Tentang Lelaki yang Membunuh Bayinya Sendiri

Lelaki itu mengirimiku pesan, menunggu balasan. Mungkin ia sedang mencari sekadar alasan untuk bertemu, atau bisa jadi ia benar-benar merasa rindu. Aku tak pernah tahu.

Karena pesannya tak kujawab juga, ia meneleponku dan aku menjawabnya pada dering kedua karena kebetulan saja jariku refleks melakukannya. Ia tak menanyakan kabar, tak ingin tahu apakah aku baik-baik saja, apakah aku sudah makan atau belum, apakah aku sedang sibuk atau tidak. Ia hanya mengatakan hal-hal yang menurutku tak perlu kuladeni sebab waktu itu aku sedang berada dalam diskusi publik tentang HAM yang piruk pikuk. Aku sibuk.

Setelah telepon satu menitnya yang bagiku terasa seperti neraka itu terputus (ulah operator yang diam-diam kusyukuri), ia kembali mengirimiku pesan dan mengatakan hal yang sama seperti yang ia bicarakan sebelumnya, sedikit menambahkan tanda tanya agar aku mau membalas. Tapi yang kulakukan adalah langsung menghapus pesannya begitu selesai kubaca.

Kemudian aku mulai menebak-nebak. Pernahkah ia berpikir bahwa rasa marahku padanya tak pernah berhenti berderak? Ya, aku memang melanjutkan hidup. Tapi tak pernah sekalipun aku memaafkan atas neraka yang ia berikan. Atas kematian putriku, putrinya.

Lalu aku bertanya lagi (hanya di dalam hati). Bagaimana mungkin ia tak pernah merasa bersalah? Mungkin ia bisa berbangga hati di hadapan ibunya bahwa ia telah menghancurkan hidup seorang perempuan. Menikahinya, menghamilinya, membuangnya, lalu ia pergi dengan perempuan lain. Sebuah prestasi luar biasa untuk ukuran seorang lelaki yang konon tahu tentang agama.

Ya, mungkin ia masih merasa bangga karena telah berhasil membunuhku berkali-kali. Meski aku tak lantas mati.

Leave a Reply