Storycake for Youf Life; Keajaiban Rezeki_Narasi yang Terjebak Orasi



Judul: Storycake for Your Life: Keajaiban Rezeki 
Penulis: Nunu eL Fasa, dkk
Penerbit: GPU, 2013
Hal: xiv + 236
ISBN: 978-979-22-9955-7

Buku nonfiksi inspirasi yang bertajuk “Keajaiban Rezeki” ini dibagi ke dalam tujuh bab, ditulis oleh 34 orang kontributor dan disusun oleh Nunu eL Fasa. Meski tema sudah jelas-jelas dibebat oleh kotak yang sama, tapi dengan banyaknya kontributor yang memiliki latar belakang berbeda, buku ini tentu saja memiliki banyak warna. Dari mulai pengambilan angle, gaya bercerita, sampai kedalaman makna.  


Boomingnya buku-buku inspirasi di Indonesia beberapa tahun terakhir ini menjadi fenomena yang sama seperti genre lainnya yang diadaptasi dari luar Indonesia. Sebutlah chicklit dan teenlit. Sayangnya mereka yang mengadaptasi ini punya ‘kebiasaan buruk’ mengabaikan esensi dan kualitas karya itu sendiri. Alhasil adalah buku-buku yang ‘asal jadi’. 


Dari 37 cerita dari buku ini, menurut saya hanya setengahnya yang berhasil memberikan inspirasi, selebihnya adalah cerita sehari-hari yang tidak mendatangkan efek kontemplatif; dibaca lalu dilupakan begitu saja. Jelas goal yang ingin dicapai (menyamai Chicken Soup) masih jauh dari jangkauan. 



ISLAMI


Saya tidak tahu apa sebabnya penyusun membuat benang merah islami sebagai pengikat buku ini. Padahal yang namanya keajaiban bisa terjadi pada agama mana saja. Dari sisi pemasaran ini mempersempit ruang gerak. Dari sisi pembaca (terutama saya), ini mendatangkan kejenuhan. 


Jika dibandingkan dengan serial Chicken Soup (buku yang diadaptasi oleh Storycake), target pasarnya jauh berbeda. Mungkin karena Chicken Soup berasal dari Amerika sehingga lebih banyak membidik sisi-sisi humanis daripada religi. 

NARASI

Salah satu kesulitan paling tinggi dari menulis cerita inspirasi adalah narasi. Banyak sekali penulis yang terjebak ke dalam dua hal; diary dan orasi. 


Mereka yang terjebak ke dalam tulisan ala diary menjadikan tulisannya seperti catatan harian yang terlalu pribadi sedangkan yang terjebak orasi memberi kesan paling buruk: menggurui. 


Hal ini diperburuk dengan benang merah islami di atas. Para penulis seakan pamer kedekatan dengan Tuhan dalam setiap permasalahan dengan cara yang tidak elegan. Kalimat-kalimat ilahiyah bertebaran, bukan untuk menggiring alur cerita, melainkan hanya berfungsi menambah jumlah kata. 

Menyatir ayat Al-Quran atau kutipan bijak lainnya tentu diperbolehkan, sayangnya beberapa penulis kebablasan sehingga sukar membedakan cerita inspirasinya dengan teks khutbah Jumat atau buku-buku dakwah. 


Nunu el Fasa


MEMAKSA PUITIS

Sepertinya ini hanya mimpi, mimpi yang terbaik. Bukan sekadar angan, tapi angan yang begitu indah. Semua ini nyata, dan benar adanya. 

(Baitullah Menjadi Saksi – Yoza Yozie. Hal. 30)


Kalimat pembuka macam apa ini? Bagaimana cerita di dalamnya bisa memberi inspirasi jika ditulis dengan keinginan puitis yang tidak kesampaian seperti ini? Akan lebih baik kalau dibuka dengan kalimat-kalimat yang lebih “berguna” membangun cerita seperti:

Bulan ini adalah masaku untuk bekerja menjadi marketing “Rahmatillah”. Tahun ini adalah tahun kedua aku mengambil alih sekaligus mengubah konsep pemasaran usaha kurban ….

(Gara-Gara Keranjingan Sedekah – Zein el Arham. Hal. 80)



INSPIRASI (?)

Yang patut digarisbawahi dari kata inspirasi adalah ajakan untuk membangun kesadaran, menyentuh sisi paling dasar kemanusiaan. Bukan mengajarkan, bukan menjabarkan, apalagi memerintahkan. 

*

Konten: **
Sampul: **
Tataletak: ***

Leave a Reply