Baru saja dapat telepon dari Majalah Sekar terkait pendataan SWOMA (Sekar Womenpreneur Award) 2012.  Wow, it is so amazing. Selain karena amnesia attack yang membuat saya lupa pernah mendaftar, juga karena dada ini begitu berdebar-debar (norak lebay). Ya, walau bagaimanapun ini ajang pertama yang saya ikuti sebagai seorang enterpreneur. Biasanya saya mengikuti ajang semacam Ms. Universe atau Indonesian Idol yang tentu saja langsung didiskualifikasi di pendaftaran pertama. 

Enterpreneur di dalam benak saya adalah pengusaha atau wiraswasta. Honestly, saya tidak begitu jago dalam hal seperti ini karena mental saya adalah mental pekerja walau selama menjadi staff di berbagai perusahaan saya dituntut untuk mengambil keputusan sendiri. Dan sekarang, ketika resmi menjadi pengusaha, saya dituntut untuk mengambil keputusan untuk perusahaan saya sendiri. Tentu saja dengan risiko ditanggung sendiri. 

 

SkylArt Publisher, perusahaan penerbitan indie milik saya dan suami ini memang belum lama berdiri. Tapi memiliki penerbitan sendiri ini adalah salah satu mimpi saya bertahun-tahun lampau, sejak saya baru ngeh tentang dunia penerbitan dan perbukuan. Tidak ada motivasi wah kecuali ingin memfasilitasi para penulis berbakat yang belum mendapatkan apresiasi cukup. Sekaligus merasa gerah dengan terbitnya buku-buku yang bagi saya pribadi jauh dari kualitas baik dari segi perwajahan maupun isi. 
 
Kendala memang ada, bahkan banyak. Modal, SDM, pengetahuan tentang seluk beluk penerbitan dan dunia percetakan, promosi, marketing, dan lain sebagainya. Tapi itu semua belum apa-apa jika dibandingkan dengan merosotnya motivasi di dalam sini. Memang, menjalankan sebuah usaha membutuhkan tekad besar juga baja. Meski SkylArt Publisher dibangun di atas idelisme, penerbit indie ini juga tentunya harus sejalan dengan realisme. Toh pasar tetaplah pasar. Kami harus mengikuti aturan mainnya, suka atau tidak. 
 
SWOMA 2012 ini betul-betul melecut semangat sehingga saya secara pribadi merasa tertantang untuk menjadi pengusaha perempuan yang sukses. Saya tidak ingin, keputusan saya meninggalkan kantor menjadi sia-sia. Saya juga tidak ingin, perusahaan yang sudah berdiri ini menjadi sia-sia. 
 
Ada banyak doa dan harapan dipanjatkan dari hari ke hari. Semoga, segala sesuatunya berjalan dan berubah baik. 

Leave a Reply