Septimus Heap The Series

Seperti yang sudah sering kali terjadi, pertemuan saya dengan buku bisa diibaratkan seperti jodoh; datang tak dijemput pulang tak diantar. Lho? Kok serasa ada yang salah? Heheh …. 

Sebetulnya, saya sudah lama bertemu dengan buku pertama seri ini; Magyk di sebuah rental buku sekitar dua tahun lalu. Ya, sering kali saya menimang buku ini untuk dipinjam, tapi selalu gagal dan saya pulang membawa buku-buku lain. Waktu itu saya sedang keranjingan novel-novel supsense dan thriller sehingga agak kurang tertarik pada fiksi fantasi, termasuk kepada buku ini. Nah, kira-kira dua minggu yang lalu, di tengah petualangan mencari sebuah majalah, akhirnya saya ‘tersesat’ dan berhenti di rental buku tempat saya sering meminjam. Rental buku ini sudah tutup tahun lalu untuk alasan yang tidak saya ketahui. Eh ternyata saat itu rental buka dan saya masuk. Saya pikir rental buka kembali, tapi saya salah. Rental buku itu berganti kepemilikan. Saya pun kembali mendaftar dan membawa Magyk dan beberapa komik pulang. 

Mula-mula saya memang agak berkecil hati meski di kover belakang buku disebut-sebut sebagai pengganti Harpot dan semacamnyalah. Well, mula-mula menurut saya itu agak berlebihan, dan memang berlebihan. Septimus Heap membawa warna tersendiri, agak berbeda dengan Harpot. Meski yang ini tidak sekelam Harpot, tapi saya berani mengatakan bahwa Harpot tetap berada di urutan paling atas untuk buku di genre yang sama. Ah, sebetulnya saya tidak mau membahas isi buku secara keseluruhan. Itu nanti saja untuk resensi.



Ada yang menarik di dalam buku ini; ilustrasi. Ya, ilustrasi yang dimuat oleh Mark Zug begitu saja membuat saya tersihir. Bukan ilustrasi wah menggunakan teknologi tinggi. Justru ini adalah ilustrasi berupa sketsa menggunakan pensil. Tahu tidak? Setelah membaca Magyk, saya mulai menggambar lagi, membeli buku sketsa dan berburu pensil dengan berbagai ketebalan. 

Pertemuan yang membawa pertemuan, begitu saya menyebutnya. Pertemuan saya dengan Magyk ternyata juga memertemukan saya dengan dunia saya saya yang lain; sketsa. Ya, sebagai penggila buku, maka saya pun mulai berburu buku-buku lainnya. Hingga saat ini, baru dua buku yang saya miliki; Physik dan Queste. Karena ini buku-buku lama, maka saya harus mencari lebih keras untuk melengkapi koleksinya. 

Ada semacam firasat (lebay) atas ketertarikan saya terhadap buku-buku di genre ini, suatu hari nanti saya pasti bisa menulis novel bergenre fantasi dan best seller ^-^. Hei, hei, kata-kata adalah doa, bukan? Beruntung ada goodreads dan Angie Sage sudah menjadi fans saya, eh salah, saya sudah menjadi fansnya beliau sehingga saya tidak lagi bingung mengenai urutan seri Septimus Heap. 

Herewith the list:

  1. Magyk
  2. Flyte
  3. Physik
  4. Queste
  5. Syren
  6. Darke
  7. Fyre
Di Indonesia, buku ini diterbitkan oleh Matahati, salah satu penerbit yang konsisten dan keren karena banyak menerjemahkan buku-buku bergenre fantasi yang keren meski pemasarannya agak disayangkan. Ini menguntungkan sebetulnya, sehingga saya bisa segera menemukan buku-buku mereka di rak diskon. Hehehe … Selain seri, ada juga satu buku terpisah; Septimus Heap; The Magykal Papers  dan The Darke Toad (#1.5). Nanti saya juga cari yang ini, ah. 

Sepertinya, saya akan mulai memburu buku-buku Angie. Oke, target berikutnya adalah Araminta Spookie. Nanti ya, setelah saya menerima honor dari tulisan-tulisan saya. Mungkin bulan depan, mungkin bulan depannya lagi. Entahlah, tergantung pada kebijakan para petugas honor. -_-“

Leave a Reply