Sepuluh Tahun Penantian


Nama Soni Farid Maulana sebetulnya sudah saya dengar dan kenal sejak lebih dari satu dekade yang lalu. Tapi nama ini kembali akrab setelah saya membaca Horison Edisi Khusus Puisi Internasional di tahun 2002. Pun, nama Soni telah begitu akrab di telinga semenjak saya memiliki ketertarikan kepada puisi dan sering membeli koran Pikiran Rakyat setiap hari Kamis (waktu itu lembar khazanah terbit setiap hari Kamis). 

Masa, waktu, apa pun kita menyebutnya, adalah hal yang sama sekali tidak bisa kita setir. Tapi mimpi tetap berada di tangan kita. Menjadi seorang penulis adalah mimpi saya sejak dulu, bahkan menjadi semacam cita-cita yang sering membuat teman-teman dan keluarga saya tertawa. Nama Soni Farid Maulana dulu begitu asing, hanya sederetan huruf di dalam koran, buku teks pelajaran, atau buku-buku puisi yang saya simpan. Saya tidak pernah menyangka bahwa akhirnya, setelah sekian lama, saya bisa bertemu langsung dengan yang bersangkutan. 


Ya, saya menunggu nyaris lebih dari sepuluh tahun untuk bertemu beliau. Saya selalu percaya bahwa pertemuan, seperti juga perpisahan, adalah sesuatu yang sudah digariskan. Sesuatu yang sudah dipersiapkan. Kerap saya membayangkan, jika saya bertemu dengan orang-orang sekaliber beliau bertahun lalu misalnya, apa yang akan saya lakukan? Apa yang akan saya katakan sementara saya bukan siapa-siapa, bukan apa-apa? Memang, saat ini saya masih bukan siapa-siapa tapi setidaknya saya sudah berada di lingkaran yang tepat, di jalan yang tepat pula. 

Sekarang ini, meski masih tertatih, saya berani menyebut diri sebagai penulis. Jadi ketika pada akhirnya saya bertemu dengan Kang Soni, saya bisa berani menjabat tangannya, meminta tanda tangan, dan meminta berfoto bareng. Hehehe.. tepat seperti penggemar yang bertemu dengan idolanya. 

Pertemuan kami di GIM pada acara bedah buku (atau launching?) buku puisi Teh Meitha KH beberapa hari yang lalu ini justru menyerap saya ke masa lalu. Masa-masa ketika saya masih berseragam putih abu-abu, membawa buku catatan berisi goresan puisi ke mana-mana, terkagum-kagum dengan nama-nama yang tertera di berbagai koran. Ya, saya yang dulu. 

Kemudian timbul kesadaran, bahwa apa pun yang kita inginkan, yang kita impikan, suatu saat nanti pasti akan menjelma menjadi kenyataan. Asalkan kita serius untuk mewujudkan. Buktinya ini, meski memang saya harus menunggu begitu lama. Tapi waktu, apa sih artinya waktu selain satuan masa? Toh pada akhirnya nama Soni Farid Maulana bukan lagi nama asing dan orang asing di berbagai buku. Nama ini kemudian saya kenal.

Percayalah, sepuluh tahun adalah waktu yang sebentar jika dibandingkan dengan proses dan pengalaman yang selama ini saya dapatkan. 

One Comment

  1. October 30, 2012 at 1:24 am

    kalau penulis yang aku suka Goenawan Mohamad & Soe Tjoeng Marching soalnya gaya tulisan paling beda sama yg lain

Leave a Reply