Ketika memutuskan untuk membuka online shop eLTheOutfit akhir tahun 2014 silam, tak banyak yang saya harapkan. Waktu itu saya hanya ingin agar smartphone pertama yang saya beli dapat berfungsi lebih dari sekadar jadi alat komunikasi. Alasan lainnya, tentu saja ekonomi. 

Saya orang yang tidak pandai jualan, bertahun lalu pernah membuka berbagai macam usaha dari mulai berdagang nasi kuning, lotek, sampai warung jajanan pasar. Tak ada yang bertahan lama, semuanya bermuara kepada hal yang sama: bangkrut. 

Namun, seperti yang pernah dikatakan seseorang, fase hidup manusia dibagi per dekade, dan hidup seorang perempuan dimulai pada usia 30-an. Ia benar, setelah selama berpuluh tahun saya menanamkan stigma di dalam kepala, di usia kepala tiga inilah saya berani mengambil keputusan-keputusan di luar kebiasaan yang kelak berpengaruh besar terhadap hidup saya.

Ketika mulai menjadi reseller, saya hanya punya modal nol. Saya tidak punya database supplier, tidak punya channel ke reseller lain, tidak tahu apa-apa tentang mekanisme bisnis dan tetek bengeknya. Saya hanya tahu bahwa ingin berjualan sepatu khusus brand lokal Bandung. 


KENAPA SEPATU?

Iya, kenapa sepatu? Kenapa bukan yang lain? Ada dua alasan yang barangkali begitu melankolis jika dilihat dari sisi bisnis. Pertama, karena ketika remaja saya pernah ingin membeli sepasang sepatu basket seharga 300 ribu rupiah. Sepatu basket yang gambarnya saya tempel di buku harian. Sepatu yang sampai bertahun-tahun kemudian tidak pernah bisa saya beli. Karena? Karena harga sepatu itu sama dengan biaya SPP saya selama setahun dan memintanya kepada orang tua sama dengan menjejalkan duri ke dalam kerongkongan mereka. Tidak, saya tidak pernah tega. Maka sepatu basket itu hanya menjadi gambar di dalam buku harian. 

Jadi setiap kali saya mengirimkan sepasang sepatu kepada konsumen, saya tidak pernah menganggap bahwa itu hanya sepasang sepatu. Saya menganggapnya sedang mengirimkan sekotak kebahagiaan.

Kedua, kaki adalah salah satu bagian tubuh saya yang anomali. Tinggi saya hanya 155 cm, tapi ukuran sepatu saya 41. Bukan sekali dua kali saya harus menelan kekecewaan ketika ingin membeli sepatu. Ada model yang cocok, eh tidak ada ukuran. Ukuran kaki saya sering menjadi bahan bercandaan dari mulai teman-teman, saudara, sampai pramuniaga. 

Itu sebabnya mengapa selain menjadi reseller, saya juga berekspansi ke custom shoes, agar para perempuan yang memiliki kaki di atas size 40 bisa membuat sepatu pilihan mereka. 


KENAPA PRODUK LOKAL?

Dalam perjalanan mencari supplier, saya dipertemukan dengan para pengrajin sepatu di Cibaduyut. Saya duduk bersama mereka, saling bertukar cerita, melihat langsung proses produksinya. Jika Anda duduk bersama saya ketika itu, Anda akan melihat betapa mereka bangga dengan sepatu hasil buatannya. Filosofi sepatu akhirnya berubah, dari yang semula sekadar alas kaki, menjadi sesuatu yang lebih berarti. 

Itu satu alasan. 

Alasan keduanya adalah karena selama bertahun-tahun menjadi shipping officer di pabrik-pabrik yang memproduksi merek luar, saya mulai merasa muak. Muak dengan serbuan produk impor yang menjadikan 240 juta rakyat Indonesia hanya sebagai pasar potensial. Objek yang dicuci otak dengan merek. Sialnya, produk-produk pabrikasi Indonesia dijual untuk pangsa pasar Eropa, sedangkan kita kebagian produk pabrikasi Asia yang notabene masih mengalami masalah dengan perburuhan. 

Saya hanya satu orang dalam belantara penduduk Indonesia. Tak banyak yang bisa saya perbuat. Ikut serta mensosialisasikan dan menjual produk-produk lokal yang berkualitas saya anggap sebagai kontribusi nyata terhadap perekonomian bangsa sendiri. Iya, ini mungkin langkah yang renik. Tapi masih lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa sama sekali. 

Alasan ketiga. Yang saya lihat selama ini, UMKM dan produk fesyen lokal hanyalah wacana yang pada akhirnya ditunggangi kepentingan-kepentingan politis dan bisnis. Isu yang terus-menerus digoreng di dalam kebijakan ekonomi. Pemerintah, dengan berbagai macam regulasi yang ada, menganggap produk lokal berbasis UMKM sebagai balita yang harus disenangkan hatinya dengan mainan krincingan, tapi di sisi lain produk-produk impor tetap membanjiri pasar. Kalau bertarung di ranah kualitas mungkin tidak masalah, sayangnya kebanyakan produk lokal kolaps karena tidak sanggup bertarung di masalah harga. 

Alasan keempat. Kita selalu bangga ketika ada produk lokal yang berhasil menguasai pasar dunia. Pertanyaan besarnya adalah, kalau bisa menguasai pasar dunia, mengapa di negeri sendiri produk-produk lokal ini malah menepi? 

Alasan kelima. Kita ini bangsa kanibal. Sampai tahun 2015, Indonesia masih termasuk negara priority watch list dalam Annual Special 301 Report on Intellectual Property Rights yang dilansir oleh United States Trade Representative (USTR). Untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik, kita menduduki peringkat kedua terkait isu pelanggaran HKI atau Intelectual Property Rights (IPR) dan penyalahgunaan merek baik merek internasional maupun merek lokal. Yang pertama adalah China, yang ketiga Thailand. Produk  yang dimaksud di antaranya sepatu, pakaian, dan tas. Seperti yang kita tahu, dunia fesyen di Indonesia sudah lama disemaraki oleh produk “jadi-jadian”. Labelnya pun bermacam-macam, ori Vietnam, KW 1 sampai KW sekian, replika, bajakan, imitasi. dan sebagainya.


Luar biasa, bukan? Luar biasa memalukan, maksud saya.

Tak usahlah ngobrol soal Nike dan Adidas, dua merek sepatu yang paling banyak dipalsukan, Cheetah dan Eiger yang notabene produk lokal banyak juga kok yang dipalsukan. Sialnya, produk-produk ini laku di pasaran. 

IMHO, harga dan daya beli masyarakat bukan alasan untuk membeli produk-produk palsu. Memangnya harga sepatu safety Cheetah yang asli berapa sih? Jutaan? Tidak, harganya dimulai dari 250 ribu, masih lebih mahal sepatu Nike KW. 

KENAPA HANDMADE?

Bandung punya banyak produk lokal pabrikan, sebetulnya. Tapi saya memilih untuk menjual sepatu-sepatu handmade yang dibuat oleh tangan manusia, satu per satu, bukan dibuat oleh mesin. 

Kenapa? Karena kalau saya “bergerak” di ranah industri besar, apa kabar nasib para pengrajin sepatu yang pernah saya temui itu? Kalau saya betul-betul ingin berkontribusi nyata terhadap perekonomian bangsa sendiri, kota saya sendiri, ya ngapain saya harus “membantu” industri-industri besar? Mereka sudah punya mekanisme dan strategi pasar yang tidak perlu lagi saya khawatirkan, pun orientasi mereka hanya bisnis, bukan lagi membuat sepatu karena memang cinta. 

Kualitas. Sepatu-sepatu handmade memiliki kualitas yang lebih bagus daripada sepatu pabrikan. Lagi pula, ada unsur human touch yang menjadikan sepatu bukan sekadar alas kaki itu tadi.  

Banyak sekali pengalaman-pengalaman berharga yang memperkaya sekaligus menjadi bekal keahlian. Dari mulai tertipu supllier sampai “dikhianati” reseller lain yang sialnya teman saya sendiri. Saya akan dengan senang hati membaginya, sayangnya mungkin tidak sekarang karena postingan ini sudah terlalu panjang.  

Yang jelas, motivasi awal ketika saya memulai bisnis ini lambat laun berubah. Sepatu bukan lagi objek ekonomi, sepatu memiliki filosofi yang lebih berarti, setidaknya bagi saya. Saya tidak ingin mengantarkan barang kepada pembeli, melainkan mengantarkan kebanggaan para pengrajin, menghantarkan kebahagiaan. 

Salam,
~eL

12 Comments

  1. May 21, 2016 at 10:51 pm

    Dalam ini, Chan.
    Fakta banget itu.
    Butuh perenungan. *lalu merenung*

  2. May 22, 2016 at 1:21 am

    Semoga befkah usahanya ya teteh…:)

  3. May 22, 2016 at 2:05 pm

    Saya pernah nanya sama produsen jaket yang make merk orang lain buat dijual ke Pasbar, parahyangan, dan tanah abang. Pas saya tanya kenapa nggak bikin merk sendiri aja, dia jawab “kalau pake merk sendiri yang beli sedikit teh.. Padahal harganya saya samain..” 🙁
    Jadi kalo ada produk “Jadi-jadian” mungkin sebagian kesalahan ada dipara pembeli ya teh 😐

  4. May 22, 2016 at 3:14 pm

    saya waktu kuliah juga jualan kak lewat online.agak repot kalo jalanin sendiri.tapi kalo diseriusin lumayan juga

  5. May 22, 2016 at 3:49 pm

    Semoga berkah Teh usahanya… Banyak merenung nih dri tulisan-tulisannya. Oia, saya udah beli buku yg pernah direview teh langit. Karya mas Vabyo, Kedai 1001 mimpi…Asli teh, kerennnnn… Deg-degan saya bacanya….Hahhahhaha

  6. May 23, 2016 at 3:16 am

    Jangan lama-lama Bu merenungnya. Hahaha.

  7. May 23, 2016 at 3:18 am

    Aamiin. Nuhun, Nay. 🙂

  8. May 23, 2016 at 3:19 am

    Iya, My. Pembeli juga harus diedukasi.

  9. May 23, 2016 at 3:21 am

    Ternyata jualan online itu nggak bisa nyambi, ya? Harus fokus.

  10. May 23, 2016 at 3:22 am

    Kan, buku itu seru kan? 😀

Leave a Reply