SEBAB TAK ADA IBU YANG SEMPURNA

Ceritaku Bersama So Good CERDIK

Haaaiii ...!

Halo, Om dan Tante, Teteh dan Aa! Perkenalkan, namaku Aksara Lazuardi. Om dan Tante boleh memanggilku Aksa atau Ultraman. Usiaku 3 tahun 2 bulan. Masih balita dan sedang lucu-lucunya. Aku mau bercerita tentang permainan baru favoritku, Storybook CERDIK (Cerita Digital Interaktif). Tapi karena jangankan menulis, ngomong saja aku masih balelol, jadi Bunda yang akan jadi juru tik menuliskan ceritaku ini. 

Sebelum cerita tentang So Good CERDIK kumulai, aku mau bercerita sedikit tentang aku dan Bunda. Kami hanya tinggal berdua di sebuah tempat kos di Cimahi. Kok, hanya berdua? Karena kata Bunda, ayahku pergi meninggalkan kami untuk menjadi death eater dan bergabung dengan Voldemort  waktu aku masih di dalam kandungan. Aku belum pernah bertemu atau melihat wajahnya. Tapi itu cerita yang menyedihkan dan aku tidak mau membuat Om dan Tante ikutan sedih.

Bundaku seorang desainer dan blogger yang bekerja di rumah. Memang, sih, setiap hari kami bisa bersama. Tapi kadang aku sedih, Om, Tante. Bunda selalu di balik meja, bekerja dari pagi sampai malam. Aku lebih sering bermain sendirian atau dengan Gogog. Oh, iya, aku lupa memperkenalkannya. Gogog adalah boneka singa kumal lucu kesayanganku. 

Karena Bunda lebih sering sibuk dengan pekerjaan, kadang Bunda juga lupa mengajariku macam-macam. Padahal aku ingin  sekali tahu tentang dunia yang luas ini. Aku ingin tahu tentang hmmm ... misalnya, apa bedanya pesawat tempur F-22 Raptor milik Amerika dengan Sukhoi T-50 milik Rusia? Atau mengapa aku tidak boleh memakan daun yang ada di halaman padahal Bunda sering memberiku makan daun yang disebut bayam? Kalau aku makan wortel, apakah aku bisa jadi kelinci seperti dalam dongeng?

BALITA DIGITAL

Subjudul ini maksudnya aku hasil download dari Pixabay atau gimana, Bun? Oh, bukan, ya?

Jadi gini, Om dan Tante, job desc aku sebetulnya hanya bermain. Seperti balita lainnya, aku punya mainan favorit yaitu kereta api, mobil pemadam kebakaran, pesawat tempur, dan angkot. Karena setiap hari aku punya akses terhadap smartphone, selain bermain aku juga banyak belajar dari Youtube.

Aku sudah hafal lagu kereta api, lho, Om, Tante. Bukan, bukan lagu kereta api yang tut tut tut, itu mah mainstream. Aku lebih suka soundtrack KRL Jabodetabek karena menurutku lagu itu lebih zaman now.

Ngomong-ngomong soal Youtube, Bunda memang memperbolehkanku menonton. Itu yang membuatku mandiri dan berdikari. Aku berinisiatif untuk belajar sendiri karena aku mengerti bahwa Bunda harus mengambil banyak peran, menjadi ibu sekaligus ayahku. Hebat, kan, bundaku?

Dari hasil belajar sendiri itu, aku sudah hafal warna, lho. Belum banyak sih, baru hafal warna wed, gwin, yayoy, bek, dan wait. Om dan Tante tahu, kan, itu bahasa apa? Kata Bunda itu bahasa bayi Inggris.  

Mungkin karena aku familiar dengan teknologi, Bunda menyebutku sebagai "balita digital".

STORYBOOK
SO GOOD CERDIK

Storybook So Good CERDIK adalah buku digital interaktif berbasis aplikasi. Dengan menggunakan aplikasi dan kartu di dalam frame, kita bisa menonton dongeng dengan cara yang lebih seru daripada membaca buku biasa. Seperti ketika mendengar dongeng yang dibacakan Bunda, cuma So Good CERDIK bagiku lebih menarik karena disertai gambar yang bergerak-gerak. Suara pendongengnya pun lebih merdu dari suara Bunda. 

Mungkin Om dan Tante merasa sedikit heran, kok anak sekecil aku sudah diperkenalkan kepada gadget? Nggg ... sebetulnya Bunda juga sedikit dilema tentang penggunaan gadget ini, tapi menurut Bunda, asalkan aku tidak banyak nge-share tautan ke akun Twitternya, atau membaca WA-nya (karena itu privasi), aku diperbolehkan pegang smartphone. Lagi pula, aku kan anak yang lahir di abad digital. Satu jam sebelum aku dilahirkan, Bunda masih sempat membuat status dan haha hihi di komentar. Di tangisan pertamaku, keberadaanku sudah dikabarkan kepada dunia melalui dunia maya. Ketika usiaku baru 1 bulan, aku sudah menguasai keahlian paling esensial abad ini: selfie. Jadi aku memang harus familiar dengan teknologi agar bisa menjawab tantangan zaman.

Mau tahu seseru apa ketika aku bermain So Good CERDIK? Kuy, ah, aku ceritakan lewat foto.

Kebersamaan

Coba lihat kami, mesra, bukan? Jika di hari-hari biasa aku dan Bunda berada di dua dunia yang berbeda, kali ini kami bekerja sama. Ketika menonton cerita, Bunda yang memegang smartphone dan aku diperbolehkan memegang frame-nya. Frame yang kupegang ini adalah cerita Umbo Larage, anak lelaki yang tangkas dan kuat. Kata Bunda, ada dua cerita lainnya yang tak kalah seru. Aku jadi penasaran dan ingin menonton cerita lainnya.

Stimulasi

Ini ekspresiku waktu dongeng dimulai. Ya ampun, itu Aa Umbo Larage kenapa dikejar-kejar bapak bertopeng? Cepet lari, Aa, cepet! 

Cerita Umbo Larage membuatku jadi semakin ingin tahu dan banyak bertanya pada Bunda. Kenapa dia dikejar-kejar? Siapa bapak bertopeng itu? Hutan bambu itu seperti apa?  Kenapa dia memanggil ayahnya dengan sebutan "amang"?

Ekspresi

Fyuh, lega. Aku senang Umbu Larage selamat dan tidak bertemu orang jahat seperti yang aku sangka sebelumnya. Padahal tadi aku sempat takut dan nyaris menangis. Syukurlah, ternyata bapak bertopeng itu tidak bermaksud buruk karena dia adalah .... (content removed due to spoiler) 

Edukasi

Aku sedih waktu ceritanya udahan. Lihat aja ekspresiku di foto ini. Tapi aku senang karena Storybook So Good CERDIK memberiku mainan seru sekaligus membuat Bunda lebih banyak meluangkan waktu untukku. Aku kasih tahu ya, Bunda sama antusiasnya dengan aku. Di sepanjang cerita, pasti ada saja yang dikomentarinya. Animasinya kerenlah, ilustrasinyalah. Mungkin karena Bunda desainer, juga karena waktu Bunda kecil, belum ada permainan seseru ini.

BONUS SCENE

Aku sudah bilang belum kalau Bunda tidak bisa memasak? Bukan tidak bisa, sih, lebih tepatnya kurang berbakat. Jadi waktu Bunda menyuguhkan sepiring nugget So Good, aku sungguh terkejut. Lebih terkejut lagi saat melihat kalau tidak ada yang gosong atau masih mentah seperti kejadian sebelumnya. Semuanya matang sempurna 300 dpi dengan color pantone merata, sesuai dengan standar ISO cara menggoreng nugget.

Aku suka sekali makan nugget karena kalau makan daging ayam biasa, masih sulit mengunyahnya. Maklum, aku, kan baru hidup selama 3 tahun, belum begitu terbiasa mengunyah daging yang berserat-serat. Selamat makan semuanya!

ILUSTRASI SO GOOD_4

HOW TO PLAY

Aku, sih, yakin Om dan Tante sudah jago banget memakai aplikasi. Tapi karena aku anak digital, mari aku ingatkan lagi bagaimana cara memainkan So Good CERDIK. Oh iya, kartu So Good CERDIK dapat Om dan Tante temukan di produk So Good Siap Masak (Bakso, Nugget, Stick, Seafood, Shaped Nugget, Whole Muscle, Sausege) kemasan 400 gram. Nah, sebelumnya, silakan download dulu aplikasinya.

download di google play

1. Download Aplikasi So Good Cerdik

Download aplikasi Storybook So Good CERDIK di Google Play. Setahuku, belum ada untuk versi iOS (atau sudah?). Om dan Tante yang memakai smartphone nonandroid, boleh pinjem dulu atau sini main sama aku, sini.

DOWNLOAD SO GOOD_2

2. Buka Aplikasi

Jangan lupa untuk mempersiapkan kartu yang akan dibacakan.

DOWNLOAD SO GOOD_3

3. Klik "Mulai Cerita"

Ada 4 pilihan tombol: mulai cerita, pengaturan, bagikan ke media sosial, dan resep. Dear Bunda, kalau Dedek udah bobok, coba itu resepnya dibaca-baca dulu.

DOWNLOAD SO GOOD_4

4. Pilih Cerita

Ada 3 cerita, setiap cerita dibagi ke dalam 2 bagian. Pilih scan sesuai dengan judul dan part kartu yang akan dibacakan karena kalau kita memilih cerita yang benar tapi part yang salah, cerita tidak bisa dimulai.

DOWNLOAD SO GOOD_5

5. Scan Kartu

Hadapkan kamera ke kartu. Usahakan berada di tempat terang dan jangan goyang-goyang. Kalau Om dan Tante ingin membaca tanpa frame, bisa, kok. Setelah buku di layar terbuka, matikan saja fungsi AR-nya. Ada di sebelah kanan layar paling atas.

DOWNLOAD SO GOOD_6

6. Cerita Dimulai

Taraaammm! Cerita pun dimulai. Oh iya, aplikasi ini bisa dipakai offline, lho. Asal ada kartu yang di-scan. Cocok untuk Bunda yang selalu lupa ngisi kuota.

Oke, mulai dari sini, Bunda yang mengambil alih untuk menghindari lebih banyak lagi bonus scene yang terpapar ke hadapan publik.

Seperti yang sudah Anda baca di ceritanya Aksa, saya memang bukan ibu yang sempurna. Saya tahu bahwa golden age Aksa hanya tersisa beberapa tahun lagi dan banyak sekali ketertinggalan yang tidak sanggup saya kejar. Namun, saya yakin bahwa setiap ibu pasti menginginkan yang terbaik bagi buah hatinya, termasuk memilih media permainan edukatif.

Buku yang pertama kali saya bacakan untuk Aksa adalah The Alchemist, Paulo Coelho. Berikutnya adalah cerita anak bergambar. Sayangnya, ketika Aksa semakin besar, buku biasa menjadi hal yang tidak menarik lagi baginya. Dia lebih suka media audia visual a.k.a video atau yang berbentuk nyata seperti mainan. Saya kesulitan menemukan media edukasi yang menarik minatnya karena tidak banyak dongeng yang sudah berbentuk video.

Itu sebabnya mengapa saya sangat gembira ketika mengetahui bahwa So Good mengeluarkan So Good CERDIK (Cerita Digital Interaktif), aplikasi berisi 3 cerita anak yang membuat saya si ibu pemalas sibuk ini merasa sangat terbantu. I mean, di satu sisi saya ingin tetap bisa meluangkan waktu untuk bermain dan belajar bersama Aksa, tapi di sisi lain saya kekurangan sumber daya juga tidak memiliki tenaga kalau harus mendongeng sendiri.

Kenapa harus dongeng? Kenapa bukan film kartun biasa atau sinetron, misalnya? Karena dongeng adalah bagian dari kebudayaan, tradisi lisan dan tulisan yang diwariskan dari generasi ke generasi sebagai media pendidikan dan pembentukan karakter. Terlepas dari nilai yang tidak relevan (dan beberapa mitos yang tidak sesuai dengan kebijakan saya sebagai orang tua) dari beberapa dongeng yang sudah ada, dongeng tetap media paling efektif untuk edukasi tanpa harus mendikte anak.   

MANFAAT SO GOOD CERDIK

Dari sisi saya sebagai ibu, dongeng dalam So Good CERDIK memberikan banyak manfaat.

#1

Menanamkan nilai-nilai dengan bahasa dan media yang mudah dipahami anak-anak, terutama balita.

#2

Menjembatani “generation gap” antara saya yang dibesarkan oleh mitos dan legenda turun-temurun dengan Aksa yang lebih mengenal teknologi.

#3

Meningkatkan kemampuan berbahasa anak sekaligus menambah kosakata baru.

#4

Kami jarang sekali melewatkan waktu berdua meski setiap hari berada di ruangan yang sama. So Good CERDIK membantu saya dan Aksa membangun kembali hubungan kami.

#5

Menstimulasi imajinasi, logika berpikir, dan kreativitas.

#6

Menstimulasi daya kritis dan rasa ingin tahu anak. Sehabis menonton cerita, Aksa bertanya mengapa begini, mengapa begitu, apa ini, apa itu.

#7

Melatih daya ingat. 

#8

Mengembangkan emosi dan kemampuan berekspresi.

#9

Melatih kemampuan mendengar dan konsentrasi.

#10

Memperkenalkan anak dengan hal-hal di sekitarnya, seperti gambar, bentuk, huruf, angka, dan lainnya.

Dari semua manfaat So Good CERDIK yang saya sampaikan di atas, ada satu hal yang saya kira manfaatnya jauh lebih penting, yaitu MENDEKONSTRUKSI nilai-nilai dari cerita rakyat dan dongeng yang selama ini sudah ada. Karena IMHO, banyak sekali cerita dan legenda yang memakai patron hitam dan putih, tokoh yang teramat baik hati dan si jahat yang teramat jahat, kisah-kisah durhaka yang pesan moralnya entah apa, dan nilai-nilai lain yang bagi saya sudah tidak relevan.

Seperti yang dikatakan M.A. Tihami dalam jurnalnya "Makna Budaya dalam Dongeng Humor Islami”, kita sebagai orang tua harus selektif memilih dongeng paling bagus untuk disampaikan kepada anak-anak, juga harus pandai menyesuaikan dengan tingkatan usianya. Ini karena dongeng mengandung ajaran dan nila-nilai moral yang akan membentuk karakter anak.  

TIP MEMILIH DONGENG

Baca atau tonton secara tuntas cerita sebelum disampaikan kepada anak. Pindai apakah pesan yang tersurat dan tersirat di dalam dongeng tersebut sesuai dengan nilai-nilai yang kita anut atau tidak. Sebab anak-anak belum bisa memfilter, mereka akan langsung meniru apa yang mereka lihat dan dengar.

TIP #1

Sesuaikan dengan usia anak. Anak-anak memang cerdas, perkembangan otaknya luar biasa. Tapi ada hal-hal yang masih sulit mereka cerna.

Tip #2

Untuk dongeng berbentuk legenda yang notabene memuat sejarah, akan lebih baik kalau kita juga mengimbanginya dengan fakta-fakta ilmiah. Misalnya, Gunung Tangkuban Perahu. Menurut legenda, gunung ini adalah perahu yang ditendang oleh Sangkuriang. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Van Bemmelen (1934), Tangkuban Perahu terbentuk atau sisa letusan Gunung Sunda Purba sekitar 50 ribu tahun lalu. Mengimbangi legenda dengan fakta ilmiah penting supaya anak terbiasa berpikir logis juga agar mereka tertarik kepada bidang ilmu lain.

Tip #3

Jangan dulu memasukkan mitos. Menurut Akang (teman dekat saya yang kebetulan seorang antropolog), mitos sengaja dimasukkan ke dalam berbagai dongeng dengan tujuan untuk mengekalkan sesuatu, bisa baik, bisa juga buruk. Mitos sulit dideteksi kebenarannya karena hanya berdasarkan “katanya”. Anak-anak yang sejak kecil sudah dijejali dengan mitos akan tumbuh menjadi anak yang tidak kritis bahkan penakut.

Tip #4

Anak-anak adalah secarik kertas polos berwarna putih. Merah yang kita tuangkan ke atasnya, merahlah ia. Hitam yang kita tuangkan, maka hitam pulalah ia. Menjadi orang tua, mendidik dan mengawal pertumbuhannya adalah tugas yang tidak memiliki tepian. Namun, anak-anak adalah juga buku yang terbuka, sumber pelajaran yang batasannya hanyalah semesta. Saya belajar banyak dari Aksa. Belajar dari kepolosannya mencerna dunia. Belajar dari caranya berdamai dan mencari pemecahan dari kealpaan saya sebagai ibunya.

Belajar dari ketegaran dan kesabarannya menerima bahwa saya bukan ibu yang sempurna.

Cheers,
Mommy eL & Aksa

Disclaimer:

Blog post ini diikutsertakan dalam Lomba Foto Bercerita So Good CERDIK.

Copyright:

  1. Logo So Good: So Good Indonesia
  2. Aplikasi: So Good Indonesia
  3. Ilustrasi Umbo Larage: Sendi Siswandi
  4. Foto: Langit Amaravati
  5. Ilustrasi: Langit Amaravati
  6. Teks: Langit Amaravati

Daftar Pustaka

  1. Toha Sarumpaet, Riris. 2010. Pedoman Penulisan Sastra Anak. Edisi Revisi. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
  2. Tihami, M.A. 2014. Makna Budaya dalam Dongeng Humor Islami. Kawalu: Journal of Local Culture Vol 1, No. 1 (January-June), 2014. Diambil dari: http://kawalujournal.bantenologi.org. (25 November 2017)
  3. www.sogood.id
  4. www.emak2blogger.com
  5. www.kreavi.com
  6. www.ayahbunda.co.id
  7. www.alodokter.com

40 thoughts on “Sebab Tak Ada Ibu yang Sempurna: Ceritaku Bersama So Good CERDIK

  1. Merek nugget favorit saya nih dari dulu! 😀

    1. Sampe gede pun tetep jadi favorit, ya, kan?

  2. Ini rekomendasi banget buat ponakanku yg usianya gak jauh beda sama aksa pasti seneng bgt bisa kenalan sm so good cerdik

    1. Gih, beliin. Banyak banget manfaatnya, ini tantenya juga pasti seneng, sih. 😀

  3. wah anak jaman sekarang banyak yg bisa diaplikasikan dengan banyak hal yg bermanfaat dari gadget ya

    1. Iya banget, sudah zamannya anak-anak belajar dengan media teknologi.

  4. Anakku suka semua varian nugget ini… Apalagi bentuknya yang lucu-lucu. Jadi semangat buat makan.. salam kenal Kaka Langit ..

    1. Aksa lagi suka yang bentuknya pesawat dan donat.

  5. Edan buku pertamanya Alchemist. Nugget So Good selalu ada di kulkas, Teh. Buat bekel Nabil sekolah hahaha enak & praktis. Udah gitu selalu abis pula. Bonusnya juga kepake banget sama Nabil. Lumayan lah diajar denger dongeng. Terus dia sekarang yg dongengin saya heuheuheheu

    1. Nabil udah gede sih, ya, udah bisa mendongengin ibunya. Aksa juga inisiatif sih, tapi akunya kadang enggak ngerti dia ngomong apaan. 😀

Leave a Reply

%d bloggers like this: