Sepatu Ungu untuk Ziarre

Saya berdiri di depan toko dengan badan canggung dan wajah mendung. Bukan, bukan karena toko di depan saya itu tidak memiliki apa yang saya inginkan. Bukan karena barang-barang yang ditawarkan tidak sesuai dengan bayangan. Bukan karena itu.

Di toko perlengkapan bayi tersebut, berjejer berbagai barang yang bisa membuat semua perempuan tiba-tiba ingin menjadi seorang ibu. Popok, gaun, mainan, sepatu, apa saja ada. Tapi mata saya terpaku pada sepasang sepatu ungu berpita yang dipajang di etalase. Saya sedang membayangkan kaki kecil putri saya tengah memakainya. Saya lalu membayangkan bahwa kami akan pergi ke taman bermain; dia berteriak-teriak riang dan saya tertawa senang.

Tapi saya tidak berani masuk.

Di dalam sana, berkeliaran banyak sekali perempuan seperti saya. Tapi wajah mereka terang seperti matahari yang membuat saya silau. Beberapa memilih perlengkapan bayi ditemani oleh pasangannya masing-masing sehingga ‘pertengkaran’ kecil mereka terdengar keluar. Mereka ribut soal warna, soal fungsi, soal apa saja yang terbaik bagi calon bayi mereka. Demi Tuhan, saya ingin sekali tuli saat itu juga. Beberapa perempuan ditemani keluarga yang lain; ibu, adik, kakak, atau anak sulungnya. Barangkali suami mereka tengah bekerja atau bertugas ke luar kota.

Sedangkan saya hanya sendirian. Hanya sendirian.


“Ada yang bisa saya bantu?” seorang pramuniaga yang berpakaian seperti baby sitter berdiri di pintu toko, memandangi saya dengan rasa iba yang nyaris membuat saya gila.

“Sepatu ini,” jemari saya mengetuk-ngetuk kaca. “Untuk bayi umur berapa bulan?” suara saya terbata-bata, bersaing dengan udara dan sakit yang menghunjam dada.

Dia tersenyum. “Untuk 3 sampai 5 bulan.”

Jadi tidak bisa dipakai untuk berjalan dan bermain di ayunan? Pikir saya.

“Berapa usia bayi Ibu?” ia berjalan mendekat.

“Tujuh minggu, masih di dalam sini,” jawab saya menunjuk perut yang kian menggembung.

“Dan Ibu sudah mau membeli sepatu bayi?” ia keheranan, tapi wajahnya menunjukkan jutaan pemakluman.

Saya mengangguk. “Saya hanya ingin memiliki teman,” suara saya ditelan geleguk. Mata saya bahkan sudah berkaca-kaca.

“Mau masuk dan melihat-lihat yang lain?” dia melangkah lebih dekat.

Saya ingin sekali masuk, melihat, menyentuh, membeli semua barang yang akan dibutuhkan Zi nanti. Tapi di dalam sana ada banyak perempuan dengan raut wajah bahagia yang membuat saya ingin sekali muntah. Di dalam sana banyak perempuan yang ditemani suaminya. Di dalam sana banyak perempuan yang sedang berbahagia sedangkan saya tidak. Saya tidak ingin masuk. Tidak ingin.

“Di dalam sana banyak sepatu yang bisa dipilih, lho,” dia membujuk.

Gelengan kepala saya semakin kuat. Tangan saya mengusap-usap perut untuk meyakinkan diri bahwa saya tidak sendiri. Ada Zi dalam rahim saya. Ada Zi yang menemani saya.

Pramuniaga itu menelengkan kepala, mengamati raut wajah saya.

Saya menghela napas dan mengembuskannya dengan pelan namun terasa begitu menyakitkan. “Nanti … saya kemari lagi,” sebuah senyum pura-pura saya hantarkan. “Nanti … saya ke sini bersama … suami.”

Pramuniaga di depan saya tersenyum, mengangguk mahfum.

Perlahan, saya mundur dari depan etalase meski mata saya masih terpancang pada sepatu ungu berpita itu. Perlahan, saya mencabuti duri di dalam hati. Perlahan, saya beranjak pergi.

“Nanti, aku akan ke sini dan membeli sepatu bayi bersama suami.”

Kalimat di atas saya ucapkan di dalam hati, bersama doa tiada henti, bersama tangis yang berusaha saya tahan agar tak keluar. Ya, barangkali saya akan membeli sepatu bayi itu suatu hari nanti, bersama suami yang … tidak pernah saya miliki.


(Bandung, 8 Juni 2013)

Leave a Reply