TENTANG CINTA TAK BERMUARA


Barangkali cinta tak bernama itu sudah tak lagi saling menemukan muara.
Mungkin juga ia yang dulu datang sambil mendobrak dan berteriak telah pergi diam-diam melalui pintu belakang.
Sehingga aku tak menyadari, sebab yang tersisa kini hanya sepi.

Dahulu, aku menganggap bahwa kami saling menginginkan namun terkungkung keterbatasan.
Sekarang, kami tak lagi terbelenggu, tapi sayangnya tak lagi saling menginginkan.

Kemudian cinta terkikis seperti buih air laut mengabrasi butiran pasir.
Entahlah, masihkah ada yang tersisa?
Apalah artinya berdua jika tetap saling menyakiti.
Lebih baik berjinjit-jinjit di setapak masing-masing.

Leave a Reply