SEPERTI YANG BIASA AKU LAKUKAN

Terkadang ia menyamakan dirinya seperti kantong pasir latihan tinju. Diam saja dipukuli dan dihantam kepalan tangan. Bahkan sesekali tendangan.

Ia ingin sekali berteriak bahwa dirinya kesakitan. Tapi tak bisa. Mulutnya terbungkam. Sebab ia tak punya siapa-siapa. Tak punya apa-apa.

Kekerasan yang ia terima hanya ditelan sendiri. Maka ia meranggas dalam sepi dan sakit tak terperi. Selamanya menjadi perempuan yang dianiaya laki-laki.

Aku ingin sekali menyadarkannya dan menyuruh ia bangun dari mimpi buruk itu. Namun akupun terkungkung dalam tengkorak kepalanya. Tak punya raga agar bisa memapahnya ketika sering ia berjalan terpincang-pincang sebab tulang kakinya retak akibat diinjak-injak. Aku pun tak punya tangan untuk merengkuhnya kala ia tergugu di sudut kamar dengan badan remuk redam. Atau membelanya sewaktu ia dihina sebagai ‘lonte’ tak tahu terima kasih hanya karena bertanya sms dari perempuan mana tadi kepada suaminya, sebab aku tak punya mulut untuk bicara.

Aku tahu ia menderita, tapi aku bisa apa? Ia pun tak pernah berani menanyakan lagi kemana suaminya pergi hampir setiap malam. Ia hanya menahan sakit itu sendiri sewaktu suaminya bersama perempuan lain sementara ia sendiri meringkuk di sudut kamar, bergelimang darah yang terus keluar dari hidungnya akibat kelainan trombosit yang ia derita. Maka akupun menemaninya, ikut meringkuk di dalam tengkorak kepalanya.

Sebenarnya ia ingin pulang, tapi kemana? Satu-satunya rumah yang ia punya telah digadaikan.

Lalu ia kembali dipukuli tadi malam. Hanya karena meminta uang 7.500 untuk membeli mie ayam yang sudah lama ia idam-idamkan. Karena ia sudah lelah untuk memasak makan malam setelah seharian mencuci segudang pakaian, beres-beres rumah meski dengan kaki terpincang-pincang dan tangan kiri yang tak bisa berfungsi baik bekas kecelakaan. Sementara sang suami hanya kelayapan.

Malam tadi aku tak lagi bisa diam. Kudesak diriku keluar dari tengkorak kepalanya dan meneriakkan serapah yang sekian lama ingin kumuntahkan. Kupinjam mulutnya untuk mencaci laki-laki suaminya itu. Kupakai tangannya, kulemparkan berbagai benda ke arah laki-laki itu. Meski akhirnya kami dipukuli lagi, tapi setidaknya kami tak hanya diam, melawan dengan sekuat tenaga bersama-sama.

Sampai kemudian ia menarikku dan memaksaku kembali masuk dalam tulang tengkoraknya. Ia pun menangis di sudut kamar, seperti yang biasa ia lakukan. Aku pun kembali menemaninya, di sudut tulang tengkorak kepalanya, seperti yang biasa aku lakukan.

Leave a Reply