Surat Kesekian, Surat yang Tak Akan Pernah Sampai

Adakah kesedihan memiliki rahim sehingga ia bisa beranak-pinak di dalam tubuhku? Ataukah ia adalah amuba yang senantiasa membelah diri sampai aku mati sendiri? 
Di dalam benakku, engkau menjelma hantu-hantu yang tak bisa dimatikan waktu. Aku kerap dicemaskan hal-hal remeh semacam siapa yang akan membuatkanmu kopi di pagi hari, siapa yang akan mencuci bajumu setiap hari, siapa yang akan …. 

Kecemasan-kecemasan itu kemudian berganti dengan bebayang yang lebih cekam. Tentang perempuan yang sekarang berbaring di sisimu setiap malam. Tentang perempuan yang kaupuja mati-matian. Tentang perempuan yang membuatmu membenciku sampai ke sumsum tulang belakang. Tentang perempuan yang mencurimu dariku. 
Banyak sekali jejak yang kautinggalkan. Aku tak bisa beranjak dari seluruh masa lalu untuk menjajal setapak baru tanpa terantuk apa pun yang berhubungan denganmu. Selamanya, engkau menjelma hantu.

Tapi sekarang engkau pergi, kepada perempuan lain. Kepada hati yang lain. 
Tapi engkau telah sempurna pergi.

Leave a Reply