Tanggal Tua, Rezeki Adalah Misteri

Dibutuhkan waktu berminggu-minggu bahkan bertahun-tahun untuk mengumpulkannya, tapi hanya dibutuhkan waktu beberapa jam untuk menghabiskannya. 


Itu filosofi saya tentang uang. Ya memang, uang kadang lebih kejam dari kekasih, mudah pergi, tapi tak mudah datang kembali. Uang juga lebih kejam dari kenangan mantan, semakin diingat semakin menyakitkan. Bahkan, uang lebih menyeramkan daripada jelangkung, sudah berkali-kali diundang tapi tak jua datang. 

Meski seorang freelancer seperti saya tidak punya tanggal gajian, namun percayalah bahwa krisis ekonomi di tanggal tua masih sering saya alami. Memang, kalender saya agak sedikit berbeda, tanggal gajian saya tidak hanya ditandai dengan bulatan merah di atas angka, tapi juga dengan tanda tanya. Tanda tanya itulah yang kerap membuat saya gelisah, menebak-nebak apakah hari itu saya akan gajian atau tidak. Bisa jadi iya, bisa jadi gajian beberapa hari kemudian, seminggu kemudian, bahkan sebulan kemudian. 



Selain tanggalnya yang tidak pasti, jumlahnya pun ikut mengalami fluktuasi. Kadang sejuta, kadang seratus juta (semoga Anda tidak percaya bagian seratus jutanya). Intinya, besar pendapatan saya tergantung kepada daun yang jatuh tidak membenci angin seberapa banyak pekerjaan yang dapat saya selesaikan di bulan sebelumnya. Pada saat-saat tertentu, setiap hari adalah tanggal muda. Tak jarang pula, sebulan penuh saya mengalami tanggal tua.   

Sebagai anak kos, single parent dengan dua orang anak sebagai tanggungan, dan berprofesi as a pengangguran terselubung, banyak cerita di tanggal tua yang akan dengan senang hati saya bagikan. 

Tapi, sebelum kita bercerita tentang kisah tanggal tua saya, mari kita lihat kisah tanggal tuanya Budi dan bagaimana dia survive. Siapa tahu ini bisa menginspirasi. 

 

Ada tiga klasifikasi tanggal tua di dalam hidup saya: Level 3-1. Persis seperti level keripik pedas yang dikombinasikan dengan status peringatan bencana alam. Parameter level dan status ini berdasarkan pada daya tahan dompet terhadap tiga prioritas kebutuhan: sangat penting, penting, dan agak-agak penting.

 

Level 3 – Status Hati-Hati

Artinya saya dan Aksa masih bisa makan, beli susu dan diapers, kebutuhan semacam sabun masih tersedia, langganan Internet terbayar, tapi uang kos dan biaya pengasuh nunggak. Pada level ini, saya tidak bisa bepergian karena memang tidak punya ongkos. 

Level 2 – Status Waspada

Jika diibaratkan gunung meletus, mulai ada lava yang berlelehan dan intensitas bau belerang meningkat dengan semena-mena. Status waspada selalu bisa menyulap saya yang tadinya tidak bisa memasak menjadi chef kheuseus menu nasi goreng dengan bumbu siap saji. 

Level 1 – Status Berbahaya

Ini level wajib evakuasi. Maksudnya tidak ada uang, tidak ada bahan makanan, susu habis, diapers habis, perlengkapan kamar mandi habis, Internet mati karena belum dibayar, uang kos dan uang pengasuh belum dibayar, dan lain-lain. 

How to deal with tanggal tua jelas membutuhkan strategi. Setelah bertahun-tahun menjadi freelancer, saya terlatih menjadi gerilyawan tanggal tua dan memiliki berbagai macam strategi dari mulai yang elegan sampai memalukan. 

Namun, bukan prajurit militan namanya kalau tidak sanggup melakukan langkah-langkah pencegahan dan pengobatan terhadap serangan menipisnya isi dompet. Saya membaginya ke dalam dua tahapan: sedia bunker di tanggal muda, dan taktik evakuasi di tanggal tua.  

Tanggal muda adalah tanggal ketika sebuah pesan masuk, “Chan, honor sudah ditransfer, ya.” Pada saat itulah saya mulai mempersiapkan perbekalan meskipun tak jarang bekal itu habis di tengah jalan. Ada beberapa strategi yang saya lakukan di tanggal muda yang berlangsung tidak terlalu lama itu:

1. Membayar Semua “Alat Perang”

Alat perang di sini maksudnya bayar kos, biaya pengasuh, dan Internet. Pokoknya, dahulukan semua kebutuhan sangat penting. Masalahnya, telat bayar kos akan membuat kami terancam bobok manis di emperan toko, dan saya selalu berusaha membayar pengasuh Aksa tepat waktu agar Bu Yayah tidak memiliki alasan untuk melakukan aksi turun ke jalan. Internet? Iya, Internet berada di urutan pertama outstanding payment karena digunakan untuk bekerja. 

2. Membeli Kebutuhan dalam Jumlah Besar

Bukan, ini bukan untuk buka warung. Ini untuk menyiasati selisih harga retail. Misalnya, susu Aksa ukuran 800 gram lebih murah daripada 2 boks susu ukuran 400 gram. Pun dengan diapers, biasanya saya membeli yang ukuran besar agar harganya lebih murah. 

Kebutuhan lain semacam sabun juga dibeli dengan strategi yang sama agar cukup sebulan penuh. 

3. Memasok Perbekalan

Jika honor yang saya terima cukup besar, biasanya saya membeli berbagai kebutuhan sebagai perbekalan. Misalnya, gas, beras, kecap, saos, bumbu nasi goreng berbagai rasa, sarden, minyak goreng, abon untuk Aksa, dan lain-lain.

4. Fungsi, Bukan Merek

Untuk produk-produk tertentu, saya tidak fanatik terhadap merek. Perlengkapan mandi saya setiap bulan selalu berubah-ubah, tergantung kepada produk yang manakah yang sedang menawarkan diskon atau promo.  

Produk favorit saya adalah produk-produk bundling. Misalnya, deterjen berhadiah piring,  shampoo bayi berhadiah sabun, atau kopi berhadiah suami. *eh gimana? 

5. Hemat Pangkal Kaya

Bukan mamah-mamah namanya kalau tidak punya radar maha tajam terhadap barang-barang murah a.k.a diskonan. Murah ya, bukan murahan. Sebelum memutuskan untuk belanja di mana, saya bergerilya terlebih dahulu, mencari barang-barang diskonan. 

Karena saya subscribe dan punya akun di ShopCoupons dan Matahari Mall, jadi sering mendapatkan notifikasi tentang berbagai macam promosi. Misalnya, Hypermart Day yang memberikan potongan harga sebesar 50 ribu rupiah untuk pembelanjaan minimal 250 ribu rupiah. Saya hanya perlu duduk manis, memilih barang-barang kebutuhan saya di smartphone, checkout, bayar, lalu menunggu pesanan saya diantar. Free ongkir pula. Selain hemat dana, ini juga menghemat waktu. 

 

6. Siapkan Dana Cadangan

Dana cadangan inilah yang kelak menyelamatkan hidup kami. Saya punya dua toples untuk menyimpan dana cadangan, yang satu untuk susu dan diapers Aksa, yang satu untuk kebutuhan lainnya. Caranya mudah, simpan beberapa lalu pura-pura amnesia agar tidak tergoda untuk menggunakannya kecuali betul-betul darurat. 

 

 

…   

Karena di setiap tanggal tua level kemelaratan saya selalu bervariasi, rasanya memang tidak mudah menjabarkan strategi evakuasi. 

1. Menjaga Kadar Emosi

Kadar emosi orang yang sedang bokek dengan cewek PMS berada di level yang sama: drama. Ini penting untuk dijaga agar saya masih bisa waras menapaki kehidupan yang kejam ini. Untuk menjaga emosi, saya menghindari bertengkar dengan pacar karena memang tidak punya. Well okay, biasanya saya mendengarkan lagu-lagu ceria atau membaca buku-buku ringan seperti Madilog atau buku-bukunya Martin Heidegger. Ringan karena sulit dimengerti, maksud saya.

2. Ganti Posisi

Saya orang yang tidak suka menyia-nyiakan segala sesuatu. Bagi saya, setiap barang yang saya beli dengan tetes keringat harus diberdayakan sedemikian rupa. Maka di tanggal tua, semua botol di kamar mandi akan berganti posisi, juga dengan botol kecap dan saos. 

Jika stok sudah tidak memadai sedangkan hilal transferan belum jua terlihat, maka saya akan mengubah strategi: top to toe wash, tergantung jenis produk mana yang masih tersedia di kamar mandi saya. Kalau yang ada hanya shampoo ya itu artinya saya mencuci rambut dan badan memakai shampoo. Kalau yang ada hanya sabun mandi ya saya keramas menggunakan sabun mandi. Bagaimana kalau yang ada hanya deterjen? Belum, untungnya saya belum mencoba keramas dan mandi dengan deterjen cair. 

 

3. Master Chef KW. 9

Percayalah, di tanggal tua, Anda bisa menjelma menjadi master chef dengan keahlian memasak nasi goreng berbagai rasa, tergantung bumbu cepat saji yang tersedia. Sarapan nasi goreng, makan siang nasi goreng, makan malam (jika lapar) ya nasi goreng lagi. 
 
Berbeda halnya jika situasi sudah mencapai level 1 alias status berbahaya, sekali-kali jika sedang kumat, saya akan datang ke warung nasi langganan, makan di sana, lalu pura-pura lupa membawa dompet padahal memang sengaja tidak membawa. Karena ibu warung sudah hafal betul status saya sebagai single parent dan anak kosan, biasanya beliau maklum dan hanya senyum-senyum.    

4. Rajin Silaturahmi

Silaturahmi itu mendatangkan rezeki, semua orang tahu itu. Maka di tanggal tua yang begitu tua, saya jadi lebih sering datang ke rumah ibu kos. Adaaa aja alasannya. Oh, dan harus datang pada timing yang tepat, tepat ketika beliau selesai masak. Begini dialog yang sering terjadi:

Ibu kos: Ceu, udah makan? 
Saya: Belum, Mih. 
Ibu kos: Nih atuh, Mamih masak sayur sop. Sini bawa piring.
Saya: Aih, Mamih. Udah ah, nggak usah, ngerepotin. *lalu pergi ke kamar untuk ngambil mangkuk dan piring 

5. Ikut Mendoakan

Saya paling senang kalau musim kawinan tiba. Jika saya sedang putus urat malu, saya akan datang ke resepsi meski tidak diundang atau meski mempelainya tidak saya kenal, sekadar numpang makan. Hey, saya “membayarnya” dengan doa tulus dari dalam dada, mendoakan agar rumah tangga mereka selalu diberkahi Tuhan. Bukankah doa tidak ternilai harganya? (Iya deh, Chan. Iya)

Ini adalah taktik yang diadaptasi dari ketika saya masih lajang. Meski yaaa … persentase keberhasilannya masih di bawah 50%. Tak jarang saya di-siapakamu-in oleh mempelai, salah dresscode, atau disangka petugas katering. Untungnya (urang Sunda mah da kieu, nanaon teh sok aya weh untungna) saya belum pernah nyasar ke pernikahan mantan. Sekian.  

6. Mengatur Keuangan

Yang dimaksud dengan mengatur keuangan bukanlah perhitungan rugi laba atau memperketat anggaran. Sama sekali bukan. Ini maksudnya transfer antar 2 rekening yang saya miliki agar bisa diambil. Kan sering tuh, di Bank A ada saldo 40 ribu (sudah dikurangi dari saldo minimal) tapi tidak bisa diambil, maka saya mentransfer dari rekening B sebesar 10 ribu rupiah agar uang di rekening A bisa diambil 50 ribu. 

Anda pusing dengan penjelasan saya? Sudahlah, hanya orang-orang militan dan terlatih yang bisa melakukan strategi ini dengan elegan.  
 

7. Berbelanja Pada Saat yang Tepat

Pernah, pada suatu tanggal tua yang begitu suram, ketika uang yang saya pegang hanya 25 ribu rupiah sementara susu Aksa habis. Saya harus terseok-seok berjalan ke supermarket yang jaraknya sekitar 2 KM untuk membeli susu dalam kemasan paling kecil karena hanya supermarket itulah yang menjual susu dalam kemasan 200 gram. Jika di tanggal muda saya tidak peduli jika Aksa tidak menghabiskan susunya, maka di tanggal tua saya selalu membuat susu dengan takaran seperlunya. 

Itu dulu. Sekarang, saya mulai mencontoh Budi agar tanggal tua tidak begitu menyeramkan lagi. Caranya, strategi TTS, maksudnya Tanggal Tua Suprise dari Matahari Mall. Ada banyak produk yang diskon gede-gedean setiap tanggal tua. Susu? Ada. Diapers? Ada. Beras? Shampoo? Sabun? Oh come on, semuanya ada. 

  
 

 

Dari semua kisah tanggal tua yang pernah saya alami, kisah-kisah lainnya inilah yang justru begitu melekat di hati. 

1. Tuhan di Perut Orang-Orang Lapar

Saat itu uang di kantong saya hanya tersisa 100 ribu rupiah, jumlah uang yang sudah saya alokasikan untuk makan, susu, dan diapers Aksa. Ketika saya makan di warung dengan menu seperti biasa: telur dadar dan sayuran, seorang lelaki tua datang dan meminta makan. Ia mengaku sebagai musafir yang sedang menempuh perjalanan dan kehabisan uang. Tanpa pikir panjang saya membelikannya makanan: nasi, ayam goreng, sayuran, dan kerupuk.

Waktu itu uang yang tersisa hanya cukup untuk membeli sekotak susu ukuran paling kecil, 3 bungkus mi instan, dan sebungkus kopi. Jika saya tidak mentraktir lelaki tua itu makan, barangkali saya bisa membeli diapers juga, tapi tidak, saya tidak menyesal. 

Ketika saya kembali ke kosan, ada beberapa notifikasi di Facebook. Yang pertama pengumuman bahwa saya menang juara II dalam salah satu lomba blog. Yang kedua adalah inbox dari seorang teman yang meng-hire saya menjadi content writer

2. Rezeki Tetangga

Tetangga saya memiliki balita usia 5 bulan. Pada suatu hari, anaknya mengompol dan berceceran di lantai. Saya tanya mengapa anaknya tidak dipakaikan diapers, ia menjawab bahwa diapers ada tapi hanya dipakai untuk malam hari. Saya tahu, dengan begitu ia harus mengepel lantai dan mengganti baju jika akan salat. Saya juga tahu bahwa ia melakukan itu bukan karena sengaja, tapi karena memang tidak ada dana untuk membeli diapers

Saya masuk ke kamar, mengambil uang, dan menyerahkan kepada tetangga saya itu. “Ini pakai saja,” kata saya.

Malam harinya, ketika saya baru saja menidurkan Aksa, seseorang mengetuk pintu. Ternyata itu adalah kurir jasa ekspedisi yang mengantarkan paket. Coba tebak apa isinya? Kiriman diapers dari seorang teman. Tidak tanggung-tanggung, 4 pak diapers ukuran besar. Berkali-kali lipat dari jumlah uang yang saya berikan kepada tetangga siang harinya. 

3. “Berjudi” dengan Tuhan

Saya bukan berasal dari keluarga berkecukupan. Bapak saya buruh bangunan, sedangkan Ibu adalah IRT yang tidak memiliki penghasilan. Pernah pada suatu kali Bapak meminjam uang, tidak banyak memang, hanya 200 ribu rupiah. Masalahnya, saat itu uang yang saya miliki hanya 250 ribu rupiah. 

Saya sempat berpikir untuk menolak, tapi kemudian ingat bahwa itu adalah kesempatan untuk (katakanlah) membalas budi. Karakter Bapak sama dengan saya, orang yang lebih suka bekerja sampai titik keringat penghabisan daripada menengadahkan tangan. Jadi jika beliau sudah meminjam, itu artinya darurat. 

Saya memberi Bapak uang sejumlah yang diminta, tentu saja dengan narasi, “Nggak usah pinjam-pinjamlah, Pak. Kayak sama siapa aja. Tapi maaf lho, Teteh tidak bisa memberi lebih.”

Saat itu tidak ada hilal transferan, saya tidak tahu bagaimana bisa survive dengan uang 50 ribu rupiah. Tapi sore harinya, BBM saya berbunyi, ada pesan dari seorang kawan lama. 

“Chan, honormu sudah kutransfer ya. Sori lama, ini memang baru cair dari klien.”

Honor apa? Ternyata itu adalah honor dari riset yang saya lakukan berbulan-bulan sebelumnya. Saya bahkan sudah lupa dan tidak pernah menyangka bahwa jumlah yang ia transfer jauh lebih besar dari perjanjian kami sebelumnya. 

 

Rezeki adalah sesuatu yang penuh misteri. Saya tidak pernah tahu apakah uang yang ada di kantong saya benar-benar jatah saya ataukah ada jatah orang lain, yang saya tahu hanyalah bahwa berbagi di kala kita lapang adalah hal besar, tapi berbagi ketika kita sendiri berada dalam kekurangan jauh lebih besar.

Dari sekian banyak strategi, ada satu strategi yang selalu saya pegang, baik tanggal muda maupun tanggal tua: ketika saya menitipkan diri saya dan anak-anak kepada Ia Yang Maha Kaya, maka kami tidak akan pernah kekurangan. Tidak akan pernah. 

Salam,
~eL 

Please feel free to share

59 Comments

  1. May 31, 2016 at 8:56 am

    Oh jadi kamu aktivis pendoa juga? Hahaha. Itu apa banget yak? Lucu-lucu sekaligus miris.

  2. May 31, 2016 at 4:34 am

    Juara ini mah juaraaaaa
    Tips yang datang ke kawinan bikin ngakak. Bukan karena mau ngeledek tapi karena aku juga pernah hahahaha

  3. May 26, 2016 at 8:14 am

    Itu beneran lho, silaturahmi itu modus sekaligus nambah rezeki. Bwahaha.

  4. May 26, 2016 at 8:11 am

    Sekarang udah nggak lagi ya, Bu?

  5. May 26, 2016 at 8:09 am

    Menantu idaman. Ck ck ck. 😀

  6. May 26, 2016 at 8:08 am

    Wah, makasih lho udah mampir. Salam kenal 🙂

  7. May 26, 2016 at 8:03 am

    Itu mah waktu kerja di Batam dulu. Bwahaha.

  8. May 26, 2016 at 3:46 am

    jadi inget jaman dulu pas kuliah sering didatengin temen yang ngekos dan bilang “maaf ya sering dateng, maklum tanggal tua”, kukira itu cuman guyonan ternyata bener aja, untuk tanggal tua tehnik itu mujarab bagi sebagian orang 😀

  9. May 24, 2016 at 10:38 pm

    Eeerrr..yang nenangga aku banget tu Teh. Main ke rumah temen, di tawarin makan. Pahala siaturrahim dapet, perutpun kenyaang. Etapi itu dulu pas masih jadi anak kosan 😀

  10. May 24, 2016 at 3:03 pm

    Silaturahmi nih hahahaha, karna rumah lebih dekat ke mertua. Paling sering kena modus hihihi, lumayaaan lah. Nggak masak, nggak beli bahan, dapat masakan pulak. Alhamdulillah :))))

  11. May 23, 2016 at 12:23 pm

    wahhhh… tulisannnnyaaa bagus….. saya baru mampir kesini dan nemplok ngebacanya

  12. May 22, 2016 at 2:13 pm

    Poin mengatur keuangan pernah banget saya alamin teh 😀
    Cuma bedanya, rekeningnya bukan punya saya aja. Tapi punya temen juga. Jadi biasanya pas udah tarik tunai, dibagi dua deh, wkwkwkwk.. Atau kadang klo masih ada saldo diatas 25rb, sengaja belanja ke minimarket sesuai dengan jumlah saldo yang nyangkut 😀

  13. May 22, 2016 at 12:18 am

    Pendapatnya berbanding lurus dengan kenyataan keleus, teteh. Wakakakakak. :v

  14. May 21, 2016 at 9:13 pm

    Pendapat fans sejati mah nggak valid, unsur emosional. Bwahaha.

  15. May 21, 2016 at 4:02 pm

    Saya ikutan juga lho, teh. Beneran rela, ikhlas, dan bangga kalo blogger pemenangnya bikin tulisan sekeren ini. hahahaha

  16. May 21, 2016 at 2:42 am

    Evakuasi bencana alam. Hahaha.

  17. May 21, 2016 at 2:41 am

    Jhiaaa … samaan kita yak?

  18. May 21, 2016 at 2:39 am

    Oh kalau transferan antarteman mah sudah bukan isu lagi, aku juga sering. Hahaha.

  19. May 21, 2016 at 2:37 am

    Aku mah godaannya mi kocok di warung depan. >.<

  20. May 21, 2016 at 2:36 am

    Patungan naik taksi mungkin harus dimasukkan ya, Teh? Heuheuheu.

  21. May 21, 2016 at 2:35 am

    Iya, Mamah Nurul. Hahaha.

  22. May 21, 2016 at 2:32 am

    Belom nyobaiiinnn. Hahaha.

  23. May 21, 2016 at 2:29 am

    Sedekah itu, apalagi di tanggal tua, biasanya dibayar kontan ama Tuhan. Heuheuheu.

  24. May 21, 2016 at 2:28 am

    Wah, sukar mencari padanan kata basa Sunda dalam bahasa Indonesia mah. Hahaha. Tapi ya deh, nanti mah diterjemahkan supaya adil untuk semua penggemar. *halah

    Buku? Aku sering kok bikin resensi, walau yaaa … resensinya seenak udel sendiri. Coba deh di label Books & Film.

  25. May 21, 2016 at 2:26 am

    Statusnya kayak gunung meletus, Teh… heheh

  26. May 21, 2016 at 2:25 am

    Aduh, ada Diko aduh.

  27. May 21, 2016 at 2:23 am

    Uh yeah, selalu deh seneng kalau ada yang baca nggak skip-skip. 😀

  28. May 20, 2016 at 4:03 pm

    Keren pisan euy! Transfer antarbank itu seringkali juga saya alamin, cuma ya lihat-lihat juga. Pernah ada rekening yang cuma butuh 3rb supaya bisa diambil 100rb di ATM. Rekening lain masih jauh dari ambang batas saldo minimal. Cuma buat transfer 3rb itu biaya transfernya 7rb. Hahaha, pengorbanan.

  29. May 20, 2016 at 3:21 pm

    Transfer antar bank itu, aku pernah ngalamin. Bedanya, salah seorang teman dekat yg minta aku transfer 10rb ke rekeningnya supaya saldonya bisa diambil. Hehehe…
    Darurat. Gpp lah. Bantu temen.

  30. May 20, 2016 at 3:20 pm

    Transfer antar bank itu, aku pernah ngalamin. Bedanya, salah seorang teman dekat yg minta aku transfer 10rb ke rekeningnya supaya saldonya bisa diambil. Hehehe…
    Darurat. Gpp lah. Bantu temen.

  31. May 20, 2016 at 3:03 am

    tanggal tua?
    hindari pasar, mall, indo*marcet, dan tukang bakso keliling.

  32. May 19, 2016 at 10:55 pm

    wow ruar biasa tipsnya. renyah, kriuk, maknyus, super duper berisi dah tulisannya. asyeeeekkkk

  33. May 19, 2016 at 10:14 pm

    Rejeki memang misteri ya..
    Memang katanya, di setiap rejeki kita, tersimpan rejeki orang lain. Dengan sedekah kita udah menyalurkan hak orang lain. Dan yang pasti gak akan mengurangi rejeki kita. Malah bakalan terus bertambah.
    *eh, kok jadi tausiah ��

  34. May 19, 2016 at 8:09 pm

    Rejeki emang bener2 misteri. Taktik survive di tanggal tuanya mantap yah, ampe ada mandi ala tanggal tua segala. Asal jangan nyikat gigi pake sabun mandi aja :D.

  35. May 19, 2016 at 3:34 pm

    hahaha ikut makan di tmp hajatan pas bgt tuh.. but point sedekah saya sgt setuju, langsung seperti terjawab ya

  36. May 19, 2016 at 3:18 pm

    Isshhh…keren seperti biasa artikelnya. Banyak belajar darimu Teh. Pas awal baca ketawa ngikik, ketengah bacaan senyum-senyum kaga jelas, sampe baris akhir wisshhh, 'ngena' ning hati…Suka endingnya. Cetar syalalalalala…Semoga menang yah Teh.

    Request :
    – Teh, kalau pake bahasa Ibu aka nyunda nuhun ditranslate atuh… inyong rada-rada merem melek. Kan lumayan teh saya bisa belajar bahasa daerah…hehhehhehe…
    -Oia, teh… kapan-kapan bikin artikel dong soal buku-buku yang pernah dibaca? hhehehhhehe….

    *Saya baru di dunia blog, ini juga baru buat blog hehehhehhe…

    makasih teh langit…^__^

  37. May 19, 2016 at 2:38 pm

    Tulisannya bagus teh langit 😀
    Kalo aku tanggal tua biasanya nyari wifi wifi gratisan haha

  38. May 19, 2016 at 2:33 pm

    baca sampai titik penghabisan.
    tanggal tua memang bikin kreatif termasuk ke kondangan tanpa diundang xixixix

  39. May 19, 2016 at 2:12 pm

    Biar isinya kepake semua. Bwahaha.

  40. May 19, 2016 at 2:11 pm

    Ish, ndak usah minder lah. Kan sama-sama curhat, eh, usaha kita. 🙂

  41. May 19, 2016 at 2:10 pm

    Aku sering keteteran juga sih sebetulnya mah 😀

  42. May 19, 2016 at 2:08 pm

    Pengalaman banget yak datang ke nikahan olang tanpa diundang? Hahaha.

  43. May 19, 2016 at 1:18 pm

    Cop, strategi evakuasi nomor 2 semua botol ganti posisi
    Xixixi…

  44. May 19, 2016 at 12:26 pm

    Mantap banget ulasannya Mba', langsung minder sebagai sesama peserta lomba, hehe.
    Memang kalau berserah diri hanya kepada Yang Maha Kaya, kita tidak perlu ragu ya Mba',
    Inspiratif ceritanya.. 🙂

  45. May 19, 2016 at 12:16 pm

    Yang nomor 5. :))))

  46. May 19, 2016 at 12:02 pm

    Sama seperti balasan komen aku di grup, waktu dan tenaga yang kita habiskan untuk mengeluh jauh lebih besar daripada waktu dan tenaga untuk bersyukur. 🙂

  47. May 19, 2016 at 12:01 pm

    Fans baru ya? Bwahahah. Makasih lho, Mbak udah berkunjung ke mari. Main ah ke blognya Mbak Al, siapa tahu disuguhi kopi Turki. 😀

  48. May 19, 2016 at 11:59 am

    Itu taktik sejak aku single dulu. Hahahah. Banyak kejadian lucu sih, dari yang mulai salah dresscode sampai diusir di-siapakamu-in sama mempelai.

  49. May 19, 2016 at 11:57 am

    Dih Intan, aku jadi malu ah dijuarain-juarain terus. Tapi aamin deh, aamiin. 😀

  50. May 19, 2016 at 11:56 am

    Udah punya solasi buat you know what? Hahaha.

  51. May 19, 2016 at 11:55 am

    Menjadi non karyawan, seolah setiap tanggal menjadi tanggal tua.. Tadinya banyak mengeluh, setelah baca tulisan ini jadi semangat lagi. Terima kasih sudah menginspirasi teh..

  52. May 19, 2016 at 11:53 am

    Aku mah pelupa orangnya, jadi itu emang lupa beneran. Hahaha.

  53. May 19, 2016 at 11:49 am

    Super sekali! Chan, aku ga pernah bosan baca tulisan2 kamu. Menceritakan ttg apa saja, gaya bahasa dan pemilihan kata2mu selalu menarik dan ga bikin bosan. Sukses yaaa, semoga menang!

  54. May 19, 2016 at 11:27 am

    aduh teh yang ikutan makan pas ada hajatan kok kerasa gimana gitu.. lucuk aja banyanginya.. hehehehe…
    …..
    ceritanya keren, saya yakin pasti juara ini..

  55. May 19, 2016 at 11:24 am

    Whoaaaaaa! Kereeen banget tulisannya kak eL. Juara juaraa juaraaaaa 😀

  56. May 19, 2016 at 11:23 am

    Pura2 lupa juga sama koin2 seribuan yang hampir separo kaleng *tanggal tua euy :p

  57. May 19, 2016 at 11:15 am

    Mare molai berkebun. Hahahaha.

  58. May 19, 2016 at 10:34 am

    simpan lalu pura2 amnesia… err aku kok ga bisa amnesia ya *bongkar celengan*

  59. May 19, 2016 at 10:19 am

    uhuyyy itu sampe ada status waspada dan teman-temannya, super ngeri kalau kita terjebak di tanggal tua, makanya kudu parinter ngatur keuangan ya bu supaya tidak kena sindrom tanggal tua macam saya ini hehe

Leave A Comment