Mati itu kesempatan.

Setelah kecelakaan naas empat tahun lalu itu, memoriku tidak lagi berfungsi baik, tapi aku tak mati. Memang, banyak yang aku lupa, termasuk detail kecelakaan itu sendiri. Yang aku tahu, sekarang tangan kiriku tidak bisa berfungsi maksimal karena sukses dihadiahi tiga pen penyangga. Tidak ada lagi main basket, tidak ada lagi kerja-kerja berat. Aku setengah cacat.

Satu tahun yang lalu aku hampir divonis kanker darah. Tapi kemudian si dokter menyerah, kemudian membuat kesimpulan bahwa memang ada pembuluh darah yang pecah di daerah hidungku sehingga aku jadi seringkali mimisan. Sial! Satu kali lagi kesempatan untuk mati hilang.

Jauh sebelum itu, aku pernah mencoba berbagai macam metode untuk mengakhiri hidup. Dari mulai meminum bergenggam-genggam pil tidur sampai menyayat pergelangan tangan kiriku sendiri. Banyak darah, memang. Tapi aku juga tak mati.

Konyol dan gila!

Tapi dari semua itu aku tahu bahwa hidup yang berharga adalah dengan cara menjalaninya tanpa ikut campur tangan dalam mengakhirinya.

Sekali lagi, mati itu adalah kesempatan. Dan jika ia datang, aku tak tahu apakah aku masih punya jalan untuk menghindar atau tidak.



Leave a Reply