Slider

KEKHAWATIRAN SAYA SEBAGAI SEORANG IBU

Rentang usia Aksa (2 tahun 7 bulan) dengan kakaknya Salwa (13 tahun) terpaut sedemikian jauh (10 tahun), juga karena saya tidak sepenuhnya merawat Salwa ketika masih balita, bisa dibilang Aksa adalah pengalaman pertama saya menjadi seorang ibu. Sebagai -katakanlah- newmom, tak terhitung banyaknya tantangan dan kekhawatiran yang saya hadapi. 

Masalah kebersihan adalah salah satunya. Awalnya saya benar-benar “buta” tentang cara mencuci botol susu. Saya hanya mencuci botol susu dengan cairan pencuci piring, itu pun hanya dikocok-kocok lalu direbus. Tidak sadar bahwa residu sabun bisa tertelan dan berbahaya bagi kesehatan Aksa. Saya baru tahu kalau botol susu dan peralatan makan bayi harus diperlakukan secara khusus setelah “di-training” oleh adik perempuan saya. Saat itu saya juga baru tahu kalau ada yang namanya cairan khusus pembersih botol susu dan peralatan makan bayi. Ka mana wae atuh, Chaaannn? Jujur, masalah kebersihan peralatan makan dan botol susu ini sempat membuat saya berkecil hati.

Memilih dan memasangkan diaper adalah cerita yang lain lagi. Da aku mah apa atuh, pasang popok perekat aja nyengsol wae walau sudah menonton puluhan episode how to change a diaper di Youtube. Jadi lebih memilih diaper yang pant karena praktis. Selama 6 bulan pertama, saya sudah beberapa kali ganti merek diaper karena masalah ruam popok dan kebocoran. Sekarang sih sudah setia dengan satu merek, meski kadang ruam datang jika saya lalai mengganti popok.

Kekhawatiran dan tantangan yang saya hadapi bukan hanya menjadikan saya ibu yang rendah diri, tapi juga menggerus emosi. Kerap kali saya dicap tidak becus sebagai seorang ibu, sering disalahkan jika anak sakit, sering disalahkan ketika anak “bikin tingkah”, dan lain-lain. “Bikinnya bisa, ngurusnya enggak bisa,” begitu selalu yang dikatakan orang-orang. Yang paling membuat sakit hati, kalimat-kalimat itu bukan hanya berasal dari orang yang baru berjumpa, tapi dari orang-orang paling dekat. Perkataan yang sering kali membuat saya bertanya, “Layakkah saya menjadi seorang ibu?”


1. KEBERSIHAN

Aksa sering mengalami diare, penyebabnya bukan hanya karena jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi, tapi juga karena kebersihan peralatan makannya, termasuk botol susu yang dia gunakan. Itu sebabnya mengapa setelah “training” dari adik saya itu, saya selalu berhati-hati ketika mencuci botol susu. Saking berhati-hatinya, 3 bulan sekali Aksa ganti botol susu, 1 bulan sekali ganti dot. Padahal ya enggak harus sesering itu kali, ya? Tapi begitulah, namanya juga mamah-mamah panikan, kalau misalnya ada kerak susu yang menempel di pinggiran dot, langsung buang ganti baru gitu aja. 😀

2. PENGISAP JEMPOL

Aksa adalah bayi pengisap jempol militan. Ketika masih bayi dan hanya tergolek di tempat tidur, barangkali itu lucu. Tapi, ketika dia sudah nalaktak ke mana-mana, memegang apa saja, mengisap jempol tidak lagi lucu. Belum lagi kekhawatiran seperti konstruksi gigi, kesulitan berbicara, dan kondisi psikologisnya. Hal ini juga menyebabkan Aksa lebih rentan terkena infeksi saluran cerna karena saya tidak tahu, kan, apa saja yang dia pegang sebelum mengisap jempol. Hal ini pulalah yang menyebabkan saya agak-agak obsesif terhadap mencuci tangan. Dalam sehari, sepertinya tangan Aksa dicuci lebih dari 20 kali.

3. RUAM POPOK

Sepertinya ini adalah masalah para ibu di seluruh dunia, deh. Untuk mengatasinya biasanya saya hanya memakai baby cream. Tapi yang namanya baby cream, kan, hanya untuk melembapkan, bukan untuk mencegah infeksi atau apa.

Keponakan saya, Mika (2 tahun 4 bulan) pernah mengalami ruam popok yang sedemikian parah ketika usianya 4 bulan. Karena sudah infeksi dan menjalar ke mana-mana, Mika sampai harus disunat. Sampai sekarang Mika masih sering ruam popok meski tidak separah dulu. Pengalaman anak adik saya ini mau tidak mau membuat saya lebih aware terhadap Aksa.

4. TUMBUH KEMBANG

Saya banyak membaca tentang jenjang perkembangan anak, tapi semua itu selalu terdistraksi jika ada orang yang komen, “Kok usia segitu belum merangkak, ya?” atau “Kok Aksa kurusan, ya?” atau “Lihat, deh, A mah sudah bisa berdiri. Aksa kapan?”

Pernah ada yang mengalami apa yang saya alami? Ah, memang, ya. Menjadi seorang ibu itu tidak mudah. 🙂


Dari Khawatir Menjadi Peduli

Khawatir itu perlu, asal tidak berlebihan.
-dr. Lula Kamal

Saya kira semua ibu pasti memiliki kekhawatirannya masing-masing, tergantung kepada latar belakang juga lingkungan sekitar. Saya juga mengerti bahwa menjadi ibu di era millenial ini teramat sulit karena selain lingkungan terdekat, kita juga distimulasi oleh media sosial yang sering kali menjadi ajang perang wacana dari mulai cara melahirkan sampai cara mendidik.

Apakah khawatir terhadap buah hati itu perlu? Alih-alih memberi jawaban dari saya sebagai pribadi, sebaiknya saya mengutip pendapat ahli. Kebetulan, hari Sabtu, tanggal 29 April 2017 kemarin saya menghadiri talkshow “Alami Melindungi” yang diselenggarakan oleh Sleek Baby. Pembicaranya adalah dokter Lula Kamal, Danesya Juzar (blogger), dan Mbak Meliana Widodo sebagai Group Brand Manager Sleek.

Menurut dokter Lula Kamal, rasa khawatir itu perlu supaya kita para ibu tetap alert dan lebih banyak membaca serta mencari tahu. Yang justru berbahaya adalah kalau kita hare-hare, tapi jangan pula kekhawatiran itu terlalu berlebihan sehingga membuat kita cepat panik. Dengan kata lain, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, ya, Moms.

“Berdasarkan sebuah penelitian, bayi berusia 0-3 tahun memang memiliki daya tahan tubuh (imunitas) yang belum sempurna, itu sebabnya bayi lebih rentan terhadap serangan bakteri, kuman, dan penyakit,” jelas Mbak Meli. Menurut beliau pula, hal-hal di atas itulah yang sering kali memicu kekhawatiran para ibu. Jadi wajar saja jika kita sangat aware tentang makanan dan asupan gizi, kebersihan peralatan makan minum, kebersihan pakaian, tubuh, juga kebersihan kulit.

Nesya, blogger sekaligus ibu dari dua orang anak, juga mengalami kekhawatiran yang sama. Meski katanya, kadar rasa khawatir antara anak pertama dengan kedua agak berbeda. “Kalau dulu, saat anak pertama, saya lebih cepat panik. Sebentar-sebentar ke dokter, ruam sedikit ke dokter, demam sedikit langsung ke dokter,” ungkap Nesya. “Tapi setelah melahirkan anak kedua, kekhawatiran itu agak berkurang, tidak sepanik dulu. Karena setiap anak memiliki kadar sensitivitas kulit yang berbeda,” tambahnya lagi.

Nah, ngomong-ngomong soal ruam popok, acara yang dihelat di Balai Kartini, Kartika Expo ini juga sekaligus untuk me-launching produk baru dari Sleek yaitu Sleek Baby Diaper Cream, krim antibakterial berbahan dasar alami yang bisa mencegah serta mengatasi ruam pada kulit bayi. Anda para ibu tentu sudah familiar dengan produk-produk Sleek, saya sendiri sejak dulu menggunakan Sleek Baby Bottle Cleanser.

Konon, pembuatan Sleek Baby Diaper Cream memang dilatarbelakangi oleh curhat dan kekhawatiran para ibu tentang ruam popok. Sleek tidak ingin menghilangkan rasa khawatir itu karena seperti Lula Kamal kekhawatiran seorang ibu bisa menjadi semacam alert system. Sebaliknya, Sleek ingin mengubah kekhawatiran itu menjadi caring, agar para ibu mengolahnya menjadi rasa ingin tahu dan mencari solusi dari permasalahan yang dialami.

Untuk itu, Sleek Baby Diaper Cream “bertugas” untuk membantu memberikan solusi dari masalah dan kekhawatiran terhadap ruam popok itu tadi. Sejak mendengar ini, saya jadi semakin sadar bahwa tidak semua rasa khawatir harus diabaikan, melainkan dioleh menjadi bentuk kepedulian dan pemahaman yang lebih dalam tentang Aksa dan masalah yang saya hadapi ketika membesarkannya.


TALKSHOW "ALAMI MELINDUNGI"
Arrow
Arrow
Slider
OLEH-OLEH 🙂
Arrow
Arrow
Slider

LEBIH JAUH TENTANG SLEEK BABY DIAPER CREAM
DAN RUAM POPOK

Dulu, saya menganggap bahwa diaper cream hanya dipakai jika terjadi ruam, tapi ternyata itu kurang tepat. Seperti yang dikatakan dokter Lula Kamal, diaper cream seharusnya digunakan setiap kali mengganti popok agar berfungsi sebagai lapisan pelindung atau perisai yang langsung melapisi kulit bayi. Dengan begini, kulit bayi akan terlindung dari bakteri dan mencegah terjadinya ruam popok di kemudian hari.

Apa itu ruam popok?

Ruam popok adalah radang atau infeksi pada kulit bayi yang terjadi di area popok seperti paha maupun bokong. Ruam ini ditandai dengan kemerahan, bengkak, bahkan peradangan pada kulit di sekitar area popok. Ruam popok bisa menjadi infeksi yang lebih serius dan bisa menyebar ke bagian perut jika tidak ditangani dengan baik. Akibatnya, si kecil menjadi tidak nyaman dan rewel.

Penyebab ruam popok

Salah satu dari beberapa penyebab ruam adalah kontak dengan urine atau feses yang terlalu lama pada kulit. Urine yang tercampur dengan bakteri dari feses bisa dipecah menjadi amonia bersifat keras pada kulit bayi. Penyebab lain yang juga dapat menimbulkan ruam popok adalah gesekan yang terjadi pada kulit bayi akibat penggunaan popok yang terlalu ketat.


Tip Mengganti Popok

  1. Mengganti popok secara rutin 2 s/d 3 jam sekali.
  2. Bersihkan dan keringkan area kulit dengan sempurna.
  3. Oleskan Sleek Baby Diaper Cream setiap kali ganti popok. Sleek Baby Diaper Cream dapat menjaga kulit bayi sekaligus mencegah terjadinya ruam.

Bahan-Bahan Alami Sleek Baby Diaper Cream

  1. Ekstrak daun olive untuk melindungi kulit dari bakteri yang menyebabkan iritasi.
  2. Chamomile dan ekstrak bunga matahari, natural anti-irritant yang efektif untuk mengurangi kemerahan.
  3. Ekstrak alpukat, shea butter, dan argan oil, natural moisturizer yang menjaga kulit bayi tetap lembut.

Bahan-Bahan Alami Sleek Baby Diaper Cream

  1. Terbuat dari bahan-bahan alami yang paling aman untuk kulit bayi baru lahir.
  2. Mengandung Natural Antibacterial dari ekstra daun zaitun yang berfungsi sebagai perisai yang melindungi bayi dari kotoran maupun bakteri. FYI, baby cream biasa tidak mengandung antibakteri.
  3. Hypoallergenic an Dermatologically Tested: telah teruji tidak menimbulkan alergi dan iritasi.
  4. Clinically proven: efektif membunuh bakteri penyebab ruam, efektif mampu mencegah dan mengatasi ruam kulit.

Sedikit Tambahan dari Saya

  1. Terdiri dari satu jenis kemasan: tube 80 ml. Ukuran ini pas kalau menurut saya, bisa dipakai di rumah dan tidak ngaheurinan jika dibawa bepergian.
  2. Kemasan tube ini juga berfungsi untuk menjaga kebersihan. Maksudnya, ketika akan memakai krim, tidak perlu dicolek seperti kemasan baby cream yang dulu saya pakai.
  3. Wanginya lembut sekali dan tahan lama.
  4. Mika, keponakan saya yang sering mengalami ruam popok cukup parah, berangsur-angsur pulih setelah 3 hari memakai Sleek Baby Diaper Cream.

MINI QUIZ

Jawab 1 pertanyaan dan dapatkan 1 tube Sleek Baby Diaper Cream
untuk 3 orang yang beruntung

Karena oleh-oleh yang saya bawa dari Jakarta buanyak buanget, saya ingin berbagi kegembiraan. Ada 3 tube Sleek Baby Diaper Cream ukuran 80 ml untuk 3 orang yang beruntung. Caranya mudah sekali, cukup jawab pertanyaan sebagai berikut:

Apa sih kekhawatiran Anda sebagai seorang ibu?

Cara menjawab:

  1. Bagikan blog post ini ke salah satu media sosial yang Anda miliki (Facebook, Twitter, atau Google+), jangan lupa tag atau mention saya.
  2. Tulis jawaban di caption dengan hastag #sleekbabyalamimelindungi .
  3. Pemenang akan diumumkan di Instagram @Langit_Amaravati pada hari Jumat, 5 Mei 2017.

Well, demikian ngobrol-ngobrol kita kali ini, semoga bermanfaat.

Salam,

~Mommy eL

 

Foto:

  • Sleek Baby
  • Koleksi pribadi
Please feel free to share

4 Comments

  1. May 25, 2017 at 8:18 pm

    Reviewnya bagus

  2. May 4, 2017 at 6:56 am

    Waaw reviewnya lengkap banget, fotonya bagus2 dan oleh2nya banyak banget yaa 🙂

Leave A Comment