simpan sebagai aktiva lancar, katakanlah uang kas. Selain itu, saya juga masih punya persediaan dus dan hang tag sebanyak 73 buah (dengan anggapan bahwa tidak ada kerusakan).

♥♥♥

Bisnis di bidang fesyen, terutama sepatu, adalah bisnis yang unik karena itu tadi, sepatu “dibatasi” oleh ukuran. Estimasi penjualan yang saya buat di atas adalah estimasi “rough draft”. Pada praktiknya, bisa saja yang laku malah ukuran 38-39 saja, atau hanya ukuran 41. Bagaimana cara menangani ini? Bisa dengan dua cara:

  1. Membuat demografi calon pembeli. Saya punya data customer list, bisa dilihat ukuran sepatu yang biasanya mereka pesan. Dari data itu, saya bisa membuat hanya ukuran sepatu yang paling banyak dipakai. Misalnya, hanya membuat ukuran 38-40.
  2. Metode made by order. So far ini selalu berhasil, yang perlu saya lakukan adalah membuat sample, membuat katalog, melempar sepatu ke pasaran, lalu membuka order. Jadi, sepatu hanya dibuat berdasarkan pemesanan.

Selain hal-hal di atas, sebetulnya saya ingin sekali membahas tentang manajerial, tertib administrasi, dan teknik komunikasi massa. Tapi postingan ini sudah sangat puanjang. Jadi saya cukupkan sekian.

Saya sadar, menjadi seorang entrepreneur dibutuhkan kegigihan dan kesabaran. Namun, sebuah mimpi ada untuk diwujudkan. Dunia digital telah memberikan jalan yang begitu lapang. Pemalas namanya kalau saya tidak memanfaatkan jalan lapang itu.
Suatu hari, tidak akan ada lagi perempuan yang berdiri di depan etalase toko dan pergi dengan patah hati karena ia tidak sanggup membeli sepasang sepatu yang ia inginkan. Suatu hari, setiap perempuan akan bisa mengenakan sepatu bagus dan berkualitas, tapi dengan harga yang terjangkau.
It’s my dream, what’s yours?
Salam,
~eL

23 Comments

  1. July 18, 2016 at 8:54 am

    Keren, tema-nya dapet banget, juara 1 nih, amin 🙂 Dan, kreatif banget, bisa buat sepatu, moga bisa bikin pabrik sepatu ya Mbak eL, biar ekonomi masyarakat sekitar lebih terangkat, semangatt…..

  2. July 18, 2016 at 12:52 pm

    Aamiin. Semoga suatu hari nanti bisa membuat pabrik sepatu. 🙂

  3. July 18, 2016 at 1:53 pm

    Komplit dan bisa jadi panfuan lengkap buat pemula dropshipper ni. Aku sempat bisnis berbasis ds tp mandek. Utg ds modal dikit jd gak gelo2 bgt.

  4. July 18, 2016 at 1:55 pm

    Teteeeeh…
    Ada quote indah di drama korea yang berisi : sepatu yang indah akan membawamu ke tempat yang indah pula 🙂

    Dan aku percaya hal itu :))

    Sukses terus yah Teeeeh!

  5. July 19, 2016 at 4:52 am

    Ulasannya komplit, Teh. Ngomong-ngomong, intronya bikin saya merasa tertampar karena sempat ngelongok fanpage El The Outfit untuk lat-liat sepatu dan akhirnya cuma bisa ngelus dada. “Sepatu anak-anak dululah.” Anak saya dua-duanya masuk sekolah tahun ajaran ini. Hehehe…

    Btw, kalo boot-nya sudah jadi saya pesen satu untuk istri 😀

  6. July 19, 2016 at 7:31 am

    Walau dropshipper tetep ada risiko bisnis sih sebetulnya, cuma memang ga sebesar kalau kita bikin brand sendiri.

  7. July 19, 2016 at 7:32 am

    Komen kamu meuni indah, aku jadi terharu.

  8. July 19, 2016 at 7:33 am

    Siap, nanti dikabari kalau boots ketjehnya udah ada. 😀

  9. July 19, 2016 at 11:33 am

    Ulasannya lengkap dan bisnis oriente.Semoga menang lombsnys

  10. July 20, 2016 at 5:25 am

    Aamiin. Makasih udah mampir, Mbak. 🙂

Leave a Reply