Setikam Sunyi

(Kabar Priangan, 19 Desember 2012)

#1 Setikam Sunyi

: kamu

Setikam apakah rasanya kesepian?

Aku ingin tidur, berbaring di dadamu. Atau menghilang dan menjadi kunang-kunang di kaki malam. Sebab terjaga, selalu saja menyisakan gundah yang tak pernah ingin pecah. Mimpi adalah ketika kesedihan bertualang ke alam entah, dan aku kembali sebagai Maria, perempuan yang senantiasa perawan. 

Tidur adalah juga riwayat, cerita-cerita tentang ritual purba ketika tangan-tangan angin memeluk tubuh kemudian berakhir dengan jenuh. Dan aku kembali berbaring dalam gigil, karena mimpi alpa untuk mampir. Sehingga aku dirajam keterjagaan, dibebat keinginan demi keinginan. 

Aku ingin tidur, berbaring di dadamu.

Mungkin engkau tidak pernah tahu, bahwa malam adalah kutukan bagiku. Detik berderak, mengepak, dengan sayap timpang. Waktu terjulur begitu saja dari dinding, meluber membanjiri kening. Lintasan-lintasan kenang dan ingatan berkelindan, aku tak kuasa beranjak, selalu saja ingin menjejak. Engkau juga tidak pernah tahu, bahwa aku bergelung, punggungku kerap melengkung, meraba-raba adakah tempat singgah di tempat mana pun di barisan jarak antara engkau dan aku.

Aku ingin tidur, berbaring di dadamu. 

Ada begitu banyak kesedihan ketika aku memeluk tubuhku sendiri. 

Ada begitu banyak kesepian ketika aku, semakin berjarak darimu. 

(Bandung, 3 September 2012)

——-
#2 Munajat Secangkir Kopi

rasa kopi masih lekat di bibir ketika senja berjingkat,
mengendap-endap menuju malam jengat
terang sempurna pulang ke sarang
tinggalah aku dalam sekat dan gelap
yang semakin dekat

mereka, malam-malam itu, bagai segerombolan
malaikat dalam pakain paling kelam
aku selalu curiga bahwa Izrail memang selalu menunggu
di setiap cangkir kopiku

(Bandung, 31 Agustus 2012)

——-

# 3 K I T A

setiap orang memiliki kesakitan mereka masing-masing

“Sudahkah kukatakan bahwa aku mencintaimu dengan sungguh-sungguh?”
ucapku pada asbak yang penuh dengan abu masa lalu
asbak itulah, seteru sekaligus sekutu ketika segala macam remuk
menghantam dinding-dinding ingatan
pun saat batang-batang terlalu ketakutan untuk dinyalakan
sebab perempuan selalunya dibentur peradaban
ketaatan

“Sebab perempuan hanya memilki kebisuan sebagai jawaban.”

(Bandung, 31 Agustus 2012)
——–

# 4 Membunuh Pagi

:Mia Indria

Mari membunuh pagi, Mi. 
Kita tebaskan pedang-pedang ke arah matahari dan bebaskan ayam-ayam dari kandangnya agar mereka tak lagi bisa berkokok dan membuat ribut. Jika tidak ada kokok, maka tidak akan ada pagi, bukan? 

Ingat ini, Mi.
Pagi adalah kutukan bagi Sangkuriang dan kekasih Roro Jongrang, maka pagi harus menjadi kutukan pula bagi kita.
Karena kita ini selalu hidup di saat senja hingga malam, dan akan mati pagi-pagi. 

Mari membunuh pagi, Mi.
Sebelum pagi itu sendiri membunuh kita. 

(Bandung, 31 Januari 2012)

Leave a Reply