SUSAN KECIL SUKA MATAHARI

PAGI

Pahatan warna apa yang dimau langit?
Setitik debu berwarna kelabu atu sekotak krayon?
Mengingat pohon jambu di sebelah rumah baru berbuah,
Tolong jangan tanyakan itu padaku!
Karena burung gereja saja tak ambil pusing kelihatannya
Tetap terbang dan bercicit riang seperti anak tk

Sudahkah loteng-loteng ini ditanya?
Mengapa hanya ada warna bata, genteng, asbes, bahkan jemuran?
Pernahkah antena-antena ini diminta bersua?
Sudah berapa lama bertengger di sana demi peradaban

Pagi adalah sekardus carik-carik pertanyaan tentang sebuah hidup baru
Jangan lupa juga untuk berdebat dengan secarik puisi dan secangkir kopi
Dimana dunia akan meletakkan aku?

==
Susan kecil suka matahari, bermain di ladang ubi, di tengah teriknya setiap hari. Susan kecil suka tanah, menggali-gali mereka dan menanaminya dengan daun cocor bebek. Susan kecil suka hujan, tengadahkan tangan setiap kali ia datang. Basah kuyup hingga dimarahi dan dijewer Ibu. Susan kecil suka rumput dan ilalang, membuat sarang di tengah-tengahnya. Berbaring di sana amati serakan awan. Susan kecil suka angin, membuat sendiri genta angin, nikmati suara dentingannya di depan jendela.
Susan yang duduk di bangku SD tetap suka semua itu, tapi semua itu hampir tak ada. Tak disadarinya bahwa dia kecewa.
Susan yang di SMP tak pernah lupa semua itu, tapi semua itu kian menghilang. Berubah jadi perumahan dan jalan aspal. Desau anginnya pun sudah tak sama. Hati kecilnya mulai sadar bahwa di kecewa.
Susan yang di SLTA bahkan mematri itu semua dalam-dalam pada otaknya, tapi semua itu benar-benar tak nampak. Bahkan kepenatan semakin tergubah. Seluruh sel-selnya setuju kalau dia merasa sangat kecewa.
Susan dewasa kian lelah mengenangnya, sebab kenangannya hanya terisap atmosfer yang penuh karbon monoksida. Percuma merasa kecewa, berontak hatinya.
Semuanya memang tak akan sama…

-sky-

Leave a Reply