Logo TBM Anak Matahari

Membuat sebuah taman bacaan di rumah adalah sebuah mimpi yang sekian lama tertunda. Dulu, jelas karena buku-buku yang saya miliki belum banyak dan untuk membeli buku harus berpikir ulang. Yah, you know lah, dikarenakan pertimbangan-pertimbangan ekonomis. Tapi sekarang, setelah saya ditasbihkan sebagai cerpenis nasional (uhuk), buku-buku begitu saja berdatangan. Beberapa dibeli, beberapa adalah kiriman dari teman (gratisan atau hasil barteran), dan beberapa lagi nemu di selokan (oke, gue bercanda). Bulan ini saja, ada sekitar 20 buku baru yang menjadi milik saya. Alhamdulillah yah ^-^.

LATAR BELAKANG
(Kok jadi kayak proposal gini ya postingan gue?)
Ada beberapa hal yang membuat saya begitu bersemangat membuat taman bacaan, bukan karena ingin disebut idealis dan sok-sokan berperan serta dalam pendidikan bangsa, bukan seperti itu. Motivasi-motivasi yang saya miliki sangat sederhana sebetulnya.

1. BALAS DENDAM. 
Halah, motivasi kok balas dendam. Hihihi …. Dulu, waktu saya kecil, kegiatan membaca dianggap sebagai kegiatan yang tidak mendatangkan manfaat oleh keluarga. Jadi, kalau saya ingin membaca, saya terbiasa sembunyi-sembunyi karena tidak tahan dengan ocehan Ibu, Nenek, atau bibi-bibi saya. 
Saya masih ingat ketika kelas 3 SMK, saya harus mengasingkan diri ke atas genting untuk membaca Supernova KPBJ karena Ibu lebih suka melihat saya nongkrong di mulut gang daripada melihat saya membaca. Oke, mungkin Ibu khawatir anak gadisnya mengalami gangguan jiwa karena di usia remaja itu saya lebih senang membaca daripada pacaran. Masuk akal, sih. 
Nah, karena itulah maka TBM Anak Matahari ada, untuk menginfeksi ibu-ibu dan anak-anak di gang tempat saya tinggal agar mereka lebih senang membaca daripada pacaran. Huwahahaha …. (ketawa ala penjahat).

2. PEMBERDAYAAN HARTA KEKAYAAN. 
Bagi yang sering mampir ke blog ini pasti tahu bahwa saya sering mengeluhkan minat baca saya. Saat saya harus bekerja keras untuk membeli buku, minat baca saya kalap akut; membaca minimal tiga buku per minggu. Setelah buku-buku itu berjatuhan dari langit, minat baca saya turun drastis ke titik kritis. Saya jadi merasa sebagai makhluk tak kasat mata (eh), menjadi makhluk yang tidak pandai bersyukur. 
Maka dari itu, daripada buku-buku yang saya miliki tidak berguna sama sekali, lebih baik saya memberdayakannya. Kalau saya bisa bahasa buku, mungkin saya akan mendengar mereka menangis sendu: pulangkan sajaaa … aku pada tokokuuuu … hu hu hu ….


TUJUAN
Jadi, tujuan saya membuat TBM itu apa?


1. MENINGKATKAN KUALITAS OTAK ANAK-ANAK DI GANG. 
Ini mungkin terdengar sok, but hell, this is my motivation. Di lingkungan RT tempat saya tinggal, anak-anak yang mengenyam pendidikan cukup bisa dihitung dengan jari. Kalau enggak cuma lulusan SD, ya paling juga lulus SMP, itupun banyak yang putus di tengah jalan. Ada juga yang hanya sekolah sampai kelas 3 SD lalu berhenti. Jarang ada yang lulus sampai SMU apalagi kuliah dan menyandang titel sarjana. Ini menyedihkan, bahkan mengenaskan. Padahal kami berada di lingkungan UKM (Universitas Kristen Maranatha) yang notabene salah satu kampus swasta terbaik di Indonesia. 
Alasan mereka putus sekolah itu macam-macam, dari mulai ekonomi sampai anaknya sendiri memang malas sekolah. Ini berkaitan dengan pola pikir masyarakat sebetulnya, itulah yang ingin saya ubah. Dengan banyak membaca, saya mengharapkan anak-anak di lingkungan saya ini mendapatkan pengetahuan yang cukup, pengetahuan yang tidak mereka dapatkan di sekolah. Karena saya bukan hartawati yang bisa membiayai sekolah mereka semua, maka hanya inilah yang bisa saya lakukan. 

2. BALAS JASA TERHADAP LINGKUNGAN. 
Saya tahu, selama usia saya yang nyaris kepala tiga ini, saya telah banyak membuat kekacauan di masyarakat (apa? lu nyangka gue teroris? enak aje). Maksud saya adalah, sejak kecil dan remaja, saya tidak pernah ikut berperan serta dalam setiap kegiatan yang diadakan di lingkungan saya. Ketika remaja lain menjadi anggota karang taruna dan menjadi panitia setiap acara 17 Agustus-an, saya harus berpanas-panas ria di lapangan karena menjadi tim Paskibraka. Ketika remaja lain sibuk memersiapkan panggung kesenian, saya rapat OSIS di sekolah. Itu sebabnya saya membuat TBM ini di rumah, bukan di tempat lain. 
Sebagai penulis yang sudah terkenal (uhuk lagi!) saya sudah banyak memberikan sumbangsih kepada masyarakat Indonesia melalui cerpen-cerpen saya (enggak usah protes). Tapi sebagai warga Babakan Sukaresik, saya belum memberikan apa-apa. Mungkin inilah waktu yang tepat untuk menjadi warga negara yang baik dan berguna bagi nusa dan bangsa. 

3. NGABIBITA SALWA. 
Intelejensia bisa saja diturunkan secara genetis, tapi minat baca tergantung kepada kesalehan masing-masing manusia. Salwa, meski sering melihat emaknya membaca tapi hatinya belum juga mendapat hidayah dan tergerak untuk rajin membaca. Dibelikan buku dongeng bergambar, udah. Dibelikan buku-buku menarik, udah. Coba tebak apa yang terjadi? Buku-buku itu sukses menjadi uang-uangan atau hilang entah ke mana. 
Anak-anak seperti Salwa cenderung melakukan sesuatu kalau teman-temannya melakukan hal yang sama. Kalau membaca sendirian agak sulit dilakukan, maka membaca berjamaah barangkali akan sangat menarik perhatian. 

PROGRES

1. Karena buku-buku saya masih tersebar dari Ciamis sampai Cimahi, maka saat ini masih dilakukan inventarisasi. 

2. Logo ==> done. Kemarin sempet minta dibuatkan logo oleh Naim Ali, tapi kayaknya beliau sibuk jadi saya buat logo sendiri aja. Hasil buatan saya lumayan sih, lumayan mengenaskan maskudnya. Hahaha …. Tidak, saya tidak akan berpindah profesi dari penulis ke desainer, kok. Tenang aja. 

3. Administrasi ==> in progress. Karena saya dulu anak perkantoran yang dicekoki sistem kearsiapan, maka mau tidak mau ilmu itu harus saya terapkan. Uh yeah, pakai Dewey dong. Duh, masing pusing nih mau buat katalog buku 🙁
Formulir pendaftaran anggota udah. Label peminjaman udah. Label buku masih dibuat karena nunggu harus ngambil dulu buku klasifikasi Dewey. 

4. ATK ==> in progress. Pulpen ada banyak, buku daftar peminjaman udah (males komputerisasi karena netbook sering ngadat, jadi mending manual). Stempel mau dibuat hari ini. 

5. Peralatan ==> in progress. Kalau honor cerpen sudah turun, mau beli rak plastik aja biar lebih tahan lama dan lebih mobile.

6. Blog, FB, twitter ==> paan sih? Hehehe …, tadinya memang berniat untuk membuat blog dan akun online sendiri untuk Anak Matahari. Tapi setelah dipikir-pikir, sepertinya memiliki terlalu banyak akun akan membuat kepala saya pecah. Jadi Anak Matahari akan di-update melalui blog ini. FB dan twitter juga akan menggunakan milik saya (daripada saya ngegalau terus di FB dan twitter :P)

7. Legalitas ==> ntar aja. Saya tahu TBM itu harus ada izin seperti halnya PAUD, tapi karena ini baru mau jalan, jadi sepertinya jalan aja lah. Perizinan akan saya urus kemudian. 


Hmmm …., terus apa lagi ya? Sepertinya itu saja. Program pengembangan dan provokasi  lingkungan (halah) akan dibuat kemudian. Oh ya, bagi teman-teman yang ingin berpartisipasi, silakan menghubungi saya lewat beberapa alternatif sebagai berikut:

FB: www.facebook.com/skylashtar 

Twitter: @skylashtar2

E-mail: ishtar.maryam@gmail.com

Alamat: Susan (ini nama asli saya)
Jl. Babakan Sukaresik II No. 40, RT. 04/02
Kel: Sukagalih
Kec: Sukajadi
Bandung – Jawa Barat 40163

Salam,
~eS

2 Comments

  1. December 27, 2012 at 12:00 am

    ya ampuunnnn.. itu alamatnya kenapa berawalan “suka” semua sih? wkwkkw
    yeahhh saya dukung teh TBM-nya, sukses!

  2. Skylashtar-Reply
    December 27, 2012 at 9:49 am

    ya ampuunnn… kenape komen lu oot? gyaaha…
    makasih, tif. cemungudh (^o^)/

Leave a Reply