Si Lalat Keling Si Lalat Ceking

Mungkin surat ini akan sampai kepadamu dalam lipatan perahu atau pesawat kertas, sebab kotak pos sudah penuh, berjejalan pamflet swalayan dan surat tagihan. Lagipun, kau selalu lupa alamat rumah kita hingga setiap kali surat-surat itu akan datang kau harus mengirimkan pesan, “Maryam, di mana rumah kita?”.

Mi, masihkah kamar kita berbentuk lautan dengan buih sabun mainan kanak-kanak? Masihkah suara pagi ditingkahi teriakan pedagang gorengan? Ya ia perempuan yang terus-menerus salah mengenali jenis kelaminku itu. 

Kemudian aku jadi teringat makan. Berpiring-piring nasi yang kerap menjadi musuh abadi hingga tubuhmu tuli terhadap rasa kenyang. Hanya bersahabat dengan rasa lapar yang tak jua engkau tuntaskan. Kemudian akulah yang menjadi korban dan mengambil peran sebagai pembantai. “Demi kemanusiaan, di belahan bumi yang lain sana, masih banyak manusia-manusia kelaparan,” kataku. Aku menjelma kawan yang rakus, mencomoti nasi dan tempe dari piringmu lalu memasukkan ke perutku. 

Sebetulnya, Mi. Andai saja engkau tahu bahwa alasan tentang orang-orang kelaparan adalah alasan yang kubuat-buat. Alasan agar aku masih terlihat manusiawi meski di dalam sini masih banyak setan-setan bergentayangan. Aku hanya memikirkan perutku sendiri, Mi. Sebab aku tahu betul bagaimana rasanya tiga hari tidak makan, tahu betul bagaimana rasanya menunggu sisa jatah nasi kotak dari restoran seperti tikus dalam got atau kucing-kucing liar di tempat sampah. Sebab aku tahu bagaimana rasanya mencuri sebungkus mie dari teman di dormitory karena gajiku habis dikirim ke kampung halaman. Lapar adalah sesuatu yang teramat kukenal, Mi. 


Itulah sebabnya mengapa aku selalu marah ketika nasi masih tersisa di piringmu. Itulah sebabnya mengapa aku selalu ingin perutmu berisi. 

Dunia tak bisa ditaklukkan oleh orang-orang berbadan ceking dan kurang tenaga. Hahahaha… jadi makanlah apa saja, lahaplah apa saja. Mungkin kau harus banyak belajar dari para koruptor yang bisa memakan gunung dan laut dan sungai dan hutan dan jalan dan gedung, bahkan memakan warga mereka sendiri. 

Kau terlalu banyak bergaul dengan Pradewi sehingga kalian selalu berlomba mengurangi berat badan.  Hahaha… Sesekali irilah denganku, lihat angka di timbanganku tak pernah berderap turun melainkan naik terus menerus, tak peduli badai macam apa yang tengah kutuntaskan. 

Aku sudah berjanji tak akan pernah kembali ke rumah kita sebagai penghuni melainkan sebagai tamu. Sebab di sinilah rumahku, sebab aku sedang membangun laut sendiri. 



8 Comments

  1. February 5, 2013 at 10:51 am

    aku rindu lapar dan makan dengan lahap. aku rindu tidur nyenyak. satu-persatu Tuhan cabut kenikmatan dari tubuhku. Sama sekali bukan aku abaikan orang-orang kelaparan di luar sana, sama sekali bukan. justru aku jarang mengiyakan ketika orang lain memaksaku beli makan, justru aku jarang membeli makan ketika aku tidak yakin lapar justru karena tahu makananku tidak akan habis dan aku melakukan dosa besar. Batinku yang tidak kunjung sembuh. Sejak kepergianmu aku mengisi hidupku dengan salah lima waktu dan doa yang jarang putus. Aku ketakutan, aku cari jawaban dengan dekatkan diri pada Tuhan. Aku sempat marah kenapa Dia memberiku nasib yang buruk. Pada akhirnya akhirnya mungkin aku yang kurang mensyukuri apapun yang dia beri. Kemudian hatiku sedikit lega ketika baca di hadist Rasulullah; bahwa cobaan yang datang bertubi itu akan menghapus sedikit demi sedikit dosa-dosa kita…

    Aku kebingungan mar, aku bingung harus darimana memulai lagi hidupku. Aku tidak butuh kamu pulang..tak apa bertamu. Kau juga tahu itu hanya judul. Untukku sekarang dan dari kemarin-kemarin, aku benar-benar membutuhkan seseorang yang bisa kupeluk. Aku tidak pernah sesering ini berpikir tentang bunuh diri. Yang ada sekarang aku jadi kelewat pemarah, sering menangis lalu minim tertawa. Aku takut gila…

  2. February 5, 2013 at 10:54 am

    aku hanya ingin kamu datang. semalam saja lalu kamu ijinkan aku menangis sekeras-kerasnya. kau boleh tidak memelukku, tapi duduklah dekatku…

  3. Skylashtar-Reply
    February 5, 2013 at 6:49 pm

    Ide yang bagus, bagaimana kalau kita lewatkan satu malam untuk bermain empire saja; saling menjajah dan berjualan tembaga atau menjenguk kebun masing-masing.

  4. February 7, 2013 at 2:08 am

    apik

  5. February 7, 2013 at 5:18 am

    keren mbak…btw, templetnya ganti? 🙂

  6. February 12, 2013 at 2:26 pm

    keren

  7. Skylashtar-Reply
    February 14, 2013 at 5:32 pm

    Mbak Erna; terima kasih sudah mampir 😀

  8. Skylashtar-Reply
    February 14, 2013 at 5:33 pm

    Mbak Nunung; iya, nih. Tapi di sana loadingnya lancar ga ya? Kalau ga lancar, nanti saya ganti lagi templatenya. Ini juga masih under costruction.

    Uzee; asyik, uzee mampir 😀

Leave a Reply