TATO NAGA (SEBUAH RESENSI)

Judul : Tato Naga (kumpulan cerpen)

Penulis : Teguh Winarsho AS
Penerbit : Grasindo, 2005
Halaman : 110 + viii
Harga : Rp 8,500,- (setelah dipotong diskon 50%)

Topik-topik sosial masyarakat memang tak pernah habis dijadikan bahan cerita. Juga tak pernah lekang oleh waktu. Buku kumpulan cerpen ini terbit pertama kali tahun 2005, tapi temanya masih relevan dengan carut-marut kehidupan sekarang. Pak Teguh pun masuk ke dalam dunia perempuan seperti tahu bagaimana rasanya menjadi perempuan. Bahkan aku yang benar-benar perempuan terkadang hanya berada di tepinya.



Kelima belas cerpen yang dikumpulkan dari berbagai surat kabar ini begitu menohok perasaan. Melemparkan berbagai fenomena sosial tepat ke depan hidung kita. Fenomena-fenomena yang sering terjadi, tapi lebih sering pula kita ingkari. Mulut mati-matian mengelak, sedangkan hati menggedor-gedor minta teriak. Maka inilah, bacaan yang menurutku berisikan kisah-kisah yang ‘Dekat di mata jauh di hati’.





1. MENARI SRINTI: Suara Pembaruan, 23 Maret 2003



Betapa kekuasaan, jabatan, ideologi politik dapat membuat seorang perempuan diam. Bahkan ketika ingin mengabarkan tentang kehamilannya pada laki-laki penguasa yang seringkali menidurinya. ‘Tapi bisa apa?’ adalah kalimat yang seringkali meluncur ketika seorang perempuan dihadapkan pada masalah yang dirasa berada di luar jangkauannya. ‘Tapi bisa apa’ adalah kata-kata yang masih ‘mempan’ sampai sekarang. ‘Tapi bisa apa’ yang membuat kebanyakan orang memilih diam.



2. PEREMPUAN SUCI: Warta Kota, 3 November 2003



Apa jadinya bila satu-satunya keluarga yang Anda punya adalah seorang anak yang lahir dari rahim Anda, tapi tak jelas siapa bapaknya? Lalu apa jadinya jika semua orang ingin memisahkan dia dari Anda? Si pelacur yang dianggap sampah tapi tak bosan-bosan dijamah. Sanggupkan Anda diurai dari satu-satunya manusia yang Anda cintai?



3. MATA KUCING: Media Indonesia, 7 April 2002



Anda akan terkejut dan menebak-nebak akhir ceritanya. Sama seperti aku, sampai sekarang.



4. TATO NAGA DAN INISIAL ‘SL’: Kompas, 30 Juni 2002



Ada selubung kabut di balik cinta. Laki-laki sekuat apapun pasti bertekuk lutut di bawah tahta pesonanya. Juga ada selubung kesan, kentara ataupun tidak. Bahwa di negeri kita tercinta ini, masih ada jurang pemisah antara pribumi dan non-pribumi.



5. ALISIA: Suara Pembaruan, 18 Agustus 2002



Ini realis atau surealis? Tergantung! Tergantung apa yang tengah Anda pikirkan ketika membaca cerita ini.



6. KUNTI MENGGENGGAM API: Nova, 4 Agustus 2002



Cerita bergulir, mengalir, menyeret dengan satu pertanyaan; kenapa? KENAPA? Namun, sampai akhir cerita, tak jua kutemukan jawaban. Apa yang menyebabkan Kunti menggenggam api? Dendam karena Nyonya Sam mengusirnya padahal ia tak merasa bersalah apa-apa? Satu pertanyaan lagi; kenapa Nyonya Sam mengusirnya? Hanya Pak Teguh dan Tuhan yang tahu jawabannya 😀



7. KISAH CINTA ELINA: Media Indonesia, 27 Januari 2002



Ternyata memang banyak orang-orang picik yang memunguti manfaat dari ketidaksempuarnaan dan kelemahan seseorang.



8. KUTUK: Kedaulatan Rakyat, 12 Januari 2003



Lagi-lagi, kekuasan dan jabatan membuat seorang perempuan menanggung derita sendirian. Aku malu, jujur saja. Sebagai masyarakat kadang aku lebih banyak menghakimi daripada mencari tahu mengapa hal-hal seperti itu bisa terjadi pada seseorang. Menganggap diri paling benar. Sehingga ada akhirnya seseorang yang justru memerlukan bantuan malah terkucilkan.



9. LINDU: Suara Pembaruan, 8 Desember 2002



Lindu, seorang suami pemabuk, pencemburu, dan penjudi. Dan sang istri yang tengah hamil sembilan bulan, yang tak pernah ia perhatikan. Salah paham menghancurkan rumah tangga banyak orang. Pemikiran sempit seorang suami seperti Lindu banyak kita temui sehari-hari. Setelah sampai di tebing cerita, aku ingin berteriak begini: “Tidak, jangan lakukan! Mari bicara terlebih dahulu sebelum kau tumpahkan amarah liarmu!”



10. LAGU HUJAN: Suara Pembaruan, 21 April 2002



Kesal. Andai Bapak lebih cepat datang. Andai Bapak tak perlu mencuri. Andai hujan tak turun. Andai semua orang mau mendengarkan. Andai pemerintah cepat memberikan bantuan. Andai… ah tentu akhir ceritanya tidak begini.



11. NYALI: Suara Pembaruan, 19 Oktober 2003



Karena cerita ini terbit di Suara Pembaruan, aku tak menafsirkannya hanya sebagai perselingkuhan. Yang ada di benakku adalah bagaimana hukum dikhianati berkali-kali. Tapi selalu saja kehilangan nyali untuk menegakkan diri. Sebab keberanian para penegaknya lebih sering dikebiri oleh pesona dunia.



12. SEBUAH KAFE & JANJI MERPATI: Nova, 5 Oktober 2003



Mungkin ini benar cerita cinta. Istri yang selingkuh dari suaminya. Suami yang selingkuh dari istrinya. Pada akhirnya, keduanya tak menemukan apa-apa selain prasangka. Karma bagi mereka yang sering berkhianat terhadap cinta.



13. DIA INGIN MEMBUNUHKU: Kedaulatan Rakyat, 9 November 2003



Aku benci membaca cerita-cerita surealis. Sebab saat aku mulai menikmati cerita, tiba-tiba otak yang setiap saat selalu dijejali oleh logika menyeruak dan mengobrak-ngabriknya. Tapi jangan khawatir, Anda akan menemukan pencerahan dan korelasinya jika membaca kata pengantar baik-baik.



14. MATA YANG MENYALA: Media Indonesia, 11 Juli 2004



Incest lagi incest lagi. Aku merinding membacanya.



15. KELELAWAR-KELELAWAR: Koran Tempo, 23 Desember 2001



Bermuatan politik, no comment.





Secara keseluruhan, Pak Teguh pandai membina latar dan memilih diksi. Sehingga cerita yang kelam jadi bertambah kelam. Cerita yang membuat penasaran, semakin membelenggu pembacanya dengan jawaban yang tak kunjung datang.



Aku pernah belajar membangun drama dan konflik lewat dialog. Tapi semua drama dan konflik di buku ini dibangun oleh narasi, malahan miskin dialog. Dan berhasil membuatku terus membaca. Berhasil mengalihkan perhatianku dari berita pemilu di televisi.


One Comment

  1. July 22, 2009 at 4:26 am

    eee, resensi buku yang murahan harganya, namun mempunyai isi 15 cerpen, bagaimana da websitenya g, tuh kan jga dapat mnmbaha info dari bku

Leave a Reply