Tentang UWRF 2013

“Setiap naskah memiliki takdirnya masing-masing.”

Apliksi UWRF 2013
Skylashtar Maryam
Kalimat di atas menjadi semacam mantra yang sering saya rapal ketika mengirimkan naskah ke berbagai media atau lomba. Segala macam analisis tentang ‘mengirimkan naskah yang tepat kepada redaktur yang tepat’ tiba-tiba saja menjadi liliput di bawah kaki kata yang bernama takdir. Ya, seperti yang sering suami saya katakan, menang atau dimuat bukan hanya tentang karya, melainkan juga tentang rezeki. Bukankah rezeki adalah takdir yang sudah ditakar dan ditahar? 

Aplikasi UWRF 2013
Absurditas Malka
Ketika kami berdua memutuskan untuk mengirimkan aplikasi ke UWRF 2013, tidak ada motivasi lain selain mempergunakan kesempatan untuk selanjutnya menyerahkan hasil kepada Ia Yang Maha Hebat. Saya sendiri termasuk orang yang ngeyel, nyaris ambisius. Bagi saya, melewatkan kesempatan adalah sebuah dosa besar. Butuh batu sebesar gunung untuk menumbangkan tekad-tekad yang telah saya bangun. Tapi sejak mengenal Malka, kobar ambisi saya bertemu dengan sumbu yang tepat sehingga diarahkan ke jalan yang lebih tepat pula.

Tahun lalu, ketika kami baru saja kenal, sayalah yang memberi info tentang UWRF 2012 kepada Malka dan membicarakan itu nyaris setiap saat baik itu di chatting-an maupun ketika kami bertemu. Saya masih ingat, ketika itu Malka membuat 8 cerpen dalam satu malam dan mengirimkannya keesokan harinya sementara saya sendiri masih berkubang dengan cerpen-cerpen lama saya. Saya numpang nge-print di tempatnya tapi lantas tidak jadi mengirimkan karena saya tidak punya uang untuk ongkos kirim naskah. 

Malkalah orang yang datang jauh-jauh dari Dago ke Cibiru hanya demi memastikan bahwa saya mengirimkan naskah yang telah susah payah saya kumpulkan. Ia yang mengantarkan saya ke warnet, mencetak biodata, mengantarkan saya ke jasa ekspedisi, membayar semuanya, dan memberi saya uang saku. Hehehe… 

“Semoga kita terpilih ke Bali supaya bisa main Empires & Allies di sana.”


Itu adalah kalimat motivasi yang sama-sama kami ucapkan, yang pada akhirnya sama-sama kami tertawakan. Betapa, mimpi itu bisa memiliki bentuk yang paling sederhana. Penyair dan penulis mana coba yang memiliki motivasi sesederhana kami? Orang lain pasti ingin menghadiri perhelatan sastra atau hal-hal besar lainnya. Kami? Kami hanya ingin bisa bermain game online di sana. Nothing else

Tapi dari motivasi kami yang ‘dangkal’ serta dari ‘pengorbanan dan perjuangan’ Malka itu saya jadi tahu, bahwa mengejar takdir itu tidak boleh tanggung-tanggung. Maka tahun ini, kami berdua memiliki ‘senjata’ yang berbeda dari tahun kemarin. Jika tahun kemarin kami mengirimkan cerpen, maka tahun ini masing-masing dari kami mengirimkan dua buku. What a journey

Seperti halnya semua takdir yang harus kami jemput, jangan sebut saya Skylashtar Maryam kalau sampai ada kesempatan besar yang saya lewatkan begitu saja. Maka dengan motivasi menjalani dan menjemput takdir, kami mengirimkan aplikasi itu. 

Bismillah. 


3 Comments

  1. Skylashtar-Reply
    February 4, 2013 at 7:49 am

    Iya, mau mencoba menemukan takdir itu. Heheh. Amin, semoga berjodoh dengan Bali.

  2. February 4, 2013 at 4:40 am

    Waah ngirim ke UWRF ya? Moga2 terpilih yaa .. ini sebuah lompatan dahsyat …

  3. February 3, 2016 at 8:46 pm

    Sama-sama 🙂

Leave a Reply