Telah kutanggungkan

kisahmu di punggungku, punggung yang kian melengkung sedang dada selalu lupa membusung.
Kisah itu kau titipkan pada mataku, mula-mula…
lalu merayap turun ke buncahan dada,
puas menghisap segala sesuatu yang ada di sana
Beragam kata dan suara
berlarian kemudian terdiam di ujung telinga,
telinga yang jika kau buka telah dipenuhi oleh berbagai
hidangan cerita. Tentang
aku, tentang kepulanganmu
Punggung ini semakin lengkung, menyatir
mendung dari fabel, fiksi-fiksi mengenai delusi,
ambisi secangkir kopi
Mataku, mata yang telah kau cairkan melalui telepon
setiap malam kini kian kerontang,
mendamba halaman-halamanmu di balik bebayang
Sebua kisah akan selalu memiliki tepi…
entah itu jurang ataukah setapak rumputan beratap akasia
dan cemara rindang
Punggungku yang menanggung, kian lengkung,
bebaris mata mendung
ini…
sekian hari tetap mendamba untuk kau akhiri
Bandung, 15 Pebruari 2010

Leave a Reply