Tanggal Tua, Rezeki Adalah Misteri

Ini adalah sebuah acara Kompetisi Blogger ShopCoupons X MatahariMall. Yang diselenggarakan oleh ShopCoupons. voucher mataharimall dan hadiah disponsori oleh MatahariMall.

mataharimall-kompetisi

Dibutuhkan waktu berminggu-minggu bahkan bertahun-tahun untuk mengumpulkannya, tapi hanya dibutuhkan waktu beberapa jam untuk menghabiskannya. 


Itu filosofi saya tentang uang. Ya memang, uang kadang lebih kejam dari kekasih, mudah pergi, tapi tak mudah datang kembali. Uang juga lebih kejam dari kenangan mantan, semakin diingat semakin menyakitkan. Bahkan, uang lebih menyeramkan daripada jelangkung, sudah berkali-kali diundang tapi tak jua datang. 

Meski seorang freelancer seperti saya tidak punya tanggal gajian, namun percayalah bahwa krisis ekonomi di tanggal tua masih sering saya alami. Memang, kalender saya agak sedikit berbeda, tanggal gajian saya tidak hanya ditandai dengan bulatan merah di atas angka, tapi juga dengan tanda tanya. Tanda tanya itulah yang kerap membuat saya gelisah, menebak-nebak apakah hari itu saya akan gajian atau tidak. Bisa jadi iya, bisa jadi gajian beberapa hari kemudian, seminggu kemudian, bahkan sebulan kemudian. 



Selain tanggalnya yang tidak pasti, jumlahnya pun ikut mengalami fluktuasi. Kadang sejuta, kadang seratus juta (semoga Anda tidak percaya bagian seratus jutanya). Intinya, besar pendapatan saya tergantung kepada daun yang jatuh tidak membenci angin seberapa banyak pekerjaan yang dapat saya selesaikan di bulan sebelumnya. Pada saat-saat tertentu, setiap hari adalah tanggal muda. Tak jarang pula, sebulan penuh saya mengalami tanggal tua.   

Sebagai anak kos, single parent dengan dua orang anak sebagai tanggungan, dan berprofesi as a pengangguran terselubung, banyak cerita di tanggal tua yang akan dengan senang hati saya bagikan. 

Tapi, sebelum kita bercerita tentang kisah tanggal tua saya, mari kita lihat kisah tanggal tuanya Budi dan bagaimana dia survive. Siapa tahu ini bisa menginspirasi. 

Ada tiga klasifikasi tanggal tua di dalam hidup saya: Level 3-1. Persis seperti level keripik pedas yang dikombinasikan dengan status peringatan bencana alam. Parameter level dan status ini berdasarkan pada daya tahan dompet terhadap tiga prioritas kebutuhan: sangat penting, penting, dan agak-agak penting.

Level 3 – Status Hati-Hati

Artinya saya dan Aksa masih bisa makan, beli susu dan diapers, kebutuhan semacam sabun masih tersedia, langganan Internet terbayar, tapi uang kos dan biaya pengasuh nunggak. Pada level ini, saya tidak bisa bepergian karena memang tidak punya ongkos

Level 2 – Status Waspada

Jika diibaratkan gunung meletus, mulai ada lava yang berlelehan dan intensitas bau belerang meningkat dengan semena-mena. Status waspada selalu bisa menyulap saya yang tadinya tidak bisa memasak menjadi chef kheuseus menu nasi goreng dengan bumbu siap saji. 

Level 1 – Status Berbahaya

Ini level wajib evakuasi. Maksudnya tidak ada uang, tidak ada bahan makanan, susu habis, diapers habis, perlengkapan kamar mandi habis, Internet mati karena belum dibayar, uang kos dan uang pengasuh belum dibayar, dan lain-lain. 

How to deal with tanggal tua jelas membutuhkan strategi. Setelah bertahun-tahun menjadi freelancer, saya terlatih menjadi gerilyawan tanggal tua dan memiliki berbagai macam strategi dari mulai yang elegan sampai memalukan. 

Namun, bukan prajurit militan namanya kalau tidak sanggup melakukan langkah-langkah pencegahan dan pengobatan terhadap serangan menipisnya isi dompet. Saya membaginya ke dalam dua tahapan: sedia bunker di tanggal muda, dan taktik evakuasi di tanggal tua.  

Tanggal muda adalah tanggal ketika sebuah pesan masuk, “Chan, honor sudah ditransfer, ya.” Pada saat itulah saya mulai mempersiapkan perbekalan meskipun tak jarang bekal itu habis di tengah jalan. Ada beberapa strategi yang saya lakukan di tanggal muda yang berlangsung tidak terlalu lama itu:

1. Membayar Semua “Alat Perang”

Alat perang di sini maksudnya bayar kos, biaya pengasuh, dan Internet. Pokoknya, dahulukan semua kebutuhan sangat penting. Masalahnya, telat bayar kos akan membuat kami terancam bobok manis di emperan toko, dan saya selalu berusaha membayar pengasuh Aksa tepat waktu agar Bu Yayah tidak memiliki alasan untuk melakukan aksi turun ke jalan. Internet? Iya, Internet berada di urutan pertama outstanding payment karena digunakan untuk bekerja. 

2. Membeli Kebutuhan dalam Jumlah Besar

Bukan, ini bukan untuk buka warung. Ini untuk menyiasati selisih harga retail. Misalnya, susu Aksa ukuran 800 gram lebih murah daripada 2 boks susu ukuran 400 gram. Pun dengan diapers, biasanya saya membeli yang ukuran besar agar harganya lebih murah. 

Kebutuhan lain semacam sabun juga dibeli dengan strategi yang sama agar cukup sebulan penuh. 

3. Memasok Perbekalan

Jika honor yang saya terima cukup besar, biasanya saya membeli berbagai kebutuhan sebagai perbekalan. Misalnya, gas, beras, kecap, saos, bumbu nasi goreng berbagai rasa, sarden, minyak goreng, abon untuk Aksa, dan lain-lain.

4. Fungsi, Bukan Merek

Untuk produk-produk tertentu, saya tidak fanatik terhadap merek. Perlengkapan mandi saya setiap bulan selalu berubah-ubah, tergantung kepada produk yang manakah yang sedang menawarkan diskon atau promo.  

Produk favorit saya adalah produk-produk bundling. Misalnya, deterjen berhadiah piring shampoo bayi berhadiah sabun, atau kopi berhadiah suami. *eh gimana? 

5. Hemat Pangkal Kaya

Bukan mamah-mamah namanya kalau tidak punya radar maha tajam terhadap barang-barang murah a.k.a diskonan. Murah ya, bukan murahan. Sebelum memutuskan untuk belanja di mana, saya bergerilya terlebih dahulu, mencari barang-barang diskonan. 

Karena saya subscribe dan punya akun di ShopCoupons dan Matahari Mall, jadi sering mendapatkan notifikasi tentang berbagai macam promosi. Misalnya, Hypermart Day yang memberikan potongan harga sebesar 50 ribu rupiah untuk pembelanjaan minimal 250 ribu rupiah. Saya hanya perlu duduk manis, memilih barang-barang kebutuhan saya di smartphone, checkout, bayar, lalu menunggu pesanan saya diantar. Free ongkir pula. Selain hemat dana, ini juga menghemat waktu. 

 

6. Siapkan Dana Cadangan

Dana cadangan inilah yang kelak menyelamatkan hidup kami. Saya punya dua toples untuk menyimpan dana cadangan, yang satu untuk susu dan diapers Aksa, yang satu untuk kebutuhan lainnya. Caranya mudah, simpan beberapa lalu pura-pura amnesia agar tidak tergoda untuk menggunakannya kecuali betul-betul darurat. 

 

…   

Karena di setiap tanggal tua level kemelaratan saya selalu bervariasi, rasanya memang tidak mudah menjabarkan strategi evakuasi. 

1. Menjaga Kadar Emosi

Kadar emosi orang yang sedang bokek dengan cewek PMS berada di level yang sama: drama. Ini penting untuk dijaga agar saya masih bisa waras menapaki kehidupan yang kejam ini. Untuk menjaga emosi, saya menghindari bertengkar dengan pacar karena memang tidak punya. Well okay, biasanya saya mendengarkan lagu-lagu ceria atau membaca buku-buku ringan seperti Madilog atau buku-bukunya Martin Heidegger. Ringan karena sulit dimengerti, maksud saya.

2. Ganti Posisi

Saya orang yang tidak suka menyia-nyiakan segala sesuatu. Bagi saya, setiap barang yang saya beli dengan tetes keringat harus diberdayakan sedemikian rupa. Maka di tanggal tua, semua botol di kamar mandi akan berganti posisi, juga dengan botol kecap dan saos. 

Jika stok sudah tidak memadai sedangkan hilal transferan belum jua terlihat, maka saya akan mengubah strategi: top to toe wash, tergantung jenis produk mana yang masih tersedia di kamar mandi saya. Kalau yang ada hanya shampoo ya itu artinya saya mencuci rambut dan badan memakai shampoo. Kalau yang ada hanya sabun mandi ya saya keramas menggunakan sabun mandi. Bagaimana kalau yang ada hanya deterjen? Belum, untungnya saya belum mencoba keramas dan mandi dengan deterjen cair. 

3. Master Chef KW. 9

Percayalah, di tanggal tua, Anda bisa menjelma menjadi master chef dengan keahlian memasak nasi goreng berbagai rasa, tergantung bumbu cepat saji yang tersedia. Sarapan nasi goreng, makan siang nasi goreng, makan malam (jika lapar) ya nasi goreng lagi. 
 
Berbeda halnya jika situasi sudah mencapai level 1 alias status berbahaya, sekali-kali jika sedang kumat, saya akan datang ke warung nasi langganan, makan di sana, lalu pura-pura lupa membawa dompet padahal memang sengaja tidak membawa. Karena ibu warung sudah hafal betul status saya sebagai single parent dan anak kosan, biasanya beliau maklum dan hanya senyum-senyum.    

4. Rajin Silaturahmi

Silaturahmi itu mendatangkan rezeki, semua orang tahu itu. Maka di tanggal tua yang begitu tua, saya jadi lebih sering datang ke rumah ibu kos. Adaaa aja alasannya. Oh, dan harus datang pada timing yang tepat, tepat ketika beliau selesai masak. Begini dialog yang sering terjadi:

Ibu kos: Ceu, udah makan? 
Saya: Belum, Mih. 
Ibu kos: Nih atuh, Mamih masak sayur sop. Sini bawa piring.
Saya: Aih, Mamih. Udah ah, nggak usah, ngerepotin. *lalu pergi ke kamar untuk ngambil mangkuk dan piring 

5. Ikut Mendoakan

Saya paling senang kalau musim kawinan tiba. Jika saya sedang putus urat malu, saya akan datang ke resepsi meski tidak diundang atau meski mempelainya tidak saya kenal, sekadar numpang makan. Hey, saya “membayarnya” dengan doa tulus dari dalam dada, mendoakan agar rumah tangga mereka selalu diberkahi Tuhan. Bukankah doa tidak ternilai harganya? (Iya deh, Chan. Iya)

Ini adalah taktik yang diadaptasi dari ketika saya masih lajang. Meski yaaa … persentase keberhasilannya masih di bawah 50%. Tak jarang saya di-siapakamu-in oleh mempelai, salah dresscode, atau disangka petugas katering. Untungnya (urang Sunda mah da kieu, nanaon teh sok aya weh untungna) saya belum pernah nyasar ke pernikahan mantan. Sekian.  

6. Mengatur Keuangan

Yang dimaksud dengan mengatur keuangan bukanlah perhitungan rugi laba atau memperketat anggaran. Sama sekali bukan. Ini maksudnya transfer antar 2 rekening yang saya miliki agar bisa diambil. Kan sering tuh, di Bank A ada saldo 40 ribu (sudah dikurangi dari saldo minimal) tapi tidak bisa diambil, maka saya mentransfer dari rekening B sebesar 10 ribu rupiah agar uang di rekening A bisa diambil 50 ribu. 

Anda pusing dengan penjelasan saya? Sudahlah, hanya orang-orang militan dan terlatih yang bisa melakukan strategi ini dengan elegan.  
 

7. Berbelanja Pada Saat yang Tepat

Pernah, pada suatu tanggal tua yang begitu suram, ketika uang yang saya pegang hanya 25 ribu rupiah sementara susu Aksa habis. Saya harus terseok-seok berjalan ke supermarket yang jaraknya sekitar 2 KM untuk membeli susu dalam kemasan paling kecil karena hanya supermarket itulah yang menjual susu dalam kemasan 200 gram. Jika di tanggal muda saya tidak peduli jika Aksa tidak menghabiskan susunya, maka di tanggal tua saya selalu membuat susu dengan takaran seperlunya. 

Itu dulu. Sekarang, saya mulai mencontoh Budi agar tanggal tua tidak begitu menyeramkan lagi. Caranya, strategi TTS, maksudnya Tanggal Tua Suprise dari Matahari Mall. Ada banyak produk yang diskon gede-gedean setiap tanggal tua. Susu? Ada. Diapers? Ada. Beras? Shampoo? Sabun? Oh come on, semuanya ada. 

  
 

Dari semua kisah tanggal tua yang pernah saya alami, kisah-kisah lainnya inilah yang justru begitu melekat di hati. 

1. Tuhan di Perut Orang-Orang Lapar

Saat itu uang di kantong saya hanya tersisa 100 ribu rupiah, jumlah uang yang sudah saya alokasikan untuk makan, susu, dan diapers Aksa. Ketika saya makan di warung dengan menu seperti biasa: telur dadar dan sayuran, seorang lelaki tua datang dan meminta makan. Ia mengaku sebagai musafir yang sedang menempuh perjalanan dan kehabisan uang. Tanpa pikir panjang saya membelikannya makanan: nasi, ayam goreng, sayuran, dan kerupuk.

Waktu itu uang yang tersisa hanya cukup untuk membeli sekotak susu ukuran paling kecil, 3 bungkus mi instan, dan sebungkus kopi. Jika saya tidak mentraktir lelaki tua itu makan, barangkali saya bisa membeli diapers juga, tapi tidak, saya tidak menyesal. 

Ketika saya kembali ke kosan, ada beberapa notifikasi di Facebook. Yang pertama pengumuman bahwa saya menang juara II dalam salah satu lomba blog. Yang kedua adalah inbox dari seorang teman yang meng-hire saya menjadi content writer

2. Rezeki Tetangga

Tetangga saya memiliki balita usia 5 bulan. Pada suatu hari, anaknya mengompol dan berceceran di lantai. Saya tanya mengapa anaknya tidak dipakaikan diapers, ia menjawab bahwa diapers ada tapi hanya dipakai untuk malam hari. Saya tahu, dengan begitu ia harus mengepel lantai dan mengganti baju jika akan salat. Saya juga tahu bahwa ia melakukan itu bukan karena sengaja, tapi karena memang tidak ada dana untuk membeli diapers

Saya masuk ke kamar, mengambil uang, dan menyerahkan kepada tetangga saya itu. “Ini pakai saja,” kata saya.

Malam harinya, ketika saya baru saja menidurkan Aksa, seseorang mengetuk pintu. Ternyata itu adalah kurir jasa ekspedisi yang mengantarkan paket. Coba tebak apa isinya? Kiriman diapers dari seorang teman. Tidak tanggung-tanggung, 4 pak diapers ukuran besar. Berkali-kali lipat dari jumlah uang yang saya berikan kepada tetangga siang harinya. 

3. “Berjudi dengan Tuhan

Saya bukan berasal dari keluarga berkecukupan. Bapak saya buruh bangunan, sedangkan Ibu adalah IRT yang tidak memiliki penghasilan. Pernah pada suatu kali Bapak meminjam uang, tidak banyak memang, hanya 200 ribu rupiah. Masalahnya, saat itu uang yang saya miliki hanya 250 ribu rupiah. 

Saya sempat berpikir untuk menolak, tapi kemudian ingat bahwa itu adalah kesempatan untuk (katakanlah) membalas budi. Karakter Bapak sama dengan saya, orang yang lebih suka bekerja sampai titik keringat penghabisan daripada menengadahkan tangan. Jadi jika beliau sudah meminjam, itu artinya darurat. 

Saya memberi Bapak uang sejumlah yang diminta, tentu saja dengan narasi, “Nggak usah pinjam-pinjamlah, Pak. Kayak sama siapa aja. Tapi maaf lho, Teteh tidak bisa memberi lebih.”

Saat itu tidak ada hilal transferan, saya tidak tahu bagaimana bisa survive dengan uang 50 ribu rupiah. Tapi sore harinya, BBM saya berbunyi, ada pesan dari seorang kawan lama. 

“Chan, honormu sudah kutransfer ya. Sori lama, ini memang baru cair dari klien.”

Honor apa? Ternyata itu adalah honor dari riset yang saya lakukan berbulan-bulan sebelumnya. Saya bahkan sudah lupa dan tidak pernah menyangka bahwa jumlah yang ia transfer jauh lebih besar dari perjanjian kami sebelumnya. 



Rezeki adalah sesuatu yang penuh misteri. Saya tidak pernah tahu apakah uang yang ada di kantong saya benar-benar jatah saya ataukah ada jatah orang lain, yang saya tahu hanyalah bahwa berbagi di kala kita lapang adalah hal besar, tapi berbagi ketika kita sendiri berada dalam kekurangan jauh lebih besar.

Dari sekian banyak strategi, ada satu strategi yang selalu saya pegang, baik tanggal muda maupun tanggal tua: ketika saya menitipkan diri saya dan anak-anak kepada Ia Yang Maha Kaya, maka kami tidak akan pernah kekurangan. Tidak akan pernah. 

Salam,
~eL 

59 Comments

  1. May 19, 2016 at 10:19 am

    uhuyyy itu sampe ada status waspada dan teman-temannya, super ngeri kalau kita terjebak di tanggal tua, makanya kudu parinter ngatur keuangan ya bu supaya tidak kena sindrom tanggal tua macam saya ini hehe

  2. May 19, 2016 at 10:34 am

    simpan lalu pura2 amnesia… err aku kok ga bisa amnesia ya *bongkar celengan*

  3. May 19, 2016 at 11:15 am

    Mare molai berkebun. Hahahaha.

  4. May 19, 2016 at 11:23 am

    Pura2 lupa juga sama koin2 seribuan yang hampir separo kaleng *tanggal tua euy :p

  5. May 19, 2016 at 11:24 am

    Whoaaaaaa! Kereeen banget tulisannya kak eL. Juara juaraa juaraaaaa 😀

  6. May 19, 2016 at 11:27 am

    aduh teh yang ikutan makan pas ada hajatan kok kerasa gimana gitu.. lucuk aja banyanginya.. hehehehe…
    …..
    ceritanya keren, saya yakin pasti juara ini..

  7. May 19, 2016 at 11:49 am

    Super sekali! Chan, aku ga pernah bosan baca tulisan2 kamu. Menceritakan ttg apa saja, gaya bahasa dan pemilihan kata2mu selalu menarik dan ga bikin bosan. Sukses yaaa, semoga menang!

  8. May 19, 2016 at 11:53 am

    Aku mah pelupa orangnya, jadi itu emang lupa beneran. Hahaha.

  9. May 19, 2016 at 11:55 am

    Menjadi non karyawan, seolah setiap tanggal menjadi tanggal tua.. Tadinya banyak mengeluh, setelah baca tulisan ini jadi semangat lagi. Terima kasih sudah menginspirasi teh..

  10. May 19, 2016 at 11:56 am

    Udah punya solasi buat you know what? Hahaha.

Leave a Reply