Cita-cita bagi sebagian orang dewasa mungkin hanya sebuah impian masa kecil. Sebuah harapan yang tertimbun di belakang, entah oleh realita atau kejamnya dunia nyata. Tidak semua orang beruntung untuk menggenapkan cita-citanya, kebanyakan malah kandas di tengah perjalanan atau menyerah di awal perjalanan. Sejak kecil saya diajarkan untuk selalu menanggung apa pun yang saya inginkan sendirian. Orang tua tidak mendukung ataupun melarang. Sepanjang itu baik tentunya. 


Akhir-akhir ini saya kembali kepada buku sketsa dan pena, berusaha menggenapkan ‘takdir’ yang dulu sempat tertunda. Saya tidak tahu pasti apa yang membuat saya kembali bersemangat, yang pasti saya masih berdebar-debar ketika gambar demi gambar diterjemahkan ke dalam buku sketsa, sama halnya ketika kata demi kata diterjemahkan ke dalam sebuah tulisan. 

Memang, saya membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk berlatih dan kembali belajar. Bisa dikatakan dimulai dari nol. Tapi tidak ada kata terlambat untuk kembali mencoba; membuat keajaiban dari jari jemari saya. Jika saya bisa menulis cerpen dengan otodidak dan berhasil, maka saya pasti bisa kembali menjadi seorang perupa, bagaimanapun caranya. Bakat adalah omong kosong, tekad dan kerja keraslah yang akhirnya akan memegang peranan.

Bakat itu hanyalah letupan api kecil, akan padam ditiup angin sekecil apa pun, sedangkan ketekunan adalah kayu bakar yang bisa membuat api itu berkobar. Sepanjang letupan itu masih ada, saya tidak akan membiarkannya padam.

Leave a Reply