Kau duduk diam di tepi pembaringan. Menangkup wajahmu dengan kedua telapak tangan. Aku menunggu. Menunggu dedah amarah yang akan kau muntahkan. Namun, kau tetap diam.
Aku meringkuk di sudut kamar. Rasai denyutan di pipi yang lebam. Aku menunggu. Menunggu air mata yang sebentar lagi mungkin keluar. Namun, aku pun tetap diam.
Pertengkaran kita kali ini berujung di tempat yang sama. Sebuah tamparan dengan gema nyaring di seantero ruangan. Setelah beberapa kali pukulan, aku mulai kebal akan rasa sakit yang kau timbulkan.
Kau mulai bergerak-gerak gelisah. Berjalan gontai mendekatiku.
“Maafkan aku!” ucapmu perlahan. Duduk di hadapanku.
Aku balas bergumam. Banyak kata yang sebenarnya ingin kumuntahkan. Berjuta cacian yang sebenarnya ingin kuteriakkan. Bahkan aku ingin sekali balas menamparmu, menjedotkan kepalamu ke dinding, atau menendang wajahmu. Andaikan aku bisa.

Rutinitas ini, bertengkar hampir dua hari sekali, membuatku bertanya. Kemana cinta lari menepi. Dimana ia bersembunyi?
Mataku nyalang mencari-cari bayangan. Kau membantuku bangkit dan duduk. Tanganmu membelai pipiku, mencari-cari sisa air mata. Tak kau temukan di sana.
Bibirmu bergetar. “Sakit?”
Aku diam, tak tahu apa yang kurasakan. Sehingga tak mampu memberimu jawaban.
“Maafkan aku, Ayya!” kali ini kau memelukku.
Tubuh ringkihku tenggelam di di dadamu. Kucium aroma tubuhmu, bau yang sama sejak sepuluh tahun lalu. Aroma inilah yang selalu kurindu di tahun-tahun pertama pernikahan kita. Selalu kutunggu jika kau telat pulang kerja. Sekarang, di mana rindu itu berada?
Perlahan-lahan kau lepaskan pelukan. Entah mengapa, aku malah merasa lega. Seakan-akan kau telah membebaskanku dari kungkungan.
“Sakit?” sekali lagi kau bertanya.
Apa? Apa yang harus kukatakan? Bila aku menjawab iya, akan berhentikah kau memukulku?
Seluruh bagian dalam tubuhku telah kehilangan kontak denga rasa sejak kau mendaratkan pukulan pertama. Kapankah itu? Dua? Tiga? Empat tahun yang lalu kah? Seperti bereon-eon bagiku.
Tanganmu menggenggam jemariku. “Aku tak ingin melakukan ini padamu.”
Dan aku tak ingin kau melakukan ini padaku. Tapi kau tetap melakukannya. Pada akhirnya, keinginan kita berdua tak sampai di titik temu.
“Aku bisa melihatmu kesakitan. Aku merasa sakit bila kamu sakit,” kecupanmu mendarat di telapak tanganku.
Sebab kita sudah bertahun-tahun bersama. Aku yang mati-matian bertahan, dan kau yang kerap mendobrak bentengnya. Barangkali indera di kedua tubuh kita saling mengecap rasa yang sama. Aku pernah mendengar bahwa dua orang yang tinggal bersama dalam waktu yang lama, sel-sel dalam tubuhnya akan saling meniru. Berlakukah itu untuk kelima indera kita?
Lalu apa yang kau rasakan ketika aku mendapatimu di tempat tidur dengan wanita lain enam tahun yang lalu? Saat itu aku ingin sekali membunuh kalian berdua. Tapi kuurungkan karena aku tak mau melahirkan di penjara. Samakah apa yang kau inginkan waktu itu? Hingga kemudian kau memukuliku. Ataukah hanya untuk menutupi rasa malu?
“Ayya, katakanlah sesuatu! Jangan diam saja.”
Tidak, kau pasti berdusta. Sudah sejak lama kau melarangku berbicara. Menutup seluruh akses sosialku. Memutus hubunganku dengan dunia. Satu-satunya orang yang ada dalam hidupku hanyalah kau. Tak ada keluarga, tak ada mertua, tak ada teman-temana. Hanya kau.
Bahkan aku tak tahu kepada siapa harus bercerita ketika kandunganku keguguran. Kau yang mendorongku dari tangga. Ingat? Lalu, saat aku tengah sekarat, yang kau ucapkan hanyalah: “Jangan bilang siapa-siapa. Kalau tidak, kubuat hidupmu lebih menderita!”
Matamu menatap wajah lebamku. “Aku berjanji tak akan memukulmu lagi.”
Aku ingin tertawa. Terbahak-bahak. Terpingkal-pingkal sampai terguling-guling di lantai kalau perlu. Sudah berapa banyak janji ini kau ucapkan? Seratus ribu? Lima puluh juta kali? Andaikan aku pernah sungguh-sungguh menghitung. Kau akan mendapati ratusan juta janji yang tak pernah kau tepati.
“Sungguh, aku menyesal melakukan ini padamu,” tanganmu masih menggenggam jemariku.
Apa? Katakan bahwa aku tidak tuli. Setahuku, menyesal artinya tidak akan melakukan hal yang sama lagi. Selamanya. Barangkali aku yang salah mengartikan kata-katamu.
Kau menyatakan penyesalan ini sejak dulu. Tapi selalu mengulangi itu.
Kau mengatakan menyesal setelah kau memukuliku pertama kali. Kemudian kau memukuliku lagi karena aku menanyakan ke mana kau selama berhari-hari.
Ketika aku lupa menyetrika bajumu, kau menamparku. Lalu mengatakan menyesal setelah itu.
Waktu aku mendapati sms mesra entah dari siapa. Kau melemparkan gelas ke wajahku sehingga aku tak bisa keluar rumah selama seminggu. Waktu itu juga kau mengucapkan penyesalan itu.
Masih ingatkah kau? Saat kau menyuruhku tidur di luar rumah semalaman karena aku sedang darang bulan dan tak bisa memenuhi kewajibanku melayanimu. Pagi-pagi sekali sebelum para tetangga terbangun, kau membangunkanku dan menyuruh membuat sarapan. Dan mengatakan kau menyesal telah melakukan itu.
Lalu, waktu masakanku tak sesuai dengan seleramu. Kau menyimramkan sepanci sayur sop itu ke atas kepalaku. Kau pun berjanji hal itu tak akan kau ulangi.
Tanganmu beralih ke pipiku yang lebam. “Kau terluka, besok kita ke dokter, ya.”
Luka yang mana? Kau tak tanya? Bagiku lebam ini bukan apa-apa. Aku masih punya bekas luka beberapa jahitan di kepala. Luka yang kau hadiahkan sewaktu aku meminta pisah darimu dulu.
“Ayya…” gumammu pelan. “Kenapa kamu tidak mengangis?”
“Me… nang..is?” ejaku.
“Iya, menangislah kalau kamu mau. Aku tak akan melarangmu.”
Iya, aku ingin menangis. Sudah lama sekali aku ingin menangis. Membebaskan air mata yang terbendung sejak lama. Merasakan kembali aliran hangat itu di pipiku.
Tapi aku lupa bagaimana caranya.
Aku tak ingat lagi bagaimana memulainya.
Karena sudah begitu lama aku tak melakukannya.
Bukankah dulu kau melarangku melakukan itu? Kau akan melemparkan seluruh barang yang ada di dekatmu jika aku mulai terisak. Atau kau akan mengunciku di kamar mandi sampai aku berhenti. Pernah suatu kali kau menyumpal mulutku dengan kain lap hingga aku sulit bernapas. Laranganmu membuatku jadi tak manusia.
Tidak, aku tak bisa!
Sudah lama perempuan ini menyimpan sakitnya sendiri. Telah bertahun-tahun perempuan ini memendam lukanya sendiri. Sudah sejak dulu, aku menelan tangisku sendiri.
“Aku mencintaimu.”
Barangkali kita tidak sedang berbicara tentang cinta yang sama, suamiku. Sebab cinta akan tetap saling menemukan muara. Sedangkan kita, cinta itu sendiri terseret dan terengah-engah. Kau sadari atau tidak.
“Ayya…” suaramu bergetar. “Menangislah, sudah lama aku tak melihatmu menangis.”
Aku menggeleng. Rupanya kau tak mengerti juga.
“Kenapa?”
Kuhembuskan nafas. “Sebab aku… sudah tak lagi punya air mata.”
Kemudian kau tergugu. Bahumu berguncang. Matamu berlinang-linang. Tangismu pecah di pelukku. Tangis yang selama ini aku simpan. Sakit, perih, pedih, nyeri, dan luka yang aku masukkan ke dalam kotak. Agar suatu hari bisa juga kau rasa.

Batam, 26 Januari 2009

2 Comments

  1. Langit Amaravati-Reply
    December 11, 2013 at 10:39 am

    *sodorin tisu 😀

  2. December 11, 2013 at 10:35 am

    Jleb sangadd … hiks

Leave a Reply