TIPS SUKSES DI BATAM: PELAJARI BAHASA BOS-BOS

Selain para urbaner (heuh?) domestik, di Batam juga banyak pendatang WNA. Biasanya dari Singapura atau Malaysia. Maklum, kan deketan gitu sama Sin dan Msia. Juga karena kebanyakan perusahaan di Batam itu PMA.


Orang asing yang banyak kutemui di sini adalah etnis Tionghoa, Melayu, Tamil, Philipina, Jepang, dan sedikit bule. Beberapa tahun belakangan banyak perusahaan yang memasang kriteria seperti ini di iklan lowongan kerjanya: ‘Diutamakan yang bisa berbahasa Mandarin atau dialek Hokkian’. So, selain bahasa Inggris, para pekerja juga harus menguasai Bahasa Mandarin. Kalo nggak, siap-siap aja ngomong pake bahasa isyarat sama si bos. Hehe…



Selama tiga tahun di Lobam dan hampir setahun di Batam, atasanku adalah orang Tionghoa WNA. Apakah aku lantas pandai Bahasa Mandarin? Nggak juga, karena di Lobam dulu mereka memakai Bahasa Melayu, sedikit Jawa dan Bahasa Batak. Nggak percaya? Tunggu sampai kalian ketemu sama Chiew Hwa dan Alice (Hai Chu, pa kabar? Alice, i miss u..)

Sedangkan bosku yang sekarang punya kemampuan Bahasa Inggris yang yahud. So, walaupun kata-kata Bahasa Mandarin yang kumengerti cuma xie-xie dan gong xi fa cai, aku masih bisa berkomunikasi dengannya. Meski kalau kupikir-pikir, kayaknya lebih gampang pakai bahasa isyarat kayak tarzan deh :D.



Mba Ria (temenku di Lobam; HRD PT Gimmil) mengatakan bahwa kesuksesan bukanlah eskalator, melainkan tangga yang harus dititi satu demi satu. Jadi kalau teman-teman semua punya pemikiran begini: ‘Lho, kan mereka yang datang ke Indonesia. Mestinya mereka dong yang belajar bahasa kita, bukannya kita yang harus repot-repot belajar bahasa mereka.’ Tet tot! Maaf, Anda salah. Dimana-mana juga, yang namanya bos mah tetep berkuasa. Lagian ada beberapa alasan. Satu: kita akan tergilas oleh mereka yang punya semangat untuk terus belajar dan meningkatkan kemampuan. Dua: besar kemungkinan kita akan dipecat sebelum habis kontrak karena si bos capek ngasih kita kursus bahasa, gratisan pula! Tiga: kita nggak bakalan ngerti si bos ngomong apa, jadi dia bebas ngomongin kita di depan hidung. Empat: kata Ibuku, yang namanya ilmu mah nggak berat bawa, belajar terus.

Dengan menguasai bahasa bos-bos, maka kita memiliki lebih banyak ‘amunisi’ untuk bersaing di pasar global. Remember? Krisis global telah membuat teman-teman kita di-PHK. Jadi kalau tidak mau menjadi salah satunya, ya tingkatkan kemampuan. Sekarang. Segera.

Ps: Termasuk meningkatkan kemampuan menulis, agar bila benar-benar kena PHK nanti, masih punya ladang untuk menyambung hidup 😀

Gambar dipinjam dari: http://sonofthesouth.net

Leave a Reply