TERLANJUR CINTA – THE DRAMA

Judul : Telanjur Cinta
Episode : Kamis, 23 Juli 2009
Pemain :Ririn Dwi Aryanti, Andrew Andika, Niken Anjani, Zaskia Sungkar,
Arthur Brotolaras, Leroy Oesmani, Febby Lawrence, Tasman Taher,
Ivan Sabatani
Sutradara :Ai Manaf
Tayang :Setiap HariPkl. 21:30 – 22:30 WIB


Ini pertama kalinya aku mengulas sebuah sinetron selain mencaci dan memakinya. Ternyata rasanya lebih menyenangkan menelaah menguraikan akal sehat daripada misuh-misuh di depan televisi tanpa melakukan sesuatu.

Seperti kita semua ketahui, simpatisan sinetron Indonesia sama banyaknya dengan para sinetron-hater. Namun, kita tidak akan membahas hal itu sekarang.

Dalam episode hari Kamis, 23 Juli 2009, aku menemukan kejanggalan. Selain fade in fade out yang berlebihan, sinetron ini ternyata juga berusaha mengedepankan unsur drama dan mengenyampingkan unsur logika (baca: membodohi publik).

Adegan terakhir, ketika Ridho ditabrak mobil (yang entah datang dari mana) adalah yang paling parah. Oke, menyeberang jalan di Jakarta sehabis makan malam bisa membuat siapa saja terbunuh. But, come on! It was totally unlogical.

Adegannya seperti ini: Ridho dan Murni pulang sehabis makan malam. Mereka sedang menyebrang jalan ketika kunci mobil Ridho jatuh. Kemudian, tepat pada saat dia membungkuk untuk mengambilnya, datang lah seekor (oh, maaf) sebuah mobil dengan kecepatan kira-kira 25 km/jam ke arah mereka berdua. Ridho kaget, dan dengan adegan slow motion, ia mendorong Murni menjauh sehingga dia sendiri lah yang tertabrak oleh mobil yang berjalan pelan tadi. Mobil tersebut melarikan diri, meninggalkan Ridho terkapar di jalanan. Murni menoleh dan berteriak “Mas Ridho!” lalu ia bersimpuh di samping tubuh Ridho yang tidak sadarkan diri sambil berurai air mata. Hal berikutnya yang dia lakukan adalah menelepon Papanya Ridho, kemudian Mamanya. Mamanya begitu kaget dan teringat dengan sumpah yang diucapkan oleh seorang perempuan dalam adegan sebelumnya. Lalu apa yang terjadi? Tulisan ‘bersambung’ muncul di kanan bawah televisi. Berusaha memaku penonton agar menyaksikan kembali sinetron ini di keesokan hari. Meninggalkan kita dengan sebuah rasa penasara, apakah Ridho berhasil mati atau tidak.





Berikut unsur-unsur drama yang coba mereka suguhkan:
  1. Membuat kutukan seorang perempuan yang merasa teraniaya oleh Mamanya Ridho menjadi kenyataan.

  2. Setelah tokoh Ryan yang jahat dipenjara pun, kehidupan mereka tidak akan bahagia sampai akhir hayat.

  3. Karena mereka adalah tokoh utam, dan tokoh utama dalam sinetron Indonesia sama dengan tokoh yang harus bersedia sengsara dan tersiksa sampai semua episode habis ditayangkan.



Berikut unsur logika yang (berusaha) mereka lupakan:


  1. Kecelakaan ini terjadi di tempat parkir atau di jalan raya? Oke, barangkali di jalan tepat di depan sebuah rumah makan. Tapi, dari mana kita tahu?
  2. Tidak diperlihatkan dari mana mobil pembawa maut itu berasal dan dengan kecepatan berapa. Tahu-tahu mobil itu sudah ada di situ dan menabrak Ridho. Oke, namanya juga kecelakaan kan. Bisa terjadi di mana saja dan kapan saja.Tapi sebuah sinetron adalah media audio visual, apa susahnya memperlihatkan asal muasal kejadian? Paling-paling cuma memakan waktu dua sampai lima detik. Ingin membuat kejutan dengan kejadian yang tiba-tiba? We’ve got a lot of suprise. Thank you!
  3. Jika latar belakang kejadian benar di depan sebuah rumah makan, di waktu yang tidak terlalu malam, lalu kemana semua orang? Pada saat Ridho terkapar di jalanan, tidak ada tuh satu orang pun yang datang menolong. Kemana semua cameo disembunyikan? Oke, ceritanya semua orang di sekitar situ sedang sibuk dengan urusan masing-masing atau tempat itu memang sedang sepi. Sesepi jalan-jalan di Jakarta akhir-akhir ini. Yes, make we believe that no one will help or care with that kind of accident. Tak ada lagi orang baik di dunia ini memang.
  4. Kenapa yang pertama kali ditelepon oleh Murni adalah kedua orang tua Ridho? Bukan rumah sakit, ambulans, atau polisi? Dan kenapa Murni tidak segera meminta tolong pada orang sekitarnya (ups lupa, kan tadi memang lagi nggak ada orang), atau kata ‘tolong’ memang tidak ada dalam skenario? Oke, jadi saudara-saudara! Yang pertama kali harus kalian lakukan jika suami kalian ditabrak mobil adalah; telepon mertua. Let him die, the most important thing is – at least- his parents know about that.
*

Wah, setelah kubaca kemballi ulasanku di atas, ternyata aku melakukannya dengan sarkastis. Maafkan aku para pecinta sinetron, tapi memang begitulah adanya. 😀 Terus kenapa aku nonton sinetron kalau memang tak suka? Karena di ruang tamu mess kami, hanya ada satu televisi, dan sudah diboikot oleh para senior. Jadi terpaksa nonton daripada beresin sarang (baca: kamar).
Tulisan ini akan aku tutup dengan pesan-pesan moral bagi para pecinta sinetron Indonesia:

  • Jangan terlalu serius nonton, sampai pake perasaan segala. Cerita-cerita itu akan membuat kalian mati muda.
  • Selektif lah dalam memilih tontonan, kalau sinetron addict ini sukar dihilangkan, sebaiknya tontonlah yang agak berbobot (jadi ingat ucapan Kak Iyen). Misalnya, ‘Keluarga Cemara’, ‘Kiamat Sudah Dekat’, ‘Para Pencari Tuhan’. Hah? Sinetron-sinetron itu udah nggak tayang lagi? Ups!
  • Bertobatlah! Berhentilah menjadi masochist dengan menyiksa diri kalian seperti itu. Menyaksikan tokoh-tokoh disiksa dan dijahati sedemikian rupa benar-benar bukan cara yang bijaksana untuk menjalani hidup.
  • Jangan mencaci maki atau menyewa pembunuh bayaran untuk membungkamku. Percayalah, ini untuk kebaikan kalian semua.
****

Batu Ampar, 23 Juli 2009

Leave a Reply